
Anika merasa sesak nafas dan mual karena ngeri sekaligus jijik dengan penemuannya itu. Dia mulai panik dan bingung apa yang harus dia lakukan dengan potongan tubuh di hadapannya ini.
Saat hendak meraih tasnya untuk menelfon Kairi, dia kaget tak melihat sosok Jane yang seharusnya masih tertidur di atas sofa.
"Jane?" panggil Anika, takut akan terjadi sesuatu padanya.
Dia mengecek setiap kamar sampai ke lantai dua tapi tak juga menemukannya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dan pintu utama yang terbuka. Dari jendela kamar atas, Anika bisa melihat sosok wanita menggendong anaknya yang sedang berjalan keluar melewati salju yang tebal.
Padahal cuaca di luar sangat dingin tapi Jane tak mengenakan jaket, seolah terburu-buru melarikan diri ke suatu tempat. Anika segera memakai jaketnya dan mengambil selimut tebal untuk menyusulnya. Dia telah melupakan potongan kaki manusia yang tadi dia temukan dan fokus ke keselamatan Jane dan anakinya.
"JANE!!" teriak Anika dari jauh berusaha menyusulnya. Tapi salju yang tebal membuatnya sulit berjalan. Apalagi dirinya sedang hamil sehingga dia harus hati-hati jangan sampai terjadi sesuatu pada diri dan janinnya.
Jane tak mempedulikan Anika dan terus berjalan cepat ke arah gudang tua yang terbuat dari kayu tak jauh dari rumahnya. Walau mereka tinggal di kota, tapi rumahnya termasuk pinggiran kota sehingga jarak antar tetangga lumayan jauh dan tiap rumah memiliki halaman yang sangat luas. Belum terdapat hutan Pinus yang mengelilingi kota sebagai pembatas..
Tak lama kemudian Anika berhasil menyusul Jane yang sudah memasuki gudang tua itu. Terdapat banyak sekali perkakas pancing yang terjejer rapi mengingat hobi Yuri yang suka memancing. Ember-ember, jaring ikan, bahkan perahu kayu pun ada di dalam gudang yang cukup luas tersebut.
Anika melihat dua buah freezer besar tempat penyimpanan ikan di tengah gudang, dan mendapati Jane yang sedang duduk menangis sambil memeluk anaknya erat-erat. Dia mendekati mereka dan menyelimutinya dengan selimut yang tadi dibawanya.
"Nggak usah takut," kata Anika perlahan mendekati wanita malang yang sedang terisak-isak itu. "Aku datang sebagai sahabat dan akan menolongmu."
Walau putrinya masih menangis kencang tapi Jane kelihatan mulai tenang dan menoleh ke arah Anika.
"Tolong saya ....." katanya memohon kepada Anika. "Saya tak ingin mati ..... Huhuhu." Jane mulai menangis lagi sambil terus memeluk anaknya erat-erat.
Anika berlutut di hadapannya untuk mendekatkan wajahnya. "Tenang Jane, ada aku." Dia berusaha menenangkan Jane dengan senyumannya dan pelan-pelan memegang tangannya. "Ada aku, kamu tak sendirian."
Dengan pengalamannya sebagai mantan perawat ODGJ, Anika berhasil membuatnya tenang dan sekarang pelan-pelan mengangkat Irina yang tak berhenti menangis.
"Tidak usah khawatir," lanjutnya terus tersenyum kepada Jane sambil berusaha menenangkan Irina dalam pelukannya. "Ayo kita ke tempat yang aman. Aku akan melindungi kalian."
Jane mulai mendengar Anika dan mengikutinya kembali ke rumah.
Anika tak sadar terdapat potongan tubuh manusia lain di lantai gudang yang luput dari pandangannya karena terlalu fokus pada Jane dan putrinya.
__ADS_1
Sampainya di rumah, Anika menelpon suaminya dan memintanya segera menjemput mereka. Sambil menunggu Kairi datang, Anika mengemas barang-barang Jane dan putrinya dengan niat ingin menyembunyikan mereka dari suami kanibalnya.
Tak lama Kairi datang dan heran dengan koper yang telah disiapkan Anika.
"Akan ku ceritakan nanti! Ayo cepat pergi!" perintahnya panik membuat Kairi tak tenang.
Tiba di rumah mereka, Anika menceritakan semua yang terjadi kepada Kairi setelah mengamankan Jane dan putrinya di dalam kamar karena tak ingin mereka mendengar pembicaraannya.
"Kupikir dia benar-benar sudah pensiun, tapi sepertinya dia telah banyak berbohong!" seru Anika masih gemetar karena tak percaya dengan apa yang dia lihat tadi.
Kairi menenangkan istrinya dengan memeluknya sambil terus berpikir. Sebenarnya instingnya mengatakan bahwa Yuri bukan orang jahat dan tak berbahaya, apalagi mereka berdua telah lama menjalin hubungan. Tapi dia menjadi ragu apa mungkin hubungan darah membuat instingnya menjadi tumpul?
