
Begitu sampai di rumah sakit,Sefi dan Brian langsung menuju ruang,dimana Roni sedang di tangani.Terlihat seorang dokter dan perawat tampak sibuk membersihkan luka juga memeriksa bagian tubuh Roni yang terluka.Dokter wanita itu melilitkan perban di perut Roni dengan tenang sembari memperhatikan wajah Roni yang tampan."Apa dia sudah menikah? Semoga saja dia belum menikah"gumam dokter itu sambil tersenyum.
"Dokter,keluarga dari pasien sudah tidak sabar untuk masuk. Apa saya sudah boleh mempersilahkan mereka masuk?"suara perawat itu membuyarkan lamunan dokter itu.
"Belum,tunggu beberapa saat lagi. Jika pasien ini sudah sadar,maka keluarga boleh melihatnya"ucap dokter itu sambil memperbaiki letak kaca mata nya yang bertengger sampai ke pangkal hidung nya.
"Bereskan semuanya,setelah itu kita keluar"ucap dokter itu pada perawat dan setelah membawa semua perlengkapan mereka akhirnya keluar.
"Dokter,apa kami boleh masuk?"Sefi langsung berdiri,begitu melihat dokter itu keluar.
"Apa dia pacarnya atau istrinya. Mana mungkin,sepertinya dia adiknya."
..."Bagaimana dokter? Apa kami boleh masuk?"tanya Sefi lagi....
"Adik manis,sabar yah kakak nya belum sadar. Tunggu sampai dia sadar,setelah itu baru boleh di lihat"ucap dokter itu dengan ramah.
"Heh"
"Dokter itu benar,kakak kita masih belum sadar,jika sudah sadar mana mungkin dokter melarang kita untuk melihatnya.Iya,kan dokter?"sahut Brian dengan cepat.
"Jadi benar,mereka adalah adik-adiknya." Dokter itu tampak tersenyum pada Sefi dana Brian.
"Dokter,ayo kita harus memeriksa pasien lainnya"ajak perawat yang sejak tadi ikut di belakang dokter itu.
"Nanti saya datang lagi untuk memeriksanya,jadi harap bersabar"setelah mengucapkan hal itu pada Sefi,dokter itu pun pergi ke ruangan lain.
Plak !
"Mengapa kak Brian tersenyum gitu?"Sefi kini menatap Brian dengan kesal.
"Adik manis,'kakak kita 'belum sadar,jadi belum bisa di lihat.Benarkan?"ucap Brian menekan kan kata 'kakak kita'.
"Ngak lucu Kak--"ucapan Sefi terputus saat suara wanita yang sangat di kenalnya memanggilnya.
"Sefia sayang"seru mama Lina tidak jauh dari mereka berdiri.Mama Lina datang bersama nenek Salma.Mereka menghampiri Sefi dan Brian.
"Mama.. Nenek?"Sefi langsung memeluk ke dua wanita itu.
"Sefi,apa kamu baik-baik saja. Papa tidak melukai mu,kan?"mama Lina melonggarkan sedikit pelukkan nya untuk melihat putrinya dengan jelas.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja,Ma.Bagaimana dengan kalian,apa semua nya baik-baik saja?"Sefi juga sangat menghawatirkan keluarga nya.
"Hanya kakak mu Reno yang mengalami patah tulang di kakinya,tapi jangan khawatir,kakak mu sudah di rawat di rumah sakit ini juga"ucap nenek Salma.
__ADS_1
"Kak Reno mengalami patah tulang? Bagaimana bisa!"Sefi terkejut mendengar kondisi kakak nya saat ini.
"Dia sempat melawan anak buah papa mu,tapi karena tidak seimbang,maka Reno terjatuh dari tangga dan akhirnya kakinya patah"jelas mama Lina.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Roni sekarang?"tanya mama Lina.
"Dia belum sadarkan diri,tapi dokter sudah memeriksanya"jawab Brian.
Mereka berbicara di luar ruangan Roni di rawat sampai menunggu dokter mengatakan bahwa mereka di perbolehkan masuk.Tepat jam sepuluh malam,dokter pun datang lagi untuk memeriksa Roni,dokter itu melewati Sefi dan Brian di luar dengan perasaan tersentuh.Mama Lina dan nenek Salma sudah kembali kerumah,mereka tidak mungkin menunggu Roni sampai sadar karena mereka harus menjemput kedua cucu perempuannya.Sementara Reno sudah di jaga oleh Lidya.
