Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 45 Polisi


__ADS_3

Suatu pagi yang cerah, Anika pulang dari shift malamnya di pabrik pengepakan. Dia tak merasa mengantuk walau telah bekerja dari siang sampai subuh selama 14 jam. Setiba di kos sempitnya, Anika berpikir untuk mandi. Udara cukup dingin dan tak ada air hangat membuatnya selalu ingin menghindari kamar mandi. Belum kamar mandinya tak beratap dan hanya sepetak yang digunakan untuk umum.


Anika ingin pindah tempat tinggal, tapi tabungannya menipis. Dia rajin bekerja, tapi uang yang dia dapat tak sebanding dengan pengeluaran membuatnya harus selalu menggunakan uang tabungan.


Sampai kapan aku bisa bertahan? Apakah suatu hari aku harus hidup sebagai gembel?


Tapi Anika merasa penderitaannya ini tidak sebanding dengan masa lalu kelamnya, yang membuatnya tetap berjuang untuk hidup.


Siang hari ketika dia berangkat kerja ke panti asuhan, dia dikejutkan oleh banyaknya mobil polisi dan ambulans yang diparkirkan di sekitar panti asuhan. Anak-anak sepertinya telah diamankan oleh polisi, tapi Anika tak melihat pendeta dan dua biarawatinya.


Karena terlalu kaget dan bingung dengan apa yang telah terjadi, Anika menarik tangan seorang polisi menuntut penjelasan. "Apa yang sebenarnya terjadi pak?!"


Dia tak menyangka menarik tangan polisi tampan yang waktu itu dia lihat di rumah sakit. Anika bisa melihat jelas paras cantiknya dari dekat, mengingatkannya pada seseorang.


"Apa hubungan nona dengan para korban?" tanya polisi itu melihat Anika.


Anika pikir dia salah dengar. "Korban? Siapa korbannya?"


Polisi itu mengajak Anika ke mobil ambulans dan memperlihatkan wajah para korban tanpa mata dan lidah, bahkan ada yang wajahnya dikuliti.


Anika langsung mual dan muntah di tempat. Dia tak menyangka polisi tadi dengan tega memperlihatkan sesuatu yang mengerikan. Walau dia kerja di rumah sakit, pemandangan sadis itu tetap saja membuat Anika tak tahan.


"Maaf, Nona. Kupikir Anda sudah biasa." katanya malah tersenyum.


Apa maksudnya bicara seperti itu?! Polisi gila!


Anika masih belum tahu siapa polisi tampan itu sebenarnya.


Setelah diwawancara oleh seorang polwan, Anika diperbolehkan pulang. Dia tidak menyangka pendeta ramah dan biarawati baik hati itu telah dibunuh dengan sadis. Siapa yang tega melakukan itu? Bagaimana dengan nasib anak-anak panti?


Anika kehilangan salah satu pekerjaannya membuatnya mencari pekerjaan lain. Namun dia menjadi takut untuk tinggal di desa ini dengan adanya pembunuhan di tempat kerjanya sendiri. Untung saja dia tak bekerja dari pagi di panti itu, kalau tidak mungkin dia akan dibunuh juga dengan mengenaskan seperti pendeta dan biarawati itu.

__ADS_1


"Terjadi pembunuhan sadis di panti asuhan yang memakan tiga korban. Selain itu ditemukan juga potongan tubuh wanita di sekitar lokasi ...."


Anika mematikan radio dan menutup kepalanya dengan bantal. Kenapa kota ini mengerikan sekali?!


Dia ingin sekali keluar dari sini, tapi uangnya tak cukup. Akhirnya wanita malang ini memutuskan untuk bekerja di klub malam agar bisa mendapatkan uang banyak dengan cara cepat.


Sebenarnya Anika menghindari pekerjaan seperti ini, tapi demi uang dia berpikir mencobanya sehari. Dalam semalam saja dia bisa mendapatkan total gaji sebulan dari panti asuhan.


"Anda bisa langsung kerja malam ini. Silahkan gunakan pakaian ini." Anika diberi pakaian sexy yang dia benci. Dress ketat dengan belahan dada rendah dan potongan mini. Belum bahan pakaian norak yang kelap-kelip.


Ayo semangat coba satu malam dulu, hanya menemani ngobrol pria-pria kesepian. katanya dalam hati berusaha menenangkan diri. "Demi uang!" serunya lagi keras-keras.


Anika kemudian menelpon pabrik untuk mengambil cuti sehari. Lalu mandi dan bersiap-siap berangkat kerja yang dimulai dari jam 11 malam.


Bau alkohol dan rokok langsung menyerbak begitu Anika memasuki klub malam, padahal dia masuk lewat pintu belakang. Terdapat seorang penata rias dan penata rambut untuk mempercantik para wanita penghibur.


