Sefia Cinta Mati Ku

Sefia Cinta Mati Ku
Bab 93


__ADS_3

Happy reading !!


Pagi hari menjelang,udara di luar masih cukup dingin.Roni memilih berolah raga di rumah saja dengan alat yang memang sudah di sediakan untuk berolah raga di malam hari.Karena kebiasaan Roni sebelum nya hanya olahraga di malam hari,namun berbeda untuk hari ini,karena statusnya sudah tidak lajang lagi dan sudah ada seseorang yang selalu menunggu nya untuk tidur bersama,maka Roni memilih berolahraga di pagi hari saja sebelum berangkat bekerja.


Sementara Sefia istrinya setelah menyiapkan sarapan di meja,ia langsung bergegas menyiapkan pakaian kerja suaminya.Rutinitas setiap hari sebagai seorang istri harus di lakukannya dengan senang hati.


Bel berbunyi.


Ting..tong.


Ting..tong.


Lama sang penekan bel menunggu,membenarkan tas nya di punggung.Rasanya kakinya sudah pegal berdiri diambang pintu dengan menghela napas kasar.


"Apa mereka tidak ada di rumah? Tidak mungkin,ini masih jam tujuh tepat dan aku belum terlambat seperti biasanya"


Ting..tong.


Ting..tong.


Berulang kali menekan bel rumah tersebut,dengan kesal tangannya terus menekan hingga sang pemilik rumah datang membukanya.


"Siapa pagi-pagi begini datang bertamu? Mengapa tidak sabaran sekali?"Sefi turun dari tangga dengan terburu-buru.Membuka pintu rumah dengan sedikit tergesa-gesa.


"Selamat pagi?"sapa Sesil dengan tersenyum,menyembunyikan rasa kesalnya karena sudah membuatnya bosan menunggu.


"Dokter Sesil?"Sefi menghela napas kasar,saat melihat tamu yang sudah membuatnya sedikit berlari ternyata hanya dokter centil ini.Bahkan perut Sefi juga rasanya ingin muntah saat itu juga.


"Huh,aku ini kenapa? Mengapa aku mau muntah saat melihat wajahnya"


"Apa kakak mu Roni ada? Dia belum berangkat kerja,kan?"tanya nya sambil masuk begitu saja,karena Sefi belum mempersilahkannya masuk.


"Dia ada di lantai atas,tunggu sebentar,akan aku panggilkan"Sefi membiarkan dokter Sesil duduk dimana pun sesuka hatinya,karena Sefi tidak menyuruhnya untuk duduk.


Sefi berjalan lagi menaiki anak tangga,rasanya malas sekali jika harus naik tangga lagi. Entah mengapa jika melihat anak tangga,rasanya Sefi ingin lompat saja agar segera sampai.


"Mengapa sepi sekali? Dua hari yang lalu,rumah ini sangat ramai"Sesil memilih duduk di sofa kecil dekat dengan ruang makan sambil memandang sekitarnya.


"Sayang,ada dokter Sesil,dia menunggu mu di bawah"ucap Sefi saat melihat suaminya baru saja selesai olahraga.


"Cepat sekali dia datang?"Roni mengambil handuk kecil dan mengelap keringatnya.


"Biarkan dia menunggu.Ayo temani aku mandi,kita mandi bersama"Roni langsung menggendong Sefi.

__ADS_1


"Turuni Kak,aku sudah mandi."


"Temani aku."


"Ngak."


"Kenapa?"


"ada dokter Sesil di bawah,tidak baik membiarkannya menunggu lama"


"Ah,baiklah.Katakan padanya,aku segera datang"


Roni segera menurunkan Sefi,kemudian mengecup keningnya sesaat.


"Mandi yang cepat,jangan membuatnya menunggu"


Roni mengangguk dan masuk kedalam kamar mereka.Sefi kemudian turun lagi,dan menemui dokter Sesil.


"Dokter Sesil,mau minum apa? Biar aku buatkan,karena kak Roni masih mandi"ujar Sefi.Sesil kemudian menghampirinya di ruang makan.


"Kalau begitu,buatkan aku teh saja sekalian sama roti nya,karena aku belum sempat sarapan"ujar dokter Sesil.


