
Aku ingin serius mencintai pria ini.
Anika sungguh-sungguh dengan pikirannya saat melihat Yaslan terbaring di sampingnya setelah melakukan aktifitas panas mereka. Dia sudah tidak takut lagi padanya, karena itu dia berpikir untuk lebih memberikan cintanya.
Dia telah banyak berkorban demi diriku. Dia pria yang sangat sabar dan setia.
"Kenapa Yang? Ada yang aneh di wajahku?" tanya Yaslan mulai merasa diperhatikan.
Anika memberikannya senyuman. "Aku beruntung punya suami sepertimu, Yang."
"Bicara apa sih! Aku yang beruntung!" Yaslan mencium lembut tangannya. Dia sering melakukan itu pada istrinya.
Anika kembali diam, mulai berpikir sebelum bertanya, "kenapa menyukai diriku yang seperti ini? Aku sering bohong, banyak rahasia, punya trauma..."
Yaslan meraih mulutnya dengan jari telunjuknya.
"Tak semua orang yang mengalami trauma berat, bisa tetap bertahan hidup tanpa melukai orang lain seperti dirimu." Anika merasa kagum dengan apa yang diucapkan Yaslan.
"Kamu sangat kuat. Belum tentu aku yang mengalami masa lalu berat, bisa sekuat dirimu." lanjutnya sambil membelai istrinya.
Tapi kata-kata ini, Kairi yang mengatakannya duluan.
-Kilas balik-
"Kenapa kamu nggak coba lari dari ibumu?" tanya Anika yang baru selesai mandi. Kairi sedang menyisir rambutnya yang panjang.
"Pernah. Kakak ibuku orang kaya. Dia suka mengajakku makan dan memberiku apa yang aku mau. Karena nggak tahan harus temanin ibu tidur tiap malam, waktu SMP aku pernah kabur ke rumah paman." Kairi berhenti menyisir rambut Anika.
"Lalu?" tanyanya membalikkan badannya untuk memandangi pria itu.
"Dia sama aja. Sodomi."
Raut wajah Anika langsung melemas mendengar itu.
"Aku hanya punya ibu. Kalau ingin bertahan hidup, harus bisa tahan sesakit apapun itu. Ibu juga hanya punya aku. Baginya aku hanya pengganti ayah." Kairi mulai tersenyum lagi. "Tapi nggak masalah, rasanya enak tiap kali s*x! Aku nggak bakal dimarahi, hidup jadi nggak susah!"
Anika langsung mendekap Kairi. Ibunya tega merusak moral anaknya sendiri. Kairi yang sering tersenyum seperti ini, pasti dia lakukan demi ibunya yang sudah jahat padanya.
"Anika itu kuat. Butuh keberanian untuk bisa keluar dari hubungan nggak sehat, apalagi orang itu orang tua kita. Aku nggak berani meninggalkan ibuku sendirian."
Anika menggelengkan kepalanya. "Kairi itu anak baik! Justru aku yang tega menelantarkan orang tuaku!"
"Aku hanya lemah."
-Kilas balik selesai-
Anika menangis mengingat kejadiannya bersama Kairi dulu. Melihat istrinya menangis, Yaslan mendekap Anika dengan lembut.
__ADS_1
Sekarang Anika memiliki Yaslan, sementara Kairi tetap sendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya mereka beraktifitas lagi seperti biasa. Yaslan mulai sibuk dengan bertambahnya jadwal prakteknya, sementara Anika mulai mengambil shift malam. Dia berpikir saat kerja di malam hari yang tidak begitu sibuk, dia bisa sambil belajar.
Kairi telah dipindah ke bilik biasa. Kaki tangannya pun sudah tak terikat lagi. Walau begitu dia tetap tidak dibiarkan tidur satu bilik dengan pasien lain.
Anika yang tengah belajar untuk ujiannya besok siang, dikejutkan oleh teriakan yang disebabkan penjaga malamnya.
Dia pun bergegas menuju ke arah suara. "Ada apa Pak?"
"Tolong buka pintunya, Bu! Pasien mendadak terbangun dan memukul-mukul kepalanya ke tembok!"
Melihat itu, dengan gemetaran Anika mengulurkan tangannya untuk membuka kunci biliknya.
"Ibu mundur saja Bu, biar saya suntik obat penenang."
Anika menghiraukan permintaan si penjaga, dan justru meraih Kairi untuk memeluknya.
"Hati-hati Bu!" Baru saja diperingati, wajah Anika kena hantaman sikutnya yang berontak tak ingin disentuh.
Anika tak menyerah. "Kairi, tenang. Ini aku..."
