
Anika terkulai lemas di ambang pintu tokonya karena telah menyaksikan adegan pembunuhan di depan matanya. Apalagi pembunuhnya adalah suaminya sendiri. Ini kedua kalinya dia menyaksikan sendiri pembunuhan yang dilakukan oleh Kairi, tapi terlihat lebih jelas. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa. Lari dari lokasi ini sejauh mungkin? Atau sekali lagi memaafkan suami yang seorang pembunuh? Membunuh penjahat saja Anika sebenarnya tak setuju, apalagi sekarang suaminya itu membunuh polisi.
Sekali lagi Anika seolah diingatkan oleh sosok suaminya yang seorang Psikopat. Perasaannya menjadi kacau antara ingin meninggalkannya atau menerimanya apapun yang dia lakukan.
Setelah berhasil membunuh tujuh polisi sekaligus, Kairi menyeka bagian pipinya yang terkena goresan peluru yang tadi melesat nyaris menghantam kepalanya. Dia tersenyum puas bisa membunuh mereka semua dan melihat istrinya masih hidup.
"Sayang, kamu nggak terluka kan?" tanyanya ketika berbalik menghampiri istrinya yang terlihat sangat terguncang itu. Kairi berlutut membelai rambut panjangnya, berusaha menenangkan istrinya yang masih gemetaran. "Tega sekali para polisi sialan itu membuat istriku yang malang ketakutan."
Anika gemetar karena takut pada suaminya. Dia tak tahu harus bagaimana bereaksi terhadapnya. Bila dia menolak uluran tangan Kairi, apakah dia akan dibunuh juga? Ataukah suami sakit jiwanya itu akan menghancurkan toko dan membunuh orang lain yang tak bersalah secara acak? Anika hanya bisa diam gemetar ketakutan. Dia berusaha mengatur nafasnya untuk menyembunyikan perasaan takutnya itu.
Untung saja kejadian ini terjadi pada dini hari sehingga tak ada yang menyaksikan. Kairi meminta Anika untuk masuk ke dalam karena ingin membereskan mayatnya. Walau tubuhnya masih panas, dia merasa lebih sehat karena telah berhasil melampiaskan adrenalinnya dengan membunuh orang lain. Para tubuh korban diseret masuk ke dalam toko dan dimasukkan ke dalam ruangan pembeku tempat sepasang suami istri itu biasanya menyimpan stok daging. Bekas darah di lantai disiram dengan air yang keluar dari selang.
Kairi sebenarnya bukan seorang kanibal. Tapi seolah terinsipirasi dari Jane, dia berpikir untuk mencicipi daging manusia. "Banyak daging yang bisa kita jual besok ya, Sayang."
Anika hanya bisa diam masih gemetaran melihat suaminya memutilasi tubuh-tubuh para polisi dan memasukkannya ke dalam penggilingan daging. Sebagian dagingnya bahkan telah dia bumbui dan bentuk seperti perkedel daging.
Dia kumat lagi! batin Anika melihat keabnormalan suaminya. Dia kembali seperti ketika pertama kali menculikku dulu!
Kairi memakai dapurnya dan memasak daging yang telah dia olah dan menghiasi piringnya dengan dekorasi seperti hidangan makanan di hotel bintang lima.
"Ini akan meningkatkan gizi anak kita, Sayang," katanya senang sambil menyajikan maha karyanya itu yang berupa perkedel daging manusia untuk disantap istrinya.
Mendengar itu Anika hanya bisa menangis dalam diam berharap bisa keluar dari tokonya ini dan menjauhi suaminya yang sedang kumat. Tiga Minggu terkurung di dalam loteng ternyata membuat otaknya semakin gila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika pulang ke rumahnya sendiri, kapten Brown menemukan Yuri yang baru keluar dari kamar mandi rumahnya bersama sang pel*cur. Dia sebenarnya merasa tak nyaman dan ingin menanyakan alasan melakukan hal tak pantas di rumahnya, tapi tentu saja tak bisa bersuara karena alat penyadap yang terpasang pada rekan kerjanya itu.
"Oh, hahaha, seru ya tadi bisa mandi bersama," katanya canggung seolah menikmati melihat Brown yang mendapati dirinya masih setengah telanjang. Yuri sebenarnya ingin menjelaskan kepada Brown bahwa dia sungguh tak melakukan hal yang tak senonoh di kamar mandi milik rekan kerjanya itu dan hanya dimandikan paksa seperti anak kecil oleh wanita yang tak dia perbolehkan melepaskan sehelai pun pakaiannya. Tapi karena alat penyadapnya dia mengacuhkan keberadaan Brown.
"Sungguh sangat nikmat mandi bersamamu, Tuan." Sebenarnya malah si wanita yang mendapatkan banyak servis momen tak terlupakan dari pria setampan Yuri. Walau Yuri pria impoten, tapi wanita malam itu merasa puas hanya dengan meraba tubuh kekarnya dan melakukan hal lain yang membuatnya merasa lebih nikmat daripada melayani pria-pria bajingan menyedihkan di distrik merah.
Brown tak peduli dengan kemungkinan apa yang telah dilakukan oleh kedua orang mesum di hadapannya itu, dia hanya tak suka kamar mandinya menjadi korban lokasi tindak kemaksiatan.
