
Anika tak percaya dengan apa yang dia lihat. Kekasihnya ditangkap di depan matanya. Dia tahu Kairi dulu seorang pembunuh, tapi kenapa dia harus ditahan sekarang dimana dia mulai ingin berubah? Kebahagiaannya seolah direnggut begitu saja darinya.
Tentu saja Kairi memberi perlawanan. Dia berusaha menendang wajah polisi tampan itu tapi berhasil dihindari olehnya. Kairi kemudian dengan cepat memutar dan mengunci tangan polisi itu, sekarang berdiri di belakangnya dengan kunci di mulut yang ditodongkan ke leher polisi, siap menusuknya kapan saja.
Anika yang menyaksikan itu hanya bisa diam memekik ketakutan. Ketegangan sesaat yang sempat memuncak tiba-tiba dipecahkan oleh suara gelak tawa dari polisi itu. Anika menjadi heran.
"Kecepatan refleksmu sangat bagus. Sejak kapan kamu berhasil mengambil kunci dari saku celanaku dan menjadikannya senjata?"
Polisi itu mengangkat tangannya seperti meminta sesuatu, dan Kairi memuntahkan kuncinya ke atas tangannya itu. Dengan senyuman masih menghiasai wajah, polisi itu membuka borgol di tangan mereka.
Anika tambah bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka terlihat seperti saling kenal?
"Maaf Nyonya, selama ini belum memperkenalkan diri," kata polisi itu sekarang memberi penekanan pada kata nyonya, padahal selama ini selalu memanggilnya nona.
Kairi kelihatan santai di dekatnya, padahal tadi polisi itu ingin menangkapnya.
"Namaku Yuri Dragunov," ucapnya mengulurkan tangannya pada Anika. "Adik Kairi Evans."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tamu yang tadi datang dengan cara menegangkan itu sekarang sedang duduk bersama mereka menikmati makan malam bersama. Anika benar-benar tak menyangka semua ini.
Kairi memiliki adik?
"Ayah bejat kita menanam benih ke banyak wanita." Kairi sedikit memuncratkan supnya mendengar lelucon adiknya. "Maaf, sebenarnya ini hal yang tak pantas untuk diceritakan." tambah polisi itu melihat wajah kebingungan Anika.
Ternyata Kairi memiliki adik dari istri kedua ayahnya. Pantas saja paras cantiknya tak asing. Kalau mereka berdua duduk bersebelahan seperti sekarang ini, wajah mereka sangat mirip. Walau rambut Yuri pirang dan Kairi hitam.
Yuri memakai nama keluarga ibunya setelah ibunya bercerai dari ayahnya. Hal ini membuatnya bisa bekerja di kepolisian karena kakeknya yang seorang Direktur jendral polisi. Mereka sangat mirip, tapi nasib mereka berbeda. Ibu Yuri sepertinya orang yang bermental kuat, tidak seperti ibu Kairi yang menjadi gila setelah ditinggal suaminya.
Selama ini ternyata Yuri telah mencari kakaknya, tapi baru bisa menemukannya ketika Kairi masuk penjara pertama kali. Sejak itu Yuri sering mengawasi dan membantu kakaknya itu. Dia juga berkali-kali meminta bantuan Kairi untuk membantunya menangkap pembunuh berantai dengan jaminan keamanan, tapi selalu ditolak oleh Kairi.
"Dia sering membantu kepolisian," puji Yuri tentang kakaknya. "Dia bantu dengan caranya sendiri." Tentu saja Anika tak tahu cara Kairi membantu polisi itu seperti mengirim video siksaan bos gangster, atau mengirim parsel potongan tubuh penjahat ke markas polisi.
__ADS_1
"Benarkah?" Anika sampai terharu mendengar itu. Dia berpikir hobi Kairi hanya membunuh dan menyiksa orang, dia baru tahu sisi Kairi yang bisa membantu polisi. "Kamu sangat hebat Sayang!"
Yuri menahan tawa mendengar kepolosan Anika, "Rasanya ingin sekali menceritakan kisah-kisah heroik suamimu, Nyonya."
Tapi tentu saja diancam Kairi. "Kalau kau cerita lebih lanjut, akan kupotong lidahmu."
Yuri tambah tertawa mendengar ancaman kakaknya sendiri.
Anika terus tersenyum melihat 'keakraban' mereka berdua. Dia berpikir dengan kehadiran adiknya yang normal, Kairi bisa menjadi normal juga. Apalagi adiknya itu sepertinya telah berkeluarga dan bekerja di kepolisian. Yuri pasti bisa membawa energi positif kepada Kairi.
