
"Segera masuk ke dalam dan periksa keadaan!" Kepala bagian divisi kriminalitas yang mendengar percakapan mereka lewat perekam suara dari Kairi, langsung memerintahkan sang kapten untuk masuk bersama pasukan khusus.
Semua polisi di markas termasuk Yuri yang mendengarnya, khawatir akan hal buruk apa yang telah dilakukan oleh kakaknya itu. Begitu sang kapten memasuki gedung dan melihat semua anggota tim kepolisian telah tewas selain Kairi, tanpa pikir panjang dia menodongkan pistol ke arahnya.
"Angkat tanganmu dan jangan coba-coba untuk melawan!" Dia tak menyangka anak didiknya itu tega membunuh semua rekannya sendiri.
Kairi masih berdiri dengan tangan berlumuran darah Jack dan percikan darahnya. Dia masih tunduk terdiam memikirkan kata-kata yang tadi dibisikkan oleh rekannya itu.
"Segera angkat tanganmu bila tak ingin mendapat tembakan!" Perintah sang kapten sekali lagi melihat Kairi yang tetap diam mematung.
Kairi telah dihianati oleh Jack. Dia bahkan telah dikambing hitamkan olehnya.
"Kairi Evans! Segera angkat tanganmu dan serahkan dirimu kalau tak ingin terluka ...."
Perlahan Kairi membalikkan badannya yang membuat seluruh anggota kepolisian takut dan tegang. Semua polisi ikut menodongkan pistolnya ke Psikopat itu.
"Jangan coba macam-macam pada kami, atau kau ...."
Perkataan sang kapten dipotong oleh gelak tawa Kairi. Dia tak melakukan apapun selain membunuh pelakunya, kenapa dia harus mengangkat tangannya?
Selama ini sang kapten khawatir sisi Psikopat Kairi keluar dan tega membunuh seluruh anggota timnya. Ketakutannya ini menjadi nyata ketika melihat pemandangan di hadapannya ini. Seluruh anak didiknya tewas di tangan Kairi bahkan pasukan khusus kepolisian telah dihabisi semuanya.
Dia masih belum tahu ini semua ulah Jack yang sepertinya merupakan mata-mata musuh.
"Aku harus angkat tangan lalu apa?" tanya Kairi pada pelatihnya itu.
"Maaf sekali, tapi kamu harus ditahan atas tindakanmu ini," jelasnya terlihat sungguh menyesal. Sang kapten telah mempercayai Kairi tapi dia pikir telah dihianati.
"Kalau aku tak ingin masuk penjara lagi?" tanyanya berharap masih bisa bebas dan melihat istrinya.
"Kami akan memaksamu!"
Kairi tahu dengan apa yang telah terjadi, dia pasti akan ditahan lagi dan harus menghabiskan tahun panjang di balik jeruji. Entah itu di penjara atau di bilik rumah sakit jiwa, dia tak menginginkan itu, dia hanya ingin kembali di sisi istrinya.
Kairi tetap tak mengangkat tangannya dan malah bersiap untuk menyerang karena hanya itu satu-satunya cara untuk bebas pikirnya. Sang kapten menembakkan peluru pertama yang ditujukan ke arah kakinya. Kairi berhasil menangkapnya dengan tangan palsunya dan meremukkannya. Polisi lain mengikuti perintah sang kapten dan ikut menembakkan peluru ke arah Kairi.
"Jangan sampai membunuhnya!" katanya memperingati anak buahnya.
Kairi melindungi dirinya dengan tubuh Jack yang tadi tergeletak di bawah. Dia menjadikannya tameng dan berhasil melarikan diri melewati pintu belakang. Peluru yang berhasil menggoreskan luka di bagian bahu dan perut mulai mengeluarkan darah ketika dia berlari. Kairi memasuki hutan untuk menghindari pasukan polisi lainnya. Dia juga telah mencabut alat penyadap suara yang sekaligus merupakan signal pelacak lokasi dan meremukkannya sebelum dibuang ke bawah.
__ADS_1
Hanya satu tujuannya, Kairi ingin berlari ke tempat istrinya berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Markas kepolisian yang mendengar itu semua terkejut sampai hening sesaat. Yuri masih tak percaya kakaknya telah menghianati mereka semua dan sekarang telah kabur menjadi buron.
"Dia terlalu berbahaya, kita harus meningkatkan pencariannya. Jangan sampai dia tiba di markas kepolisian dan membunuh kita semua." Perkataan kepala divisi membuat seluruh anggota kepolisian ketakutan.
Tak mungkin kakak akan membunuh kita, batin Yuri ingin mempercayai kakaknya itu.
Dia merasa terdapat banyak kejanggalan seperti keadaan markas organisasi yang kosong dan seluruh anggota tim mati selain Jack. Tak mungkin Kairi membunuh mereka tanpa alasan. Bila sisi Psikopatnya muncul dia memang bisa saja membunuh orang tak bersalah, tapi dia yakin kakaknya itu telah rutin meminum obatnya dan yakin dengan iming-iming ke pulau bersama istrinya yang pasti sangat dinantikannya, tak mungkin Kairi mengacaukan misinya itu.
