Sefia Cinta Mati Ku

Sefia Cinta Mati Ku
Bab 88


__ADS_3

Malam semakin larut,dan kedua insan yang saling mencintai itu tampak terlelap.Rintangan suatu hubungan pasti ada,namun bagaimana cara nya agar dapat melalui semua itu,tentunya hanya dengan kesabaran juga perjuangan.


Hati Roni merasa nyaman dan tenang,begitu bisa bersama dengan sang kekasih.Terlihat dari tidurnya yang nyenyak di pelukan Sefi,kali ini Roni yang tidur di pelukan sang kekasih,entah mengapa terlalu nyaman berada di pelukan wanita yang di cintainya itu. Wangi tubuhnya seakan menjadi obat penenang bagi pikiran nya yang masih kalut.Bagaimana tidak kalut,kisah cintanya yang sulit mendapat restu dari calon ayah mertua dan kini dirinya sudah di anggap sebagai musuh bebuyutan. Di tambah lagi dengan terkuaknya siapa dalang pembunuhan keluarganya yang tak lain adalah ayah dari kekasihnya sendiri.Bahkan kini dia harus mencari keberadaan sang adik,saudara satu-satunya yang masih hidup.


Cintanya tidak akan pernah berubah,meskipun sudah mengetahui jika yang membunuh keluarganya adalah ayah dari wanita yang di cintainya.Masa lalu yang harus di lupakan dan di maafkan,walaupun sangat sulit baginya.Cinta memang gila karena dia sungguh mencintai kekasihnya itu.


"Selamat pa--"suara dokter itu tercekat hingga tak mampu meneruskan ucapannya. Matanya membulat sempurna saat melihat pandangan dua insan di depan nya sedang tidur pulas sambil berpelukan.Niat hati ingin menyapa pria tampan yang sejak kemarin adalah pasien nya itu,kini pupus sudah.


"Apa seorang adik harus segitu dekatnya? Bahkan sampai tidur bersama di ranjang yang sempit ini ! Aku kok jadi cemburu yah,saat lihat mereka begitu dekat!


Ehem..


Eheeem..


Dokter itu berdehem beberapa kali,hingga membuat Roni terbangun.


"Selamat pagi?"sapa dokter itu dengan tersenyum ramah.Membuang prasangka buruk pada kedua orang di depannya.


Sssttt


Roni mengangkat jari telunjuknya agar dokter itu tidak berisik."Kembali setengah jam lagi,dia masih tidur"ucap Roni dengan pelan.


Hah


Senyum dokter itu langsung hilang seketika saat Roni menyuruhnya keluar.


"Tapi,saya harus memeriksa dan mengganti perban di luka anda dan--"ucapan dokter itu terputus saat Roni memotong pembicaraannya.


"Saya bilang,kembalilah setengah jam lagi"ujar Roni dengan tegas bahkan bibirnya mengatup saat melihat dokter itu.


"Baik,saya permisi"dokter itu pergi dengan langkah pelan dan sekali lagi menoleh kebelakang melihat pria tampan itu walaupun tidak tersenyum padanya.


"Tutup pintunya"ujar Roni dengan menggerakkan tangannya.


"Dia bahkan sangat tampan walaupun tidak tersenyum" dokter itupun pergi sambil menutup pintu dengan pelan.


Huh


"Apa setiap pria tampan harus dingin seperti itu"dokter itu menatap pintu yang sudah di tutupnya sendiri.


Roni kembali mentap wajah Sefi yang terlelap,menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.Sedikit mengangkat wajahnya agar dapat melihat dengan jelas dan Roni dapat merasakan hembusan napas Sefi dengan teratur.


"Aku mencintaimu,aku janji akan membuat mu selalu bahagia.Tidak ada air mata seperti ini lagi"Roni menghapus titik air mata dari ujung matanya.Memeluk wanitanya dengan erat.


"Pagi sayang? Apa aku mengganggu tidurmu?"sapa Roni,begitu melihat Sefi membuka matanya.

__ADS_1


Sefi menggeser sedikit tangannya agar leluasa untuk turun dari ranjang."Selamat pagi juga,Kak"ucapnya sambil menguap."Apa tidurmu nyenyak?"lanjutnya lagi.


"Tentu saja tidur ku nyenyak malam ini,tapi sebelah tanganku terasa pegal"Roni menunjuk tangannya yang di atas kepala Sefi dengan lirikannya.


"Maaf Kak,semua ini salahku. Apa sakit yah"ujar Sefi langsung menganggkat kepalanya.


"Tidak apa-apa. Sakitnya akan hilang jika sudah di beri vitamin di pagi hari?"


"Vitamin?"


"Benar"


"Baiklah,tunggu sebentar. Aku akan panggilkan dokter,Kak"menyibak selimut tipis itu dan ingin turun dari ranjang.


"Eeit tungu dulu. Bukan itu maksudku"Roni menarik tangan Sefi dengan cepat.


