
Berpergian sebagai seorang buronan tidaklah mudah. Walau Kairi adalah buronan rahasia kepolisian, tetap saja identitas aslinya sudah tak bisa digunakan lagi di tempat umum karena akan langsung ketahuan. Bahkan orang terdekatnya seperti Yuri dan Anika sudah diikuti oleh mata-mata kepolisian.
Baru sebentar tiba di toko untuk bertemu istrinya, kepolisian sudah mengepung tokonya di luar. Untungnya karena keberadaan Kairi sebagai buronan rahasia, yang berarti masyarakat tak ada yang mengetahui kenyataan ini, menjadikan penyergapan tak bisa dilakukan secara terang-terangan dan para agen rahasia hanya bisa menunggu sampai Kairi keluar.
"Kita mau pergi jauh ke mana?"
Anika masih belum mengetahui apapun mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi. Hal ini membuat Kairi tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya karena keadaan istrinya yang sedang hamil. Dia tak ingin membuatnya tambah cemas dan stres.
"Aku hanya ingin hidup berdua denganmu Sayang, jauh dari orang-orang yang mengganggu." Kairi membelai rambut istrinya itu, berusaha membuatnya tenang.
Tapi Anika tahu ada sesuatu yang terjadi yang membuat suaminya ingin melarikan diri.
"Apa yang telah kamu lakukan?" tanyanya berharap mendapatkan kebenaran.
Kairi tahu istrinya ini tak mudah dibohongi. Rasa ingin tahunya yang tinggi termasuk salah satu karakter Anika. Dia diam berpikir sejenak, tangannya tetap sibuk menyentuh tiap helai rambut istrinya yang panjang.
"Aku hanya tak ingin jauh darimu." Hanya itu yang bisa dikatakannya.
Anika tahu ada sesuatu yang tak bisa diceritakan oleh Kairi. Walau ingin sekali mengetahuinya, tapi dia pikir sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya. Dia berharap suatu hari suaminya akan jujur dan menceritakannya secara terbuka.
"Apa kamu tahu kita akan pergi kemana, Sayang?" tanya Anika sekarang lebih fokus ke masa depan. "Aku akan mengikutimu ke manapun kamu pergi," tambahnya lagi yang membuat Kairi semakin ingin lari dari dunia tak adil ini dan pergi hidup hanya berdua dengan istri tercintanya.
"Untuk sementara aku nggak bisa sering keluar." Kairi memikirkan cara untuk bisa menghindari polisi dan untuk bisa menemukan tempat yang aman untuk mereka berdua tinggali. "Kamu jalani aktivitas seperti biasa, kalau sudah aman kita akan pergi."
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh Anika, tapi nalurinya saat ini mengatakan untuk patuh dan percaya saja pada suaminya itu.
"Baiklah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Baru dua hari berlalu sejak kembalinya Kairi dan Anika sudah tak bisa lagi menahan diri.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kairi nggak bisa bebas keluar? Kenapa banyak luka di tubuhnya?" Rentetan pertanyaan dia tujukan pada Yuri yang baru saja pulang kerja.
"Makan malam hari ini apa?" Yuri berusaha mengacuhkan pertanyaannya itu dan bersikap biasa saja yang membuat Anika tambah jengkel.
"Makan tuh pertanyaanku sampai kenyang!" hardiknya mulai ke dapur dan menyiapkan makanan setengah hati.
Keadaan Anika yang lebih sensitif mulai dimaklumi oleh adik iparnya itu. Dulu istrinya tak sampai seperti itu ketika hamil, yang membuat Yuri menjadi heran kenapa kakaknya bisa menikmati istri hamilnya yang super sensitif dan kerjanya hanya mengomel.
"Kalau pulang ke rumah hanya makan dan tidur, nggak usah pulang aja sekalian! Ada bumil lagi bertanya malah dicuekin. Sopan santun polisi jaman sekarang sudah hilang entah kemana! Jauh lebih mending Psikopat pembela keadilan daripada kalian polisi malas enak-enak duduk di kantor lalu perintah suami orang ke tempat-tempat berbahaya!"