Berkali-kali Anika terkena pukulan, tapi dia terus menghiraukannya. Dia tahu Kairi tidak sadar melakukan semua ini. Pak penjaga akhirnya berhasil menyuntikkan obat penenang sehingga serangan Kairi mulai melemah.
"Kamu telah lama berjuang, kamu anak yang hebat, kamu pantas disayangi." Dia membayangkan memeluk Kairi kecil yang terluka akibat perbuatan ibunya dan tak berhenti mengelus rambutnya.
Tak lama kemudian pengaruh obat mulai menunjukkan reaksi dan Kairi mulai terlelap dalam dekapan Anika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jangan kerja di situ lagi!" Yaslan tengah mengobati memar di tubuh dan wajah Anika begitu melihat istrinya pulang dalam keadaan terluka pagi itu.
"Tenang saja, ini hanya memar. Setelah beberapa hari langsung hilang."
"Memangnya kurang penjagaan ya? Kenapa bisa ada orang bahaya seperti itu dibiarkan begitu saja?!"
"Sudah, Yang, aku yang ceroboh. Kalau sampai aku nggak kerja disitu, nanti beasiswa bisa dicabut."
Memang benar, kepala rumah sakit jiwa adalah sahabat dari dosen pembimbing Yaslan yang memberikan beasiswa kepada Anika karena tertarik dengan essainya.
"Kamu harus janji untuk jaga dirimu! Aku nggak mau lagi melihat istriku seperti ini." Yaslan mencium tangan Anika. Kali ini dia lakukan agak lama.
Siang harinya, Anika berhasil mengikuti ujian setelah tidur sedikit sebelum berangkat ke kampus. Luka fisik baginya sudah biasa karena dulu sudah sering dia dapatkan yang lebih parah.
Memang benar yang dulu dikatakan Kairi.
__ADS_1
"Bukan luka saat dipukul yang bikin sakit, tapi luka hati yang tertinggal setelahnya."
Pulang dari kampus Anika merasakan sakit perut yang luar biasa. Saat mengecek di toilet ternyata dia sedang datang bulan.
Sepanjang hari dia hanya bisa tertidur di kasur. Anika merasa beruntung karena besok tidak ada jadwal kuliah maupun kerja. Tapi dia dan Yaslan sebenarnya berencana untuk jalan-jalan ke pantai.
Yaslan membawakan bubur yang dia buat dan menyuapi istrinya setelah pulang kerja.
"Maaf ya, kita nggak jadi jalan-jalan besok." Anika merasa bersalah padanya yang sudah merencanakan banyak hal, sampai menyewa vila.
"Yang terpenting itu istriku sembuh dulu. Lagian kencan di rumah juga romantis." Yaslan menghiburnya dengan mengecup keningnya.
"Karena lagi datang bulan nanti malam aku kasih servis lewat mulut ya!" Anika pikir ini adalah hal yang wajar yang disukai oleh pria, tapi Yaslan seorang pria normal yang lurus justru kaget.
"Kenapa?" Wajah Yaslan sedikit memerah membayangkannya. "Kamu nggak usah melakukan hal seperti itu, Yang! Memang kamu pikir s*x itu kewajiban?!"
Anika masih heran. "Kamu nggak suka?"
"Bukan begitu! Aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu budak s*x!" Yaslan tak sengaja sedikit membentak istrinya. Dia terbawa emosi bila dia membayangkan hal buruk apa yang telah dilakukan penculiknya dulu pada istrinya.
Untuk menenangkannya, Anika memeluk Yaslan. "Maaf Yang, aku tahu kamu bukan cowok seperti itu."
Keesokan harinya mereka belajar bersama, masak bersama, sedikit bercumbu... Kalau Anika mulai merasa perutnya sakit, dia minum obat dan istirahat di dalam kamar.
Ketika dia bangun dia melihat Yaslan sedang menonton berita di televisi.
"Benar-benar jijik!"
"Berita apa Yang?"
"Masa ayah tega memperkosa anak sendiri?! Menjijikkan! Aku paling benci cowok biadab seperti mereka!"
DEG!
Anika langsung membolakkan matanya mendengar itu. "Aku juga benci."
"Yuk cepat makan terus tidur, Yang! Besok kuliah pagi nih!"
Anika masih mematung di tempat. Dia tahu aibnya tak mungkin bisa dia ceritakan ke Yaslan. Tak mungkin orang normal yang mempunyai masa lalu bahagia bisa menerima dirinya yang kotor.
"Ayo Yang! Kok bengong!"
Dia sadar, sepertinya dia tak bisa sepenuhnya mencintai Yaslan karena terhalang oleh traumanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan siapakah Anika bisa bahagia?😔
__ADS_1