Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 7 Belanja


__ADS_3

Setelah bisa saling terbuka mengenai pengalaman abusive mereka, Kairi tak pernah lagi terlihat memukul Anika. Dia pun tak pernah lagi memaksanya untuk berhubungan badan.


Bahkan Anika boleh keluar dari kamar bila Kairi sedang di rumah, dan boleh menggunakan toilet dan kamar mandi untuk mandi. Walau dirinya masih dikurung di kamar tiap kali Kairi berangkat kerja, tapi tangannya sudah tidak diborgol lagi. Anika merasa dirinya lebih dipercaya oleh penculiknya.


"Anika sayang, enak-enak dulu yuk!" Kairi memeluk Anika dari belakang yang sedang membaca majalah di atas sofa.


Perubahan drastis Kairi ini tetap membuatnya waspada. Bisa saja kejiwaannya yang belum stabil mulai membuatnya menyerang dirinya lagi.


Bisa juga dia hanya memanipulasi dirinya dengan pura-pura berbuat baik.


"Kan tadi siang udah! Sekarang siap-siap kerja dulu sana!"


"Hehehe... Kan biar jadi tambah semangat kerjanya..."


Kairi mulai memasukkan tangannya ke dalam pakaian Anika untuk menyentuh kulitnya. Tapi Anika pelan-pelan menahannya.


"Nggak suka ya? Sayang benci aku ya?" tanya Kairi dengan wajah memelas.


"Bukan begitu sih..."


Dan mereka pun melakukan hubungan suami istri.


Dalam sehari bisa berkali-kali.


Menurut Anika frekuensi ini sebenarnya tidak wajar. Tapi dia yang semula trauma dengan aktifitas ini, kenapa sekarang malah menikmatinya?


"Istriku sayang, ayo makan sama-sama! Ada kejutan lho!" seru Kairi membuka kamar Anika sepulangnya kerja.


Di ruang tengah terdapat televisi yang baru dia beli.


"Wah! Rasanya sudah lama nggak nonton!"


Mereka pun makan bersama sambil menonton televisi. Karena tak ada antena, mereka hanya menonton film yang selalu dibawa oleh Kairi.


Tapi orang dengan gangguan jiwa tidak akan bisa tenang dalam waktu yang lama.


"Capek nonton... Enak-enak aja ya, boleh ya?"


Anika selalu merasa jatuh dalam bujuk rayuannya. Dia masih heran kenapa bercinta dengannya sama sekali tak membuatnya takut. Ketakutannya pada lawan jenis dan kegiatan seksual yang dia benci, yang selalu membuatnya trauma...


Sama sekali tak dirasakan olehnya bila bersama Kairi.


Di hari libur, Kairi lebih sering mengajaknya bercinta. Tapi bila Anika merasa capek dia tidak memaksanya. Saat itu, Kairi akan bermasturbasi di dekatnya.


Dasar mesum!


Tapi kegiatan solonya itu bertambah sering setiap kali Anika menolak bercinta dengannya, yang membuat Anika khawatir padanya.


"Memang nggak sakit?" tanyanya menghentikan tangannya.


"Perih... Tapi enak..."


"Kamu nggak harus melakukan ini! Jangan menyiksa dirimu!"


Kairi menatap Anika dengan wajah tertekan. "Kalau melakukan ini rasanya pikiran tenang."


"Tapi kalau kecanduan bisa bahaya! Ini sama aja dengan mengkonsumsi narkoba!"


Kairi terdiam.

__ADS_1


"Dulu ibu selalu memaksaku berhubungan badan di manapun, kapanpun, di sofa ini, di kasur, selalu. Aku nggak mau memikirkan itu."


Kairi yang awalnya sempat merasa jijik dengan ibunya, lama-lama telah membuatnya kecanduan dan merasa kegiatan tak senonoh ini bisa melepas stresnya. "Kalau bisa s*x pikiran jadi senang." lanjutnya seolah-olah tak ada yang salah dari perbuatan inses itu.


Anika prihatin melihat pria di hadapannya itu. Dirinya juga dilecehkan oleh ayahnya, tapi Anika berhasil keluar dari lingkaran setan itu. Sementara Kairi harus terus melayani ibunya di ranjang sampai merasa terbiasa.


"Mungkin kita harus merubah suasananya biar kamu bisa melupakan masa lalu yang menyakitkan ini." saran Anika.


"Mustahil."


Anika memegang tangannya.


"Kamu aja udah nggak pernah pukul aku lagi, nggak pernah paksa untuk berhubungan badan lagi! Pasti bisa kok!"


Karena disemangati oleh Anika, Kairi pun setuju dan mereka mulai membersihkan sampah-sampah yang selama ini dikumpulkan oleh ibunya.


Rumahnya menjadi lebih bersih dari sebelumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari demi hari mereka menjalani hidup dengan damai.


Ada saatnya mereka hanya berbaring di atas kasur untuk sekedar bercerita, atau saling berpelukan tanpa adanya aktifitas seksual. Kairi suka tidur di pangkuan Anika yang membelai rambutnya.


Setiap kali melakukan perbuatan baik padanya, Anika merasa dia melakukannya untuk dirinya sendiri.