__ADS_1
Yuri meninggalkan buku catatannya dan segera keluar meninggalkan 'wanitanya' itu bersama rekan kerjanya. Begitu Yuri sudah tak lagi dalam jangkauannya, Brown langsung mengambil catatannya dan memulai investigasinya.
"Siapa namamu?" tanyanya dengan tatapan dingin masih sedikit kesal dengan aksi yang mereka tadi lakukan.
"Genie, Tuan." jawabnya tak merasa takut dengan tatapan itu.
Brown membalik-balik lembar di buku catatan Yuri dan membaca petunjuk dan pertanyaan-pertanyaan yang telah tertulis dengan rapi dan sangat terperinci. Kemampuan investigasi Yuri memang tak bisa diragukan. Walau dia tak ada disini, tapi dia telah menyiapkan skenario seolah sedang melakukan investigasi bersamanya.
"Nama aslimu?"
Karena merasa tak ada gunanya berbohong, wanita itu pun mengatakan sejujurnya. "Sherry Chalita, Tuan."
Wanita malam yang diketahui bernama asli Sherry itu adalah sahabat dekat dari pacar Jack. Dia seorang gadis dengan darah campuran seperti Kairi karena itu sedikit terbersit ciri khas oriental di wajahnya.
"Apa hubunganmu dengan Jack?" tanya Brown masih menginterogasi wanita itu dengan pertanyaan darinya sendiri.
"Kekasih Jack adalah sahabat saya, Tuan," jawabnya jujur. "Sahabat saya bernama asli Meera Keberlein, kami dulu tinggal bersama sebelum dia pindah ke rumah Jack. Saya dan Jack hanya beberapa kali bertemu, tapi Meera sering bercerita mengenai kekasihnya kepada saya."
"Lalu, siapa nama asli Jack?"
Jack adalah pemuda yang sangat hati-hati dengan privasinya. Tapi Sherry ingat jelas ketika mereka sedang berkumpul di rumahnya, Jack sedang mabuk dan memanggil-manggil nama adiknya yang sepertinya sangat dia sayang. Sherry iseng menanyakan nama asli Jack setelah memberi nama aslinya sendiri. Hal itu membuat Jack tanpa sadar menyebut nama aslinya.
"Johannes Evans."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seluruh badan Yuri masih pegal akibat aktivitas semalam dan kurangnya beristirahat, tapi dia tetap berangkat kerja siangnya. Hanya di tempat kerjanya dia diperbolehkan untuk melepas alat penyadapnya yang membuatnya merasa lebih bisa bebas bergerak.
Ketika pulang paginya dia tak menemukan Anika di rumah kakaknya, dan menduga kakak iparnya itu sedang di toko bersama suaminya.
"Senangnya yang masih beristri," celotehnya asal tepat ketika mejanya didatangi oleh Brown.
Brown meletakkan catatannya di atas meja Yuri yang telah dia isi semua dengan hasil investigasi tadi pagi.
__ADS_1
"Terima kasih Brown," ucapnya ringan langsung menyambar catatannya itu untuk dibaca.
Brown menundukkan badannya agar percakapannya tak didengarkan oleh orang lain. "Kau sudah tahu bahwa Jack seorang Evans?"
Yuri masih membaca buku catatannya ketika menjawab pertanyaan. "Tentu, ayahku itu suka berocok tanam," jawabnya setengah bercanda dan terlihat sama sekali tak kaget.
Brown tampak heran dengan reaksi Yuri yang seolah tak peduli. Dia juga masih tak percaya dengan hasil wawancara dengan wanita malam yang baru dia laksanakan tadi pagi.
"Kamu tahu kan bahwa Yanick Evans adalah pria paling berbahaya dan buronan nomer satu di dunia?"
Yuri tetap membaca catatannya. Kadang dia mengerutkan dahinya membaca informasi yang diluar dugaannya, kadang dia tertawa membaca informasi yang tak masuk akal. Brown masih terdiam dan sabar menunggu jawaban dari Yuri, tapi mereka dikejutkan oleh pengumuman baru yang mengharuskan mereka untuk mengikuti rapat penting yang mendadak dilaksanakan.
"Komandan Divisi Kriminalitas telah dilaporkan menghilang sejak dini hari."
Yuri yang awalnya terlihat acuh tak acuh dengan keadaan sekitar langsung mengalihkan perhatiannya ke pengumuman mendadak ini.
"Dugaan pelaku utama adalah Kairi Evans mengingat lokasi terakhir yang didatangi oleh komandan adalah toko dagingnya yang terletak di pinggir kota."
Apa yang sebenarnya telah terjadi? Itu yang terlintas dibenaknya. Tapi yang paling dikhawatirkan oleh Yuri adalah kakak iparnya.
Apa yang terjadi pada Anika?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author secara khusus mengucapkan terima kasih kepada para pembaca atas dukungannya,
dan kepada Ceyda Ceylan atas dukungannya sebagai fan nomer. 1 🤗
Terima kasih pula dukungan Minggu ini dari fan no.2 vivian dan fan no.3 Irene E. A.
Dan kepada semua yang memberi like dan komentar-komentar yang membuat author menanti setiap hari untuk membacanya❤️
Apakah ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1