
"Bertahanlah Kairi!"
Sepanjang lorong rumah sakit, Kairi yang tak sadarkan diri terbaring di atas ranjang yang didorong dengan tergesa-gesa ke ruang operasi. Anika terus menggenggam tangannya yang terkulai lemah, berusaha menyemangatinya.
Tangan Kairi yang dulu pertama kali dia gunakan untuk menaruh cincin di tangan Anika, yang pernah dia gunakan untuk memukul, tapi berubah menjadi tangan yang membelai dirinya dan menghapus air matanya, kini tangan itu berlumuran darah.
Begitu Kairi dibawa masuk ke dalam ruangan, Anika hanya bisa menatap kosong ke pintu yang tertutup rapat di hadapannya. Dia tak bisa melakukan apapun selain berharap pria itu akan selamat.
Yaslan dan atasannya sudah bersiap untuk memulai operasi. Terdapat beberapa luka tembakan dan pukulan dimana-mana. Luka bakar bekas ledakan merusak sebagian wajahnya. Yaslan yang belum sadar orang yang akan dioperasinya adalah Kairi, memandang ngeri penampakannya. Pasiennya ini terlihat seperti orang yang baru pulang dari medan perang.
Hampir enam jam berlalu akhirnya ruang operasi dibuka. Anika dan Ann yang datang menyusul mendatangi Yaslan yang baru keluar.
"Dia tak masalah. Masa krisisnya sudah lewat."
Mendengar itu Anika menangis mengucap syukur, sementara Ann terkulai di lantai menghela nafas panjang.
Setelah dibawa ke ruangan pasien, Anika mendatangi Kairi yang masih tak sadarkan diri. Alat bantuan nafas terpasang di wajahnya. Sebagian kepalanya diperban sampai matanya tak terlihat. Paras cantiknya telah rusak. Tapi yang paling memprihatinkan, lengan kirinya hilang.
"Karena lukanya sudah terlalu parah, lengannya membusuk sehingga perlu diamputasi." jelas Yaslan pada mereka. Dia berpikir Kairi adalah sahabat baik istrinya sampai begitu sedih melihat keadaannya.
Anika menggenggam tangan Kairi lagi dan mengelusnya lembut. Demi keselamatan dirinya Kairi sampai mengalami luka mengenaskan seperti ini. Anika tak habis pikir apa yang telah dilaluinya sampai bisa terluka parah begini. Sudah berapa kali Kairi yang awalnya menculik dirinya, telah berkali-kali menyelamatkan hidupnya.
Yaslan tampak curiga dengan kedekatan mereka berdua. Setahunya Anika tak memiliki teman pria. Istrinya tak pernah menceritakan tentang temannya selain Bora yang pernah datang berkunjung. Nama Ann pun baru sekarang dia dengar.
Seolah tak mau berpisah dengan Kairi, Anika akhirnya melepaskan genggamannya dan pulang bersama Yaslan. Ann menawarkan diri untuk menjaga majikannya itu.
__ADS_1
"Keadaannya membaik setelah operasi, nggak usah pasang wajah sedih gitu dong, Yang," hibur Yaslan sambil mencubit gemas pipi istrinya ketika sedang berhenti di lampu merah.
Anika menoleh dan menatap Yaslan. Dia sebenarnya sedikit heran suaminya mau menolong Kairi. Dulu di pengadilan saja dia tak mau hadir karena tak mau berurusan dengan pembunuh, padahal Kairi telah menyelamatkan mereka dari jeratan Raymon.
"Kamu berubah ya Yang, jadi lebih pengertian." Anika mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi suaminya itu.
"Dari dulu aku perhatian kan Yang?" tanyanya mengecup tangan Anika.
Yaslan adalah pria lurus yang dibesarkan dengan penuh cinta. Rasa keadilannya tinggi dan dia membenci segala jenis kejahatan. Itu salah satu alasan mengapa Anika tak berani menceritakan aibnya di masa lalu. Kalau Yaslan tahu bahwa istrinya dulu pernah berhubungan badan dengan ayahnya sendiri sampai hamil, apa yang akan dia pikirkan tentang dirinya?
