
Pukul 5 sore Kenan dan Kevan telah menyelesaikan pekerjaannya di kantor,hari ini keduanya berangkat dengan mobil yang sama,karena Kenan harus menjemput istrinya dirumah Kevan.
Keadaan rumah cukup hening,dimana dua ibu hamil itu,biasanya mereka akan menyambut suaminya pulang jika sudah jam pulang kantor,namun sekarang batang hidung mereka belum terlihat.
Dengan langkah gagah saudara kembar itu mulai menyusuri setiap ruangan yang mungkin mereka ada disana,belum memutuskan untuk menggunakan suara untuk memanggil mereka,langkah keduanya terhenti saat mendapati kedua ibu hamil itu sedang tertidur diruang keluarga dengan tv yang masih menyala dan makanan serta bekas makanan ringan yang berserakan. Kevan dan Kenan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keduanya, seperti anak kecil.
Kevan dan Kenan memilih duduk di sofa yang bersebrangan dengan keduanya,setelah membuka jas yang dikenakan dan menggulungnya,hingga ketampanan keduanya sulit untuk diragukan lagi. Keduanya menyilangkan kaki sambil meminum kopi yang sudah disediakan Bi Mimin,tak lupa arah mata keduanya berpusat pada ibu hamil dihadapan mereka.
Kevan menaikan volume suara tv hingga terdengar seperti suara dibioskop ahh berisik,hingga suara itu mengganggu keduanya.
"Mbak kenapa kamu menaikan volume suaranya,berisik mbak,aku masih ingin tidur," Larissa berucap tampa membuka matanya
"Aku tidak menaikkan volume suaranya," sahut Kirana dengan mata terpejam
Ketika keduanya sedang berdebat,Kevan berdehem suara berat mencekam itu begitu sangat dikenal oleh Larisa dan Kirana,Tampa pikir panjang untuk melanjutkan tidur, keduanya membuka mata dan tersenyum kikuk melihat suami suami yang sudah duduk dihadapan mereka.
"Kalian sudah pulang?," tanya Kirana ragu
"Menurut mu?," sahut Kevan dingin
"Mas Kenan peluk," ucap Larisa manja yang langsung merentangkan kedua tangannya.
"Jangan mendekat! sebelumnya kita adili keduanya," ucap Kevan memberikan instruksi pada Kenan,dia yang akan berdiri dan menghampiri Larisa pun mengurungkan niatnya karena suara Kevan.
Kenan memberikan isyarat tangan agar istrinya sabar sebentar,dan Larisa pun memahaminya.
"Mas Kevan cepatlah bicara,aku sudah merindukan suamiku," ucap Larisa ketus
Kevan melirik tajam sambil melempar satu buah pilus kearah wajah Larisa dan mengena ke jidatnya,ahhh permainan menyenangkan bagi Kevan.
__ADS_1
"Aishhhhh,kenapa kau melemparkan itu ke wajahku kenapa tidak sekalian meja di depanmu saja, menyebalkan!," ucap Larisa masih menggerutu
"Boleh juga saran mu,mau ku lempar Sekarang juga?," tanya Kevan seolah sungguhan
"Mas ih sudah,kok malah berdebat. Sekarang katakanlah apa yang ingin kamu katakan,kami lelah dan ingin istirahat," ucap Kirana yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari suaminya
"Kenapa kamu jadi ikut menyebalkan seperti dia,cukup dia saja dan kamu tidak perlu menirunya,itu terlalu membuatku sakit kepala," sahut Kevan dengan ekspresi datarnya
Kenan dan Larisa menahan tawa mendengar keluhan Kevan.
"Mas, sebaiknya sampaikan sekarang, waktu sudah hampir gelap," ucap Kenan melerai
"Baiklah,ini untuk kalian berdua. Pertama kalian itu bukan lagi ABG yang pergi sesuka hati tanpa mengabari kami para suami. Kedua apa yang kalian beli? hingga hape kami masing-masing berisik karena ulah kalian, tercatat lebih dari 50juta yang kalian keluarkan dalam 1 kartu kredit. Dan yang terakhir kalian tidak menyambut kepulangan kita dan malah tidur di sore hari dengan banyak sampah yang berserakan,kalian sedang hamil kurangi makanan seperti ini ,mengerti?!," ucap Kevan panjang lebar
Kedua wanita hamil itu hanya tertegun,seolah mereka sedang berada didalam pengadilan dan menerima dakwaan. Larisa dan Kirana saling menatap seolah bertanya mengenai jawaban yang akan diberikan.