Bagaimana sempat sarapan,dia saja datang terburu-buru agar dapat berjumpa dengan pasien tampan nya yang satu ini.Pandangan pertama pada pria tampan itu,mampu membuatnya semakin tergila-gila.Oh,sungguh gadis malang,Sesil tidak tahu jika pria yang di sukainya sudah menikah dengan wanita cantik yang sedang membuatkan teh untuk nya.


"Silahkan di minum"Sefi meletakkan teh untuk Sesil di atas meja,kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Sefi hanya mengangguk,melihat Sesil sekilas."Apa hidung dan mata ku bermasalah? Mengapa saat melihat dan dekat dengan nya aku selalu ingin muntah saja"gumam Sefi dengan pelan.Sefi membalas senyuman Sesil untuk sesaat saja.


"Kalian hanya tinggal berdua?"Sesil meletakkan gelasnya setelah meneguk tehnya sedikit demi sedikit.Melontarkan beberapa pertanyaan yang menurut Sefi sudah masuk ke ranah pribadi.


"Ya"jawab Sefi singkat.


"Pasti sedih dan kesepian sekali yah,jika tinggal jauh dari orang tua?"


Sefi diam sesaat,membenarkan apa yang sudah di katakan Sesil padanya.


"Oyah,boleh tidak,aku tanya sesuatu?"Sesil berjalan mendekati Sefi.


"Astaga? Ini dokter mau apa? Aku mohon jangan mendekat!"


"Iya dokter,silahkan mau tanya apa?"Sefi sengaja berjalan menjauh dan mengambil air lalu meneguknya.


"Apa kakak mu sudah punya pacar?"

__ADS_1


Uhuk..uhuk..uhuk.


Sontak saja pertanyaan Sesil membuat Sefi tersendat oleh air yang di minum nya sendiri.


"Sayang.. kamu kenapa?"


Roni berlari,menuruni anak tangga saat melihat istrinya terbatuk.Meletakkan tas dan ponselnya begitu saja di atas meja.


Deg.


"Sayang?"


Sesil bukan bodoh dan tuli,dia dapat mendengar dengan jelas,Roni memanggil wanita di depannya dengan sebutan'sayang'.Pandangan nya tidak lepas dari pasangan dua sejoli itu.


"aku tidak apa-apa kak"ucap Sefi.


"Hati-hati jika minum,jangan lakukan itu lagi.Oke. Jangan membuatku takut dan khawatir."Roni mengelus pundak Sefi dengan lembut.


"Iya"Sefi sangat senang di perlakukan dengan baik oleh suaminya itu terlebih di depan dokter cantik itu.


Setelah di rasa Sefi sudah lebih baik,Roni pun menyapa dokter Sesil yang terlihat masih mematung.


"Dokter Sesil,maaf sudah membuatmu menunggu lama"


"Ti--tidak apa-apa"ucap nya gugup.


"Kalau begitu,silahkan ganti perban nya"Roni berjalan menuju sofa dan duduk disana.Membuka kancing kemeja nya dengan perlahan kemudian memberikan nya ke tangan Sefi.


"Sayang,kamu disini saja"


Deg.


"Benar,aku tidak salah dengar.Roni memanggil adik nya'sayang'.Apa dia bukan adiknya Roni? Jadi aku salah paham,sudah berpikir jika wanita ini adalah adiknya".


Tangan dokter Sesil bergetar saat menggunting perban yang akan di gantinya.Pikirannya kini semakin kalut,ada rasa sakit di bagian dadanya.Ingin rasanya ia berteriak dengan kencang saat itu juga.


"Oh tidak ! Bagaimana ini? Bagaimana dengan perasaan ku yang sudah terlanjur mencintainya"


"Dokter Sesil,apa kau baik-baik saja?"Roni melihat tangan dokter Sesil bergetar memegang perutnya.


"I-iya,aku tidak apa-apa."Ucap nya gugup.


"Bisa lebih cepat kerjakan,karena aku mau berangkat kerja"

__ADS_1


"Sebentar lagi akan selesai"ucap Sesil lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari perut Roni.


Apa yang di pikirannya sekarang? Pastinya melihat perut perfec yang sempurna bahkan bekas lukanya sudah mulai sembuh, mampu membuat Sesil membayangkan berada di bawah tubuh kekar tersebut atau menari di atasnya.Pikiran nya sudah sampai kesana,bahkan kini Sesil sampai menelan saliva nya sendiri.


__ADS_2