
Anika hanya menatap kosong tangan Kairi yang terulur di hadapannya.
Dia kemudian memandang wajah Kairi yang masih tersenyum padanya. Dia tahu bahwa jauh di dalam hatinya dia merindukan pria yang telah berhasil menghilangkan traumanya itu, pria yang telah menjadi cinta pertamanya.
Bila dia mengambil tangannya ini, dia bisa kembali hidup bersamanya.
Hidup bersama seorang psikopat.
Anika kemudian melihat Yaslan yang tengah tak sadarkan diri di belakang Kairi. Dia telah menjadi istrinya, mana mungkin dia bisa meninggalkan suaminya itu sendirian.
"Maaf." katanya menolak sehalus mungkin ajakan Kairi untuk pergi bersamanya. "Aku telah menjadi istri orang lain."
Anika berusaha mengalihkan pandangannya dari Kairi, tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya.
Jari manis di tangan kanan Kairi yang terulur masih dihiasi oleh cincin usang mereka sejak mereka menikah dengan cara tak wajar enam tahun yang lalu. Dia menarik tangannya begitu melihat jari manis Anika telah tergantikan cincin mahal dengan permata.
Dia kemudian membungkukkan badannya mendekati Anika yang refleks memejamkan matanya, takut dipukuli.
Kairi membelai rambutnya. Dengan senyuman khasnya dia mengucapkan "Selamat," dengan nada sedih.
Tahu ini akan menjadi pertemuan mereka yang terakhir, pemuda itu kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium Anika. Anika memalingkan wajahnya, tak ingin berhubungan dengannya lagi. Dia berharap Kairi tak lagi berharap padanya dan mencari dirinya.
Sedikit kecewa perasaannya ditolak, Kairi berdiri. Dia kemudian berbalik untuk pergi setelah berkata, "Aku akan pastikan kamu bahagia."
Anika tak terlalu memahami kata-kata terakhirnya itu. Dia hanya merasa dirinya jahat. Kairi telah menolong mereka tapi dengan dinginnya dia malah menolak pria malang itu. Jauh sebelum kejadian ini pun Kairi telah menolongnya. Berkat dia pula Anika bisa hidup bahagia dengan Yaslan.
Anika mulai menangisi takdir yang menimpa Kairi dan dirinya, dua anak dengan trauma penganiayaan yang sama, hanya ingin bahagia. Dia sebenarnya takut bila Kairi menciumnya, perasaan Anika padanya akan kembali.
Dia sadar masih memendam perasaan kepada pahlawan psikopatnya itu.
Tapi inilah pilihan hidupnya. Dia berharap dia tidak menyesal telah memilih jalan hidup ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebulan setelah kejadian itu keadaan mulai kembali normal. Yaslan menjadi sedikit trauma, tapi berkat perawatan dari psikiater keadaannya mulai berangsur membaik. Bagi Anika, kehadiran Kairi lebih membekas daripada para penjahat itu. Dia lebih cepat pulih daripada suaminya.
Sebenarnya berkat pengalamannya di masa lalu, Anika memiliki mental yang lebih kuat dari Yaslan. Karena itu dia berusaha menyemangati suaminya dengan menjadi lebih ceria. Pemulihan Yaslan sangat terbantu karena Anika
"Kamu hebat, Yang." puji Yaslan di suatu pagi di hari Minggu.
__ADS_1
Anika telah bangun dan menyiapkan sarapan. Dia menggantikan tugas Yaslan untuk masak. Akibat kejadian itu, Yaslan sering bengong dan kurang tidur. Untungnya dia segera menemui psikiater untuk mencegah trauma menjadi lebih parah.
"Aku hanya fokus pada masa depan. Jangan biarkan masa lalu menghantuimu." kata Anika tersenyum berusaha meningkatkan mood suaminya.
"Aku sudah berusaha, tapi setiap kali tutup mata, hanya dirimu yang dilecehkan yang terbayang. Padahal kamu yang diperlakukan seperti itu, bukan aku, tapi tetap saja..."
Akibat kejadian waktu itu, Yaslan menjadi sering bermimpi buruk. Penyiksaan pada dirinya, pembunuhan di depan matanya, tapi yang paling membuatnya trauma adalah pelecehan istrinya di depannya. Dia merasa dirinya gagal dalam melindungi istrinya sendiri.
Anika memeluk Yaslan dari belakang yang sedang duduk di meja makan. "Aku tak apa," bisiknya. "Sayang telah menjagaku dengan baik. Aku masih hidup berkat kamu."