"Nona sangat cantik." Sudah sering Anika mendengar ini, padahal dia sama sekali tak merasa dirinya cantik. Tapi ini membuatnya sedikit bersemangat. "Ini hari pertamamu ya?"


Dia dirias sangat tebal dan rambutnya disasak ke atas. Anika merasa bisa merias dirinya lebih baik dari periasnya, tapi mungkin ini selera penduduk sini.


Wanita-wanita penghibur lain yang kelihatan jauh lebih sexy daripada dirinya, memandang Anika dengan tatapan menghina. Tentu saja wanita sederhana seperti dirinya tak cocok bekerja di tempat hiburan seperti ini.


Anika menghela nafas panjang. Dia teringat mantan suaminya yang juga tergoda wanita macam Ann. Memang semua pria itu hanya tertarik wanita sexy dan cantik, tidak seperti dirinya yang biasa saja. Baru hari pertama kerja Anika sudah ingin menangis dan kabur dari sini.


Walau gajinya sedikit dia senang bisa bekerja di panti asuhan dan diperhatikan oleh pendeta dan biarawati yang baik hati. Kenapa ada yang tega membunuh mereka, membuatnya kehilangan pekerjaan yang dia sukai dan membuatnya ketakutan.


Dia kemudian mengingat tujuan utamanya dan segera menghapus air matanya. Demi uang dan segera pindah dari sini!


Dengan jantung berdebar-debar karena takut dan grogi, Anika melangkah masuk ke sebuah kamar bersama dua wanita lain ketika namanya dipanggil. Di dalam kamar terdapat lima pria yang sudah duduk di sofa. Anika berusaha tak melihat wajah mereka dan duduk di ujung sofa. Dua wanita lainnya duduk di antara pria-pria itu dan sudah mulai menggoda dan menuangkan minuman.


Anika melihat pria-pria ganas itu menyentuh bagian-bagian privat wanita penghibur, bahkan merogoh bagian dalam baju seolah itu hal yang biasa mereka lakukan. Hal ini membuat seluruh badannya gemetaran.

__ADS_1


Bukannya hanya bicara? Kenapa sampai dilecehkan seperti itu.


Dia belum tahu bila dipanggil masuk ke kamar VIP, hal seperti ini biasa terjadi bahkan ada yang sampai berhubungan badan walau sebenarnya dilarang. Berbeda dengan bar utama yang tak ada privasi, wanita yang dipanggil masuk ke dalam kamar VIP akan mendapatkan lebih banyak uang.


Untung pria di sampingnya hanya terdiam. Tapi keberadaan seorang pria asing di dekatnya saja membuat Anika ketakutan.


"Hey kamu wanita baru ya?" tanya seorang pria yang duduk di seberangnya. Sofa yang berbentuk huruf U itu membuat Anika bisa melihat wajah pria di hadapannya itu. "Coba layani aku dong! Minumanku habis!"


Sepertinya dia meminta Anika untuk menuangkan minuman. Kalau hanya itu mungkin aku bisa. batinnya mulai melangkah maju dengan botol di tangan. Tangannya gemetaran ketika menuangkan minuman membuatnya ditertawakan.


"Nggak usah takut dengan kita, Sayang! Kita ini pria baik-baik! Hanya butuh hiburan di malam hari."


Anika pikir mereka hanya bercanda, tapi langsung tak percaya ketika mendengar kalimat selanjutnya.


"Coba goda pria di sampingmu tadi! Dia itu cowok kaku yang membosankan, tak pernah menyentuh wanita manapun!"


Ketika berbalik memandang pria yang tadi duduk di sebelahnya, Anika tak percaya bisa bertemu lagi dengan polisi tampan waktu itu. Pria itu duduk rapi daritadi tak bergerak sambil melipat tangannya dan memangku kakinya. Tatapannya yang dingin seolah menusuk Anika dalam-dalam.


Anika baru sadar mereka semua polisi yang sedang tak memakai seragam mereka. Ternyata polisi bisa juga pergi ke tempat hiburan malam, pikirnya polos.


"Ayo coba goda dia! Nanti ku bayar 10 juta!"


Mendengar jumlah uangnya Anika menjadi tertarik. Bila dia mendapatkan uang sebanyak itu dia bisa langsung keluar dari desa mengerikan ini.


"Buat dia mau menyentuhmu!" Seisi ruangan tertawa tapi polisi tadi tetap duduk dengan posisi cantiknya tanpa senyuman sedikitpun di wajah.


Bagaimana caranya Anika yang sendirinya memiliki trauma disentuh lawan jenis, bisa menggoda pria yang kelihatan kaku itu?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Apa Anika bisa ya?

__ADS_1


Terima kasih dukungannya selalu🤗


__ADS_2