"Kedua adik nya saat baik dan perhatian,mereka rela menunggu sampai malam begini,bahkan sampai mengantuk" gumam dokter itu sambil masuk ke dalam ruangan Roni di rawat.
"Selamat malam,biar saya periksa yah"ucap dokter itu setelah melihat pasien nya sudah sadar.
"Dia lebih tampan jika sudah membuka matanya,apa lagi dia sempat tersenyum padaku"
"Dokter,apa keluarga ku ada di luar?"Roni berbicara sangat pelan.
"Benar,kedua adik mu masih menunggu di luar. Nanti akan di persilahkan masuk,setelah saya selesai memeriksa kamu"dokter itu menatap Roni sesaat,kemudian melanjutkan tugasnya.
"Baiklah,semuanya baik-baik saja,besok pagi saya akan mengganti perban nya lagi. Kalau begitu saya permisi."
"Tunggu dokter"
"Tidak,tapi tolong suruh mereka masuk"pinta Roni.
"Baiklah,saya permisi"Roni mengangguk saat dokter itu pamit.
"Dokter,apa kakak saya sudah sadar?"Brian langsung menghadang dokter itu.
"Kalian boleh masuk untuk melihatnya"
"Baiklah,terima kasih"ucap Brian,setelah itu dokter itu pun pergi.
"Sefi,bangunlah. Ayo kita masuk kedalam,kak Roni sudah sadar"Brian membangunkan Sefi yang tertidur di kursi tunggu.
"Apa kita sudah boleh masuk?"tanya Sefi.
"Iya,cepatlah adikku sayang"
Mereka berdua masuk dan melihat Roni sudah sadar.
"Kak"Sefi melihat kekasihnya itu dengan khawatir,ada beberapa perban yang melilit perutnya juga tangan dan dagu serta pelipisnya. Dia terlihat sangat kesakitan dan Sefi tidak sanggup melihat itu.
__ADS_1
"Brian,kau sudah melihat aku. Dan aku baik-baik saja,sekarang kau boleh pulang"ucap Roni begitu melihat Brian.
"Apa-apaan ini,aku baru saja masuk?"
"Katakan sama mama,jangan kahawatir. Aku sudah baik-baik saja. Pulang dan istirahatlah"ucap Roni lagi.
"Baiklah jika kau tidak ingin melihat ku datang menjemguk mu ya sudah. Aku pulang!"ucap Brian.
"Sefi,ayo kita pulang. Dia bahkan tidak menginginkan kita berada disini"ajak Brian pada Sefi.
"Eeeh,tunggu! Mengapa kau mengajaknya"cegah Roni.
"Apa lagi si. Tadi kau yang suruh kami pulang"ujar Brian.
"Dasar tidak peka. Kau saja yang pulang,mengapa bawa kekasih ku"ucap Roni.
Cih
"Bilang dari tadi kalau mau berduaan. Jangan banyak alasan biar aku pergi.Sefi sayang,jaga dia baik-baik yah. Kakak pulang saja,sepertinya kehadiran ku di sini tidak di inginkan"ucap Brian.
"Aku pulang"seru Brian sambil melambaikan tangannya pada Sefi.
"Hati-hati di jalan Kak"ucap Sefi.
Setelah Brian pergi dan menutup pintu,Roni pun memanggil Sefi untuk mendekat padanya.
"Sayang,kemarilah"Roni menepuk ruang kosong di sampingnya.
"Kak,apa perutmu sudah baik-baik saja.Bagaimana dengan lukamu,apa masih sakit?"Sefi mendekat ke arah Roni.
"Apa kamu menungguku di luar sejak tadi?"Roni balik bertanya pada kekasihnya.
Sefi menggangguk tanda mengiyakan,Roni mengusap rambut Sefi dengan lembut.
"Aku merindukan mu"ucapnya dengan pelan.
"Kak,luka mu belum sembuh"
"Perut ku yang terluka,sayang. Bukan bibirku"
"Kak"
Bersambung.
__ADS_1