
Mentari di ufuk timur kini telah beranjak naik hingga menyinari dengan sinarnya yang semakin terik.Di bawah pohon rindang itu tampak seorang wanita tengah berteduh sambil mengibaskan kertas pada wajah nya yang terkena sengatan matahari sejak pagi tadi. Waktunya makan siang,wanita itu memilih duduk di bawah pohon.Menjauh dari rekan nya se profesi dsn tidak ada niat untuk bergabung dengan mereka.
Menggerutu,memaki dan mengeluh,itulah yang terjadi saat ini pada wanita itu.Ya,akibat dari kesalahan yang di lakukannya,kini hidup nya berubah seratus persen.Vania Hermawan kini di pindahkan menjadi pegawai yang bekerja di lapangan.Roni tidak jadi memindahkannya ke luar kota pada cabang perusahaannya.Namun,kini Vani bekerja hanya sebagai pegawai rendahan,membantu memerah susu sapi dan membersihkan kotoran sapi di perternakan milik Roni Abdullah.Perusahaan susu terkenal itu memiliki perternakan sendiri dengan jumlah sapi yang banyak.
Bau kotoran yang menguap tidak bisa hilang dari tangannya,membuat Vani kehilangan selera makan nya.Bahkan untuk bernapas saja Vani benar-benar tidak sanggup.
Menyesal sekarang tidak berguna lagi,bahkan untuk minta maaf saja dia tidak memiliki kesempatan.Roni bergerak cepat sebelum Vani lari dari tanggung jawab.
"Mami..papi..Vani tidak sanggup?"keluh nya sambil meratapi nasibnya."Aku benar-benar menyesal."
"Kalian juga mengapa menyetujui hukuman ku seperti ini.Apa aku bukan putri kalian?"ucapnya lagi.
Roni sudah memberitahu bagaimana tingkah dan perlakuan Vani selama ini. Dan kedua orang tuanya setuju untuk memberi hukuman pada Vani agar tidak lagi suka melakukan kesalahan terlebih pada sesama wanita.Demi untuk membuat putri mereka berubah dan tidak manja lagi maka keluarga Hermawan menyetujui saran Roni dengan senang hati.
"Hei,kau anak baru,jika sudah selesai makan,cepat bersihkan kotoran sapi di blok C."Teriak salah satu rekan nya.Vani hanya melihat nya saja tanpa mau menjawab.
Makan siang nya masih terbungkus rapi karena tidak di sentuh sama sekali.Vani langsung beranjak sambil memakai masker nya,menutup hidung dan mulutnya.Berjalan dengan malas sambil menyeret beberapa perlengkapan kebersihan.
"Mami..Vani sudah ngak kuat"masih sempat mengeluh,berdiri sambil melihat kotoran sapi yang sudah menumpuk.Merasa jijik,Vani seketika ingin muntah saat melihat kotoran itu lagi.
__ADS_1
"Dasar sapi bodoh. Aku tidak akan memberimu makanan jika kau terus buang air besar.Apa kau pikir,aku ini budak mu,yang selalu membersihkan kotoran mu,hah"ucap Vani sambil menunjuk si sapi yang di ajak nya bicara.Sapi itu bergerak dan mengibaskan ekornya sehingga membuat jipratan kotoran sapi itu mengenai baju Vani.
"Sapi sialan?"pekik Vani dengan kesal.
Aaaaaak
Vani menjerit saat melihat pakaiannya terkena kotoran sapi.Berlari meninggalkan tempat itu dengan kencang,hingga terjatuh beberapa kali namun Vani tidak peduli bahkan ketika ada beberapa orang menertawainya.Dan tujuan nya saat ini adalah mencari sumber air terdekat.
"Sapi sialan ! Benar-benar sial nasib ku"umpat Vani sembari membersihkan baju nya dengan air.
"Bau sekali"Vani berulang kali menggosok tangan nya menggunakan sabun.
