Sefia Cinta Mati Ku

Sefia Cinta Mati Ku
Bab 78


__ADS_3

Roni tampak terdiam sambil berpikir,apakah dia pernah melakukan kesalahan pada Aliando,atau apakah Aliando merasa tidak puas atas kerja sama mereka.


"Aku lelah untuk berpikir"Roni bangkit berdiri sambil memasukkan tangan nya pada kantong celana nya.


"Bagaimana jika kau ikut aku,kita akan mendengar langsung pengakuan dari anak buah Jodi yang tertangkap tadi malam"saran Deka,karena tidak ingin sahabat nya itu larut dalam pikiran nya sendiri.


"Baiklah,aku akan ikut dengan mu"ucap Roni.Kemudian mereka berjalan menuju salah satu ruang khusus untuk introgasi. Roni melihat dari ruang yang berbeda,terlihat anak buah Jodi tampak di beri pertanyaan bersangkutan dengan kejadian malam itu.Tidak ada pengakuan yang memuaskan,semua jawaban berputar di tempat.Tidak ada yang tahu,dimana sekarang Jodi berada.


Mereka berdua saling pandang,"Deka,biarkan aku yang bertanya pada mereka"ucap Roni.


"Biarkan aku yang bertugas,kau tidak bisa bertanya pada mereka,karena ini bukan wewenang mu"cegah Deka.


"Lalu aku harus apa? Apa aku harus menunggu lagi?"Roni merasa marah,ingin sekali masuk ke dalam ruang introgasi dan menghajar anak buah Jodi hingga babak belur.


"Biar aku yang masuk"Deka akhirnya masuk dan bertanya sendiri.


Terlihat Deka melepas sabuk dari pinggangnya,berjalan mengitari anak buah Jodi sambil mengajukan pertanyaan. Suara datar nya mampu membuat anak buah Jodi semakin ketakutan.


"Jadi,tidak ada yang mau buka mulut? Apa kalian ingin bermain-main dengan ku?"Deka melayangkan sabuk nya pada salah satu anak buah Jodi.


Aakkkh


Meringis menahan rasa sakit,Deka bahkan semakin menggila memberi mereka pelajaran agar mau bicara.


"Masih belum mau bicara?"kini giliran pria yang berambut gondrong.Deka duduk sambil menghidupkan rokok nya,menghisapnya sebentar,kemudian menyulutkannya pada tangan pria itu.


Aaakkh


Pria itu menjerit saat api rokok itu membakar tangannya,"Baik,aku akan bicara"ucapnya sambil menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Katakan,dimana tuan mu membawa keluarga nya"tanya Deka.


"Tu--tu-tuan Jodi membawa keluarganya ke rumah kosong di daerah pegunungan"ucap pria itu.


"Katakan dengan jelas"seru Deka,sebab tidak puas dengan jawaban pria itu.


"Rumah mereka yang di daerah pegunungan.Tuan Jodi mengurung mereka disana"ujarnya lagi.


Deka keluar dari ruangan itu kemudian menemui Roni."Apa kau tahu tempat yang di maksud pria itu?"tanya Deka.


"Aku tidak ingat dengan pasti,tapi aku akan tanya Brian saja. Mungkin Brian tahu lokasi yang dia maksud"ucap Roni.Roni sendiri belum pernah mendengar jika Jodi Anggara memiliki rumah di daerah pegunungan.


"Kalau begitu aku akan pulang dan bertanya langsung pada Brian"Roni pamit setelah mengatakan hal itu.


Kerinduan dan rasa khawatir semakin membuat Roni tidak bisa mengendalikan dirinya.Roni melajukan mobil nya dengan kencang,hingga beberapa kali menerobos lampu merah.Mobil yang selalu mengikutinya sejak tadi juga tidak di hiraukannya lagi.Biarkan mobil itu mengikutinya,dan sampai dimana mobil itu mampu mengikutinya.Benar saja,kini mobil mewah itu tidak terlihat lagi.


