
Happy reading❤❤❤
Hari sudah beranjak malam,rambut panjang nya sudah lusuh bahkan mata nya tampak sayu menahan letih.Duduk bersandar di kursi sembari terjaga mama Lina yang sudah lima hari ini masih menjalani pengobatan di rumah sakit.Mama Lina menjalani operasi usus buntu,penyakit yang sudah lama menyerah tubuh bagian dalam tubuh nya.
Sefia memandang wajah sang mama dengan sendu,berharap pada keajaiban agar mama Lina cepat sembuh.
"Sudah lima hari,jika mama masih seperti ini terus,aku terpaksa harus memakai uang itu lagi.Aku bahkan belum dapat pekerjaan."gumam Sefi.Sefi sudah mengirim lamaran pekerjaan pada beberapa perusahaan namun belum satu pun yang memanggilnya untuk bekerja.
"Sayang,kamu belum tidur?"nenek Salma masuk membawa sebuah tas kecil,dapat di pastikan yang di bawa nya adalah sebuah buku karena memang nenek Salma selalu membawa buku itu kemana pun ia pergi.
"Belum nek,Sefi masih mau temani mama.Nenek,apa papa sudah pulang?"Sefi berjalan menghampiri nenek Salma kemudian duduk di samping nya.
"Belum,nenek dapat kabar dari sekretarisnya jika papa kamu sedang keluar kota,mungkin lusa akan pulang."Nenek Salma mengibas bantal kecil agar tidak ada debu yang menempel kemudian meletakkan kepala nya dan ia berbaring sambil memandangi wajah cucu nya itu.
Sefi tampak mengangguk.
"Seharusnya nenek istirahat di rumah,biar Sefi saja yang jaga mama"
"Nenek bahkan tidak bisa tenang dan akan kepikiran terus sama mama kamu,jadi nenek lebih tenang jika nenek lihat mama kamu"ujar nenek Salma.Sefi ikut berbaring di samping sang nenek.Menuntun tangan sang nenek untuk mengelus kepala nya,
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat? Dulu kamu suka sekali gulung-gulung rambut nenek sebelum tidur?Begini! "nenek Salma menggerakkan tangannya meniru tingkah Sefi waktu kecil."Sambil isap dodot kemudian gulung-gulung rambut nenek,tapi kalau nenek lepas tangan kamu,pasti kamu langsung nangis."kenang sang nenek.Dimana Sefi ketika masih kecil di asuh oleh nenek Salma.Karena mama Lina membantu suaminya untuk mengembangkan perusahaan mereka saat ini.Lina dan suaminya bekerja keras agar bisa sukses seperti keluarga Wanda Alexander.Jodi Anggara tidak ingin kalah saing oleh keluarga iparnya itu.
"Nek,sejak dulu mama selalu ikut kemana pun papa pergi.Dan mereka selalu terlihat bersama.Bahkan sampai meninggalkan aku yang masih kecil untuk di asuh sama nenek demi bisa membantu papa bekerja.Tapi kenapa setelah papa memiliki segala nya,papa malah tidak peduli lagi sama mama! Kenapa papa berubah ?Bahkan papa tidak peduli lagi sama mama dengan kondisi sakit seperti ini !." Nenek Salma terdiam sesaat untuk menjawab cucu nya itu.
"Waktu.Seseorang berubah karena waktu dan keadaan bahkan dengan lingkungan tempat ia tinggal dan pergaulan yang ia jalani saat ini.Tinggal kita sendiri yang dapat mengatasinya.Apakah kita mau berubah atau tidak.Tidak semua orang bisa berubah menjadi lebih baik,ada saja seseorang yang berubah karena ia merasa sudah berkuasa,jadi dia tidak lagi peduli akan orang-orang di sekitarnya bahkan keluarga nya yang sudah mendukungnya selama ini"ujar nenek Salma.
"Nenek benar ! Aaah..Sefi ngantuk sekali"ucap Sefi seraya menarik selimut kecil ke atas tubuhnya.
