
Di kamar nenek Salma,tampak Brian dan Roni serta mama Widya duduk sambil membaca bersama buku kecil itu,membuka lembar demi lembar.Terdapat hari-hari penting beserta tanggal dan tahunnya,semua tampak tertata rapi. Nenek Salma memang seorang yang pelupa,terlihat jelas di setiap kisah yang di tulis selalu di bubuhi oleh tempat dan tanggalnya.
Tepat di pertengahan buku itu,terdapat sebuah foto lama,foto kenangan yang mungkin satu-satunya yang di miliki oleh nenek Salma.
Widya mengambil foto itu,melihatnya lebih dekat lagi.
"Ini adalah rumah tempat tinggal kami dulu,ternyata mama masih menyimpan foto ini"ucap Widya sambil mengusap foto tersebut.
Brian dan Roni ikut melihat foto itu,terlihat sepasang suami istri beserta seorang anak perempuan dan laki-laki sedang duduk di depan rumah mereka.
"Ini adalah mama,dan di sebelah nenek mu adalah paman mu"terang Widya saat melihat Brian memandang foto itu dengan mengeryitkan dahinya.
"Ma,nanti saja bernostalgia yah,kita sekarang perlu alamat rumah ini"Brian langsung mengambil foto itu dari tangan mama Widya.Membalik foto tersebut,dan benar saja,nenek Salma menulis sebuah alamat rumah itu di balik foto tersebut.
"Kita menemukan nya,Kak ini adalah alamatnya"Brian langsung memberikan selembar foto itu pada Roni.
"Brian,antarlah mama pulang terlebih dahulu. Aku sendiri akan segera pergi mencari alamat rumah ini"ucap Roni setelah melihat alamat rumah itu.Roni yakin bisa mencari nya sendiri.
"Baiklah,aku akan menyusul setelah mengantar mama"ujar Brian.
Di tempat yang berbeda,Sefi berusaha mencari jalan keluar dari gedung itu.Sefi sudah menyatukan kain spei beserta gorden jendela,namun tetap saja tidak cukup untuk di gunakan turun ke bawah.Sefi kembali duduk dengan lemas,membayangkan sampai kapan ia harus menjadi tawanan di gedung itu.
"Sudah ku bilang,gedung ini cukup tinggi.Bisa kau bayangkan jika kau melompat dari gedung ini dalam seketika kau sudah menjadi mayat"ucap wanita asing itu yang hanya melihat usaha Sefi yang sia-sia sejak tadi.
Wanita itu bukan tidak ingin membantu,namun ia sudah tahu jika tidak bisa melarikan diri hanya menggunakan gulungan kain tersebut.
"Aku tidak butuh pendapat mu"ucap Sefi dengan sinis.
__ADS_1
"Ini makanan untuk kalian berdua"seorang pria membuka pintu dan menyodorkan kotak makanan untuk dua wanita yang menjadi tawanan tuannya itu,sementara seorang pria lagi tampak menunggu di ambang pintu.
"Hei,kau ! Keluarkan aku dari sini"Sefi dengan gesit berlari menuju pintu namun dengan cepat pria itu langsung menangkapnya.
"Lepas ! Aku mau keluar!"teriak Sefi,saat tangannya di tarik kembali dan menyuruhnya untuk duduk di kursinya semula.
"Jangan menyusahkan kami Nona,kami hanya menjalankan perintah"ujar pria itu.
"Berapa kalian di bayar Jodi berengsek itu,hah! Aku akan membayar kalian dua kali lipat "ucap Sefi dengan menahan emosinya.
"Maaf Nona,kami bukan di bayar oleh tuan Jodi,dan kami bekerja bukan karena bayaran yang mahal"
"Tapi kami hanya sayang dengan nyawa kami,aku ingin sekali membebaskan mu,tapi tuan Aliando akan membunuh kami jika sampai itu terjadi" sambungnya hanya dalam hati.
Sefi memandang wanita di sebelahnya,bukankah wanita itu bilang,jika papa nya yang menculiknya?