Tapi ternyata sekarang dia mau menolong seorang pembunuh yang sekarat dan tak membiarkannya mati. Apakah suatu hari Anika bisa menceritakan masa lalu kelam yang dia tutup rapat kepada Yaslan? Dengan begitu dia akan merasa lebih nyaman bisa hidup dengan suaminya tanpa rahasia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika dia sadarkan diri, nama Anika yang pertama kali keluar dari mulutnya. Ann yang terus menjaganya langsung menghubungi Anika. Tanpa pikir panjang, Anika segera minta ijin dan bergegas ke rumah sakit.
Betapa lega hatinya bisa melihat Kairi membuka matanya dan tersenyum lemah padanya. Air mata bahagia bisa bertemu kembali dengannya mengalir, membuat Anika tak bisa berkata-kata. Dia menggenggam tangan kiri Kairi yang tersisa dan membawanya ke pipinya.
"Mungkin kehilangan lengan ini hukuman karena suka memotong lengan orang." ucap Kairi lemas dengan senyuman psikopatnya menganggap ini sebuah lelucon gelap . Di ruangan itu sedikit yang tahu bahwa itu bukan lelucon. Yaslan yang setiap hari mengontrolnya mulai sadar siapa pasien yang dia rawat ini.
Kairi Evans?!
Yaslan membaca ulang data yang telah diisi oleh Kairi untuk kebutuhan administrasi. Matanya membulat tak percaya.
Selama ini aku merawat seorang pembunuh?!
__ADS_1
Tapi yang lebih membuatnya heran, kenapa penculik dan pemerkosa istrinya ini kelihatan begitu akrab dengan istrinya?!
Yaslan ingin melaporkan Kairi ke polisi tapi sudah terlambat. Dia telah menolong seorang pembunuh dan ini justru bisa membuat dirinya berakhir di penjara juga. Dia menjadi kesal kenapa istrinya tak terus terang mengatakan kepadanya bahwa pria itu ternyata Kairi. Tapi di lain sisi dia juga merasa dirinya payah mau menolongnya begitu saja tanpa terlebih dahulu menyelidiki asal usul pasiennya.
Akhirnya Yaslan mengarang identitas Kairi ketika membayar biaya administrasi. Identitas Kairi yang asli dia buat musnah dalam ledakan sehingga perlu memperbarui identitasnya. Rumah sakit tempat dia bekerja tentu saja percaya begitu saja dengan pegawainya. Mungkin ini kebohongan terbesar yang pernah dibuat oleh seorang Yaslan.
"Dokter Yaslan Rymer, saya baru tahu anda memiliki saudara jauh dengan wajah oriental seperti pasien tampan itu." ucap seorang perawat yang selalu bertugas untuk mengecek perkembangan Kairi.
Yaslan tersenyum pahit sebenarnya tak terlihat senang. Karena dia bekerja di rumah sakit ini, sekarang semua orang tahu pasien yang dirawat di ruangan VIP itu adalah saudara jauhnya. Padahal kenyataannya dia pembunuh dan penculik istrinya.
Dia pernah membicarakan ini bersama istrinya, dan Anika dengan polosnya berpikir bahwa Yaslan sudah mengetahui tentang semua ini. Pantas saja waktu itu istrinya bilang dia perhatian. Padahal kalau dia tahu pria yang waktu itu tergeletak sekarat di depan rumahnya seorang pembunuh, dia pasti akan melaporkannya ke polisi.
Nasi sudah menjadi bubur. Saat ini Yaslan mendorong kursi roda dengan Kairi diatasnya, membawanya pulang ke rumahnya.
Seharusnya ku amputasi saja seluruh anggota tubuhnya untuk memastikan keamanan Anika. batinnya melihat seorang pembunuh sedang makan di dalam rumahnya.
Anika datang memeluk Yaslan dari belakang, yang dari tadi memandangi Kairi dengan penuh dengki. "Terima kasih sudah mau membiarkan Kairi untuk tinggal bersama kita, Yang." katanya mengecup pipi suaminya.
Yaslan menoleh memandangi istrinya. Apa yang telah dilakukan bajingan itu sampai bisa membuat istrinya memaafkan perbuatan bejatnya? batinnya prihatin. Anika pasti telah dicuci otak olehnya!
Rumah sempit Anika dan Yaslan sekarang bertambah dua orang penghuni baru. Seorang wanita mantan PSK, dan seorang pria Psikopat. Kehidupannya mungkin tak akan senormal dulu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukungan kalian selalu dinantikan lho!🤗
__ADS_1