Sefia Cinta Mati Ku

Sefia Cinta Mati Ku
Bab 50


__ADS_3

Happy reading..!


Sefi berjalan dengan pelan sembari mendorong kursi roda mama Lina.Hari ini jadwal mama Lina untuk periksa sebelum di nyatakan benar-benar sembuh.Seorang dokter menghampiri mereka dan kemudian memeriksa mama Lina.


"Ma,Sefi keluar sebentar yah"Sefi pamit keluar karena ponselnya berdering.Ya,sebelum berangkat kerumah sakit,Sefi menyempatkan ponselnya mengisi daya karena ponselnya benar-benar sudah lowbat sejak makan siang tadi.


"Jangan lama-lama"mama Lina mengingatkan putrinya itu.


Sefi keluar setelah menganggukkan kepalanya.


"Hallo,Kak Brian! Ada apa menelponku?"


"Kamu dimana,aku sudah di rumah untuk bertemu dengan tante Lina"


"Masih di rumah sakit,mama masih di periksa sama dokternya.Kak Brian tunggu saja,sebentar lagi kami akan pulang!"


"Baiklah"Brian mengakhiri panggilannya.


"Huh,banyak sekali panggilan tak terjawab"ucap Sefi saat memeriksa ponselnya , dari nomer yang sangat di kenal Sefi yaitu nomer dari Roni.


"Kenapa tidak di angkat?"Sefi menelpon kembali namun tidak ada jawaban.Sefi memutuskan untuk kembali ke ruangan dokter yang sedang memeriksa mama Lina.Namun,sayangnya langkahnya terhenti saat melihat seorang pria yang sangat di kenalinya sedang memeluk seorang wanita tepat di depan sebuah pintu ruangan di ujung lorong.


Sefi berjalan pelan melewati mereka yang sama sekali tidak terjanggu oleh kehadirannya.Mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.Beruntung mereka tidak mengenali Sefi,karena pada saat itu Sefi memakai masker dan kaca mata.


"Aku sungguh tidak menyangka bertemu denganmu lagi di sini.Sungguh,ini adalah suatu pertemuan yang sangat ku harapkan"ujar wanita itu,Roni memeluk seorang wanita yang sedang menangis.


"Apa kamu baik-baik saja?"masih memeluk wanita itu,Roni mengusap kepalanya.


"Maaf,aku pergi begitu saja waktu itu!"ujar wanita itu lagi.


"Tidak apa-apa.Sekarang apakah aku bisa bertemu dengannya? Aku ingin melihatnya!"ucap Roni seraya melepas tangan wanita itu yang memeluknya dengan erat.


"Kak,kau ada disini bersama seorang wanita? Siapa wanita itu" Sefi berusaha melihat namun karena wanita itu memunggunginya,Sefi pun tidak dapat melihat wajahnya.


Flas back


Bug

__ADS_1


"Aduh,Pak kalau jalan hati-hati"seorang wanita menunduk sembari memungut peralatan makan yang di bawanya karena jatuh akibat bertabrakan tubuh mereka.Wanita itu memungutnya tanpa melihat pria yang menabraknya.Karena terburu-buru ingin menemui wanitanya,hingga pria itu tidak lagi memperhatikan langkahnya dan akhirnya diapun menabrak seorang wanita yang sedang membawa peralatan makan untuk anaknya yang baru saja di belinya.


"Syukurlah tidak ada yang pecah"ujar wanita itu lagi setelah berhasil memungut semua yang terjatuh.


"Maaf,saya tidak sengaja"ucap pria itu.


Pria itu berhenti mematung,karena melihat wanita yang sudah pergi meinggalkannya ketika di hari pernikahan mereka,kini ada di depannya.Wanita yang tidak lagi terdengar kabarnya sejak beberapa tahun ini.


"Lidya??!"Roni memanggil nama wanita itu,hingga membuat sang pemilik nama terkejut.


"Roni?" Lidya sangat terkejut melihat mantan tunangannya ada di depan matanya saat ini.


"Sedang apa kau di rumah sakit ini?"tanya Roni dengan penasaran.


"A--Aku..aku"Lidya ragu untuk menjawabnya.


"Apa kamu sakit?"tanya Roni lagi,karena wajah Lidya yang pucat itu tidak mampu menjawabnya.


