
Selama tak sadarkan diri, Anika bermimpi berada di ruangan yang sangat gelap. Dia tak bisa melihat apapun, tak bisa merasakan apapun. Di depannya muncul sebuah cahaya terang dari jauh yang ketika dikejar, Anika malah terjatuh ke lubang yang sangat dalam.
Dia merasakan dirinya sedang duduk di kursi roda dan didorong oleh seseorang menyusuri lorong rumah sakit yang panjang. Anika menyentuh perutnya yang membesar tapi tak merasakan pergerakan dari janinnya. Dia kemudian melihat darah segar yang mengalir keluar dari rahimnya, membasahi bagian bawah pakaiannya sampai ke seluruh lantai lorong.
Melihat darah dimana-mana, Anika mulai bernafas berat. Dia menangis tak ingin hal yang selama ini ditakutinya sungguh terjadi. Ketika berbalik untuk meminta tolong kepada perawat yang mendorong kursi rodanya, dia malah mendapati Jane dengan mulut penuh darah tersenyum ke arahnya.
Karena takut akan disantap oleh wanita kanibal itu, Anika berteriak kencang memanggil nama Kairi, yang langsung datang menolongnya dengan memenggal kepala wanita mengerikan itu. Darah segar menciprati seluruh wajah Anika, dan dia langsung tersentak sadar dari pingsannya.
Anika tak bisa merasakan apa-apa pengaruh obat bius yang masih tertinggal akibat operasi yang baru saja dia jalankan. Dia sedang berbaring lemas dengan penutup mulut oksigen di atas ranjang rumah sakit. Kepalanya masih pusing dan matanya masih berat karena kehilangan terlalu banyak darah.
"Sayangku?" Kairi langsung tersenyum senang melihat istrinya akhirnya membuka matanya setelah seharian tak sadarkan diri. Dia langsung mencium keningnya dan menggenggam tangan istrinya yang terkulai lemah.
Anika ingin bangkit duduk namun ditahan oleh Kairi karena kondisinya yang masih lemah.
"Bayiku .... Mana bayiku ...?" Itu hal pertama yang dia tanyakan mengingat mimpinya yang terasa nyata mulai merasuki pikirannya.
Anika memandang suaminya untuk mendapatkan jawaban, tapi Kairi tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dari ekspresi wajah suaminya, Anika tahu apa jawabannya. Janin yang sudah berusia hampir enam bulan itu ternyata tidak bisa diselamatkan dari kecelakaan yang telah menimpa dirinya.
Kenyataan itu membuat Anika sangat terpukul sampai tak bisa berkata-kata. Pandangannya menjadi kosong tak ingin berpikir lagi. Hatinya terlalu sakit membayangkan janin yang telah dijaganya selama lima bulan lebih, tak akan pernah bisa bertemu dengannya.
Melihat keadaan istrinya yang terlihat sangat putus asa, Kairi pun tak tahu harus berbuat apa. Sejak diberitahu oleh dokter bahwa bayinya tak bisa diselamatkan, dia hampir saja mencekik mati dokter yang menurutnya tak sungguh-sungguh melakukan tugasnya sebagai dokter untuk menyelamatkan manusia.
Dia keluar ruangan karena tak tega melihat istrinya seolah kehilangan jiwanya. Kairi mulai meninju mesin minuman otomatis dengan sebelah tangannya hingga kacanya retak, ketika Yuri muncul sambil menggendong putrinya di dadanya dengan gendongan bayi.
"Kamu akan kehilangan tanganmu lagi kalau kamu lanjutin itu kak." cegatnya santai tak takut dengan hawa pembunuh yang keluar dari kakaknya itu.
Kairi merasa hidup sebagai mesin pembunuh lebih mudah daripada menjadi suami maupun calon ayah. Dia tak perlu merasakan emosi menyesakkan yang sekarang sedang dia rasakan akibat kehilangan orang yang dia sayang beserta masa depan dan harapannya.
__ADS_1
Yuri mendekatinya dan menepuk pundaknya. "Nggak usah sedih, bikin anak lagi gampang kan?"
Kairi berusaha meninju adiknya, kesal dengan candaanya yang tak tahu diri, tapi berhenti ditengah karena sadar Irina menempel di dada ayahnya sambil mengempeng dot bayi dengan wajah tanpa dosa.
