
Waktu hanya bisa berlalu. Ia tak bisa mengubah aku,tak juga kamu.Tidak kondisi,tidak juga sekarang.
Perubahan hanya bisa di lakukan oleh sesuatu yang hidup.
Dan waktu tidak di tugaskan untuk itu.
Waktu memang berjalan,tetapi ia tidak hidup.
Jangan pernah menyerahkan nasib kepada waktu.
Jangan juga berharap waktu akan menyembuhkan segalanya.
Jangan menunggu waktu.
Karena waktu tidak menunggu siapapun.
Waktu tidak di tugaskan untuk menyelesaikan masalah manusia,tidak juga sebagai penyembuh luka.
Ia hanya di tugaskan untuk berlalu.
Menjadi saksi bisu,bahwa perubahan akan selalu ada.
Tapi tidak menimpa setiap kondisi.
Itulah mengapa banyak luka yang tidak sembuh seiring berjalannya waktu.
Juga kondisi yang tidak kunjung berubah,padahal waktu sudah berdetak berjuta detik.
Mobil mereka sudah berhenti di sebuah pekarangan yang lumayan luas,banyak bunga juga pepohonan hingga membuat suasana terlihat sejuk dan nyaman di pandang mata.Matahari sudah mulai terbenam bahkan azan magrib mulai berkumandang seakan menambah ketentraman di daerah sekitar tempat tinggal Reno bersama keluarga kecilnya.
Lidya turun dari mobil,kemudian berjalan mengitari mobil untuk segera membuka pintu depan mobil.Sefi yang sudah terbangun kini membantu Lidya untuk menaikkan Sintia di gendongan Lidya.
"Sayang,kita sudah sampai"ujar Lidya."Tidurnya nyenyak sekali,apa terlalu nyaman ya di pangkuan tante"ucap Lidya lagi pada putrinya itu seraya membawanya.
"Kamu kenapa sayang"tanya Roni sambil membuka pintu mobilnya.
"Kaki ku sepertinya kesemutan,mungkin karena terlalu lama memangku Sintia"sahut Sefi seraya menekan-nekan kakinya.
"Sini biar aku pijit sebentar"ucap Roni.Meluruskan kaki Sefi ke arahnya,kemudian memijatnya.
"Seperti mati rasa"ujar Sefi terkekeh.
"Jangan-jangan kamu sudah rematik yah"goda Roni.
__ADS_1
Plak !
"Sembarangan"sahut Sefi sambil menenpuk pundak Roni.
"Sepatunya di lepas saja kalau kamu masih merasakan kram"ujar Roni.
"Baiklah,akan aku lepas"ujar Sefi.
"Kita ngapain datang kemari? Apa kejutannya ada disini."Mengingatkan kejutan yang sebelum berangkat,Roni sempat mengingatkan akan memberinya kejutan.
"Ayo kita turun,kita lihat bersama"ujar Roni.
"Papa,kami pulang"seru Sintia saat Reno sudah membukakan pintu.
"Selamat datang kembali sayangnya Papa"sambut Reno dengan gembira.
"Wah,kamu sudah sembuh sayang,maafkan Papa karena tidak bisa menyusul kalian"ujar Reno sambil memeluk putrinya kemudian menggendongnya.
"Tia ngak sakit lagi,Pa.Tia sudah bisa main lagi sama adik Lili"sahut Sintia.
"Baiklah nanti setelah selesai istirahat Sintia bisa main sama adik Lili,karena adik Lili masih tidur,"ujar Reno.
"Apa kita kedatangan tamu?"tanya Reno begitu melihat ada sebuah mobil pribadi di pekarangan rumah mereka.sepertinya ada tamu yang berkunjung pikir Reno.
"Aku kira kamu naik kereta api,makanya aku sempat bingung kenapa kamu tidak menelpon ku untuk menjemput di stasiun"ujar Reno seraya melihat ke arah mobil.
"Mengapa mereka belum keluar juga" batin Lidya. Ikut memandang ke arah mobil.
Yang di lihat justru sedang asyik memijat kaki sang kekasih.Beberapa saat kemudia keluarlah kedua orang itu,setelah di rasa cukup baik.
"Kak,bagus banget pekarangannya yah ! Kalau kita sudah nikah,aku mau tinggal di rumah yang banyak pohon dan bunganya"celoteh Sefi sambil turun dari mobil.