Kepala divisi telah memerintahkan banyak kepolisian untuk menjaga perbatasan wilayah dan setiap penerbangan yang menuju ke lokasi mereka. Yuri diam-diam mencari tahu mengenai info markas organisasi dan asal-usul tiap anggota tim inti yang pasti salah satu di antara mereka telah membelot dan menjebak Kairi dengan alasan tertentu.
Di lain sisi, Kairi yang mengetahui jalur udara tak aman, memilih jalur laut. Walau akan memakan waktu yang lama untuk tiba di tujuan, tapi yang terpenting dia bisa kembali ke rumah untuk melihat istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dia tak ada di sini," Yuri menodongkan pistolnya ketika Kairi akhirnya tiba di rumahnya dan masuk melewati jendela kamar yang terbuka.
Dia telah menebak kakaknya tak mungkin menyerang kepolisian dan akan memilih menemui istri tercintanya itu.
"Kenapa kakak membunuh semua rekan dan menghianati kepolisian?" tanyanya sungguh-sungguh tak ingin mempercayai hal ini.
"Kamu pikir aku akan membiarkan seorang buronan menemui kakak iparku dan calon ponakanku?"
Kairi tertawa remeh mendengar itu. Dia merasa lucu dengan anggapan adiknya yang merasa dirinya berbahaya bagi istri dan anaknya sendiri.
"Aku lagi malas bicara, cepat katakan dimana Anika?!"
Yuri menembakkan satu peluru yang melesat di samping kepala Kairi. "Aku tak sedang bercanda kak."
Kairi terdiam sesaat. Bisa saja dia membunuh adiknya dan mencari istrinya sendiri. Tapi dia tak ingin kehilangan lebih banyak lagi orang yang bisa dia percaya. Dia tak peduli Yuri tak mempercayainya lagi, tapi dia masih memepercayai adiknya itu.
"Kau ingin tahu apa yang terjadi, coba cari tahu lebih banyak lagi tentang Jack. Dia sepertinya kaki tangan ayah."
"Apa?" Yuri tak menyangka Kairi mendapat petunjuk tentang ayahnya. "Dari mana kamu tahu?"
"Aku nggak ada waktu, dimana Anika?" Kairi tak ingin tertangkap polisi lagi, karena itu dia ingin segera meninggalkan tempat ini dan keluar bersama istrinya.
__ADS_1
"Di toko," jawab Yuri akhirnya dan Kairi segera lari meninggalkan adiknya yang masih terlihat kaget dengan informasi baru dari kakaknya tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Terima kasih telah belanja kembali, Nek!" Anika berterima kasih kepada pelanggan setianya yang tetap belanja daging di tokonya walau telah lama tutup.
"Suamimu lama tak kelihatan nak?" tanyanya penasaran.
"Dia sekarang membantu kepolisian, Nek," jawab Anika ramah sebenarnya tak ingin bicara banyak tentang suaminya karena hanya akan membuatnya tambah rindu.
"Selain tampan dia itu pria yang sangat ramah dan suka menolong. Hebat sekali ya sekarang bisa bergabung dengan polisi." Pujiannya itu membuat mata Anika berkaca-kaca.
Sebulan telah berlalu dari terakhir dia mendapat telepon dari suaminya, dan sudah hampir dua bulan dia tak melihatnya. Yuri bilang semua baik-baik saja dan sesuai rencana, tapi tetap saja Anika merasa gelisah tak tahu apa yang sebenarnya menimpa suaminya itu.
Dia belum tahu suaminya telah menjadi buronan rahasia polisi.
"Suami yang setia sudah jarang di jaman modern ini. Apalagi yang baik dan perhatian. Apa pun kesalahan yang pernah dia lakukan, kau harus bisa memaafkannya," katanya menasehati sambil membayangkan mendiang suaminya sendiri.
Anika menyeka air matanya yang sudah tak bisa ia bendung lagi. Kerinduannya membuatnya menghalusinasikan suara suaminya sendiri.
"Anika."
Halusinasinya dan ketidak seimbangan hormonnya membuat tangisannya pecah seketika.
"Hikshiks Kairi ...." Anika masih belum sadar Kairi sungguhan telah memasuki tokonya dan meminta para pelanggan untuk keluar dan menutup tokonya.
Anika berjongkok di balik etalase barang dagangannya, terus menangis dan memanggil nama suaminya. Melihat itu Kairi tersenyum merasa beruntung masih bisa melihat istrinya lagi.
Perlahan dia memeluknya dari belakang, "Aku selalu ada untukmu, Sayangku."
Anika kaget tak percaya suaminya sungguhan datang dan memeluk dirinya. Dia berbalik dan membalas pelukannya. Sejoli itu saling berpelukan melepas rindu, menghiraukan lantai toko yang kotor.
Kairi selalu datang di saat terpuruknya. Dulu pun begitu, sekarang juga. Akankah dia selalu ada untuknya sampai akhir hayatnya?
"Ayo kita pergi jauh dari sini, Sayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Atas permintaan para pembaca setia, author berusaha untuk segera menyelesaikan bab berikutnya.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kali ini Anika dan Kairi bisa hidup damai?
Mohon dukungannya terus ya🤗