Selama Anika tak sadarkan diri, Kairi sudah diceritakan oleh Yuri mengenai kisah yang sebenarnya terjadi di keluarga Dragunov, bahwa yang kanibal sebenarnya bukan Yuri tapi istrinya. Dia hanya berperan untuk menyembunyikan identitas asli istrinya bertujuan untuk menghilangkan kebiasaan kanibalisme Jane. Dan bahwa Irina bukan darah daging Yuri melainkan anak hasil pemerkosaan.
Semua ini ada kaitannya dengan ayah mereka yang memanipulasi banyak pihak sehingga bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kairi tambah membenci ayahnya karena secara tidak langsung telah menyengsarakan istrinya, dan mulai bertekad untuk membunuhnya. Yuri yang dulu selalu memintanya kerja sama untuk menangkap ayahnya malah sekarang menolak mentah-mentah kesediaan kakaknya itu.
"Sudah kubilang kamu harus temani istrimu dulu sampai dia benar-benar stabil!"
Kairi terdiam.
Selama ini dia berpikir bisa membahagiakan Anika, tidak seperti Yaslan yang sering menyakitinya. Tapi kenyataannya dia sama tak becus bahkan lebih rendah dari Yaslan. Hal ini membuat Kairi merasa tak pantas berada di samping Anika.
"Jaga dia untukku selama aku tak ada," adalah satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan.
"Dia istrimu kak, aku nggak punya tanggung jawab untuk menjaganya. Apalagi kamu telah membunuh istriku."
Yuri yang melihat istri kanibalnya dibunuh di depan matanya tak merasakan apapun. Sejak kecil sebenarnya emosinya setengah mati, dia menikahi Jane pun atas dasar kewajiban sebagai polisi melindungi warganya karena merasa kasihan pada Jane yang merupakan korban pemerkosaan. Apa yang menimpa mendiang istrinya pun akibat ulah ayahnya sehingga membuatnya harus melakukan sesuatu pada Jane.
"Kau ingin segera menghabisi ayahmu kan?" tanya Kairi sambil memandang Yuri yang berbadan lebih rendah darinya lekat-lekat.
Yuri terdiam. Dia sering melihat ekspresi pembunuh kakaknya, tapi baru kali ini benar-benar merasa takut. Bahkan Irina mulai menangis karena terintimidasi oleh aura gelapnya.
"Aku akan segera kembali bila berhasil memenggal kepalanya." lanjut Kairi yang tak digubris Yuri karena sibuk menenangkan Irina.
Dia mulai menggoyangkan badannya untuk meredakan tangisan putrinya, tapi tangisannya bertambah kencang hingga dotnya terjatuh. Dia pun melepas gendongan bayinya dan mengangkat tinggi-tinggi Irina mengajaknya bermain hingga putrinya tertawa terbahak-bahak. Yuri telah melupakan hawa pembunuh dan niat kakaknya tadi.
__ADS_1
Karena dicuekin, Kairi kembali masuk ke bilik istrinya dengan tujuan untuk pamit tetapi mendapatinya tengah tertidur.
"Maafkan aku Sayangku," ucap Kairi sambil membelainya dan menciumnya keningnya lama-lama.
Ketika hendak keluar, Anika berhasil menggenggam ujung bajunya.
"Mau kemana?"
Kairi tak bisa menjawab itu yang membuat Anika mulai meneteskan air mata.
"Kamu ingin meninggalkan aku juga?"
Insting dan perasaannya yang menjadi lebih sensitif membuatnya trauma akan kehilangan orang yang disayanginya lagi.
Tapi niat Kairi untuk meninggalkan istrinya dan membunuh semua bajingan termasuk ayahnya sampai tak tersisa agar istrinya aman, sangat kuat.
Kairi kembali ke sisi istrinya dan mencium keningnya. "Aku akan selalu bersamamu, Sayangku." dustanya tersenyum pada Anika agar merasa lebih tenang.
Anika tahu senyum suaminya tak tulus, tapi dia hanya diam. Dia sudah tak ingin berharap banyak dan berpikir untuk pasrah dengan apa yang akan menimpa dirinya di kemudian hari.
"Kamu harus janji untuk kembali menciumku lagi," serunya pasrah karena ingin merasa tenang, sekalipun kata-kata Kairi hanya dusta.
Kairi terkejut istrinya tak termakan dustanya manisnya. Dia sadar tak bisa membohongi istrinya dan memilih untuk tak menyembunyikannya lagi.
"Aku janji akan kembali memberimu lebih dari ciuman." katanya sebelum mereka berpisah lagi untuk ketiga kalinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sepertinya Anika dan Kairi belum bisa hidup dengan tenang.
Apa yang akan terjadi pada mereka ke depan?