Omelan Anika yang semakin panjang dan melebar kemana-mana, tiba-tiba terdiam begitu tiba di meja makan membawa satu panci sup ikan. Dia membaca pesan yang telah ditulis Yuri di kertas korannya.
'Pembicaraan kita sedang disadap polisi, jangan bicarakan Kairi.'
"Hari ini cuacanya cerah ya!" serunya mengganti topik sekarang malah terlihat tambah mencurigakan.
Keesokan harinya Yuri kena tegur di kantor dan diancam tindak pidana kalau sampai menolong seorang buron, biar dia keluarga sedarah sekalipun kepolisian tak mengenal ampun.
Polisi munafik semua! Belum ada bukti nyata kalau kakak pelakunya tapi sudah memperlakukannya sebagai buronan! Mereka semua lupa apa dengan jasa yang pernah dilakukan olehnnya sampai membahayakan nyawanya sendiri?! batin Yuri kesal sambil terus mencari tahu tentang sosok Jack di komputer kantornya.
Sejak diberi tahu oleh Kairi, dia terus mencari informasi mengenai Jack tapi belum juga mendapatkan informasi apapun. Yuri ingin membuktikan bahwa kakaknya tak bersalah, tapi tak mempunyai cukup bukti.
Suatu malam ketika hendak mencari informasi lewat akses identitas atasannya yang dia lakukan secara sembunyi-sembunyi, dia ketahuan oleh rekan kerja yang dulu merupakan pelatih Kairi.
"Kau tak akan menemukan apapun," kata kapten untuk setiap misi yang diketahui bernama Arnold Brown itu.
Yuri berbalik dan mendapati rekannya yang bertubuh macho sedang memegang secangkir kopi yang menandakan dia sedang bertugas shift malam.
__ADS_1
"Identitas semua anak buah untuk misi dihapus dan dirahasiakan sebagai jaminan keamanan. Sialnya Evans mengikuti misi belum genap setahun pelatihan sehingga datanya masih lengkap," jelasnya lebih lanjut yang membuat Yuri mempercayai kata-katanya karena setelah lama menelusuri tak juga menemukan informasi apapun dari Jack maupun para anggota.
"Kau juga merasa ada yang aneh dengan misi terakhir?" tanya Yuri pada rekannya itu.
Arnold menyeruput kopinya sebelum menjawab, "Tentu saja. Kepolisian juga seharusnya mengetahui semua kejanggalan di markas utama organisasi musuh yang ternyata palsu."
"Lalu kenapa mereka menjadikan Kairi Evans sebagai buronan?" Yuri merasa tak adil atas perlakuan pada kakaknya itu seolah hanya dimanfaatkan lalu dibuang begitu saja.
"Hanya ada dua kemungkinan, kepolisian takut pada kemampuan pembunuhnya, atau ada orang dalam kepolisian yang juga merupakan kaki tangan organisasi kriminal yang sedang kita cari."
Yuri setuju dengan dugaan Arnold yang kedua dan mulai mematikan komputernya. Dia merasa tak berdaya karena tak bisa menolong kakaknya itu. Apa yang akan terjadi pada Anika bila suaminya kembali ditangkap, atau lebih parahnya dijatuhi hukuman mati? Tuduhan pembunuhan kali ini melibatkan anggota kepolisian sehingga hukumannya pasti akan berat.
"Kita hanya bisa pasrah," tambah sang kapten yang masih berduka atas tewasnya para anak didik terbaiknya. Dia sudah mengundurkan diri dari jabatan kepala misi khusus dan lebih memilih untuk bekerja di kantor kepolisian.
"Brown, apa kau tahu kebiasaan yang sering dilakukan Jack dulu di masa bebasnya?" tanya Yuri sebelum rekannya pergi dari situ.
Arnold Brown menyeringai meremehkan Yuri mengingat tempat seperti apa yang dulu sering dikunjungi oleh mantan anak didiknya itu.
"Yang jelas itu bukan tempat yang bakal dinikmati oleh seorang Dragunov sepertimu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai pembaca setia! Terima kasih telah menunggu kisah lanjutan novel ini!
Walau kali ini tak banyak Kairi, semoga tetap menarik ya!!
**Mohon dukungannya selalu!
Kali ini dobel up khusus** untuk pembaca setiaku!! 🤗
__ADS_1