Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 9 Lari


__ADS_3

Anika masih terduduk lemas di lantai kamar Kairi.


Melihat wajah ketakutannya, Kairi mulai kembali tersenyum dengan senyuman psikopat gilanya.


"Kamu sudah melihat koleksiku ya sayang?"


Anika mematung.


"I... ini bukan kamu yang melakukannya kan?"


Kairi tertawa panjang. "Hehehehe..."


"Kamu nggak usah khawatir! Bagiku Anika spesial! Berbeda dengan mereka." ungkapnya.


"Mereka?! Berapa orang yang sudah kamu bunuh?"


Kairi pun mulai menceritakan kisah sadisnya dengan seringai di wajah seolah menceritakan kisah bahagia.


"Yang pertama aku culik, aku perkosa dan aku siksa sama seperti yang dulu aku lakukan padamu. Aku juga mengurungnya dan memberinya makanan sampah seperti anjing peliharaan. Tapi sayangnya dia bunuh diri karena nggak tahan dengan perlakuan kasih sayangku."


Anika tak percaya dengan apa yang dia dengar. Wajahnya sudah pucat pasi.


"Karena aku ingin menyimpan mereka lebih lama, yang kedua aku amati dulu gerak geriknya sebelum aku culik. Setiap kali melawan aku cabuti rambut dan kuku mereka satu persatu, ..."


Siapa dia? Dia bukan Kairi! Dia seperti orang yang berbeda!


"Rasanya lega bisa melakukan itu semua! Karena akhirnya giliranku untuk menyiksa mereka! Aku lakukan semua yang dulu pernah ibuku lakukan padaku!"


Kairi yang aku kenal itu lemah lembut, dia nggak mungkin sanggup melakukan hal sadis seperti itu!


Anika menahan nafasnya ketika Kairi mendekatinya dan mengangkat dagunya.


"Nggak usah cemburu ya, sayang. Hanya 'istriku' yang paling berbeda. Anika juga bilang kalau sayang aku kan? Aku juga sayang Anika..."


Saat dia hendak menciumnya, Anika mendorong tubuhnya sekuat tenaga kemudian lari keluar kamar.


Karena keadaan rumah yang gelap, penglihatannya menjadi terbatas. Dia asal lari menuju pintu yang sepertinya pintu keluar. Tapi ternyata pintunya terkunci.


Anika kemudian mencari jendela dan membukanya. Tapi ternyata jendela rumah ini semua bertelari besi.


"Sayangku kok lari? Aku 'suamimu' kan, kenapa takut?"


Melihat Kairi masih belum keluar dari kamar, Anika mencari cara untuk bersembunyi saja. Samar-samar dia melihat pintu yang sepertinya merupakan pintu ke halaman belakang. Untungnya pintu terbuka saat dia coba mendorongnya.


"Kita sedang main petak umpet ya Sayang? Kalau gitu aku mulai cari ya.."


Cepat-cepat Anika menggerendel pintunya. Dia kemudian melihat ada tangga menuju ke balkon atas.


Mungkin aku bisa kabur lewat atap rumah, pikirnya cepat.


Kairi langsung tahu kemana arah Anika pergi. Dia kemudian menyusulnya dan saat mendapati pintunya dikunci dari luar, dia memukul-mukul pintu kayu itu dengan gergaji yang dia bawa.

__ADS_1


"Kamu nggak akan bisa kabur sayang." katanya yakin dengan seringai masih menghiasai wajahnya.


Dan benar saja, sesampainya di atas balkon, Anika dikejutkan oleh banyaknya tumpukan sampah yang menghalangi jalan.


Sekeliling rumah sampai atapnya pun semuanya tertutup oleh kawat berduri.


Tapi Anika tak peduli. Lebih baik tubuhnya penuh lecet daripada harus dimutilasi dan dijadikan hewan peliharaan. Dia pun melompat ke arah atap dan berhasil memanjatnya dengan susah payah.


Apa yang terjadi? Kenapa Kairi bisa melakukan perbuatan keji seperti itu?


Air mata terus mengalir masih tak percaya dengan kenyataan pahit yang baru saja diketahuinya.


Kenapa Kairi yang bisa menghilangkan traumaku, harus punya masa lalu sekelam ini yang membuatnya jadi monster?!


Dia terus menangis sampai akhirnya melihat sosok Kairi yang muncul dari dalam rumah.


"Jangan bergerak! Atau aku terjun dari sini!" teriak Anika.


Mendengar itu Kairi mematung. Dia berbalik dan mendapati Anika sedang berdiri di atas atap rumahnya.


"Kamu nggak akan mati kalau terjun dari ketinggian itu."


"Aku bisa! Aku akan menjatuhkan kepalaku duluan!" ancamnya.


Anika yakin Kairi pasti tak ingin melihatnya mati, karena dia pasti lebih ingin menyiksa dirinya.


