
"Ini makanlah dulu."
Anika berusaha menyuapi sup yang tadi dia beli di seberang hostel, tapi Jane tetap tak mau memakannya. Padahal seluruh tubuhnya bergetar.
"Apakah kamu ingin tidur saja?"
Karena tak merespon, Anika menuntunnya ke ranjang besar di tengah ruangan memintanya untuk tidur. Jane terbaring kasur dengan wajah pucat dan terus mengigil, padalah Anika sudah menyelimutinya. Keadaannya ini membuat Anika khawatir dan berharap Kairi bisa segera menyelesaikan masalahnya dengan Yuri dan kemari.
Tiba-tiba Irina menangis karena lapar membuat Anika melepaskan pandangannya dari Jane.
"Ini anak imut, kamu juga lapar ya?" Dengan lincah Anika menyiapkan susunya ke dalam botol yang sudah dia bawa. Walau sudah berusia dua tahun, Irina belum bisa jalan dan bicara, membuat Anika juga khawatir dengan perkembangannya.
"Mama sedang sakit, jadi kamu dengan tantemu dulu ya." ucapnya memangku Irina yang sedang sibuk meminum susunya.
Kehamilannya membuatnya lebih cepat merasa lelah. Dia sedaritadi harus menggendong Irina karena keadaan Jane yang tidak stabil. Walau telah berusaha melakukan yang terbaik, tapi ternyata fisiknya saat ini kurang mendukung. Untungnya sekarang dia bisa duduk beristirahat di atas kursi. Tak lama kemudian Anika terlelap dalam tidurnya.
Dia dibangunkan oleh suara tangisan Irina yang sepertinya terdengar dari kamar mandi. Siapa yang membawanya kesana? Saat menyusulnya ternyata Jane sedang memandikan putrinya.
Melihat pemandangan akrab ibu dan anak itu membuat Anika tersenyum. Dia menjadi tenang karena Jane sepertinya sudah stabil dan bisa beraktifitas normal kembali. Lama memandang mereka membuat Anika merasakan kejanggalan. Irina sudah tidak menangis, tapi dia juga sudah tidak terlihat di permukaan air.
Jane berusah menenggelamkan anaknya sendiri.
"Apa yang kau lakukan!" serunya langsung mencegat usaha Jane.
Tubuh Irina mengambang di permukaan air membuat Anika langsung mengangkat dan memberinya pertolongan pertama. Sebagai perawat dia memiliki pengetahuan mendasar ini. Berkali-kali Anika memompa dada kecilnya dan memberi nafas buatan tapi Irina tak kunjung sadar.
"Ayolah, Irina ...." Anika terus memompa tubuh kaku anak malang itu, berharap bisa menyelamatkan nyawanya.
Untungnya usahanya membuahkan hasil, seluruh air dimuntahkannya keluar dan membuatnya mulai menangis. Anika langsung bernafas lega dan menggendongnya menjauhi Jane. Dia sungguh tak menyangka mental Jane serusak ini.
Jane hanya terdiam melihat itu semua. Pikirannya terlihat kosong.
__ADS_1
Karena tahu keadaannya yang tak bisa dia tangani sendiri, Anika meraih ponselnya untuk menelpon suaminya. Dia melihat ada puluhan panggilan masuk dari nomer tak dikenal dan sadar ternyata ponselnya daritadi suaranya dimatikan.
Anika keluar kamar mandi dengan Irina di tangan dan mencoba untuk menelpon balik nomer yang tak dikenal itu yang ternyata tersambung ke ponsel Yuri.
"Hallo?"
"Anika? Cepat bawa keluar Irina dari sana!!" perintah Yuri yang kemudian memaki-maki kakaknya karena mengendarai mobil dengan sangat semberono padahal memakai mobil dinasnya.
Anika masih berpikir bahwa Yuri adalah orang jahat sehingga tak yakin dengannya. "Dimana Kairi?" tanya Anika sedikit merinding.
Yuri memberikan ponsel ke kakaknya. Kairi kemudian teriak dari balik pengemudinya, "JAUHI JANE SEKARANG JUGA!!"
Anika yang daritadi berpikir Jane adalah korban kanibalisme dan tak berbahaya, terlihat ketakutan saat berbalik mendapati Jane yang perlahan melangkah maju mendekati dirinya.
"Kembalikan anak saya ...." katanya tersenyum yang malah kelihatan menyeramkan dengan wajah pucat tanpa ekspresi.