Kalaupun benar Yuri masih mengkonsumsi daging manusia, dia harus tahu apa motif dan targetnya memilih daging yang akan dia konsumsi. Dia harus pastikan istrinya aman dari adik kanibalnya itu.
Sebenarnya Kairi tak pernah mempermasalahkan penyimpangan seseorang selama istrinya aman. Karena itu dia tak pernah mencari tahu tentang keadaan adiknya. Satu hal yang dia tahu dan sembunyikan dari istrinya itu bahwa ketika Kairi membunuh pendeta dan biarawati waktu itu, Yuri mengambil lidah dan organ mereka, yang dia jadikan cemilannya setahun.
Menurut pengakuan Yuri, seperti mengurangi ketergantungan pada narkoba dengan cara mengurangi kadar konsumsinya setiap hari, dia pun harus mengurangi jumlah asupannya sedikit demi sedikit sampai benar-benar bisa terlepas sepenuhnya.
Kalau begitu kenapa masih ada potongan tubuh manusia di kulkas? Padahal adiknya tahu Anika akan datang berkunjung, kenapa dia sengaja menaruhnya di freezer kulkas rumah?
"Aku tak mungkin membiarkan Jane dan bayinya sendirian, Sayang. Dia sedang trauma dan itu bisa memperparah keadaan kalau sampai dia menjadi stres!"
Rencana Kairi sebenarnya ingin menyembunyikan mereka berdua di tempat yang terpisah. Untuk sementara Kairi tak bisa percaya siapapun, bahkan kepada Jane.
"Ini demi keamanan kalian." jelasnya pada Anika berusaha meyakinkan istrinya.
"Nggak akan aman kalau sampai Jane bunuh diri!"
Sebenarnya Kairi tak peduli Jane mati, tapi dia tak ingin melihat istrinya sedih. Kairi kemudian memberi usul untuk membawa Jane ke RSJ bersama putrinya untuk menjamin keselamatan mereka. Tapi Anika tetap berharap bisa merawat Jane karena di tempat umum seperti itu pasti akan ketahuan oleh Yuri yang seorang polisi.
Akhirnya Kairi menyetujui rencana Anika dengan syarat harus mengalungi ponselnya agar bisa langsung menghubungi dirinya bila terjadi sesuatu.
"Terima kasih, Sayang," ucap Anika mengecup pipi Kairi yang telah mengantar mereka ke sebuah hostel tua di desa jauh dari rumah Yuri.
__ADS_1
Kairi menatap istrinya lama-lama sebenarnya tak ingin berpisah darinya. Dia akhirnya mengendarai mobilnya ke rumah Yuri dan menunggu adiknya pulang.
Langit menjadi gelap, lama menunggu akhirnya Yuri pulang dari kerjanya yang melelahkan.
"Dimana yang lain? Tumben ada kakak tercinta?" Tanpa curiga sedikitpun Yuri membuka jaket dan topi dinasnya.
Ketika dia masuk, Kairi melempar potongan kaki manusia ke atas meja tanpa perasaan takut pada adik kanibalnya.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya terus terang.
Yuri terdiam menatap potongan tubuh itu tanpa ekspresi.
Kedua kakak beradik psikopat ini beragumen seolah potongan tubuh manusia yang sekarang tergeletak di atas meja itu hanyalah mainan. Orang normal pasti sudah mual melihat potongan kaki yang darahnya mulai mengalir, tulang kaki yang mencuat keluar dengan beberapa urat dan otot segar masih menempel.
"Oh .... Itu ...."
Kairi tak memberinya kesempatan untuk bicara lebih lanjut dan langsung mendorong adiknya ke tembok, mencekiknya dengan satu tangan.
Yuri berusaha melawan dengan teknik pertahanan yang diajarkan di kepolisian membuatnya terlepas dari jeratan kakaknya. Dia langsung mengambil borgol tangan dan mengunci tangan Kairi ke meja marmer dekat situ.
"Sebenarnya aku mau menjelaskan, tapi kakak psikopatku sepertinya tak bisa diajak bicara."
Tidak terima dikunci seperti ini, Kairi berusaha menyerang adiknya dengan kaki yang tentu saja bisa dihindarinya.
"Dimana mereka?" tanya Yuri terus menghindari serangan kakaknya. Meja yang berat itu sampai bergeser karena kekuatan Kairi.
"Jangan harap kau bisa sentuh Anika!"
Tahu kakaknya sangat protektif terhadap istrinya membuat Yuri susah untuk bisa bicara dengannya. Akhirnya dia mulai mengakui kenyataan yang selama ini dia sembunyikan.
Dia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau istrimu bersama istriku, aku nggak yakin dia bisa selamat."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sepertinya pembacaku pada pintar-pintar ya! Atau aku yang memberi petunjuk terlalu banyak??