
"Kairi!"
Anika berusaha memanggil nama seseorang yang sedang tidur di dalam biliknya.
"Kairi! Kamu dengar aku kan? Ini aku! Anika!"
Tetap tak ada respon.
Hampir setiap hari bila ada kesempatan Anika melakukan ini, tapi tak pernah mendapat jawaban. Dalam keadaan mata terbuka pun Anika memanggilnya tetapi tak pernah mendapat reaksi.
Seolah Kairi sudah mati.
Anika menyerah dan berpikir untuk kembali bekerja. Ketika Anika membalikkan tubuhnya hendak pergi dari situ, Kairi menoleh ke arahnya.
Setiap Minggu Anika mendapat shift malam dua kali. Baginya shift malam lebih menyenangkan daripada shift siang yang pasti sibuk seharian.
Di malam hari dia bisa bekerja sambil belajar. Karena orangnya pun sedikit, dia bisa bebas menemui Kairi, hanya sekedar untuk menyapanya atau bermonolog di dekatnya.
Selesai menyalin laporan ke dalam komputer, Anika mulai sedikit mencari tahu tentang Kairi. Hari ini dia mendapat akses untuk membuka komputernya, sehingga dia mengambil kesempatan itu.
Ternyata Kairi pernah masuk penjara. Tapi sepertinya tingkah lakunya membuatnya dipindah ke rumah sakit jiwa untuk rehabilitasi. Mentalnya yang tidak stabil terus berubah-ubah.
Lalu keluarga yang bertanggung jawab padanya bernama Ken Charlie A. Apakah itu ayah Kairi? Ataukah pamannya?
Anika mulai mencatat yang menurutnya penting, seperti jadwal rehabilitasi, sesi pertemuan dengan keluarga, hasil diagnosa dan check up. Kairi sudah beberapa bulan dipindah di rumah sakit ini, kira-kira sampai kapan dia harus dirawat disini? Kalau sampai dia diperbolehkan pulang dan harus tinggal dengan pamannya yang juga kelainan itu, mana mungkin Kairi bisa sembuh!
Larut dalam pikirannya memikirkan cara untuk menolong Kairi, membuat Anika tak sadar dengan waktunya. Shift malam berakhir jam enam pagi. Dia pun segera mematikan komputer dan bersiap untuk pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari sebelum tidur, Anika minum pil KB dan obat tidurnya. Sejak dia dan suaminya rajin berhubungan badan, Anika rutin minum pil KB karena tak ingin hamil.
Sebenarnya mereka sudah sepakat untuk menunda momongan sampai studi mereka selesai.
"Yang, sampai kapan tunda punya anak?" Yaslan yang menyukai anak-anak sebenarnya kurang setuju dengan penundaan ini. Baginya bila sudah dititipkan anak oleh Tuhan, dia harus siap untuk merawatnya.
__ADS_1
"Kan sudah kita bahas setelah sama-sama lulus."
Yaslan mulai mencium istrinya dari bibir sampai perut dengan lembut. Mereka berdua sudah terhanyut dengan permainan cinta mereka, sampai tiba-tiba Anika teringat pada Kairi dan menangis.
"Kenapa, Yang? Kita berhenti aja ya?" Yaslan langsung menghentikan aktifitasnya begitu melihat istrinya menangis. "Kamu nggak apa Sayang?"
Anika menggelengkan kepalanya. Entah sejak kapan dia mulai kembali memikirkan Kairi.
"Mungkin sejak jadwalmu semakin padat, kamu jadi kecapekan." kata Yaslan membelai rambut Anika. "Sebentar lagi liburan, kita pergi jalan-jalan ya!"
Yaslan terus membelainya sampai obatnya bereaksi. Anika pun tertidur dalam pelukannya.
Baginya, Anika adalah istri kebanggaannya. Dia kuat tapi sekaligus rapuh. Walau memiliki masa lalu kelam tapi dia selalu ceria.
Akhir-akhir ini kamu sering terbangun karena mimpi buruk lagi, tapi hari ini sepertinya nggak masalah.
Yaslan terus membelai istrinya dengan lembut. Wajahnya yang cantik terlihat bermimpi indah.
"Kairi..."
Yaslan mematung. Dia kaget mendengar nama itu terucap dalam tidur istrinya.
