Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 12 Perjuangan


__ADS_3

Melihat Anika menangis, Yaslan segera menghentikan aksinya.


"Maaf Anika, maaf, maaf maaf!"


Dia sekarang sedang berlutut di lantai. Wajahnya benar-benar kelihatan menyesal.


"Maaf aku salah! Aku mengikuti saran teman, tapi sepertinya memang benar kalau cewek nggak akan mau dipaksa seperti ini!"


Sudah enam bulan Yaslan mencoba untuk membuka pintu hati gadis yang ditaksirnya, tapi tak berhasil. Itu membuatnya putus asa sampai nekat melakukan sesuatu yang sebenarnya di luar prinsipnya.


Mungkin kalau masa laluku nggak sekelam ini, aku mau saja menerima cintamu, batin Anika.


Dia tetap terdiam dan meraih tasnya, kemudian menuju pintu kamar.


Melihat itu, Yaslan menahannya.


"Aku yang akan keluar, kamu tetaplah disini." Dia pun segera berganti pakaian di kamar mandi.


Sebelum keluar, dia kembali memandang Anika. "Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal. Tapi yang aku lakukan padamu itu karena aku sungguh-sungguh menyukaimu. Aku nggak pernah seperti itu ke wanita lain."


Anika sekarang sendirian di kamar. Badannya mulai gemetaran.


Dari tadi dia menahan diri untuk tidak terlihat takut. Sekarang karena dia telah sendiri, trauma di masa lalu mulai kembali meneror dirinya.


Karena traumanya itu, dia sangat takut pada lawan jenis dan benci disentuh oleh mereka. Hanya Kairi yang bisa menghilangkan traumanya itu. Dan di saat traumanya muncul lagi, tanpa sadar dia akan selalu memikirkan Kairi.


Kenapa selalu Kairi yang terpikirkan. Anika mulai jatuh di lantai memeluk dirinya dan menangis. Kenapa aku nggak bisa melupakannya?!


Dengan mengingat Kairi, rasa takutnya mulai menghilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, kedua sahabat itu terlihat canggung saat menikmati alam.


Yaslan takut akan melukai Anika lagi, karena itu dia berusaha membuat jarak di antara mereka. Dia juga kurang tidur gara-gara semalam tertidur di sofa lobby karena tak menemukan penginapan lain.


Anika sedikit merasa bersalah. Gara-gara dirinya, Yaslan harus keluar dari kamar.


Tidak ini bukan salahku, kalau saja dia yang nggak menyerangku duluan, batin Anika berusaha untuk tidak menyalahkan dirinya.


Karena mengambil bus malam, mereka berdua sepakat untuk menghabiskan waktu keliling desal di dekat halte. Suara kodok terdengar dari sawah di malam penuh bintang ini.


Tak jauh dari situ, Anika melihat banyak kunang-kunang berterbangan di tepi sungai. Bahkan jumlahnya lebih banyak daripada yang pernah dia lihat dulu.


Dia segera mendekati sungai itu, berpikir untuk menangkap satu.


"Anika! Hati-hati!" Yaslan memperingati dirinya. Aliran sungai yang cukup deras membuatnya khawatir.

__ADS_1


Anika tak mengindahkan peringatannya. Ia tetap mencoba untuk mengejar kelap-kelip serangga bercahaya itu, mengejar kenangan indahnya bersama Kairi.


Karena terlalu fokus pada makhluk kecil itu, Anika tak sengaja menginjak pinggir tanah yang lembek, membuatnya terpeleset masuk ke sungai.


"Anika!!"


Tanpa pikir panjang Yaslan langsung meloncat masuk ke dalam sungai untuk menangkap Anika. Dia pernah belajar mengenai cara-cara penyelamatan diri saat berkemah bersama teman-temannya, karena itu dia berusaha tenang dan berenang mengikuti arus untuk menangkap Anika. Setelah mendapatkannya, dia berenang kembali mengikuti arus, berusaha menepi.


Anika tak sadarkan diri karena sudah terlalu banyak menelan air sungai.


"Kumohon, bertahanlah!" Yaslan berusaha menekan-nekan dadanya dan memberinya nafas buatan. Pengetahuan dasar mengenai pertolongan pertama sangat ia kuasai mengingat profesinya sebagai dokter.


Tak lama kemudian Anika mulai terbatuk-batuk dan memuntahkan airnya keluar.


