Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 23 Menjemput


__ADS_3

Anika yang tak berdaya hanya bisa menangis dilecehkan di depan suaminya sendiri.


Sementara Yaslan tak henti-hentinya mengamuk ingin melepaskan dirinya tapi sia-sia.


"Sudah lama nggak ketemu, kamu tambah sexy aja," katanya sekarang memasukkan tangannya ke dalam rok span panjang Anika, berusaha menyentuh bagian privatnya.


Anika mengejapkan mata, menggigil ketakutan. Seluruh trauma disentuh pria secara paksa mulai merasuki dirinya.


"Jangan bilang kamu sudah lupa denganku." Pria itu membuka maskernya, memperlihatkan wajah tampannya yang menyeringai. "Kangen denganku kan?"


Anika tetap menutup matanya. Dia tak ingin tahu dan hanya berharap ini cepat berakhir.


"Ayo buka matamu yang cantik itu dong," paksanya mulai mencium bagian kulit Anika yang terekspos. "Kamu itu tipeku banget. Harusnya kamu tersanjung diperlakukan secara khusus olehku."


Anika yang tak kunjung membuka matanya membuat Raymon kesal.


Pria itu mulai membisikkan sesuatu ke telinganya "Mau tahu cerita tentang temanmu Tia?"


Tia?! Anika kaget tetap berusaha untuk tak membuka matanya.


"Dia lho yang menjualmu padaku, hanya karena ingin tidur denganku. Gampang sekali mengontrol dirinya."


Nggak mungkin Tia! Kenapa dia? Kenapa aku harus tau kenyataan ini? Anika mulai menangis lagi membayangkan penderitaan di masa kuliahnya disebabkan oleh satu-satunya temannya.


"Nggak percaya?" bisiknya mulai mencium tengkuk leher Anika.


Yaslan masih berjuang melepaskan diri, walau mustahil dengan cengkraman dua pria di sisinya. Dia tak bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka membuatnya tambah frustasi.


"Setiap kali kita bercinta, dia selalu cerita keburukanmu," lanjutnya sekarang membuka pengait bra milik Anika. "Dia juga cerita tentang traumamu disentuh pria."


Dari belakang, Raymon mulai merem*s *********** dengan kedua tangannya. Dia menyeringai menatap Yaslan yang tak berdaya, merasa dirinya di puncak dominasi.


Anika hanya bisa menangis. Traumanya, penghianatan sahabatnya, dan pelecehan dirinya di depan suaminya membuatnya tak tahu harus memikirkan apa lagi untuk bisa menyenangkan hatinya. Dia hanya bisa menutup matanya, ingin lari dari kenyataan menyiksa ini.


"Salahmu sendiri, keberadaanmu membuatku terobsesi padamu. Coba waktu itu kamu mau tidur denganku, kamu nggak harus mengalami semua ini." Dia mulai memanipulasi Anika dengan menyalahkan dirinya, berusaha untuk membuatnya membuka matanya. Tapi apapun yang dikatakan dan dilakukan Raymon tak mengusik dirinya.


Kekesalannya mulai memuncak karena Anika tetap tak mematuhi dirinya. Dia pun menganggukkan kepalanya memberi tanda kepada anak buahnya.

__ADS_1


Salah satu dari mereka mengambil palu dan paku, bersiap-siap untuk memaku tangan Yaslan yang sekarang mulai panik membayangkan hal buruk apa yang akan mereka lakukan pada dirinya.


Mereka membuka ikatan di mulut Yaslan dan memaku tangan kirinya di atas lengan kursi.


"AAGGHHHH!!!!"


Teriakan kesakitan Yaslan seketika itu juga membuat Anika membelalakkan matanya. Di hadapannya dia melihat suaminya kesakitan dengan darah segar yang bercucuran dari tangannya. Paku panjang terlihat jelas masih menancap dengan sempurna.


"Hahahaha!!" Raymon tertawa puas merasa berhasil dengan caranya itu. "Ternyata kehadirannya membuat ini semakin menyenangkan!"


Anak buahnya mengambil paku lain, bersiap-siap untuk memaku tangan kanannya.


"Itu akibatnya kalau kamu nggak mau mematuhiku. Maaf aku sebenarnya benci kekerasan, tapi terkadang itu satu-satunya jalan keluar untuk menyelesaikan masalah."


Raymon membuka ikatan di mulut Anika. Matanya menelusuri setiap detail wajah dan tubuhnya yang semakin membuatnya terangsang. Dia kemudian mengeluarkan pusakanya yang mengeras di hadapan wanita tak berdaya itu.