Dan benar saja, Kairi melempar gergajinya ke lantai berubin.


"Anika spesial untukku, jadi aku nggak akan membunuhmu. Aku akan membuang tangan dan kakimu, jadi hidupmu akan tergantung padaku! Aku akan pelihara kamu dengan penuh cinta!"


Dasar sinting!


Anika memandangnya jijik. Dia teringat dengan perbuatan kejamnya dulu. Tapi rasa sayangnya yang sudah terlanjur ada, membuat Anika ingin mempercayainya sekali lagi.


"Katakan bukan kamu yang membunuh mereka!" Anika ingin tahu bahwa ini semuanya bohong. Bahwa dia hanya mengetes kesetiaannya.


Senyum Kairi menghilang. Dia hanya berdiri diam.


Dengan kebisuan Kairi, Anika yakin dia telah mengatakan kebenaran.


"Aku menyayangimu, sayang. Jangan tinggalkan aku sendirian. Kamu bilang mau mengampuniku kan? Kamu juga sayang aku kan?"


Semua kenangan bahagia mereka selama berbulan-bulan memang nyata. Perasaanya pada Kairi pasti bukan simpati, tapi tulus dari dalam hatinya.


Tapi...


"Aku nggak bisa mencintai seorang pembunuh..." jawab Anika sedih.


Kairi juga terlihat sedih mendengar pengakuan dari cintanya itu.


Lama terdiam, dia akhirnya memungut gergajinya kembali.

__ADS_1


"Aku sudah memaksamu masuk rumah ini, jadi aku akan memaksamu tinggal bersamaku. Kalau kamu keluar, kamu pasti akan mencari cowok lain dan melupakanku."


Anika tak peduli, dia ingin membunuh perasaanya pada Kairi. Dia pun berbalik hendak memanjati atap rumah, tapi kata-kata Kairi menghentikan langkahnya.


"Aku akan datang mencarimu sampai pelosok dunia! Aku pasti akan menemukanmu, nggak ada yang bisa menghalangi cintaku padamu!"


Anika mulai merinding. Kalau dia pergi begitu saja, hidupnya pasti tak akan tenang.


"Aku akan menelpon polisi untuk menangkapmu!" balasnya.


"Nggak masalah kalau aku masuk penjara. Aku akan berperilaku baik agar cepat dibebaskan. Lalu kalau keluar aku akan mencarimu lagi sampai ketemu! Kita akan menjalin cinta kita dari awal!'


Cowok gila! Kenapa aku bisa mencintai cowok gila seperti dia!


"Gimana sayang? Kamu senang ya melihat cintaku yang begitu dalam padamu!"


Aku harus membunuhnya! Mungkin itu satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan kembali hidupku yang damai!


"Aku akan membunuhmu!" kata Anika sudah tidak takut lagi padanya. Dia harus kuat demi bisa menjalani hidup dengan tenang!


Tapi Kairi terlihat tambah senang.


"Aku akan bahagia mati di tangan cintaku. Kalau aku mati, hantuku akan terus mendatangimu. Kamu nggak akan bisa melupakanku dan aku akan terus hadir di dalam mimpimu."


Anika mulai menangis lagi. Kakinya menjadi lemas. Apapun yang dia katakan tak akan membuat hidupnya lebih baik. Dia sudah terjerat dengan pria psikopat sampai mati.


"Gimana sayangku? Kalau kamu nggak bisa memilih, aku yang akan memilih jalan hidupmu. Jiwa kita tak terpisahkan!"


Melihat Kairi mulai melangkah menuju tangga, Anika menjadi panik. Apapun itu dia tak ingin hidup tanpa kaki dan tangan seperti hewan peliharaan.


Dia mulai memanjat atap rumah saat tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mendobrak pintu rumah.


Saat menoleh ke belakang, dia melihat Kairi yang berbalik untuk mengecek asal suara.


Dari atas atap, Anika melihat ada dua pria yang menindih Kairi dan memukulnya habis-habisan. Anika menahan pekikannya dengan kedua tangan, tak menyangka melihat itu di depan matanya.


Apakah itu polisi? Tapi mereka kelihatan masih muda dengan pakaian biasa...


Anika kemudian melihat Raymon muncul dari dalam rumah.


Kenapa dia ada disini?!


Raymon mendekati Kairi yang berlutut dan ditahan oleh kedua pria di awal. Kemudian Raymon memukul kepalanya dengan balok kayu.


Melihat itu Anika menjadi sedih karena Kairi mendapat perlakuan kejam seperti itu, tetapi di lain sisi dia merasa lega.


Dia kemudian pelan-pelan memanjat atap rumah, menghiraukan sayatan tajam dari kawat berduri, dan berhasil lolos keluar dari rumah terkutuk itu.


Anika berlari dengan air mata terus membasahi pipinya, tak ingin melihat ke belakang


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Terima kasih sudah baca, mohon dukungannya ya...


__ADS_2