
Sementara itu,Vani terlihat sangat marah pada orang suruhannya.Melalui sambungan telepon nya,Vani memaki dan membentak orang suruhannya itu.
"Dasar bodoh,tidak berguna.Apa kalian buta,sehingga tidak bisa mengikuti kemana mereka pergi?"sentak Vani ,rasa kesalnya sudah sampai di ubun-ubun.
"Bukankah,anda sendiri yang bilang,kalau kami akan mengirim foto apapun itu mengenai gadis itu.Lah,salah kami dimana?"ujar pria itu.
"Tentu saja kau salah,bodoh! Yang kau ambil foto ini adalah pria calon suamiku bersama gadis itu"ujar Vani.Berniat ingin adu domba antara Roni dan Sefi,malah mendapat foto-foto mesra mereka berdua di dalam mobil.
"Kami tidak mau tahu,sekarang cepat kirimkan bayaran kami,jika kau ingin selamat ketika pulang nanti."Pria itu sedikit mengancam Vani,namun yang namanya Vani tidaklah mudah di ancam oleh siapapun.
"Mimpi,satu sen pun tidak akan kau terima,dasar bodoh"umpat Vani,setelah itu dia memutuskan panggilannya.
"Bagaimana? Apa yang akan kita lakukan gadis sombong itu"ujar pria itu pada temannya.
"Kita akan tunggu sampai dia pulang"ujar temannya pria itu.
Sementara dua pria yang mengikuti Sefi sejak tadi,juga melaporkan hal yang sama pada tuannya.Dan kali ini berbeda,kedua pria itu malah mendapat amukan dan pukulan bertubi-tubi dari tuannya,karena mereka malah menguntit bukannya membawa Sefi ke hadapan tuannya.
"Dasar bodoh,kalian memang tidak punya otak apa,hah!"ujar pria itu setelah merasa puas menghajar kedua pria suruhannya itu.
"Aku menyuruh kalian mengikutinya kemudian membawanya kehadapanku,tanpa sedikitpun terluka.Dan sekarang dengan bodohnya kalian melaporkan jika putriku bersama anak angkat itu?"ujar Jodi Angara.
Ya,pria itu adalah papanya Sefi yaitu Jodi Anggara sang pemilik perusahaan Anggara Group.Sudah dua minggu ini,Jodi menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan keluarganya termasuk putri semata wayangnya Sefia Anggara.
Pria itu putus asa karena perusahaannya sudah mulai bangkut akibat kesalahannya sendiri yang tidak bisa menahan hasratnya untuk bermaian judi dan wanita malam.Jalan satu-satunya adalah mencari putrinya untuk menyelesaikan masalahnya dengan cara menikahkan Sefia pada pengusaha kaya,salah satu investor terbesar di perusahaannya.
Namun,sayangnya Jodi gagal mendapatkan putrinya karena kebodohan kedua pria suruhannya yang membiarkan mangsanya lolos begitu saja.Emosi Jodi semakin menjadi ketika dia tahu jika Roni anak angkat Wanda Alexander saat ini bersama putrinya.
"Sekarang kalian pergi,bawa istri dan ibuku pulang ke rumah ini.Katakan padanya jika aku menahan Sefi di rumah ini"perintah Jodi pada anak buahnya.
"Baik Tuan"ujar kedua pria itu serentak.
__ADS_1
Salah satu rencananya gagal,namun Jodi masih punya rencana lain.Jodi akan membuat Sefia datang sendiri ke rumahnya karena ibu dan neneknya ada di dalam gemgamannya.
"Ciih,kau hanya butiran debu yang tidak akan bisa mendapatkan intan berlian seperti putriku."Bicara pada diri sendiri,Jodi tersenyum kemenangan.
Masih di dalam mobil,Roni dan Sefi kini saling bertatapan.Mendalami isi hati masing-masing setelah Roni menghentikan ciumannya.
"Bibir mu ini semakin pintar saja melawan"ujar Roni seraya mengelap bibir Sefi dengan ibu jarinya.
