
Apa aku nggak salah dengar? Kenapa dia jadi sok akrab bilang mau jemput aku?
Anika sedikit takut dan bertanya-tanya dari mana cowok asing itu mengetahui dirinya bekerja disini?
"Jangan pasang wajah seram gitu dong. Aku tahu dari temanmu Tia." jelas cowok itu seolah tahu apa yang ingin diketahui Anika.
Tia?
Anika mengambil ponselnya dan membaca cepat puluhan chat yang berasal dari temannya itu. Sebagian besar isinya tentang cowok peramal yang minta kenalan. Ada satu nomer asing yang mengaku bernama Raymon.
Nomer asing itu pasti miliknya.
Anika sedikit kecewa mengetahui Tia tanpa ijin membocorkan privasinya ke orang lain. Bahkan nomer ponselnya.
"Ayo, aku antar pulang!"
Karena tak ingin terlibat lebih jauh dengannya, Anika pergi begitu saja mengacuhkannya.
Tapi cowok itu malah merangkul Anika dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Kata temanmu kamu tertarik padaku."
Anika mematung.
Karena traumanya, dia sebenarnya sangat takut dengan lawan jenis. Bukan bisikannya yang membuatnya takut, tapi karena cowok itu sudah berani menyentuh dirinya.
Kakinya lemas tapi dia begitu saja mengikuti pria asing itu sampai ke mobil.
"Nggak usah takut gitu dong, kita kan teman satu kampus. Aku nggak mungkin macam-macam denganmu."
Cowok itu membukakan pintu untuk Anika yang masuk tanpa berkata-kata, tanpa perlawanan, karena terlalu takut.
"Kosmu di belakang kampus ya?"
"Iya." Lirih Anika.
"Ngomong-ngomong, namaku Raymon."
Dengan senyuman manisnya, dia mengulurkan tangannya untuk salaman. Anika meraih tangannya begitu saja.
"Aku suka cewek bertangan kasar."
Anika merasa sedikit tersinggung. Di mobil dia berusaha menjawab singkat semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Raymon. Tapi pikirannya lebih fokus untuk membalas chat dari Tia.
Anika : "Kenapa kamu bocorin semua infoku ke dia?
Tia : "Kapan lagi coba bisa kenalan sama cowok ganteng!"
Anika : "Kamu kan tahu aku nggak mau pacaran!"
Tia : "Tenang aja, dia baik kok! Coba kenalan aja dulu!"
"Nggak sopan lho membaca chat orang lain di samping orang yang sedang bicara."
Anika segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Berhenti di sini aja kak." katanya memberanikan diri karena sudah merasa tidak nyaman.
"Lho kenapa? Bukannya kosmu masih jauh? Dekat mini market itu kan?"
Kenapa dia tahu?
"Nggak apa kak, mau ke kampus dulu ketemu dosen," jelasnya berbohong.
"Oh ya sudah."
Ketika mobil menepi, Anika segera membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu.
__ADS_1
"Makasih kak," ucapnya dan segera membanting pintu mobil sebelum Raymon sempat mengatakan sesuatu.
Di dalam mobil, Raymon terus memandangi Anika sampai sosoknya tak terlihat. "Dasar cewek munafik," gumamnya dengan sengiran licik di wajah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kamu kasih tahu semua privasiku?"
Anika langsung menanyakan pada Tia begitu bertemu dengannya di kampus keesokan harinya.
"Kamu harusnya berterima kasih padaku! Awalnya dia targetku, tapi setelah tahu dia tertarik padamu aku langsung membantumu lho!"
Anika sebenarnya ingin marah padanya, tapi dia berusaha menghindari konflik. "Paling nggak harusnya kamu ijin aku dulu kan?" protesnya lemah.
"Aku udah chat kamu lho! Kamu aja yang nggak baca chat dariku!"
Anika teringat puluhan chat yang dia acuhkan dan mulai menyalahkan dirinya. Mungkin memang Tia hanya bermaksud baik.
"Tia! Nanti mau ikut karaokean nggak?"
Sekelompok mahasiswa mengajak Tia pergi, mengacuhkan Anika yang juga sedang bersamanya.
Anika sudah terbiasa dengan perlakuan ini. Dia pikir ini salahnya sendiri karena selalu menolak tiap ajakan dengan alasan sibuk kerja sambilan.
"Kamu harus menikmati hidup! Coba aja pacaran mumpung ada yang naksir!" Setelah mengatakan itu, Tia bergabung dengan kelompok itu, meninggalkannya sendirian.
Anika pun keluar kampus menuju kosnya. Karena masih ada waktu sebelum bimbel sore hari, dia berpikir untuk membaca majalah fashion favoritnya yang selalu dia dapat dari teman kosnya.
Tapi langkahnya terhenti begitu melihat Raymon sedang berdiri menunggunya di depan pagar kosan.
"Hai! Sudah makan belum?" Raymon menyapanya begitu melihat Anika. Dia membawa kantong plastik di kedua tangannya. Dari aromanya sepertinya itu makanan.
"Boleh nggak kita ngobrol di dalam biar enak?"
Cowok ini bebal amat ya!
Anika pun mengacuhkannya dan membuka pintu pagar. Raymon justru mendekatinya.
