Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 3 Pahlawan


__ADS_3

Raymon mulai merogoh bagian dalam pakaian Anika. Kulitnya yang disentuh oleh tangan laki-laki itu menegang.


"Nggak usah takut, aku bakal lembut padamu," bisiknya berusaha menenangkan Anika.


Raymon meneruskan aksinya dengan perlahan menelanjangi gadis tak berdaya itu.


"Dasar anak jal*ng! Kamu jelek seperti ibumu! Harusnya kamu berterima kasih karena aku mau memakaimu! Pasti nggak ada cowok yang minat sama kamu kan?"


"Ampun ayah! Sakit! Jangan sentuh Anika!"


Luka Anika di masa lalu terbuka lagi. Dia wanita kotor, dia pantas diperlakukan seperti ini. Tak ada orang yang bisa menolongnya. Pikiran itu terus berputar di otaknya.


"GYAAA!!!!" Tiba-tiba Raymon terperanjat karena melihat sesuatu di jendela.


Teriakannya itu menyadarkan Anika. Dia menghiraukan dirinya yang sudah setengah telanjang dan bingung melihat reaksi Raymon.


"Ada orang ngintip dari jendela!"


Setelah mengenakan celananya kembali, Raymon bergegas keluar untuk memeriksa sosok yang berani mengintip mereka. Tapi tak ada yang terlihat.


"Gila padahal ini lantai dua."


Melihatnya keluar, Anika mengambil kesempatan itu untuk mengeluarkan barang milik Raymon dan mengunci pintu kamarnya.


Untungnya Raymon pulang begitu saja walau sebenarnya dia tidak senang dengan perlakuan Anika padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dini hari, Anika terbangun lagi dari mimpi buruknya. Selama ini dia pikir sudah bisa mengatasi traumanya itu, tapi ternyata tidak.


"'Anak jelek! Kamu pasti nggak laku! Tiap malam kamu bisa enak-enak denganku, kenapa malah kos di luar?! Dasar jelek! Kotor!"


Kata-kata itu terus berdengung di kepalanya.


Anika mengambil earphone-nya dan mendengar lagu mellow kesukaannya. Perasaannya menjadi lebih tenang dengan meresapi lirik lagu dan lantunan nada yang terdengar indah.


Hari ini hanya ada satu mata kuliah di siang hari. Paginya dia gunakan untuk mencuci baju dan membersihkan kamarnya.


Saat melipat baju dia heran kenapa pakaian dalamnya ada yang hilang. Padahal dia pastikan selalu menjemur pakaian dalam di dalam kamar. Kadang kaosnya pun hilang saat di jemur. Tapi dia menghiraukannya dan menganggap itu ulah angin yang menerbangkan pakaiannya karena sering lupa dijepit.


"Gimana dengan Raymon?"


Anika bergidik mendengar nama itu disebut oleh temannya.


"Kapan-kapan jalan bareng yuk! Kan lumayan jalan sama cowok ganteng!"


Anika bingung apakah harus jujur pada temannya itu, atau kah menutup rapat mengenai apa yang telah dialaminya, mengingat Tia pernah seenaknya membeberkan informasi pribadi pada orang lain.


"Kok diam Ka? Kalau ada apa-apa cerita aja. Kamu bilang belum pernah pacaran kan, mungkin aku bisa bantu kasih nasehat."


Mendengar itu Anika memilih untuk sedikit terbuka padanya. Dia mau lebih mempercayai temannya itu, apalagi selama dua tahun kuliah di kampus ini hanya Tia yang selalu menemani dirinya.


Dia pun menceritakan semua yang dia alami dengan Raymon.


"Masa sih?! Parah banget! Masa dia cowok kayak gitu? Ganteng-ganteng ternyata racun! Maaf ya Ka, kalau tahu dia cowok brengsek kayak gitu, aku nggak bakal kenalin dia ke kamu!"


"Bukan salahmu kok. Coba aku bisa lebih tegas."


"Kalau kayak gitu sih udah bukan masalah bisa tegas lagi! Dia termasuk cowok manipulatif!"


Cowok manipulatif?


Orang seperti ini berusaha mengendalikan seseorang dengan mempermainkan mental dan emosi korbannya. Mental Anika yang lemah akibat trauma yang dideritanya, membuatnya menjadi sasaran empuk bagi cowok seperti Raymon.


"Padahal kalian belum pacaran, tapi dia seenaknya gitu ke kamu! Untung kamu cepat cerita! Kalo udah jatuh cinta sama cowok kayak gitu, bakal susah keluarnya!"

__ADS_1


"Kamu tahu banyak ya." Anika kagum pada Tia. Dia merasa lega telah menceritakan masalah ini padanya.


"Aku dulu punya pacar toxic! Dia pernah cuekin chatku seminggu, katanya hanya mau ngetes! Aku juga sering disalahin dan dibanding-bandingin sama orang lain! Karena aku orangnya ga sabaran sih langsung minta putus haha!"


Tia memang cewek yang punya kepercayaan diri lebih tinggi dari Anika. Dia merasa beruntung memiliki teman seperti Tia.


"Tapi kalau dia udah sampai sentuh-sentuh kamu parah banget sih itu! Untung kamu nggak sampai diperkosa dan kehilangan perawanmu!"


Perawan? Apa Tia akan jijik padaku kalau tahu aku bukan perawan lagi? Anika mulai cemas dengan trauma yang dimilikinya.


"Kalau dia mengganggumu lagi, langsung telpon aku ya! Atau lari ke kampus aja yang ada banyak orang! Jangan pernah mau dipaksa olehnya!"


"Terima kasih Tia," katanya tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu berlalu dengan damai.


Anika menjalani aktifitasnya seperti biasa tanpa gangguan dari Raymon. Mimpi buruknya pun berkurang.


