
Upacara pernikahan antara Yaslan dan Anika berjalan dengan lancar. Memang tak banyak tamu yang diundang, tapi semua tampak bahagia menikmati acara sederhananya.
Selesai acara semua tamu undangan pun pulang. Kebanyakan tamu yang diundang adalah dari pihak Yaslan karena memang Anika tak memiliki banyak teman. Resepsi pernikahan diadakan di gedung hotel, dan disitu pun mereka berdua akan menghabiskan malam pertama mereka.
"Anika..." Yaslan membisikkan namanya sambil perlahan menelusuri bentuk tubuh Anika yang masih tertutup gaun malam. Sentuhan jari-jarinya sangat lembut seperti sentuhan kupu-kupu.
Malam pertama yang biasanya ditunggu-tunggu oleh pengantin baru, justru sangat ingin dihindari oleh Anika.
Tidak apa-apa, dia Yaslan, pasti aku tidak apa-apa...
Anika tak ingin mengecewakan Yaslan yang telah menjadi suaminya itu. Dia berusaha untuk menatap Yaslan, mengalihkan pikirannya dari trauma yang dia derita. Dia berusaha untuk pasrah dengan apapun yang bakal dilakukan oleh pria di hadapannya itu.
Pakaian mereka berdua sudah ditanggalkan tapi tak banyak yang bisa dilihat di dalam ruangan yang gelap. Yaslan menyentuh bibir Anika dengan bibirnya sendiri, perlahan mendorongnya ke permukaan kasur.
Walau jantungnya terus berdebar, sejauh ini Anika tak masalah.
Sampai tiba saatnya Yaslan ingin menandakan Anika secara resmi adalah miliknya, tubuhnya mulai sedikit gemetar.
"Anak ja*ng!! Dasar jelek! Hanya ayah yang mau pakai kamu"
"Cewek kotor!"
Dengan sekuat tenaga Anika mendorong tubuh Yaslan dan berlari menuju kamar mandi.
"Anika!"
Anika menangis dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air.
"Maaf kak, maafkan aku kak... maaf... maaf...." Dia terkulai lemas di lantai kamar mandi, tak bisa berhenti menangis.
"Anika..." Yaslan membawakannya handuk dan melingkarkannya ke tubuh mungil istrinya.
"Aku sudah bilang kan, aku akan terima dirimu apa adanya, apapun masa lalumu."
Dia mengulurkan tangannya menunggu Anika untuk meraihnya.
Anika hanya menatap kosong tangannya itu.
"Apa aku perlu keluar kamar lagi, agar dirimu bisa lebih tenang?"
"Tidak kak..."
Kali ini Anika meraih tangannya dan mereka pun menuju tempat tidur.
"Ini, pakailah," kata Yaslan menyerahkan pakaiannya. "Kita punya banyak waktu, pelan-pelan aja sampai kamu terbiasa..."
Malam itu mereka berdua pun tidur bersebelahan hanya dengan tangan yang saling berlilitan. Anika bisa merasakan kehangatan yang tersalurkan dari Yaslan.
Dia sangat tulus, batinnya sambil menatap wajah Yaslan yang tertidur. Aku juga harus bisa tulus mencintainya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah seharian lelah membongkar kardus pindahan, pengantin baru itu menikmati lingkungan baru mereka dan bersantai di taman dekat situ.
Mereka telah sepakat untuk pindah ke rumah dekat kampus baru Yaslan, yang akan melanjutkan studinya sambil kerja di rumah sakit yang letaknya masih satu kompleks. Anika juga akan sekolah keperawatan dekat situ.
Bulan madu sengaja mereka tunda sampai mereka sama-sama menyelesaikan studi mereka.
"Tentang orang yang tega menculikmu," ucap Yaslan memulai pembicaraan setelah mereka pulang ke rumah, "sepertinya dia ditangkap polisi."
Anika kaget mendengar itu, tapi berusaha tak terlalu menunjukkannya. "Syukurlah...." Hatinya lega, tapi juga sakit.
"Maaf aku diam-diam coba mencari tahu. Aku hanya ingin pastikan kamu bisa hidup tenang."
"Terima kasih mas, aku tidak apa kok. Sudah lama berlalu." Anika tahu dia tidak sepenuhnya jujur.
"Tapi traumamu masih ada! Kenapa kamu nggak mau konsultasi ke psikiater lagi?"
"Terima kasih mas, tapi obat yang waktu itu dikasi sudah cukup kok!"
Sejak kunjungan mereka ke orang tuanya tahun lalu, trauma Anika bertambah parah yang mengakibatkannya harus rutin meminum obat dari psikiater. Namun Anika menolak untuk pergi kunjungan rutin, karena tiap pertanyaan yang diajukan, hanya membuka luka lama yang ingin dia lupakan
Saat konsultasi dia diberi tahu untuk berdamai dengan luka batinnya. Tapi bagi Anika itu tidak mungkin. Dia lebih memilih untuk melupakannya, manghapusnya dari ingatannya daripada menghadapinya.