Kata-kata itu membuat Yaslan lebih tenang. Dia berbalik dan mencium Anika dengan lembut.
Hampir setengah tahun mereka bisa sepenuhnya melewati masa traumatis itu. Kehidupan pasangan suami istri itu pun bisa kembali normal. Yaslan mengejar ketertinggalannya dalam studi dengan lebih giat belajar. Anika sudah menyelesaikan skripsinya dan tinggal menunggu sidang skripsi. Dia sengaja mempercepat studinya karena tak ingin membuang waktu dan uang lebih banyak.
Terkadang Anika memikirkan Kairi. Sejak itu tak ada kabar darinya. Polisi telah menuntutnya sebagai tersangka pembunuhan terhadap Raymon dan kawan-kawannya. Anika dan Yaslan tidak hadir sebagai saksi sehingga dia sempat ditahan.
"Seharusnya dia nggak perlu sampai membunuh!" adalah hal yang pernah dikatakan Yaslan. Kairi memang telah menolong mereka, tapi dia tak ingin dirinya dan Anika terlibat lebih jauh dengan seorang pembunuh.
Raymon dan anak buahnya ternyata seorang pengedar dan pengguna narkoba. Bahkan dia memiliki usaha prostitusi dan berbagai usaha pasar gelap lainnya. Raymon bahkan telah banyak menyelendupkan gadis-gadis, menculik dan memaksa mereka bekerja untuknya. Berkat Kairi polisi bisa mendapatkan penjahat kelas kakap. Dan karena dia memiliki riwayat penyakit mental, dia tak ditahan dalam waktu yang lama.
Anika telah mencuci dan melipat hoddie milik Kairi yang dia masukkan dalam plastik dan simpan dalam lemari. Dia memeluknya sebentar sebelum berangkat kerja bersama suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hari wisuda Anika, Yaslan hadir membawakannya sebuah buket bunga. Anika merasa sangat bahagia atas kejutannya yang ternyata masih ada lagi.
Yaslan diam-diam telah mengundang orang tua Anika.
Dia berharap Anika bahagia atas kejutannya itu, tapi melihat mereka hati Anika retak. Dia segera ijin ke kamar mandi dan meminum obat penenang.
"Senang ya bisa kumpul keluarga!" seru Yaslan sekarang sedang menyetir mobil untuk makan bersama merayakan kelulusan Anika di restoran.
Berkat obatnya, Anika bisa sedikit mengontrol pikirannya. Dia bisa menjadi ceria kembali dan makan bersama keluarganya dengan tenang.
Menjadi bahagia adalah balas dendamku pada mereka!
Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak perlu takut. Usahanya membuahkan hasil sampai akhirnya mereka harus berpisah. Saat ibu dan ayahnya memeluknya, Anika mematung. Dia pun segera masuk mobil.
"Maaf sepertinya dia capek. Sampai ketemu lagi Pah, Mah." kata Yaslan berpamitan.
__ADS_1
"Jangan lupa tanya acara traveling kita pada anakku!"
"Tentu saja ayah."
Di dalam mobil pasangan suami istri itu dari tadi terdiam.
"Ngantuk ya Yang?" tanyanya pada Anika.
Anika tak menjawab, dia tutup mata pura-pura tidur. Yaslan meraih kepalanya dan membelai rambutnya.
Sampai di rumah mereka membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.
Yaslan berharap mendapat hadiah atas kejutan yang dia berikan pada istrinya tadi dan mencoba untuk menggoda Anika.
"Sayang cantik banget tadi," pujinya terus-menerus mencium tubuh indah istrinya.
"Aku capek, Yang. Mau tidur."
"Sebentar aja ya, Sayangku. Kamu tiduran aja nggak masalah."
Anika merasa tak enak hati dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Yaslan langsung memeluk istrinya bersiap-siap untuk melahapnya sampai Anika menahannya.
"Sebentar, Yang." ucapnya lupa meminum pil Kb-nya.
Yaslan heran Anika masih rajin meminumnya. "Kamu sudah lulus, nggak usah minum lagi kan, Yang?"
Anika terdiam.
Dia sebenarnya masih belum siap memiliki anak. Dia takut akan menganiaya anaknya seperti dulu dia dianiaya oleh orang tuanya. Anika takut akan menjadi orang tua yang buruk.
"Mulai hari ini nggak usah minum." kata Yaslan menyingkirkan kotak obatnya dari tangan Anika.
Dia tidak tahu, ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah baca!
Mohon komentar saran kritiknya ya...
__ADS_1