Seminar Dunia Entertainment yang sedang dia hadiri hari ini membuatnya bersemangat.


Anika memang tertarik dengan fashion dan make up. Fashion bisa meningkatkan penampilannya dan dengan make up dia bisa menutupi kekurangannya. Semua ini bisa membuatnya lebih percaya diri.


Anika terus mencatat bagian yang menurutnya penting.


"Maaf, tadi apa yang dijelasin di awal ya? Aku baru tiba."


Entah sejak kapan seorang cowok berkacamata sudah duduk di sampingnya. Anika merasa tidak asing dengan penampilan dan suaranya itu.


"Ini, kalau mau pinjam." Dia menyerahkan buku catatannya dan halaman-halamannya langsung di foto oleh cowok itu.


"Makasih banyak ya!" katanya sambil mengembalikan catatannya. "Tulisanmu rapi."


Anika menerima catatannya dan kembali fokus pada pembicara di depan.


Uluran tangan cowok itu hanya dibalas oleh senyuman Anika. Dia sudah biasa diajak kenalan, tapi dia selalu cuek karena traumanya. Apalagi pengalaman pahit dengan Raymon yang barusan menimpa dirinya.


Yaslan menulis di secarik kertas dan saat seminar berakhir memberikannya pada Anika.


"Kalau nggak suka kamu boleh buang."


Lipatan kertas dibuka dan dia melihat nama dan nomer ponsel cowok itu.


Saat mencari sosoknya dia sudah tidak terlihat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lihat itu cewek pelacur!"


"Jijik banget kenapa masih berani ke kampus sih?"


Awalnya Anika bingung ke siapa kata-kata itu ditujukan. Tapi dia merasa aneh dengan pandangan menusuk yang sepertinya ditujukan ke arahnya.


Saat melihat sekeliling, banyak yang berbisik-bisik sambil memandang jijik ke arahnya.


Memang apa yang sudah aku lakukan?


Anika lega melihat Tia setelah jam kuliah selesai. Tapi Tia justru menjauhi dirinya.


Lho kok? Kenapa Tia menjauhiku?


"Itu cewek yang berani goda Raymon?"


"Cantik aja nggak, dasar kePD-an!"

__ADS_1


Perlahan Anika mulai paham. Cewek yang dari tadi mereka gosipin itu ternyata dirinya.


Pelacur? Goda Raymon? Apa yang sebenarnya terjadi?


Karena tak tahan dengan semua fitnah yang ditujukan padanya, Anika langsung pulang. Sepanjang jalan dia terus menundukkan kepalanya.


Setibanya di kamar dia menangis, masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.


Yang mengetahui hubungannya dengan Raymon hanya Tia. Kalaupun Raymon yang menyebar gosip, kenapa Tia lebih percaya pada Raymon daripada dirinya?


Anika mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan ke Tia, "Ti, maaf ya kalau aku berbuat salah. Tapi aku nggak bohong waktu aku cerita padamu tentang kak Raymon. Kita teman kan? Kamu harus percaya aku!"


Setelah mengirim pesan, Anika merasa lebih baik dan bersiap untuk mengajar di bimbel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suatu malam setelah Anika selesai mengajar, dia mampir ke minimarket seperti biasa. Setelah membeli roti yang biasa dia beli, dia langsung pulang ke kosannya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan pesan masuk. Begitu melihat nama Tia dia langsung membaca isinya, "Temui aku di gedung BEM kamar nomer 4 ya."


Tanpa pikir panjang Anika langsung pergi menemuinya, menghiraukan langit yang sudah gelap.


Mungkin dia mau menjelaskan apa yang terjadi! Syukurlah aku nggak kehilangan satu-satunya temanku.


Begitu tiba di gedung BEM, Anika berusaha mencari sosok Tia.


Sudah tak banyak orang yang ada di kampus. Gedung BEM dengan banyak ruangan kecil terlihat mengerikan di malam hari.


Saat hendak memasuki ruangan nomer 4, tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya masuk dengan paksa.


Dia melihat tiga pria berdiri di hadapannya. Mereka mengenakan masker untuk menyembunyikan wajah mereka.


Salah satu di antaranya ada Raymon.


Walau dia mengenakan masker, Anika yakin itu dia.


"Mau diapain nih?" tanya salah seorang dari mereka.


"Kita pakai bergilir aja gimana?" tanya yang lain.


Raymon melonggarkan celananya dan mendekati Anika. "Pegang dia! Kalian boleh pake setelah aku memakainya."


Seluruh badan Anika gemetaran saat ditahan oleh mereka. Dia merasakan ketakutan yang lebih.


"Sayang sekali aku harus memaksamu seperti ini, padahal awalnya aku berbaik hati padamu lho."


Raymon mendekatkan wajahnya ke Anika. Dia merasa senang melihat Anika menangis ketakutan.


"Jangan nangis dong, kesannya kan jadi aku yang jahat. Padahal siapa yang bikin aku begini?"


Tak lama kemudian ada orang lain yang masuk. Cowok bermasker dengan pakaian lusuh, Anika tak asing dengan sosok itu. Balok kayu panjang dia genggam di tangannya.


"Siapa itu Mon?"


"Temanmu?"


Tanpa berkata-kata dia memukul dengan sadis semua cowok yang ada di ruangan itu sampai babak belur.


Anika tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Saat dia pikir cowok itu pahlawannya, kepalanya juga dihantam dengan balok sampai pingsan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai, terima kasih sudah mampir dan baca novelku!

__ADS_1


Kali ini aku mau coba membuat cerita psikologis, semoga ceritanya cukup membuat penasaran ya! Mohon dukungannya dengan komentar dan like.


Terima kasih😇


__ADS_2