Sefia Cinta Mati Ku

Sefia Cinta Mati Ku
Bab 53


__ADS_3

Brian masuk ke dalam kamar Sefi,hening tidak ada suara, bahkan lampu kamarnya masih padam.Udara dingin menyeruak hingga membuat bulu kuduk berdiri,jendela kamar terbuka mempersikahkan angin malam masuk dengan bebas.


"Sefi?"panggilan Brian untuk kesekian kalinya,namun tidak di sahut oleh penghuni kamar itu.


"Apa seperti ini kamar seorang gadis ? Menyeramkan!"mengelus lengan tangannya yang terkena hembusan angin.


"Kenapa gelap sekali"mencari sakral lampu pada diding kamar dengan cara meraba.Akhirnya menemukannya kemudian menyalakan lampu kamar tersebut.Tidak ada tanda keberadaan gadis tersebut,hanya terlihat pintu balkon terbuka lebar beserta jendela yang bergoyang tertiup angin.


"Astaga,aku kira kamu nyai kunti"mengumpat karena terkejut,sebab rambut panjang Sefi di biarkan terurai dan di biarkan terhembus angin.


"Sembarangan!"membuang muka,karena tak ingin kakaknya itu melihat wajahnya yang kusut.


"Sefi,sedang apa kamu disana? Brian berjalan menuju balkon,dimana Sefi berdiri menghadap keluar menatap suasana malam di kota tersebut.Lampu dari segala arah seumpama bintang yang berkerlap-kerlip.Indah di pandang namun tidak seindah untuk hati yang memandangnya.


"Kak Brian? Ada apa?"berbalik menoleh ke arah Brian datang.


"Aku yang seharusnya bertanya,ada apa denganmu?"Brian mendekat,melihat dengan jelas wajah adik sepupunya tersebut.Sendu,tampaknya baru habis menangis,terlihat jelas dari hidungnya yang memerah,mungkin habis di tekan terlalu kuat.


"Jika ada masalah,katakan saja pada kakak mu ini,selagi aku masih disini!"


"Aku hanya ingin mencari udara segar,itu saja Kak!"


"Jangan berbohong!"Brian ikut berdiri di samping Sefi,memandangi gedung tinggi yang di hiasi lampu berwarna-warni.


"Aku kecewa pada diriku sendiri!"menunduk seraya menekan kembali hidungnya yang mungkin masih Mampet.Membuang tisu yang sudah kotor itu ke dalam keranjang sampah.Mata Brian mengikuti arah dimana Sefi membuangnya.Brian menggelengkan kepalanya saat melihat keranjang itu sudah penuh oleh tisu bahkan hampir tumpah,karena terlalu banyak.


"Ternyata kau jorok sekali.Apa kak Roni akan berubah pikiran untuk menikahimu jika melihatmu jorok begini"ternyata Brian bisa mengomel juga,ya.


"Apaan si,Kak Brian mau apa kemari"


"Kecewa karena apa?"perhatian Brian sejak Sefi masih kecil,memang sungguh luar biasa,mungkin karena Sefi adalah adik sepupu satu-satunya atau karena memang kenyataan Brian anak tunggal dari keluarganya,oleh karena itu Brian sangat menyayangi adiknya itu.


"Aku sudah salah menilainya,aku salah karena sudah menuduhnya membohongiku"ujar Sefi.


"Berbohong?"Sefi mengangguk pelan.


"Selama ini aku mengira kak Roni sudah menikah dengan Lidya,tapi kenyataannya,aku salah Kak!"mendengus dengan kasar.


"Salah paham kah?"Brian mengelus rambut Sefi dengan lembut.

__ADS_1


"Apa kau mau mendengar ceritaku?"ujar Brian.


"Cerita tentang apa?"Sefi memandang wajah Brian.


"Ceritanya panjang kali lebar,jika di ceritakan akan memakan banyak waktu.Padahal saat ini aku sangat lapar sekali!"ujar Brian dengan mengelus perutnya sendiri.


"Ayo kita makan malam bersama,setelah itu kakak akan ceritakan padamu semuanya"ujar Brian mengajak Sefi.


"Aku belum lapar,Kak !"


"Marahnya nanti saja di lanjutkan lagi,jeda dulu seperti iklan di tv."ujar Brian.


"Aku serius,belum lapar Kak!"Sefi menolak untuk makan malam bersama.


"Semua akan kelaparan,jika kamu belum ikut makan.Apa lagi dengan kak Roni,dia sejak tadi siang belum makan sedikitpun hanya karena ingin menepati janjinya padamu untuk makan siang bersama.Aku khawatir jika dia sampai tidak makan malam ini,perutnya akan kambuh lagi."


"Aku akan memberitahu sebuah rahasia,jika kamu ikut makan malam bersama kami!"Brian meninggalkan Sefi,keluar dari kamar itu seraya menghitung dengan jarinya.