Vani terpaksa pulang dari perternakan karena pakaian nya sudah basah walaupun tidak ada lagi kotoran sapi namun bau nya masih menempel.Pulang tanpa permisi membuat rekan nya bingung,mengapa wanita itu seenak nya saja bekerja.
Di dalam rumah kecil inilah Vani tinggal sendiri,tempat tinggal yang di sediakan khusus untuk para pekerja di perternakan.Dan jarak tempat nya tinggal dengan perternakan tidak terlalu jauh,bahkan bau tidak sedap dari kotoran sapi saja masih tercium jelas.Dengan sebuah kamar yang sudah di sediakan tempat tidur kecil yang hanya muat untuk satu orang saja. Dan dapur kecil di lengkapi dengan peralatan memasak sendiri.
Vani duduk termenung setelah selesai membersihkan diri,memeriksa ponselnya dan mencari akun sosial media.Menekan yang berlogo biru tersebut,melihat-lihat beranda dan mencari nama Sefia di sana.Mencari tahu,bagaimana keadaan wanita yang selalu di anggap nya sebagai saingan nya.
"Tidak ada apapun disini,mengapa dia tidak pernah update status lagi. Bagaimana cara ku untuk minta maaf pada nya.Aah,aku sudah tidak tahan lagi tinggal di tempat ini"Vani meletakkan kembali ponselnya kemudian pergi ke dapur mencari makanan.Vani sangat berharap jika Sefi akan memaafkannya kemudian Roni akan mengembalikan jabatan nya sebagai sekretaris lagi.
__ADS_1
Baru dua hari tinggal di sekitar perumahan dekat perternakan,Vani sudah merasakan hidup bagaikan anak tiri,bagaimana bisa demikian? Semua itu karena kedua orang tuanya ingin melihat perubahan pada diri Vania.Kedua orang tua nya sangat yakin jika Vani bisa merubah sikap nya. Dan pertanyaan nya,apakah Vani akan berubah menjadi lebih baik lagi? Sanggup kah Vani hidup berdampingan dengan perternakan sapi itu.Sikap nya yang suka seenaknya saja,dan menang sendiri bahkan tidak segan-segan membalas jika hatinya merasa di sakiti.Sikap buruk nya itu akan menghancurkan hidup nya.
Wanita cantik itu akhirnya memilih kembali ke pusat kota.Vani berdiri di pinggir jalan untuk menghentikan sebuah angkot.Mentari semakin panas,dan kulit putih nya semakin memerah akibat sengatan matahari.Namun,sayangnya sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan nya.Dua orang pria keluar dan menghampiri nya.
Vani waspada saat dua pria itu menatap nya sambil bicara pada ponselnya.
"Ikut lah dengan kami Nona"ucap salah satu pria itu.
"Siapa kalian?"Vani mundur beberapa langkah.Bersiap untuk berteriak jika kedua pria itu akan menyakitinya.
"Kami hanya di tugaskan untuk menjemput Nona!"ucap pria yang tadi memegang ponsel nya.
"Menjemput ku? Apa kalian orang suruhan papa?"tanya Vani.Vani sangat berharap kedua orang tuanya berubah pikiran dan sekarang menyuruh anak buah nya menjemputnya.
Kedua orang itu tampak saling pandang,"benar,kami di suruh tuan untuk menjemput anda"ucap mereka pada akhirnya.Tidak perlu bersusah payah untuk menculik nya pada akhirnya mangsa akan masuk sendiri dalam perangkap nya.
"Benarkah,papa yang menyuruh kalian menjemput ku.Kalau begitu,tunggu apa lagi.Buka pintu nya biar aku masuk dan kalian masukkan juga tas ku ke dalam bagasi"ucap Vani dengan perasaaan bahagia.
"Aku tahu papa dan mama tidak akan tega melakukan hal kejam ini padaku,terbukti sekarang kalian ingin aku kembali lagi ke rumah"ucap Vani dengan senang.
__ADS_1