"Lalu siapa yang menyuruh kalian mengurung ku di tempat ini ?"Sefi kembali bertanya,seolah ingin membenarkan bahwa penilaian nya tentang Jodi,tidaklah benar.
"Hei,kau belum menjawab pertanyaan ku"teriak Sefi.
"Sudah,tidak usah ribut. Makan saja makanan mu,biar ada tenaga untuk keluar dari tempat ini"wanita di samping nya kini mengambil satu kotak makanan untuk nya dan membawa nya ke sudut kamar.Wanita itu terlihat duduk dengan tenang,sembari melahap makanan nya.
"Aku tidak ingin makan"Sefi meninggalkan makanan nya begitu saja.Sefi memilih duduk di tepi jendela sembari merencana kan untuk melarikan diri.
"Jika kau tidak mau makan,bagaiamana cara nya untuk melarikan diri. Kita butuh tenaga untuk berlari dengan cepat"wanita itu datang menghampirinya begitu sudah selesai melahap makanan nya sendiri.Berbisik di telinga Sefi hingga membuat Sefi menjauhkan telinganya.
"Katakan saja dengan jelas,tidak perlu berbisik seperti itu"ucap Sefi dengan kesal.
__ADS_1
"Cih,kau benar-benar bodoh"ucap wanita itu.
"Apa ? Kau mengataiku bodoh"Sefi mendorong sedikit tubuh wanita itu,karena sudah mengatainya bodoh.
Huuff
Menghela napas,wanita itu kembali berbisik ke telinga Sefi.Menahan tangan Sefi agar tidak lagi mendorongnya.
"Setiap sudut kamar ini sudah di pasang banyak kamera. Jadi apapun yang kau katakan,seseorang di luar sana bisa mendengarnya"bisik wanita itu.
"Jangan melihatnya,anggap saja kau tidak tahu apapun"Sefi langsung mengangguk saat wanita itu menunjuk salah satu kamera di balik buku,dengan tatapan matanya.
"Jadi makanlah yang banyak. Kamu lapar,bukan?"kembali suara wanita itu berbicara dengan normal. Memberi kotak makanan ke tangan Sefi.
"Habiskan makanan mu,setelah itu pergilah mandi"wanita itu kembali ke tempat duduk nya,tempat yang menurut nya yang paling nyaman yaitu sudut kamar.
Dalam keheningan,Sefi melahap makannya hingga tak tersisa,air matanya seolah penambah penyedap rasa pada makanannya.Sefi menangis dalam diam,sesekali ia menghapus air matanya dengan ujung bajunya.
Sementara itu,mobil Roni tampak sudah memasuki area pegunungan,kota kecil yang menjadi kenangan bagi mama Widya.Beberapa kali Roni tampak menghentikan mobilnya untuk bertanya pada warga sekitar.
"Sekitar sepuluh menit lagi,anda akan sampai pak"seorang ibu-ibu memberitahu jika tujuan nya semakin dekat.
"Sayang,aku berharap kamu baik-baik saja disana"gumam Roni sambil melajukan mobil nya.Gelisah bercampur rass khawatir,Roni tidak sabar ingin segera sampai di tempat itu.
"Tuan,ada sebuah mobil memasuki pekarangan rumah ini"lapor salah satu anak buah Jodi. Jodi yang pada saat itu sudah kembali dan sedang membuka ikatan di tangan nenek Salma,langsung menatap anak buah nya dengan garang.
"Cari tahu siapa dia dan jika dia orang yang mencurigakan segera bawa ke hadapan ku"ucap Jodi.Anak buahnya pergi setelah mendapat perintah.
__ADS_1
"Ma,aku sangat menyayangimu. Oleh karena itu aku membuka ikatan di tanganmu,tapi jangan berpikir jika aku akan membebaskan mu"ucap Jodi setelah membuka ikatan di tangan nenek Salma,kemudian beralih ke kakinya.Jodi mengikat kaki nenek Salma agar tidak bisa melarikan diri.
Bersambung.