Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 51 Anak


__ADS_3

Yuri meminta Anika dan Kairi tetap tinggal setelah semua tamu undangan pulang. Rumah mereka memang terletak sedikit ke kota yang jaraknya cukup jauh dari rumah yang dibeli Kairi. Anika yang merasa mungkin dengan kehadirannya bisa menolong Jane, mengiyakan tawarannya. Para istri sedang menikmati bermain di sofa ruang tengah bersama putrinya Irina.


Walau tak tertarik, Kairi mendengarkan adiknya yang sedang membahas kasus pembunuhan yang sedang ia tangani. Sesekali dia melirik ke arah Anika untuk memastikan keadaannya.


Irina tiba-tiba menangis dan Jane menggendong bayinya berusaha menenangkannya tapi tangisannya tak kunjung reda.


"Ssh ssh, jangan nangis sayangku ...."


Jane yang kerepotan membuat Anika berpikir apa yang bisa dia lakukan untuk membantunya. Dia kemudian ingat sempat menjaga anak balita di panti asuhan, dan memberi tahu kemungkinan anaknya kelaparan atau perlu ganti popok.


"Benar juga, saya akan siapkan susu!" serunya langsung menuju kamar putrinya.


Anika tampak heran dengan tingkah laku Jane. Dia sering bengong, dan pengetahuan mendasar seperti kebutuhan anaknya saja dia tak ingat. Apakah ada kaitannya dengan trauma dari suami kanibalnya? Dia menjadi takut bila Kairi terlalu sering berhubungan dengan adiknya itu, mungkin sisi psikopat Kairi akan keluar lagi. Padahal selama ini Anika telah menjaga suaminya untuk hidup benar.


"Dimana Jane?" tanya Yuri pada Anika karena tak melihat anak istri mereka.


"Mereka di dalam kamar ...." Belum selesai bicara, Yuri langsung lari menyusul istrinya di dalam kamar. Ketika pintu kamar dibuka, tangisan bayi belum juga reda.


Terdengar suara seperti perdebatan antara suami istri yang tak kunjung reda. Anika sedikit takut dan mendatangi Kairi, memintanya untuk melerai mereka.


Kairi hanya diam masih menatap foto korban pembunuhan yang dia pegang sebelum menasihati Anika, "Sebaiknya kita jangan ikut campur urusan mereka." Dia tahu Anika berhati baik, tapi dia tak ingin melibatkan istrinya dalam bahaya.


Anika kemudian melihat foto sadis yang dipegang suaminya, dan merasa tak asing. "Itu .... pendeta yang waktu itu kamu bunuh kan?"


Dia tiba-tiba menjadi ketakutan mengingat peristiwa mengerikan waktu itu. Anika tak bisa lupa dengan wujud sadis mereka yang waktu itu diperlihatkan Yuri padanya di TKP.


Melihat Kairi yang sedikit mengeraskan rahangnya, Anika berusaha mengontrol emosinya karena tak ingin menyinggung suaminya. Dia takut suaminya itu akan mengamuk. Di lain sisi, Kairi sebenarnya berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang dan tidak mengamuk karena marah pada dirinya telah mengecewakan Anika. Dia tak ingin menakuti istrinya itu.

__ADS_1


Ketegangan ini dipecahkan oleh Yuri yang tiba-tiba muncul dengan menggendong putrinya yang tertidur di punggungnya dengan gendongan bayi. "Maaf lama menunggu!" sapanya santai.


"Dimana Jane?" tanya Anika heran putrinya malah bersama si kanibal.


"Dia tertidur. Hmm ... Tadi kita sampai mana?"


Tidur? Anika tambah curiga. Kenapa dia tiba-tiba tertidur?!


Kairi meminta Anika untuk pindah ke ruangan lain jauh darinya karena tak ingin menakutinya, tapi dihalang oleh Yuri.


"Biarkan istrimu lebih mengenal sisi psikopatmu. Biarkan dia tahu maha karya seperti apa yang kamu kerjakan!"


Yang dikatakan Yuri benar. Anika terkadang masih takut pada Kairi. Dia masih belum bisa menerima suaminya seutuhnya. Kadang dia merasa aman sekaligus terancam, dan itu sering membuatnya frustasi. Anika ingin menghilangkan perasaan takutnya pada suaminya ini.


Kairi memandang Anika untuk memastikan istrinya memang tak masalah melihat tindakan keji yang telah dilakukannya. Mata mereka bertemu dan Anika berusaha tersenyum padanya.