"Dasar pelit!, baiklah akan aku jelaskan. Pertama kami sudah minta izin sejak awal untuk pergi,kedua uang yang kami keluarkan semuanya untuk keperluan anak kalian,ketiga dalam tubuh kami ada dua nyawa,kami tidak akan membiarkannya kelaparan jadi kami makan. Pertanyaan sudah terjawab,apa sudah cukup?," ucap Larisa menjawab pertanyaan kakak iparnya
Kevan memijat hidungnya seolah tak percaya dengan jawaban adik iparnya, sedangkan Kirana menyetujui jawaban iparnya tersebut.
Seolah tidak mau memperpanjang urusan Kevan memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan ketiganya.
"Lah tadi menggebu-gebu nahan kita, sekarang kenapa dia pergi begitu saja, sebenarnya apa maunya hemmh," tanya Larisa heran
"Sayang,kamu membuat mas Kevan tidak berkutik dengan jawabanmu haha," ucap Kenan penuh maksud
"Benarkah, berarti aku hebat dong haha," ucap Larisa seolah bayi polos
Dan Kirana membuka suara.
__ADS_1
"Dengan kata lain kamu sudah membuat mas Kevan murka,dan aku harus membujuknya. Sekarang kalian berdua pulang lah,hari sudah sore,"
Larisa terdiam kini dia mengerti maksud sebenarnya. Setelah itu mereka pun pulang tanpa berpamitan pada Kevan,karena keduanya tidak mau menambah permasalahan hidup,biar Kirana saja yang menanggung,karena singa itu hanya butuh pawang haha.
Usai mengantar keduanya Kirana mulai mempersiapkan diri menerima Omelan suaminya,dia menaiki anak tangga dengan perlahan,dan menarik napas dalam-dalam ketika sudah berada di depan pintu kamar. Kirana membukanya perlahan,dan disana Kevan baru saja keluar dari kamar mandi dengan piamanya. Dengan ragu Kirana menghampiri Kevan dan memeluknya.
"Mas, maafkan aku karena sudah membuatmu kesal,kalau kamu tidak suka aku ke mall lagi aku tidak akan mengulanginya lagi,kalau kamu tidak suka aku menghabiskan uangmu aku tidak akan lagi melakukannya dan kalau perlu uangmu aku ganti, kebetulan kafe ku sedang ramai,dan soal makanan aku tidak bisa mengontrolnya mungkin bawaan ibu hamil yang mudah lapar," ucap Kirana yang masih dalam pelukan suaminya
Terdengar tarikan nafas panjang dari kevan yang terdengar langsung oleh Kirana,karena wajahnya tepat diatas dada Kevan.
"Apa aku salah bicara lagi?," gumam Kirana dalam hatinya
Kevan membalas pelukan istrinya,dia tidak mau marah pada Kirana,karena bagaimanapun ini hanya keegoisannya saja yang seharian ini tidak mendapatkan kabar dari Kirana,sehingga dia mencari alasan untuk marah.
"Sayang aku tidak melarang mu pergi ke Mall bahkan kalau kamu mau aku bisa membuatkan mall untukmu,aku hanya ingin kamu tidak mengabaikan aku,karena sehari tanpa kabar darimu aku gelisah. Kedua jangan pernah mengatakan bahwa aku tidak menyukai kamu menghabiskan uangmku,bahkan jika hari ini kamu menghabiskannya maka aku akan memberikannya kembali,hartaku habis tidak sebanding dengan kebahagiaan mu. Dan yang terakhir aku hanya ingin kamu memperhatikan asupan gizi untuk anak kita,karena aku tidak mau menyia-nyiakan kehadirannya dengan kita tidak memperhatikan sejak dini,apa kamu paham?,"
Kirana yang mendengar kata demi kata yang terucap dari bibir suaminya,begitu terharu dia pikir Kevan akan marah besar, namun malah sebaliknya. Kirana menangis dalam pelukan suaminya,membuat Kevan kebingungan.
"Sayang apa aku salah bicara?," ucap Kevan panik
"Mas,aku mencintaimu," ucap Kirana pelan dan masih bisa di dengar oleh Kevan
Kevan tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya,dia mencium kepala Kirana dengan penuh cinta.
"Aku lebih lebih mencintaimu sayang, dan juga anak kita,"
***
Jangan lupa like,komen dan vote.
__ADS_1