"Selamat malam nek,Sefi mau cari kekuatan dulu biar besok bisa cari kerja lagi"ujar Sefi sambil memejamkan matanya.Sebenarnya ia bisa saja mendatangi papa nya di perusahaan dan bekerja di perusahaan papa nya itu.Namun hatinya mengatakan untuk tidak tergantung lagi pada papa nya.Bahkan ia berniat untuk membawa mama Lina pergi jauh dari papa nya agar sakit lahir batin Lina bisa terobati,hidup tanpa papa lebih baik.Toh,di luaran sana banyak orang yang tidak memiliki papa namun masih bisa hidup lebih baik.
"Selamat malam juga sayang"nenek Salma berdiri dan mendekati Lina,memastikan apakah Lina baik-baik saja.Setelah melihat Lina,nenek Salma ikut tidur di samping Sefia.
...****************...
"Pesan lima hari yang lalu! Banyak sekali,apa kali ini dia benar-benar mau merampok ku lagi?"mata indah itu masih fokus membaca dengan teliti.
"Buat apa dia uang sebanyak itu ?Seratus dua puluh juta ?"merasa ada yang janggal Roni kemudian menghubungi sekretarisnya itu untuk mengecek sesuatu.Selama ini Sefi tidak pernah mengambil uang sebanyak itu bahkan ia sangat tahu jika Sefi seorang yang sangat pelit untuk masalah uang pengeluaran.
"Hallo"Roni menelpon Vani sekretarisnya itu.
__ADS_1
"Iya kak,tumben kakak nelpon Vani.Apa kakak kangen sama Vani atau kakak membutuhkan sesuatu?"suara di seberang tampak bersemangat karena pria yang di cintainya menelpon nya di luar jam kerja.
"Saya kirim email ke kamu,tolong di cek sekarang dan segera beritahu saya secepatnya"ujar Roni dengan nada formal.
"Hallo..kak --"Roni langsung memutuskan panggilan nya membuat Vani kesal seketika.
"Apa harus sekarang ? Aahhh...Kak Roni.Vani kesal...kesal...kesal..!"gerutu Vani seraya mengambil laptopnya kemudian memeriksa email yang baru saja di kirim.
"Lama sekali ! Apa kamu sudah mengecek nya ?"Roni kembali menghubungi Vani karena tidak sabar menunggunya.
"Ini sedang Vani lihat kaka"dengan santai Vani menjawab seraya fokus pada layar laptop nya.
"Di rumah sakit xxx masih di kota ini kak.Dan tepat pukul sembilan tiga puluh dan--"belum selesai Vani menjawab Roni sudah memutuskan panggilannya lagi.
"Sial di matikan lagi,tadi di suruh buru-buru ! Aneh"Vani menggerutu sendiri.
"Rumah sakit ? Apa dia sudah kembali dari Jerman ? Lalu buat apa dia kerumah sakit ? Apa dia sedang sakit ?"banyak pertanyaan bermunculan di benak nya saat ini.Roni melihat jam di tangan nya sudah menunjukkan angka sebelas malam.
"Masa bodoh dengan hantu rumah sakit,aku tidak peduli apa nanti jumpa sama suster ngesot atau mbak kunti atau apalah itu.Aku harus ke rumah sakit sekarang,aku harus memastikan apakah dia ada di sana ?"Roni bicara sendiri menyampingkan rasa takutnya pada penguasa kegelapan malam itu, seraya mengganti piyama.Berbalut dengan kaus oblong dan celana jins serta sebuah jaket hitam,Roni sedikit berlari seraya mengambil kunci mobil yang terletas di nakas.
__ADS_1
Sepuluh menit perjalanan akhirnya Roni sampai ke rumah sakit yang di tuju.Dengan rasa penasaran yang cukup besar ia berjalan memasuki ruang resepsionis walau pun dengan bulu kuduk yang sudah merinding,sesekali ia mengusap leher belakangnya sambil berjalan dengan cepat.
Terima kasih,jangan lupa kasih like sama komen nya yah.