"Coba kita lihat seberapa mahirnya mulutmu." katanya melihat Anika dari atas. "Kamu nggak mau suami tercintamu kehilangan tangan kanannya juga kan?"


"Jangan lakukan, Anika! Aku tak apa!" seru Yaslan lemah berusaha menghentikan istrinya dilecehkan lebih jauh. Dia hampir kehabisan tenaga akibat tak makan dan tak tidur demi menemukan istrinya, dan sekarang mulai kehabisan darah.


Trauma Anika mulai menguasai pikirannya membuatnya tak berdaya. Dadanya terasa sesak.


Tiba-tiba dia teringat pada sosok yang telah menghapus traumanya itu, yang berhasil menguasai ketakutannya hanya dengan membayangkan kehadirannya.


Dengan sekuat tenaga Anika menggigit benda panjang yang dipaksa masuk mulutnya, membuat pemiliknya meraung kesakitan.


"Dasar pelacur!!" seru Raymon menampar Anika keras-keras hingga terjatuh ke lantai beton. "Bunuh mereka semua! Bajingan!"


Anak buahnya pun mengeluarkan pisau mereka, bersiap-siap untuk menggorok leher pasangan suami istri malang itu, ketika tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara gonggongan anjing dari atas.


Raymon curiga polisi kembali menginterogasi tempat ini. Mereka pun bersiap-siap untuk kabur lewat ujung lain saluran pembuangan sebelum dikejutkan oleh muncratan darah yang berasal dari leher salah satu anak buahnya.


Tak lama seorang lagi tumbang dengan cara yang sama. Anak buahnya telah mati digorok oleh senjata yang mereka bawa sendiri.


Di hadapan Raymon sekarang berdiri seorang pemuda mengenakkan hoddie tanpa membawa senjata apapun. Awalnya Raymon tak mengenalinya, tapi dia kemudian teringat dengan pemuda yang telah dia hajar sampai mati ternyata masih hidup.


"Kau...!!" Belum selesai bicara, Raymon pun berhasil ditumbangkan dengan jeratan di leher yang membuat kepalanya hampir putus dari lehernya.

__ADS_1


Pemuda yang membantai mereka dengan sadis tersenyum lega dan mulai meminum obat yang dia keluarkan dari kantung hoddienya.


Yaslan tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan matanya sendiri. Dia pun mulai tak sadarkan diri, reaksi yang wajar bagi orang awam yang menjadi saksi kekejaman pembunuhan sadis. Dia seorang dokter dan biasa melihat darah, tapi dia tak tahan dengan kekerasan.


"Dasar mental lemah," celutuk pemuda berhoddie itu melihat pria pingsan di hadapannya.


Dengan posisi terjatuhnya di lantai, Anika tak bisa melihat dengan jelas apa yang telah terjadi. Dia hanya bisa menebak dari jeritan dan suara-suara yang terdengar, bahwa ada seseorang yang datang menolong mereka.


"Kairi?" panggilnya langsung mengenali suara pemuda tadi.


Berkat obatnya tadi, Kairi lebih bisa mengontrol dirinya. Dia segera mendatangi Anika dan mengangkat kursinya, mulai membuka ikatan di tangan Anika.


Dia memandang Kairi yang setengah wajahnya tertutup bayangan dari hoddienya "Kenapa kamu tahu?"


Selesai membuka ikatan di tangannya, Kairi membuka hoddienya dan memakaikannya pada tubuh telanjang Anika.


"Aku selalu tahu." ucapnya sekarang memandang Anika dan sadar pipinya yang merah bekas tamparan Raymon.


Anika melihat kekacauan di sekitarnya dan memekik kaget melihat darah dimana-mana.


"Kamu membunuh mereka semua?!"


Kairi terdiam.


Dia tahu Anika dulu meninggalkan dirinya setelah mengetahui perbuatannya. Tapi inilah dia, seorang pembunuh berdarah dingin.


"Kenapa kamu kemari?" Anika terus bertanya karena tak kunjung mendapat jawaban. "Kamu datang menolongku?" tanyanya lebih lanjut berusaha membuat dirinya tak takut pada pembunuh di hadapannya itu.


Kairi kemudian tersenyum dan berdiri mengulurkan tangannya.


"Aku datang menjemput 'istriku'."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai sudah adegan kekerasan yang menegangkan...


Mohon saran untuk judul bab ini ya, aku sudah berusaha memikirkan berbagai kata tapi belum menemukan yang pas 🤔

__ADS_1


__ADS_2