"Putriku sedang di rawat di rumah sakit ini"jawab Lidya pada akhirnya.


"Aku sudah menikah dan sudah memiliki dua anak perempuan yang sangat cantik."ujar Lidya.


"Selamat untukmu,karena hidupmu saat ini sudah bahagia!"ujar Roni mengulurkan tangannya mengucapkan selamat berbahagia.


"Terima kasih"ujar Lidya menyambut uluran tangan Roni.


"Kalau begitu,aku permisi."Roni pamit karena menurutnya tidak ada lagi yang harus di bicarakan dengan Lidya.


"Tunggu! Bisakah aku minta bantuanmu?"Lidya menghentikan Roni yang ingin pergi.


"Bantuan?"


"Iya,bantuanmu.Putriku sedang sakit dan aku butuh bantuanmu"ujar Lidya.


"Aku bukan dokter yang bisa membantumu untuk menyembuhkan putrimu"Roni ingin berlalu setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Bukan itu maksudku,aku butuh biaya untuk pengobatan putriku.Bisakah kau memberiku pinjaman?"Lidya menunduk,sebenarnya ia cukup malu untuk mengatakannya,namun karena tidak ada jalan lain.Dengan mengesampingkan rasa egonya yang tinggi demi kesembuhan putrinya,Lidya memberanikan diri meminta bantuan Roni.

__ADS_1


Lidya sudah mencoba meminta bantuan dengan mendatangi rumah mertuanya,namun Lidya tidak bertemu dengan siapapun di rumah itu kecuali seorang wanita yang tidak di kenalinya bersama seorang pelayan.


Lidya sudah bertekat,apapun resikonya,dia akan minta bantuan mertuanya untuk biaya pengobatan putrinya.


"Aku janji akan melunasinya setelah putriku sembuh!"ujar Lidya lagi.


"Putriku baru saja selesai di operasi,dan sekarang sedang di ruang perawatan. Aku tidak cukup uang untuk biaya perawatannya selama dia dinyatakan sembuh."ujar Lidya lagi.


"Baiklah aku akan membantumu"tanpa pikir panjang Roni akan membantu Lidya.Karena Roni melihat tidak ada kebohongan di wajah Lidya,yang ada hanya kesedian yang terpancar di raut wajahnya.


"Benarkah,Terima kasih banyak.Aku janji akan melunasinya secepatnya"ujar Lidya,satu bebannya sudah terselesaikan,sekarang bagaimana caranya untuk memberitahukan kabar bahagia itu pada suaminya.


"Aku ingin melihat putrimu"ujar Roni.


"Silahkan"Lidya berjalan menuju ruangan putrinya dan di ikuti oleh Roni.


"Dimana suamimu? Mengapa aku tidak melihatnya bersamamu?"tanya Roni seraya berjalan bersamaan bersama Lidya.


"Kami berbagi tugas,aku membawa putri pertamaku kerumah sakit,sementara suaminku bekerja sambil menjaga putri kedua kami."cerita Lidya.


"Keluarga yang harmonis"ujar Roni.


"Amin"Lidya mengaminkannya sembari tersenyum getir.Perjuangan Lidya untuk mendapatkan cinta dari suaminya tidaklah mudah.Lidya tersenyum sesaat mengingat semua itu.


"Bagaimana denganmu,apakah kamu sudah menikah!"


"Belum,aku belum menikah karena perjuanganku baru saja di mulai!"ujar Roni.


Lidya berdiri di depan ruangan putrinya di rawat,melihat putrinya dari pintu yang transparan.


"Dia Sintia,putri pertamaku.Nama yang indah yang di berikan suamiku."Lidya memandang putrinya yang masih tertidur.Roni mengikuti arah pandangan Lidya.


"Seharusnya bukan dia yang mengalami semua ini.Aku dan suamiku yang salah,kami menikah tanpa di restui oleh orang tua kami."


"Sintia anak yang ceria dan pintar,aku tidak sanggup jika terus melihatnya menangis sepanjang hari karena menahan sakit di tubuhnya"Lidya menangis,Roni yang merasa kasihan,mengelus pundak Lidya.


"Jangan bicara seperti itu,tidak ada karma di dunia ini yang tidak bisa di lalui oleh manusia.Semua itu sudah menjadi takdirnya."ujar Roni.Tanpa di duga Lidya memeluk Roni sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2