Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 13 Lamaran


__ADS_3

Sejak itu Anika telah resmi menjadi kekasih Yaslan.


Awalnya dia ragu, tapi kesungguhan hati Yaslan dalam memperjuangkan dirinya membuat Anika mau mencoba untuk menjalin kasih dengan pria tersebut.


Wanita yang sebenarnya waktu itu ada di rumahnya ternyata adalah kakak perempuan Yaslan. Dia tahu sifat kakaknya yang bawel itu akan menjadi tekanan untuk Anika, karena itu dia berusaha untuk tidak mempertemukan mereka.


Pasangan baru ini sekarang sedang bercengkerama di sebuah cafe, menikmati hari libur mereka.


"Sebelumnya aku ingin tanya," ucap Yaslan pelan sebenarnya ragu dengan niatnya ini. "Apakah Kairi nama mantanmu?"


Anika terkejut Yaslan mengetahui tentang Kairi. "Darimana kakak tahu...?"


"Kamu sendiri yang mengatakannya."


Saat itu, Anika memang setengah sadar dan tidak ingat banyak apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia hanya ingat niatnya untuk menangkap kunang-kunang agar bisa meraih Kairi.


Kebisuan Anika ditanggapi Yaslan dengan jawaban setuju.


"Aku nggak masalah dengan siapa kamu berpacaran dulu. Aku hanya berharap, kamu bisa terbuka agar aku bisa membantu traumamu."


Anika pernah bilang kepada Yaslan tentang traumanya pada lawan jenis, tapi dia salah paham kalau berpikir bahwa penyebab traumanya itu adalah karena Kairi.


"Baik kak..." jawabnya pelan sebenarnya tak ingin didengar.


Yaslan tersenyum berusaha menghiburnya. "Nggak usah hari ini, pelan-pelan aja ceritanya, saat kamu merasa sudah siap."


Mendengar itu Anika merasa lega.


Mereka pun menjalani hari-hari tenang tanpa banyak beban selain sibuknya pekerjaan masing-masing. Mimpi buruk Anika pun lama-kelamaan mulai berkurang.


"Pengalaman buruk yang dulu pernah kamu alami, akan aku gantikan dengan kenangan baru yang indah."


Perlahan Anika mulai merasakan kenyamanan yang dia dapat dari Yaslan. Dia pun memperbolehkan Yaslan untuk menggandeng tangannya.


"Hidupmu itu milikmu. Jangan biarkan masa lalu yang kelam menjatuhkan masa depanmu."


Kata-kata yang dia ucapkan selalu menenangkan hatinya. Hampir setiap hari Yaslan menulis memo dengan kata-kata mutiara yang dia tinggalkan di meja restoran tempat Anika bekerja. Dan setiap kali bertemu pun, dia akan akhiri pertemuan mereka dengan kata-kata untuk menyemangati hidupnya.


Yaslan membantu Anika untuk menghilangkan traumanya dengan caranya sendiri.


Kalau dulu Kairi bisa menghilangkan traumanya dengan saling terbuka dan saling menguatkan, Yaslan melakukannya dengan perbuatan-perbuatan dan ucapan positif yang terus menerus dia tanamkan ke pikiran Anika.


Anika pun mulai sedikit berharap, Apakah dia juga bisa menghapus traumaku ini? Menghapus perasaanku pada Kairi?

__ADS_1


Tiga bulan telah berlalu dan usaha Yaslan membuahkan hasil. Anika merasa nyaman bersamanya, karena itu ingin melanjutkan hubungan mereka.


"Terima kasih Anika!" Saking senangnya, Yaslan tanpa sadar memeluk gadis malang itu.


Awalnya Anika diam terpaku.


"Ma... maaf! Aku nggak bermaksud menakutimu!" Yaslan hendak melepaskan pelukannya, tetapi Anika perlahan membalas dekapannya.


Mereka pun pertama kali saling berpelukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa maksudnya ini kak?" tanya Anika membaca sebuah surat yang dia dapat dari Yaslan.


Mereka sedang menikmati sore hari di cafe yang biasa mereka datangi. Yaslan selalu menghindari untuk bertemu pacarnya berduaan saja di ruangan tertutup, karena itu dia selalu memilih tempat yang ramai.


"Itu surat rekomendasi dari kenalan dosenku. Dia sudah melihat essai yang kamu tulis, dan dia bilang ingin memberimu beasiswa penuh untuk sekolah ilmu keperawatan."


Anika awalnya tak percaya dengan apa yang dia baca, dan sekarang dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Terima kasih banyak kak!" Anika langsung memeluk Yaslan. Berkat dia, Anika bisa melanjutkam cita-citanya untuk menjadi perawat rumah sakit jiwa.


"Itu semua berkat usahamu sendiri, Anika. Aku hanya memakai koneksi saja kok."