Yaslan sebenarnya sedikit curiga dengan Anika yang lebih banyak pergi kerja daripada kuliah. Awalnya dia pikir karena memang istrinya rajin tak mau membuang waktunya di rumah. Tapi mendengar nama pria itu disebut dalam tidurnya membuatnya heran apa yang menyebabkan Anika tak bisa melupakan pria kejam itu.
Di waktu luangnya, Yaslan mencari tahu keberadaan Kairi. Berkat koneksi dan investigasinya, dia berhasil menemukan nama Kairi yang ternyata tidak lagi di penjara...
Melainkan di rumah sakit jiwa tempat istrinya bekerja.
Tanpa pikir panjang, Yaslan langsung menuju tempat kerja istrinya dengan sedikit penyamaran. Setibanya di sana dia mengaku sebagai seorang jurnalis yang ingin meliput rumah sakit.
Saat diminta untuk menunggu di ruang tunggu, Yaslan menyelinap masuk ke dalam ruang pasien rawat inap.
Dari jauh dia melihat istrinya yang dengan sabar dan ceria menghibur para pasien. Ada pasien yang marah-marah sendiri, tapi Anika justru membelainya dan membujuknya seperti anak kecil. Ada pasien yang terus-menerus bercerita tak henti-hentinya, yang ditanggapi Anika dengan sabar mendengarkan setiap kata.
Yaslan sangat kagum dengan istrinya yang terlihat sangat menikmati pekerjaannya itu.
__ADS_1
Dia tahu bahwa bekerja di rumah sakit jiwa tidaklah mudah, bahwa dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menangani pasien ODGJ. Dia juga pernah dengar orang yang bekerja disitu banyak yang ikut menjadi stres sampai dipukuli oleh pasien.
Tapi melihat Anika yang kelihatan bahagia, sepertinya dia terlalu khawatir. Dia pun segera meninggalkan rumah sakit sebelum ketahuan telah berbohong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Yaslan ketika mereka sedang makan malam bersama di luar.
Yaslan tahu ini topik yang agak sensitif. Dia tidak ingin terpancing emosi, karena itu mengajaknya bicara di tempat ramai.
"Biasa aja, seperti pekerjaan pada umumnya." jawab Anika tak curiga sedikitpun.
Yaslan sedikit kecewa istrinya tidak mau cerita lebih detail. "Apa kamu sudah boleh merawat pasien?"
"Ya terkadang. Hanya pasien yang dianggap hampir sembuh aja sih." Tumben dia tertarik dengan pekerjaanku, batin Anika masih tak curiga dan terus menyendoki makanannya.
Pembicaraan mulai memasuki inti pembicaraan. "Apa kamu diminta merawat pasien yang bernama Kairi?"
Sesaat Anika mematung mendengar nama Kairi disebut.
"Tidak." jawabnya jujur. Seperti kedapatan selingkuh, Anika tak berani menatap mata Yaslan.
"Kenapa kamu nggak terus terang padaku kalau pria bejat itu juga dirawat di situ?" Nadanya mulai meninggi membuat Anika semakin takut. Belum pernah Yaslan bicara seperti ini padanya.
"Maaf..." Hanya itu yang bisa dia katakan.
Yaslan menghembuskan nafas panjang. "Kamu nggak salah, Sayang. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu! Walau dia sekarang pasienmu, dia itu penjahat!" Yaslan mulai memelankan suaranya. "Kamu harus ingat, dia yang dulu pernah menculikmu."
Anika sangat sadar dengan hal itu. Tapi tetap saja hatinya tidak bisa menerima kenyataan. "Aku ingin pulang," katanya menyelesaikan makanannya.
Selama perjalanan pulang mereka berdua saling diam. Setibanya di rumah, Yaslan langsung menarik Anika ke dalam pelukannya. Anika tahu ini caranya menunjukkan kasih sayangnya, menunjukkan bahwa dia tidak marah.
Anika membalas pelukannya.
Entah apa yang sudah dilakukan pria psikopat itu! batin Yaslan dalam hati. Tapi aku tak akan membiarkan dirinya mencuci otakmu! Akan kubuat kamu melupakan bajingan itu!!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apakah Yaslan bisa membuat Anika melupakan Kairi??