"Lihatlah anakmu, Jane. Dia sama sekali tak bersalah. Tenangkan dulu pikiranmu." Anika masih belum paham dengan larangan Kairi untuk menjauhi Jane. Dia berpikir kejiwaan Jane kumat dan berusaha ingin menolongnya, sama seperti yang biasa dia lakukan pada pasien-pasien ODGJ yang dulu dia rawat.
"Kamu tak sendirian, aku akan menolongmu. Tak ada yang salah disini. Kamu hanyalah korban." tambah Anika berusaha menenangkannya.
Tangisan Jane pecah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terus terisak. "Saya bukan ibu yang baik! Saya monster!"
Merasa iba dengan yang dialami Jane, membuat hati Anika tergerak. Sebelum hamil dia pun selalu berpikir dirinya tak layak menjadi ibu. Dia takut suatu hari kejiwaannya menjadi tidak stabil dan akan berubah menjadi monster untuk mencelakai anaknya sendiri. Tapi Kairi telah memberinya banyak kekuatan yang membuatnya bisa lebih berani mengambil langkah besar untuk memiliki anak seperti sekarang ini.
"Tidak, itu tidak benar. Memang tak ada ibu yang sempurna, tapi aku yakin semua ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya."
Saat mengatakan ini, Anika tak bisa membayangkan ibunya, dia tak bisa membayangkan ibu Kairi. Tapi dia membayangkan dirinya yang akan menggendong buah cintanya dengan orang yang dia cintai.
Jane terdiam yang membuat Anika berani melangkah maju. Dia berpikir dengan sentuhan akan membuat Jane lebih tenang, tapi dia tak sangka Jane malah menggigit lengannya yang terulur.
Anika kaget dengan tindakan Jane dan berusaha melepas gigitan di lengannya yang kesakitan. Kulit lengannya mulai robek akibat taring tajam Jane. Anika tak bisa melepaskan dirinya secara maksimal karena sebelah tangannya menggendong Irina yang mulai menangis lagi.
__ADS_1
Jane melepas gigitannya dan kata-katanya membuat Anika ngeri. "Anika sangat lembut hatinya, rasanya saya ingin sekali mencicipi jantungmu."
Akhirnya Anika sadar dengan percakapannya tadi di telepon dan berusaha lari menjauhi Jane yang mulutnya telah berlumuran darah milik Anika.
Dengan keadaan hamil dan menggendong anak di tangan membuat Anika kesusahan untuk lari meraih pintu. Jane berhasil menangkap ujung baju Anika dan menariknya, membuat Anika terjatuh ke depan katena kehilangan keseimbangan padahal pintu keluar sudah di depan mata.
Ketika terjatuh Anika berusaha melindungi kepala Irina sebelum mendarat dengan keras ke lantai. Seketika perutnya merasakan sakit luar biasa karena tekanan yang dia dapatkan ketika terjatuh tadi. Anika merasakan cairan mengalir dari paha dalamnya, yang ketika dia perhatikan merupakan darahnya sendiri.
Jane mendekati Anika yang telah terkapar di lantai dengan darah segar yang masih terus mengalir keluar. Dia mengambil Irina dan tak menghiraukan Anika yang hampir kehabisan darah karena hanya fokus pada anaknya.
"Sayangku, sebentar lagi kita menjadi satu ...." Irina yang terus menangis dia cium dan elus kepalanya.
Saat Jane hendak melangkah menjauh, Anika berusaha menahannya dengan mencengkeram pergelangan kakinya kuat-kuat, berusaha menghiraukan sakit di perutnya.
"Jangan .... Dia anakmu ...." katanya berusaha menghentikan niat Jane.
Lama-kelamaan cengkraman Anika melemah karena terlalu banyak kehilangan darah. Dia berusaha mengajaknya bicara lagi tapi tak ada suara yang keluar. Lama-kelamaan matanya menjadi berat, sebelum tak sadarkan diri Anika merasakan percikan darah segar membasahi sekucur tubuhnya.
Irina sudah tak terselamatkan dan mati di tangan ibunya sendiri, dan mungkin dirinya adalah korban kanibalisme berikutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai pembaca setia! Benar sekali Jane adalah kanibal!
Apa yang sebenarnya terjadi? Ayo kita baca lanjutnya ya! Kisah cinta antara Yuri dan istrinya...
Jangan lupa dukungan like komen hadiah dan vote sangat dinantikan!
Semakin banyak yang baca, author janji akan semakin banyak up lho!!
Terima kasih🤗🤗❤️
__ADS_1