"Masa internshipku juga sebentar lagi selesai. Aku berencana untuk melanjutkan studiku untuk menjadi dokter spesialis penyakit dalam. Sebenarnya ayahku dulu juga seorang dokter. Tapi dia meninggal saat aku masih SMA."


Sudah beberapa bulan berpacaran, Anika baru mengetahui hal ini dari Yaslan. Dia pun mulai menggenggam tangannya membagi rasa simpatinya.


"Sudah nggak masalah kok. Dia meninggal karena radang usus. Sejak itu aku bertekad untuk mengambil profesi yang sama dengannya. Aku merasa bila aku menolong orang lain, aku seolah menolong ayahku."


Anika kagum dengan cita-citanya itu. Yaslan sungguh-sungguh orang yang berhati baik.


"Karena membutuhkan waktu yang lama, sebenarnya aku juga sempat berpikir untuk menyerah dan jadi dokter umum saja. Tapi melihatmu, Anika, yang berjuang dari bawah, padahal dulu sempat putus kuliah, dan tidak bergantung pada orang tua, bahkan memiliki trauma yang cukup parah, aku jadi ingin berjuang lagi."


Dia mencium lembut tangan Anika yang tadi menggenggam tangannya. "Cita-citamu sungguh-sungguh menginspirasi diriku," lanjutnya.


Hal ini justru membuat Anika mengeluarkan aura sendu.


"Aku hanya merasa ingin merawat mereka yang memiliki kelainan mental, hanya ingin memanusiakan mereka yang dianggap gila oleh orang lain." ucapnya dengan senyum penuh arti.


Anika merasa dirinya egois. Dia melakukan ini sebenarnya hanya untuk dirinya. Dia merasa dengan merawat orang-orang dengan gangguan jiwa, dia seolah merawat Kairi, orang yang telah membantu dirinya menghilangkan traumanya.


"Justru itu luar biasa!" Kali ini Yaslan tiba-tiba berlutut di hadapannya, dan mengeluarkan sebuah kotak merah yang setelah dibuka isinya berupa sebuah cincin.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah lama aku menantikan kesempatan ini, Anika Ayu, maukah kamu menikah dengan diriku yang tidak mempunyai apa-apa?"


Anika benar-benar tidak menduga akan di lamar oleh pacarnya, hari ini, di tempat ini. Keraguan dalam hatinya memang masih ada, tetapi keyakinannya untuk bisa hidup tenang bersama pria ini sudah ia mantapkan.


"Iya kak, aku mau..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah lamaran tak terduga itu, Yaslan mengajaknya untuk bertemu keluarganya yang tinggal di kota dekat mereka kuliah dulu.


Kakak perempuannya yang waktu itu pernah Anika lihat di rumah kontrakan Yaslan, tinggal bersama ibu mereka. Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki berusia lima tahun dan anak perempuan berusia tiga tahun.


Yaslan masih memiliki adik laki-laki yang masih kuliah. Dia juga tinggal bersama ibunya.


Rumah yang ramai dengan jumlah anggota yang banyak, kelihatan sangat hidup. Keceriaan mereka terpancar saat mereka makan malam bersama. Keluarga Yaslan adalah keluarga harmonis yang saling menyayangi.


Anika yang semula sangat menantikan untuk bertemu dengan keluarganya, ...


... mulai merasa kesepian.


Dia merasa tak pantas berada di antara mereka.


"Wah, senangnya nanti bakal dapat menantu secantik dan sebaik Anika. Ibu jadi bisa meninggal dengan tenang." kata ibu Yaslan bercanda.


"Ibu ngomong apa sih! Jangan bercanda seperti itu! Siapa yang nanti bantu aku rawat Alex dan Jessy?!" kata kakak Yaslan.


"Udah ku bilang kan, jangan terlalu banyak mempekerjakan ibu! Nanti ibu bisa capek." Yaslan khawatir akan kondisi ibunya.


"Tenang aja, ibu merasa lebih muda 50 tahun merawat cucu-cucu kesayangan." ucapnya terus bercanda.


Keluarga yang benar-benar harmonis, batin Anika sedih, keluarga yang dari dulu aku idamkan.


"Katanya keluargamu tinggal nggak jauh dari sini ya?" Ibu Yaslan mulai bertanya pada Anika. "Kamu harus segera menemui orang tuanya Lan, kalau memang serius ingin menikahinya."


Anika mulai terpengarah mendengar itu.


Sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu orang tuanya. Dia tidak ingin bertemu mereka.


"Iya Bu, aku sudah merencanakan itu kok," jawab Yaslan santai.


Anika hanya terdiam. Apakah dia bisa bertemu orang-orang yang telah menyebabkan luka batin dan trauma besar pada dirinya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Mohon dukungan like, komen, hadiah, vota, apa aja yang membuat author semangat!!! 😇💪🔥


__ADS_2