"Rahasia apa Kak ?"seru Sefi namun dengan sengaja Brian tidak menoleh padanya.


"Satu,dua.."


"Tunggu,Kak. Aku ikut"Sefi berlari mengikuti Brian dari belakang.Brian menyunggingkan senyumnya saat Sefi sudah berada di sampingnya.


"Aku lapar"


"Tadi katanya tidak lapar?"


"Menyebalkan!"


"Hehehe"


Semuanya sudah duduk di kursi masing-masing.Mengambil makanan dan lauk di depan yang sudah tersedia.Tidak ada yang berbicara,hening,semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku ingin tertawa melihat mereka berdua,huhuhu..menggemaskan sekali !" Brian.


"Dulu aku pernah melihat pemandangan seperti ini, ketika menantu dan anakku bertengkar,sama persis.Tidak ada yang berbeda,seperti Jodi dan Lina waktu muda dulu.Ah,kenapa aku jadi ingat anakku yang brengsek itu" nenek Salma.


"Apa perang dingin akan di mulai,aku ingin tahu siapa yang akan menang? Sepertinya akan sangat seru jika mereka bergulat seperti pegulat. Aku membayangkan Sefi naik di tubuhnya,kemudian menghajarnya hingga terjatuh.Masih membayangkan saja,aku sudah tertawa"Kevin.

__ADS_1


"Putriku sekarang sudah dewasa,jika kamu ada didisini bersama kami,mas.Aku yakin semuanya akan bahagia dan masalah bisa kita selesaikan bersama"mama Lina.


"Aku bahagia,akhirnya putraku kelak akan memiliki adik perempuan,walaupun bukan dari mommy nya.Aku yakin istriku tercinta juga akan bahagia karena Bastian dan Cristian akan akur jika sudah memiiliki adik,Aku akan selalu mendoakan kalian berdua agar cepat menikah" Brian.


"Mengapa matanya memerah? Apa dia habis menangis? Aku bahkan tidak tega melihatnya bersedih.Aku juga salah,selama ini tidak pernah memberitahunya semuanya.Eh,tapi dia juga salah,mengapa sejak awal dia tidak pernah bertanya.?" Roni.


"Mengapa mereka semua memandangku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku. Aaaa,kenapa aku jadi malu sendiri?" Sefi.


"Aku sudah selesai"Sefi berdiri dengan mendorong sedikit kursinya dengan kakinya.


Semua serentak melihatnya,"Duduk,habiskan makanan mu"Roni mengelap mulutnya dengan tisu,kemudian menarik tangan Sefi agar duduk kembali.


"Huh"


"Sefi sayang,habiskan makanannya"kini pandangan Sefi beralih ke arah nenek Salma.


"Jangan buang-buang makanan,tidak baik loh"Sefi kembali duduk dengan sedikit menghentakkan kakinya.


"Kami sudah siap"nenek Salma mengajak Lina meninggalkan ruang makan.Mendorongnya dengan kursi roda,di ikuti oleh Brian dan Kevin mereka sengaja meninggalkan Roni dan Sefi berdua,agar memiliki ruang untuk berbicara berdua.


Kini tinggallah sepasang kekasih itu,duduk bersama namun tidak bersuara sedikitpun.Sefi menatap Roni dengan perasaan tidak menentu,takut salah jika mengatakan sesuatu,tapi jika tidak dia yang bicara terlebih dahulu,mau sampai kapan mereka akan diam.


"Kak"panggil Sefi dengan pelan.


Roni menoleh sesaat,tapi kemudian melanjutkan makannya.


"Maaf,aku yang salah"Sefi menunduk,Roni melihatnya kemudian menghentikan makannya.


"Lalu?"ujar Roni sedikit dingin.


"Hah ! Dia bilang lalu? Terus aku mau jawab apa?" berpikir untuk merangkai kata-kata apa yang akan di ucapakan.


"Begini"Sefi meremas tangannya."Aku menerima lamaran Kak Roni untuk menikah "dengan suara yang pelan,Sefi mengatakannya agar tidak ada yang mendengar selain mereka berdua.


"Aku berubah pikiran"


"Hah?"Roni berdiri,kemudian meninggalkan Sefi sendiri.


Sefi menutup mulutnya saat suara tangisannya hampir keluar,berlari menuju kamarnya dengan cepat.Menutup pintu kamarnya agar tidak seorangpun yang mendengarnya menangis.

__ADS_1


Malu,bercampur rasa sakit di hatinya hingga menusuk ke relung yang terdalam.


"Apa sebenarnya mau mu? Aku sudah menerima lamaranmu,tapi kau malah menolak ku? Beginikah rasanya di tolak?"


__ADS_2