"Syukurlah, Anika." Yaslan memeluknya erat-erat. Anika bukan kekasihnya, apalagi istrinya, tapi dia merasa hampir kehilangan orang yang sangat dia kasihi.


"Kamu tak apa? Aku segera ambilkan baju hangat." katanya hendak menuju tas yang mereka tinggalkan di tempat asal.


"Kairi..." adalah kata yang pertama keluar dari mulutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aktifitas mereka yang padat membuat keduanya semakin jarang bertemu.


Yaslan sebenarnya penasaran dengan nama yang sempat dia dengar waktu itu. Menurutnya itu bukan nama seorang wanita.


Tapi Yaslan sama sekali tak terlihat marah padanya.


Sebagai gantinya, Anika mulai membuka sedikit hatinya. Dia tak ingin merepotkan Yaslan lebih dari ini, dan ingin membalas budinya.


Karena itu Anika memberanikan diri mendatangi rumahnya sambil membawakan sedikit makanan sebagai tanda terima kasih.


"Anika?" Yaslan terkejut tamunya di malam hari ternyata Anika.


"Ini untukmu, terima kasih waktu itu. Maaf sudah banyak merepotkanmu"


"Sudah kubilang kan, nggak jadi masalah. Jangan terlalu dipikirkan." Entah kenapa Yaslan tak berani membuka pintunya lebar-lebar.


Samar-samar Anika melihat ada sosok orang lain yang terlihat dari celah pintunya yang terbuka sedikit.


"Aku sudah berkali-kali merepotkanmu kak."


"Ya sudah, sampai ketemu besok ya!"


Sebenarnya Anika berharap untuk diundang masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama, Dia sedikit curiga dengan Yaslan yang mah menyuruhnya pulang.


Tapi saat Anika berbalik, dia dikejutkan oleh suara seorang wanita dari dalam rumah.

__ADS_1


"Siapa Lan?" Wanita itu mendekati Yaslan dan membuka pintunya lebar-lebar.


Di hadapannya, berdiri seorang wanita yang cantik dan sangat modis. Riasan di wajahnya terlihat bagus dan rambutnya pun digulung sangat cantik.


Anika sadar bahwa dia telah mengganggu acara mereka berdua dan segera berpamitan.


"Selamat malam." pamitnya segera berbalik.


Memang seumur hidup sebaiknya aku sendirian. Nggak ada cowok yang bisa dipercaya.


Tiba-tiba sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya.


"Ini bukan seperti yang kamu lihat!" Yaslan berusaha meyakinkannya.


Berduaan dengan wanita cantik di satu atap. Kalau bukan seperti yang aku lihat, lalu apa? batin Anika sedih.


Tapi dia kemudian sadar, bahwa dia bukan siapa-siapanya Yaslan. Hanya seorang teman, tak lebih dari itu. Walau begitu dia merasa dibohongi karena selama ini Yaslan selalu mengatakan bahwa dirinya spesial.


Karena itu merasa sedikit kecewa melihatnya bersama wanita lain.


"Nggak apa kok, maaf sudah mengganggu kalian ya."


"Tunggu! Anika! Maafkan aku..."


"Nggak usah minta maaf kak. Dari awal kita hanya teman aja kan, nggak lebih."


Anika berusaha melepaskan genggaman darinya, tapi Yaslan menangkap tangannya yang satu.


"Buat hubungan kita lebih dari teman. Dengan begitu aku nggak akan membiarkan cewek lain mengganggu pikiranmu."


Anika semakin bingung dibuat olehnya.


Apa maksud kata-katanya itu? batinnya heran.


"Mungkin ini sudah yang kesekian kalinya aku bilang, hanya kamu yang spesial untukku. Tolong terimalah cintaku! Kamu boleh putusin aku kapan aja kalau merasa nggak nyaman denganku. Tapi beri aku kesempatan tiga bulan saja!"


Anika tak tahan melihat wajah memelas Yaslan. Apa yang membuat dirinya begitu spesial sampai diperjuangkan oleh cowok baik dan mapan seperti dia?


Pikirannya mulai kembali ke pengorbanan dan perjuangan yang telah dilakukan Yaslan pada dirinya selama ini.


Apakah dia boleh menerima cintanya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih ya sudah baca bab ini..


Mohon dukungan like dan komennya ya agar bisa terus berlanjut😇

__ADS_1


__ADS_2