"Bagaimana,apa ada informasi baru yang kalian dapat?"Wanda duduk di samping Brian.


"Pa,menurut perngakuan anak buahnya.Jodi membawa tante Lina ke sebuah rumah di daerah pegunungan. Masalahnya kami tidak tahu posisi rumah itu dimana? Sekarang polisi sedang mencari alamatnya"terang Brian.


"Apa mama masih ingat rumah yang di daerah pegunungan itu?"tanya Wanda pada Widya.Semua mata menatapnya,menunggu jawaban dari mama Widya.


"Apa mungkin mereka di bawa ke rumah lama kami.Rumah mama,nenek kamu Brian.Jika rumah itu yang mereka maksud,mama sepertinya tidak terlalu ingat jalan menuju kesana"ujar Widya.


Memang benar,Widya sudah melupakan rumah masa kecil nya yang penuh dengan derita.Di rumah itulah Widya dan Jodi di lahirkan dan tumbuh hingga usia remaja.Dan dirumah itu juga penderitaan mereka rasakan,kehilangan sosok ayah yang sangat di cintai.Widya tidak ingin kembali lagi ke rumah itu,sejak nenek Salma atau ibunya membawa mereka ke luar kota.


Apa mungkin rumah itu masih berdiri kokoh dan masih utuh.Mungkin saja tidak,karena rumah itu di tinggalkan sudah sangat lama.


"Jadi benar,jika di daerah pegunungan itu ada rumah yang mereka maksud?"tanya Roni dengan cepat.

__ADS_1


"Ma,beri kami alamatnya.Kami akan segera kesana"ujar Roni lagi.


"Mama tidak terlalu ingat.Papa,apa papa juga lupa? Papa sudah penah datang kesana juga,kan?"tanya Widya pada Wanda.


"Papa juga sudah lupa.Mama ingat-ingat lagi,mungkin saja nama daerah itu masih ingat"Roni tampak duduk dengan lemas saat tidak mendapatkan jawaban yang pasti.


"Roni sayang,ayo ikut mama ke rumah Sefi.Mungkin saja nenek masih menyimpan buku kecilnya disana"


"Buku kecil ? Bagaimana mama tahu jika nenek Salma masih menyimpan buku kecil itu?"Roni juga pernah melihat nenek Salma selalu membawa buku kecil kemana pun dia pergi,waktu itu Roni melihatnya,ketika pertemuan nya di rumah sakit.


"Karena mama sangat pelupa.Jadi mama selalu menulis apapun itu agar dia bisa ingat saat-saat yang bersejarah dalam hidupnya"sahut Widya.


"Aku ikut"Brian ikut berlari menyusul mama Widya dan Roni menuju mobil.


Tujuan mereka saat ini adalah rumah yang di tempati Sefi dan keluarganya.Roni duduk di belakang sambil berbicara melalui ponsel nya,dan Brian lebih memilih fokus untuk menyetir.


Dua puluh menit kemudian,sampailah mereka di rumah Sefi.Mereka masuk ke dalam rumah itu,Roni sempat bergeming,diam bagaikan sebuah patung manekin.Memandang rumah itu,rumah yang di berikannya pada sang kekasih di waktu mereka baru saja berpacaran dan saling mengutarakan perasaan masing-masing.


"Kak,ayo cepat. Mengapa hanya berdiri saja di situ"Brian berteriak sehingga membuat Roni tersadar.Roni kemudian mengikuti mama Widya dan Brian yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar nenek salma.


Mereka tampak mencari buku kecil itu,buku yang selalu di bawa nenek Salma kemana pun dia pergi.Mencari ke segala tempat di kamar itu.Membuka setiap lemari dan laci di kamar itu.Semua tampak berantakan karena mencari buku kecil itu.


"Ketemu. Apakah ini buku yang Mama maksud?"seru Brian dari arah tempat tidur.


"Benar itu bukunya. Kamu dapat darimana?"Widya menghampiri Brian.


"Dari bawah bantal"ujar Brian sambil terduduk di atas tempat tidur.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2