Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 5 Mati


__ADS_3

"Se... Selamat pagi Suamiku..."


Pria yang masih belum diketahui namanya itu dikagetkan oleh sikap Anika yang tiba-tiba berubah ketika dia hendak pergi kerja malam itu.


Dia pun berjongkok untuk meraih rambut Anika. Dengan refleks Anika menutup rapat-rapat matanya, takut akan dijambak lagi.


"Istriku mulai pengertian," katanya membelai rambutnya.


Penculik gila itu pun menaruh gumpalan nasi di atas tempat makan anjing sisa tadi pagi.


"Ini makan malammu ya Sayang."


Kemudian dia ke pojok kamar untuk menggelar beberapa lembar koran.


"Ini toiletmu ya," tunjuknya sebelum menuju pintu. "Sampai nanti Sayang."


Anika tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Daripada istri, dia lebih merasa dirinya seperti anjing peliharaan.


Setidaknya tadi dia nggak memukul atau memaksaku berhubungan badan dan memberiku makanan tanpa belatung, batinnya menghibur diri sendiri.


Dia pun mulai memakan nasinya dalam diam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lima hari telah berlalu sejak hari penculikannya. Anika tetap berusaha mempertahankan sikap patuhnya.


Dia mengenakan sehelai gaun sexy dan ikat leher seperti anjing. Tangannya yang dulu terikat dengan tali sudah tergantikan dengan borgol besi.


Anika merasa benar-benar seperti seorang budak.


"Mulutmu sangat jago sayang," ucapnya setelah puas mendapatkan pelayanan khusus dari istrinya.


Selesai melakukan kegiatannya, Anika terbatuk-batuk jijik dengan apa yang barusan dia masukkan ke dalam mulutnya.


"Kenapa? Nggak enak ya?" tanyanya menyeringai kemudian menendang Anika.


"Ti... Tidak Sayang..." bantahnya memaksakan senyuman. Walaupun dia tersenyum, Anika sebenarnya merasa sangat takut dan membenci pria di hadapannya itu sepenuh hati.


Tentu saja nggak enak karena baunya minta ampun! Seperti telur busuk!


Anika yang sudah tidak mandi sejak hari pertama diculik, diajak ke kamar mandi. Satu-persatu helai baju dia bantu bukakan karena tangan Anika yang terborgol.


"Gimana Sayang, senang ya bisa mandi lagi?" tanyanya sambil menyusut kulit penuh memar gadis malang itu.


Anika hanya terdiam pasrah dimandikan oleh pria psikopat.


Selesai mandi, dia mengajak Anika ke ruang tengah. Ruangannya lebih besar dari kamarnya, tapi sampah juga berserakan dimana-mana. Ada sofa lusuh di tengah dan meja rendah.


Di atas meja itu terdapat barang-barang berkilau bersih, kontras dengan ruangan lusuhnya.


"Karena kamu sudah jadi istri patuh, ini hadiah untukmu."


Make up dengan merek yang biasa dia beli, majalah-majalah kesukaannya, bahkan koleksi kaos yang suka dia kenakan semua terpampang di atas meja.

__ADS_1


"Te... terima kasih," lirih Anika, bingung sebenarnya harus senang atau takut dengan kenyataan kenapa pria ini bisa mengetahui semua yang dia sukai.


"Ini makan siangmu."


Kali ini Anika pertama kali mendapatkan makanan layaknya manusia. Dos nasi lengkap dengan lauk pauk dan ada sendoknya.


Tak terasa air mata sudah membasahi pipinya yang masih lebam bekas ditonjok.


"Kamu menangis bahagia ya Sayang? Itu hadiah karena sudah jadi istri penurut. Mulai sekarang tampil yang cantik ya."


Setelah menyeka air matanya dengan tangan yang terborgol, Anika mulai mengunyah nasinya lama-lama, menikmati setiap gigitan yang sudah lama tidak dia rasakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayangku! Enak-enak dulu yuk!"


Lelaki biadab itu membangunkan Anika yang sedang terbaring lemas di atas tikarnya. Cowok itu baru saja pulang dari tempat kerjanya semalam dan ingin melepas hasratnya pada istrinya.


"Huhuhu" raung Anika menahan rasa sakit di perutnya.


"Lagi datang bulan ya Sayang?" tanyanya melihat darah keluar dari kem*luannya.


Sakit... Hari ini sakit banget... Aku nggak bisa gerak...


Anika memegang perutnya tak bergerak sedikitpun. Melihat itu si penculik membalik tubuhnya dan membuka pakaiannya.


"Katanya lebih nikmat kalau lagi datang bulan," ucapnya sembari menancapkan miliknya ke lubang berdarah Anika.


Anika gemetar menahan sakit. "Hikshiks... Ampun kak... Sakit..."