"Lalu apa Kak?"


"Kemari"Sefi mendekatkan wajahnya.


"Cium"bisik Roni.


"Apa?"


"Vitamin dari bibir ini adalah obat agar seluruh sakit ini hilang"Roni menatap bibir Sefi dengan intens,hanya menatap. Roni ingin wanitanya yang memulai ritual pagi itu.


"Mau yang mana terlebih dahulu"Sefi menatap Roni sambil tersenyum.


"Kedua pipi,mata,hidung dan berakhir di bibir"Roni menatap Sefi yang seakan menantangnya.


"Okey,pertama pipi yah"Sefi menunduk dan mendekatkan bibirnya pada pipi Roni.


Cup


Cup


"Lalu hidung"ujar Sefi.


"Tunggu dulu"cagah Roni dengan menahan wajah Sefi yang ingin menciumnya lagi.


"Ada apa lagi si,Kak?"


"Bukan begitu juga caranya,aku jadi seperti anak balita yang minta permen saja"


"Lalu bagaimana caranya"

__ADS_1


"Sudahlah,lebih baik panggilkan dokter saja. Aku sangat gerah dan mau mandi"Roni mengibas bajunya seolah kepanasan.


"Merajuk?"


"Tidak"Roni masih mengibas bajunya.


"Ngambek?"Sefi mendekatkan kembali wajahnya.


"Tidak"jawabnya lagi.


Namun detik berikutnya,bibir mereka sudah menenpel sempurna.Sefi mengambil alih,bermain lebih lama,saling memberi dan menerima.Hingga napas mereka beradu tidak beraturan.Roni membuka matanya perlahan,melihat wajah kekasihnya dengan tersenyum saat ciuman itu berakhir.Wajah Sefi tampak memerah,karena menahan rasa malu sebab ini adalah kali pertamanya yang memulai sebuah ciuman yang begitu dalam baginya.


Tangan Roni mengelus wajah Sefi dengan lembut,saling menatap dan kembali membawanya dalam ciuman yang dalam. Roni melu mat nya dengan lembut sambil memejamkan matanya. Mengabsen seluruh yang ada di dalam,saling memangut dan bertukar saliva.Satu tangannya sudah masuk ke dalam,meraba sampai ke pinggang.Mengusap-usap dengan lembut di area peru rata sang kekasih.Dan tiba-tiba suara pintu terbuka,muncul seorang pria berdiri di ambang pintu,menatap mereka dengan menggelengkan kepalanya sambil menutup mata seorang anak kecil di balik tubuhnya yang tinggi.


"Hei kalian berdua,sudah cukup mesra-mesraan nya.Apa kalian tidak sabar melakukannya di rumah setelah pulang dari Rumah Sakit ini?"Brian masih menutup mata putranya.


"Daddy awas dulu,Bastian mau sama papa"renggek Bastian dari balik tubuh Brian.


"Nanti dulu,sebentar lagi. Mereka sedang membuat adik untukmu"lanjut Brian menoleh pada putranya sesaat.


"Astaga,Brian. Kau mengagetkan ku saja. Apa kau tidak bisa mengetuk pintu? Mengganggu saja" ucap Roni seolah tidak terjadi apa-apa.Mengangkat satu tangannya meremas rambutnya dengan kasar.Hati Roni benar-benar kesal melihat Brian datang sepagi ini.


"Kak Brian?"Sefi juga ikut terkejut,wajahnya kembali merah padam menahan rasa malu,Sefi turun dari ranjang sempit itu sambil mengusap wajahnya.


"*Kak Brian melihat kami berciuman? Ya ampun,aku sangat malu.Bagaimana ini,aku bahkan tidak mampu menatapnya"


"Brian? Kau sudah membuat kekasih ku malu. Astaga,apa Sefia akan marah padaku*?" hati mereka saling bicara karena merasa malu dan terkejut.


"Maaf,aku tidak melihat kalian berciuman!"ucap Brian tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Cih


"Ada perlu apa sepagi ini datang ke mari?"tanya Roni masih dengan nada kesal.


"Tuyul kecil ku yang paksa datang sepagi ini"sebelum Brian menggeser tubuhnya,Bastian sudah berlari ke arah Roni dan Sefi.


"Sayang? Kau sebut anak kita Tuyul Kecil lagi?"Tia muncul bersama putra bungsu nya bersamaan dengan mama Widya dan papa Wanda Alexander.


"Hehehe... Maaf sayang"kekeh Brian sambil membalikkan tubuhnya melihat ke arah istrinya datang.


"Maaf,maaf. Enak saja"omel Tia dengan kesal.


Semua tampak tersenyum,saat Brian berusaha membujuk istrinya.


"Papa,Tian rindu sama papa. Apa luka papa sudah sembuh? Mommy bilang papa jatuh di kamar mandi"Bastian naik ke atas ranjang,memeluk Roni pria yang sangat di rimdukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2