Tapi begitu melihat foto-foto mayat yang dibunuh dengan sadis, mayat dari pendeta yang telah baik padanya, dan para biarawati yang selalu ceria mengasuh anak-anak panti, membuatnya tak bisa menahan air mata atas satu-satunya kenangan baik yang dia dapat di desa ini dulu.


Kairi melihat itu dan langsung memasukkan semua foto korban ke dalam koper kerja Yuri. "Kita pulang sekarang," katanya menarik tangan Anika yang tetap mematung.


Sesaat Anika merasa takut pulang bersama Kairi. Orang baik saja tega dia bunuh, apalagi dirinya. Dia mengingat kejadian menolak hadiah dari Kairi langsung melukai 3 orang dan menghancurkan satu ruangan. Dia sadar niat baik Kairi yang kadang tega membunuh orang yang mengganggu istrinya, tapi bila suatu hari Kairi cemburu atau salah paham, apakah nyawanya akan langsung melayang juga?


Melihat istrinya gemetaran, Kairi mengulurkan tangannya ingin menghapus air matanya. Tapi Anika refleks menutup matanya karena ketakutan.


Kairi kelihatan kecewa. "Aku tunggu di mobil dan akan minum obat." katanya sebelum pergi meninggalkannya.


Merasa sedikit bersalah, Yuri mendekati Anika yang masih mematung di tempat.

__ADS_1


"Apa kamu kenal dengan orang yang telah dibunuh oleh Kairi?" tanyanya sambil terus-menerus menggoyangkan badannya berusaha membuat putrinya tertidur lagi di gendongan. "Pendeta yang kamu pikir baik itu sebenarnya seorang pemerkosa dan pembunuh berantai."


Mata Anika melebar. Dia tak percaya apa yang dia dengar. Mana mungkin pendeta yang baik hati itu melakukan perbuatan keji seperti itu?!


"Dia dan anak buahnya, para biarawati itu, telah membunuh sejumlah wanita muda untuk dikonsumsi dagingnya dan diberi makan kepada anak-anak malang di panti asuhan." putrinya yang tak kunjung tidur membuat Yuri mengambilnya dari gendongan belakang, dan mengayun-ayunkannya ke depan.


"Sudah sejak beberapa tahun lalu mereka mempraktekkan ajaran sesat itu dengan menyamar jadi pendeta dan biarawati. Mereka percaya gadis perawan adalah jelmaan malaikat, dan gilanya si pendeta membuktikan keperawanan mereka dengan memperkosa mereka terlebih dahulu. Kalau bukan perawan mereka tak akan mengkonsumsi dagingnya dan membuangnya ke hutan untuk dimakan hewan liar."


Sebenarnya kisah yang dikatakan oleh Yuri terdengar sangat menyeramkan, tapi dia menjadi tak fokus dengan interaksi ayah anak yang terlihat menggemaskan di hadapannya itu. Anika sedikit tertawa melihat putrinya sekarang menepuk-nepuk pipi ayahnya dan mengacak-acak rambutnya.


"Maaf sepertinya dia tak mau tidur lagi," kata Yuri sekarang menaruh Irina ke dalam box bayi, dan memberinya boneka dan mainan. "Kamu sudah lebih tenang?"


Dia memang lebih tenang, tapi ketakutannya pada Kairi tetap tak bisa hilang.


"Semengerikan apa suamimu, dia tak akan melukai orang yang dia cintai selama kamu tak menyakiti hatinya sih." Anika tambah takut. "Tenang aja, aku pun sekarang sudah tobat dan berusaha hidup bahagia bersama keluarga kecilku."


Bahagia ya .... Benar juga, psikopat pun pasti ingin hidup bahagia. Mereka pasti berubah bila bahagia.


Anika pamit pulang dan menyusul Kairi ke dalam mobil. Di dalam mobil Kairi sepertinya sedang tertidur pengaruh obat yang dia minum.


Kalau dia tertidur seperti ini, dia sama sekali tak kelihatan berbahaya. Anika mulai membelai kepalanya dan terus memikirkan masa depan mereka. Apakah suatu hari mereka berdua bisa hidup bahagia dan memiliki anak? Hanya itu harapan Anika sekarang. Untuk saat ini dia tak menginginkan hal lain selain kebahagiaan untuk Kairi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selamat libur panjang pembaca setiaku🤗


Jangan lupa besok dukung ceritaku dengan vote kalian ya!!

__ADS_1


__ADS_2