"Jangan terkecoh penampilan luarnya. Dia sebenarnya kanibal." kata Kairi memperingati istrinya.
Mendengar itu senyuman Anika seketika sirna.
Apakah dia salah dengar? Kanibal berarti pamakan manusia kan? Dia juga psikopat? Otak Anika tak bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja dia dengar. Ekspektasi positifnya yang tinggi seolah dibanting. Dia membayangkan hal-hal yang mengerikan dan tiba-tiba tak sadarkan diri.
Kairi yang melihat itu mengutuk dirinya telah mengatakan sesuatu yang membuat wanitanya sampai pingsan. Dia mengangkat dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu mengancamku mengatakan hal yang tak pantas di hadapannya, tapi kamu melakukannya sendiri." kata Yuri tersenyum berdiri di ambang pintu.
"Ini tentang ayah, aku perlu bantuanmu untuk menangkapnya."
Selalu ini. Kairi sudah bosan dengan ajakan adiknya itu. Kenapa dia tak juga menyerah.
"Semua kasus kejahatanmu akan dihapus dan kamu bisa hidup damai berdua dengan istrimu. Anak buahku juga akan pastikan keamanan kalian." Yuri mencondongkan tubuhnya untuk berbicara lebih intens. "Kamu nggak mau kan suatu saat harus ditangkap dan berpisah lagi darinya seperti yang kulakukan tadi?"
Kairi dari tadi tampak tak tertarik dengan pembicaraan mereka. "Dia pasti aman bersamaku."
Mendengar itu Yuri mendengus. "Kamu belum pernah bertemu ayah." Samar-samar dia mengingat kenangan selama hidup bersama ayah mereka itu.
"Aku yang paling lama tinggal bersamanya, aku paling tahu seperti apa dirinya." lanjutnya sambil mengingat kejadian yang telah terjadi hampir 20 tahun yang lalu itu. "Selama bekerja aku juga telah banyak mengumpulkan informasi tentang dirinya. Tentang kegilaannya dan kebenciannya pada wanita."
Kairi bangkit berdiri dan menuju pintu keluar. "Aku nggak ingin terlibat lebih jauh dengannya lagi. Kamu nggak lihat? Aku sudah pensiun dari membunuh orang!" Dia membuka pintunya seolah menyuruh Yuri keluar.
__ADS_1
Walau kecewa, Yuri yakin suatu hari Kairi pasti akan membantunya untuk menangkap dan membunuh pria terkejam di dunia itu.
"Sekali membunuh, kamu pasti akan ketagihan. Kamu nggak akan bisa benar-benar pensiun dari hal itu," katanya sebelum keluar dari rumah Kairi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anika yang belum sadarkan diri, mulai merasakan kehangatan di tubuhnya. Perlahan kesadarannya kembali dan dia mulai membuka matanya. Dia mendapati dirinya telah tak berbusana dan melihat Kairi yang sepertinya sedang sibuk mencium dan menjilati daerah sensitif di antara pahanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya sedikit mendesah dari perasaan nikmat yang dia dapatkan. Anika sangat malu dengan pose mereka sekarang ini.
"Kamu sudah sadar, Sayangku?" tanya Kairi sebelum melanjutkan aksinya kembali.
Mungkin ini cara membangunkan orang pingsan yang paling mesum yang pernah Anika tahu.
"Hng ... berhenti Sayang ...." katanya walau sebenarnya tak ingin Kairi berhenti.
Setelah sama-sama ingin merasakan lebih intim, Kairi minta ijin dan mereka pun mulai bercinta, saling membagi kehangatan. Kairi selalu meminta ijin sebelum mulai berhubungan badan. Ini membuat Anika merasa lebih dihargai.
Selesai melakukan aktifitas panas mereka, Anika memeluk lengan kiri Kairi dan bertanya, "Apakah Yuri orang yang bisa dipercaya?"
Kairi sebenarnya malas membahas tentang adiknya itu. Tapi dia akan melakukan apa saja untuk Anika, termasuk menjawab pertanyaan yang dia benci. "Sebenarnya tadi dia memberikan sesuatu."
Kairi bangkit meraih surat undangan dan memberikannya pada Anika. Surat undangan ulang tahun putri Yuri yang pertama.
Dia sudah punya anak? Tapi ....
Sebenarnya Anika senang bisa lebih mengenal keluarga Kairi lebih dekat. Tapi mengingat perkataan Kairi tadi dia sedikit merinding.
Pergi ke pesta rumah seorang kanibal??
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai semua! Memang keluarga Kairi sepertinya tak ada yang normal ya 😅
__ADS_1
Maaf sering memunculkan adegan hot Kairi dan Anika ....