"Huhuhuuhu..." Anika diperlakukan lebih rendah daripada hewan. Dia hanya bisa menangis pasrah dengan takdirnya. Kalau melawan dia takut akan dipukul.


"Enak kan Sayang? Sebenarnya aku kecewa karena kamu bukan perawan." akunya berusaha melihat wajah Anika yang dari tadi menutupinya dengan tangan.


Kekejaman yang dulu dilakukan Raymon menjadi tak seberapa dengan apa yang dia rasakan saat ini. Penculik dan pemerkosanya benar-benar seperti monster.


"Kirain kamu gadis baik-baik. Kamu pernah lakuin sama pacarmu ya? Kapan?"


Anika hanya terdiam. Dia tak ingin membuka aib yang selama ini sudah dia tutup rapat.


"Jawab dong Sayang!"


Duak!


Satu pukulan melayang di wajah Anika hingga hidungnya berdarah. "Mau jadi istri nggak patuh lagi ya? Kamu udah lakuin sama siapa aja?" tanyanya lagi bersiap untuk memukulnya.


Tapi kepalan keduanya terhenti di tengah jalan mendengar pengakuan Anika.


"Ayah .... Sama ayah .... Waktu SMP ...." jawbnya sambil terisak-isak menahan sakit dan malu atas aibnya tak pernah dia ceritakan kepada siapapun.


Pria itu kaget dengan pengakuan wanita yang sedang dia perkosa itu. Dia menjadi tidak tega untuk menyiksanya lebih lanjut.


"Saya benci cowok... Hubungan badan itu sakit... Ampun kak... Huhuhu... Ampuni saya..."

__ADS_1


Anika tak berhenti menangis. Sakit fisik, sakit mental dan sakit hati semua bercampur aduk. Aibnya yang berusaha dia tutup rapat pun akhirnya terbuka. Dia mulai membenci dirinya yang lemah tak bisa melawan semua perlakuan tindak kekerasan yang selama ini harus dia hadapi.


Pemerkosanya terdiam mulai merasa iba melihat wanita malang yang dia siksa selama ini ternyata memiliki trauma yang mirip dengannya. Dia kemudian membawakan handuk dan pergi meninggalkannya sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah dua hari penuh Anika tak mendapatkan kekerasan fisik maupun sexual lagi. Dia bingung dengan perubahan sikap 'suami'nya itu. Selama dua hari yang damai ini dia merasa lebih tenang dan bisa berpikir lebih jernih tanpa tekanan.


Anika mulai merasa bisa sedikit mempercayai bahwa pria itu tak sepenuhnya monster, bahwa dia bisa juga menahan nafsu bejatnya.


"Namanya siapa?" tanya Anika memberanikan diri ketika penculiknya itu sedang mengganti koran sebagai toilet dengan lembaran yang baru.


"Kairi."


Pertama kali Anika melihatnya bicara tanpa cengiran psikopatnya, membuatnya tidak terlalu takut lagi padanya. Dia berpikir bila lebih mengenalnya bisa membuatnya mengetahui sesuatu dan kabur dari rumah sampah ini.


"Usianya berapa kak?"


"25 tahun." jawabnya heran. "Apa rencanamu? Kamu mau memanfaatkan aku ya?" lanjutnya berdiri mendekati Anika.


"Apakah salah mengenal suami sendiri?" Gimanapun caranya aku harus membuatnya percaya padaku biar aku bisa kabur darinya!


Mendengar wanita yang diculiknya memanggilnya dengan sebutan suami, Kairi mulai nyengir lagi seperti orang gila kelihatan senang.


Menjijikkan! Pokoknya aku harus keluar dari sini!


"Rasanya aku mau mesraan denganmu Sayang." akunya mulai mendekap Anika dengan tujuan untuk berhubungan badan. "Sudah nggak datang bulan lagi kan?"


"I... iya..."


Anika berusaha tetap tegar setiap kali dia diperkosa oleh Kairi. Dia sebenarnya sangat jijik harus melayani pria lusuh dan bau itu, tapi dia berusaha tetap tegar menjalani ini semua. Masih lebih baik daripada dibunuh, pikirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam itu, Kairi sedang libur dari kerjanya. Dia sedang tidur di atas matras di kamarnya sendiri.


"Anak gila! Mati aja sana! Ibu benci kamu! Mati mati mati!"


"MATI !"


Tiba-tiba Kairi terbangun dari mimpi buruknya dengan keringat dingin. Hasrat ingin membunuhnya muncul dengan sangat kuat. Dia pun beranjak dari kasurnya mencari Anika.


Dia ingin sekali membunuhnya.


Anika yang sedang tidur pulas dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka.


"Sayang..." panggil Kairi dari kegelapan.


"Hng?" Anika mengucek matanya yang disambut dengan cekikan di leher.


"Kamu mau mati untukku kan?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Semoga kita selalu dijauhi dari segala jenis tindak kekerasan... Amin😇


__ADS_2