"Kalau nggak ketahuan nggak apa kan?" bisiknya di telinga.
Risih dengan jarak mereka yang terlalu dekat, Anika hendak mendorongnya. Niatnya itu dihentikan oleh suara motor yang tiba-tiba berhenti di dekat mereka. Teman kos dan pacarnya turun dari motor untuk membuka pagar.
"Pacarmu ya dek? Cakep juga." sapa teman kosnya.
Belum sempat Anika membantah, ia didahului oleh Raymon.
"Masih PDKT nih. Bagi dikit dong rahasia Anika!"
Dengan santainya Raymon masuk menyusul teman kos Anika sambil mengajaknya bicara akrab. Anika hanya bisa diam mengikuti mereka dari belakang.
Sekarang dia sedang berduaan dengan laki-laki itu di kamarnya.
Awalnya Anika menolaknya masuk, tapi dengan kelihaian Raymon berbicara akhirnya dia mengalah dan mereka pun makan bersama.
Anika sebenarnya takut berduaan dengan seorang pria di kamar, tapi dia berusaha menutupinya.
"Waktu itu kamu belum selesai aku ramal, mau aku lanjutin?" tawarnya setelah selesai makan.
"Aku sebenarnya benci ramalan." Kalimat itu terlontar begitu saja saking kesalnya.
Raymon terdiam.
"Terus kita mau ngapain nih?"
Raymon sedikit bergeser mendekati Anika.
"Tunggu kak, kok mepet-mepet."
__ADS_1
Bukannya sadar diri, Raymon malah mengambil tangan Anika dan membawanya menyentuh bibirnya.
Anika membeku.
"Aku suka tanganmu, dari pertama kali memegangnya."
Anika ingin sekali menampis tangannya, tapi terlalu takut bila membuatnya marah justru memperparah keadaan.
Karena itu dia hanya bisa pasrah.
"Rasanya seperti takdir bisa bertemu denganmu. Bahkan dengan bantuan temanmu kita bisa dekat seperti ini."
Dengan lihai Raymon menggodanya menggunakan kata-kata manis dan sentuhan-sentuhan. Biasanya dengan cara ini cewek manapun akan jatuh kedalam pelukannya. Apalagi dengan wajah tampannya, tak pernah dia gagal mendapatkan wanita manapun.
Anika semakin gemetar ketakutan. Dia malah teringat kilasan kejadian traumatis di masa lalunya.
Kejadian ketika dia masih di bangku SMP.
"Nggak usah takut, aku nggak gigit kok!" katanya setengah canda. Raymon kemudian mulai mengelus pipinya.
Saat mata mereka bertemu, Raymon mendekatkan bibirnya ke bibir Anika.
Tanpa sadar Anika mendorongnya dengan kasar.
"Ma... Maaf kak! Tapi hal seperti itu sebaiknya dilakukan sama pacar aja..."
Raymon menatapnya dengan tatapan yang mematikan.
Dia kemudian tersenyum. "Bukannya kamu suka aku? Kamu mau pacaran denganku kan?"
Perlahan traumanya mulai muncul ke permukaan. Anika sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Kakak salah paham..."
"Salah paham? Aku udah antar kamu, sampai sabar menunggumu pulang kerja. Hari ini sengaja bawain makanan biar bisa ngobrol lebih banyak denganmu. Kamu sebut apa dong usahaku? Kalau nggak suka kenapa nggak kamu tolak aja dari awal?"
Raut wajah Raymon berubah menjadi sangat menakutkan. Anika semakin merasa terintimidasi oleh dirinya.
"Bukan gitu, kakak tiba-tiba datang..."
"Oh jadi kamu mau salahin aku ya karena aku berbuat seenaknya, gitu? Kalau nggak suka kan tinggal bilang aja, tapi kamu diam. Kamu nggak suka aku antar kamu? Nggak suka kita makan bersama?"
Dengan tekanan darinya, Anika menjadi tidak enak hati dan merasa bersalah.
"Bukan begitu kak..."
"Berarti kamu suka aku kan? Kamu bukan cewek gampangan yang suka masukin cowok ke kamar kan?"
Agak lama terdiam Anika menjawab, "Iya kak..."
Raymon mengelus kepalanya. "Nah gitu dong. Jujur sama perasaan."
Laki-laki itu mulai memeluknya. Anika hanya bisa diam dan pasrah. Dia takut bila melawan dia akan mendapat kekerasan fisik.
"Anak baik. Aku yakin kamu pasti beda sama cewek-cewek yang sukanya melawan. Kamu pasti tipe cewek baik yang penurut."
Raymon terus mengelus Anika, berusaha menenangkan dirinya. Tapi Anika justru semakin jijik dengan dirinya.
Dia merasa dirinya lemah tak berdaya.
Karena dia terlalu penurut lah maka kejadian dulu bisa terjadi.
Karena dia tidak pernah melawan lah maka semua orang jadi seenaknya menyetir hidupnya.
Raymon membuka tali branya dan mendorong Anika ke kasur.
Anika tidak berani menatapnya. Pikirannya kosong. Bayangan kejadian dulu yang membuatnya trauma terulang lagi.
__ADS_1
Trauma mengerikan tentang ....