Anika merasa mentalnya sangat lemah.
Kedepannya hari-hari mereka bertambah sibuk setelah perkuliahan dimulai yang diseimbangi dengan pekerjaan. Tapi dengan ini Anika bisa mengalihkan pikirannya dari trauma yang ia derita.
Hampir setiap malam Yaslan membujuk istrinya untuk lebih intim bersamanya, yang selalu berakhir dengan penolakan.
"Hari ini udah minum obat tidur mas." atau "Masih takut mas." adalah alasan yang sering digunakan Anika.
Yaslan pun mencoba berbagai cara dengan mengajak meditasi atau hipnoterapi, yang sepertinya kurang berpengaruh pada Anika.
Suatu malam saat Anika pulang lebih malam dari Yaslan, Anika tak sengaja mendengar percakapan suaminya dengan seseorang.
"Mas?" panggilnya untuk makan malam bersama. Tangannya terhenti saat hendak mengetuk pintu kamar tidur mereka.
"Aku belum menyentuhnya sekalipun! Aku bisa gila dibuatnya."
Terdengar jelas sekali nada frustasi yang keluar dari ucapan suaminya itu.
"Sampai kapan aku harus hidup selibat seperti ini? Buat apa menikah kalau dia aja nggak bisa penuhin kebutuhan biologisku?!"
Anika menjauh dari pintu, tak ingin mendengar lebih lanjut.
Perasaannya campur aduk. Dia merasa bersalah belum bisa melakukan kewajibannya sebagai istri. Tapi di lain sisi dia merasa dibohongi. Di depannya, Yaslan selalu bilang tidak apa dan memberinya waktu sampai dia benar-benar merasa siap. Tapi di belakang kenapa dia bilang seperti itu ke orang lain?
Dia juga merasa Yaslan hanya ingin menikahi dirinya hanya agar bisa berhubungan badan dengan dirinya.
__ADS_1
Maafkan aku... aku kotor... aku tak pantas... Suatu hari kami pasti jijik denganku. Kalau kamu tahu semua, pasti kamu tinggalin aku.
Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepalanya sampai akhirnya Yaslan menemukannya di kamar mandi.
"Kenapa nggak bilang kalau udah pulang, sayang?" tanyanya mulai memeluk Anika. Dulu dalam keadaan ini Anika selalu berontak, tapi Yaslan ingin membiasakan pelukannya pada Anika sampai akhirnya berhasil.
"Yuk makan! Aku sudah masak lho!"
Setelah merasa lebih tenang, mereka pun pergi makan malam bersama.
"Maaf mas..."
"Sudah pokoknya nggak boleh minta maaf terus! Aku ada berita bagus nih!" Yaslan memberinya sebuah amplop dengan kop surat bertuliskan Rumah Sakit Jiwa dr. Garcia.
"Kamu dipanggil untuk kerja sambilan disana! Dokter yang memberimu beasiswa itu yang memanggilmu!" lanjutnya.
Mendengar itu Anika mulai sedikit merasa ada harapan. Setelah membuka amplopnya dia mulai membacanya.
"Kamu bilang dengan merawat mereka mungkin bisa menghilangkan traumamu kan?"
"Iya mas, terima kasih." Anika tersenyum riang dan itu membuat Yaslan cukup puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari pertama kerja, Anika merasa sangat gugup. Dia baru diperbolehkan kerjaan ringan seperti mengepel atau membersihkan kamar, tapi itu tak jadi soal.
Setelah dibawa berkeliling rumah sakit, mereka kembali ke lobby belakang untuk pergi istirahat.
"Disini bebas mau makan di kantin atau di luar, asal ijin sama security ya kalau mau keluar."
Ibu kepala tadi mengajaknya pergi makan di kantin, namun ada tempat yang menarik perhatiannya.
"Itu tempat apa, Bu?" tanya Anika menunjuk ke arah lorong panjang.
"Itu ruang isolasi. Kamar paling pojok adalah pasien dengan kondisi terberat disini."
Anika merasa seolah dipanggil untuk mendekati ruangan yang terletak di ujung lorong itu. Perlahan dia berjalan menyusuri lorong yang panjang sampai tiba di depan kamar yang tertutup pintu dengan jendela kecil di tengah. Ternyata ada seseorang di balik pintu tersebut.
Anika tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Seorang pria muda berparas cantik sedang duduk diam dengan tangan dan kaki yang terikat. Pandangan matanya kosong dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Walau sudah lama sekali, walau dia tampak sangat berbeda dengan rambut pendek dan pakaian yang bersih, tapi Anika yakin sekali siapa pria itu.
"Kairi..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih banyak sudah membaca karyaku 😇
__ADS_1