"Benarkah,itu ide yang bagus,tapi masalahnya apa kamu yakin mau nikah sama aku"ujar Roni sambil berjalan ke arah belakang mobil dan membuka bagasi.
"Jangan mulai deh"sahut Sefi sambil membanting pintu.
"Hei,jangan marah sama pintunya dong,jangan di banting gitu.Masih kredit ini mobil"seru Roni.
"Bodoh amat"ujar Sefi.
Berjalan terlebih dahulu menuju rumah Lidya,dan meninggalkan Roni sendiri.Namun langkahnya terhenti,sepatu terjatuh begitu saja dari tangannya.Matanya fokus pada sosok di depannya,antara percaya dan tidak percaya.Tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.Suaranya tercekat,ingin memanggil sang pemilik nama namun tidak mampu.Langkah kakinya seolah ingin berlari menghampiri sosok tersebut,namun lemas seolah tidak bertulang lagi.
Mematung,yah, Sefi hanya mampu memandangnya tanpa berkedip.
__ADS_1
"Sefia...Sefi ? Yah,kau benar Sefi adikku.Sefia ku sayang,adik kecilku"Reno memeluk Sefi dengan erat hingga Sintia yang masih di gendongan Reno ikut terhempit di antara mereka.
"Kakak sangat merindukanmu"ujar Reno.
"Kak Reno?"ucap Sefi dengan napas tercekat."Aku bertemu Kak Reno ku"ujarnya lagi.Namun tanpa di duga Sefi langsung pingsan begitu saja.
"Sefi ?"teriak Reno dan Roni bersamaan.Roni langsung berlari dan tidak sadar jika tas yang di bawanya terletak begitu saja.Sementara Reno dengan susah payah ingin membantu Roni.
"Astaga,cepat bawa dia masuk ke dalam rumah,mungkin Sefi sangat terkejut"ujar Lidya.Kemudian mengambil Sintia dari gendongan Reno.
"Biar aku yang angkat"ujar Reno.
"Tidak,biar aku saja yang angkat"seru Roni.
"Aku kakaknya,kamu tahu itukan. Berarti aku yang pantas untuk mengangkatnya"ujar Reno tidak mau kalah.
"Aku kekasihnya.Jadi yang harus mengangkat Sefi adalah aku seorang"ujar Roni juga tidak mau kalah.
"Apa? Kau sekarang kekasih adikku? Hei,apa kau pelet adikku sehingga dia mau sama mu?"ujar Reno.
"Apa? Pelet... Otak mu sudah terkontaminasi bakteri apa sehingga pikiranmu sampai kesana"ujar Roni.
"Sudah-sudah kalian ini malah berdebat."Lidya pusing mendengar perdebatan antara Reno dan Roni yang tidak habisnya."Apa kalian mau membiarkan Sefi terus di luar?"ujar Lidya menatap kedua orang itu.
"Biar aku saja yang angkat Sefi ke dalam rumah"ujar Roni.Sebenarnya ia tidak rela kekasihnya di pegang oleh orang lain,termasuk kakaknya sendiri.
"Sudah tidak apa-apa,"Lidya mengusap pundak Reno.Menganggukkan kepala menatap Sefi di bawa ke dalam rumah oleh Roni.
"Mama,apa tante cantik itu sudah mati?"tanya Sintia.Maklum anak kecil belum terlalu mengerti mengucapkan suatu kata yang benar.
"Tidak boleh bicara begitu yah.Tante Sefi hanya pingsan saja"sahut Lidya.Mereka ikut masuk ke dalam rumah dan membaringkan Sefi di sofa ruang tamu.
"Kak Reno"panggil Sefi dengan suara yang sangat pelan. Setelah di beri minyak angin di sekitar penciuman Sefi beberapa saat kemudian akhirnya Sefi kembali sadar.
"Kakak"panggil Sefi lagi.Reno menggeser tempat duduknya agar semakin dekat dengan adiknya itu.
"Iya sayang. Ini kakak "sahut Reno.
"Kenapa Kakak bisa tinggal bersama kak Lidya?"tanya Sefi.
"Apa Kak Reno numpang di rumah kaka Lidya?"tanya Sefi lagi.
"Kakak sudah menikah sama Lidya semenjak di hari gagalnya pernikahan Roni dan Lidya"jelas Reno.
__ADS_1
"Apa? Jadi kalian"menunjuk ke arah Reno dan Lidya.Namun sayangnya Sefi pingsan kembali.