Begitupun sebaliknya. Kairi yang melihat Anika memiliki penderitaan yang sama dengan dirinya, merasa tak ingin membuat Anika sengsara.


Hubungan aneh antara penculik dan korbannya ini, semakin membuat Anika bertanya-tanya apakah ini sungguh perasaannya atau dia hanya dicuci otak.


Suatu hari, Kairi membeli lilin dalam jumlah banyak dan kembang api. Dia pikir Anika bosan di rumah jadi dia membeli sesuatu untuk bisa menghiburnya.


Anika tak menyangka psikopat gila bisa melakukan hal romantis seperti ini. Dia tak menyangka bisa tertawa lepas dengan monster yang menculik dan memperkosa dirinya.


Kontradiksi antara hati dan otaknya terus menerus muncul. Hatinya merasakan kenyamanan tapi otaknya terus memaparkan kenyataan.


"Kalau saja kita bertemu dalam keadaan yang normal," ungkap Anika jujur ketika mereka sedang makan malam di atas meja kecil.


Kairi yang duduk di sampingnya menoleh padanya.


"Kalau kita bertemu dalam keadaan normal, mana mungkin cewek SPG cantik tertarik dengan pengunjung lusuh yang aneh."


Anika terdiam. Dia sedikit setuju dengan apa yang dipaparkan Kairi.


"Kalau saja kita memiliki keluarga bahagia, dan bertemu dalam situasi bahagia..." ungkapnya lagi, membayangkan sesuatu yang menurut semua masyarakat adalah hal yang lumrah.


"Masa lalu nggak bisa diubah," kata Kairi menyadarkannya.


Anika sedikit sedih memikirkan hidup yang dia jalani kenapa tidak bisa normal seperti orang lain? Kenapa ada orang seperti dirinya dan Kairi yang harus menerima pelecehan dan hidup dengan penuh tekanan dari sesuatu yang bukan perbuatan mereka sendiri?


"Rasanya sejak ada Anika, hidupku jadi lebih ringan." ungkap Kairi berusaha mengungkapkan perasaannya. Perlahan dia memeluk Anika dengan lembut.


"Aku belum pernah merasa sebahagia ini." tambahnya.


Anika mendelikkan matanya.


Tak mungkin psikopat gila bisa merasakan bahagia kan? Kenapa dia bisa bilang seperti itu?


Mendengar pengakuan Kairi tadi, Anika pun menjadi yakin.

__ADS_1


"Sepertinya aku juga menyukaimu..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Barbulan-bulan telah berlalu sejak hari penculikan.


Rumah tua yang semula penuh sampah mulai banyak yang dirapikan. Bahkan dapur sudah bisa dipakai.


Anika telah banyak menghiasi ruangannya seperti menghias rumahnya sendiri. Kairi selalu membeli apa saja yang diinginkan oleh Anika.


Tapi tetap saja, Anika merasa tidak bebas. Dirinya yang selalu terkurung di dalam rumah ini ingin menghirup udara segar di luar.


Dia merindukan kehidupan kampusnya.


Apalagi kejadian terakhir dengan Raymon dan Tia, dia ingin mengetahui kebenarannya.


"Aku nggak boleh tetap kuliah ya?" tanyanya pada Kairi. "Atau kerja seperti kamu kerja di pabrik?"


Kairi kaget mendengar pernyataan itu.


"Kamu disini aja, aku akan melindungimu. Di luar nggak ada orang baik. Di rumah aja, kamu nggak usah kerja."


Sepertinya dia masih belum sepenuhnya percaya padaku, batin Anika mendengar jawaban Kairi.


Bagaimanapun juga aku harus keluar dari sini. Setelah dia bisa hidup mandiri, aku akan keluar dari sini! Aku juga punya mimpi!


"Ngomong-ngomong kapan ulang tahunmu?"


Kairi yang dari tadi sedang mengecat tembok berbalik memandang Anika.


Anika mendekatinya, melihat Kairi masih terdiam.


"Bulan ini... Tanggal 22..." jawabnya.


"Wah bentar lagi dong! Ayo bikin kue dan masak makanan kesukaanmu!"


Kairi melanjutkan kegiatan mengecat rumahnya dengan cat warna ungu kesukaan Anika.


"Nanti aku catat bahan-bahan yang diperlukan, lalu kita coba bikin kue! Kamu suka makan apa?"


"Pop mi."


Karena memang hanya itu yang tiap hari dia makan, batin Anika.


"Di hari spesialmu harus bikin yang spesial dong! Gimana kalau aku masakin mi goreng spesial?"


Karena terlalu antusias bisa melakukan hal baru, Anika mulai mencatat bahan-bahan makanan yang diperlukan.


"Hmm... Kayaknya kalau mi goreng pake lada... Lalu kuenya yang sederhana aja ya bikinnya, dari bahan yang sudah jadi..."


Kairi memandang Anika yang terlihat asyik menulis daftar belanjaan yang harus dibeli. Dia pun tiba-tiba mengatakan hal di luar dugaan.


"Kamu boleh ikut belanja."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah mampir 😇


Mohon dukungannya ya....

__ADS_1


__ADS_2