Sefi tidak memutus tatapannya,terlihat Roni tersenyum simpul.
"Banyak sekali kata maaf darimu sejak tadi pagi,apakah kata maaf itu benar-benar tulus dari hatimu?"ujar Roni lagi.
Kata maaf yang di tulis Sefi sejak tadi pagi,menempelkannya di berbagai benda yang di lalui Roni.Mulai dari kaca lemari pakaian,pintu kamar mandi,cermin bahkan sepatu milik Roni yang di pakainya sekarang.Semua tertera kata maaf.
"Aku akan memaafkan mu dengan sebuah syarat"ucap Roni.
"Syarat apa?"sahut Sefi.
"Kita mau kemana? Bagaimana dengan pekerjaan hari ini"tanya Sefi.
"Kita akan menemui seseorang dan masalah pekerjaan ada begitu banyak pegawai dan staf di sana"ujar Roni.
Sefi turun dari pangkuan Roni,kembali duduk ke kursinya dan membenarkan posisi duduknya.
"Menemui siapa?"masih bertanya,karena Roni tidak langsung memberitahunya.
"Kejutan untukmu"ujar Roni.Roni kemudian melajukan kembali mobilnya.
Sebelum mereka pergi,Roni terlebih dahulu singgah di rumah sakit untuk menemui seseorang.
"Kak,kenapa kita jadi ke rumah sakit?"mulai lagi bertanya,karena Roni menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit.
__ADS_1
"Tenanglah,kita tidak akan pergi tanpa dia!"ujar Roni."Tunggu di sini,aku akan kembali secepatnya."Roni keluar dari mobil dan pergi masuk ke dalam rumah sakit.
Menunggu,beberapa saat kemudian muncul lah Roni dengan membawa sebuah tas,menggantung tas itu begitu saja di pundaknya.Sementara seorang wanita berjalan di sampingnya seraya mendorong troly anak kecil.Mereka berjalan bersamaan menuju mobil Roni di parkir.
"Lidya?"menatap mereka dari jendela mobil yang memang terbuka sejak tadi.Jantung Sefi berdetak dengan cepat.
"Mengapa kak Roni mengajak Lidya dan anaknya?"pikir Sefi.
"Hai Sefi,ternyata kamu ikut yah"Lidya menyapa Sefi sementara Roni tengah membukakan pintu untuk Lidya di kursi belakang tampak tersenyum melihat wajah Sefi yang bingung.
"Hai juga Kak Lidya!"sahut Sefi dengan ragu.
"Lidya kau duluan masuk,biar aku yang angkat trolynya Sintia"ujar Roni.
Lidya masuk ke dalam mobil setelah mengangkat Sintia dari trolynya.Roni kembali menutup pintu mobil,kemudian memasukkan beberapa tas Lidya ke dalam bagasi.
"Apa anakmu sedang sakit?"bertanya namun tidak menoleh ke belakang,Sefi hanya melirik Lidya dari kaca spion.Rasa canggung itu mungkin masih ada,walaupun Sefi sudah mengetahui segalanya.Atau rasa cemburu yang tidak sesuai pada porsinya,apalagi saat melihat Roni sangat perhatian pada Lidya dan anaknya.
"Seminggu yang lalu Sintia di operasi,tapi sekarang sudah mulai baikan karena itu dokter memperbolehkan kami pulang."Lidya menjawab Sefi namun melihat Sintia yang tertidur pulas.
"Baiklah semuanya sudah siap.Kita berangkat sekarang,"ujar Roni.
Mobil di nyalakan kembali,mereka siap untuk mengantar Lidya pulang.Sebenarnya Lidya menolak tawaran Roni untuk mengantarnya pulang,namun karena ada suatu alasan yang sangat penting maka Lidya mau pulang dengan di antar oleh Roni.
Lidya sudah memberitahu suaminya agar tidak lagi menyusulnya ke rumah sakit,karena putri mereka sudah baik-baik saja bahkan biaya pengobatannya sudah di tanggung seseorang.Namun Lidya tidak memberitahu suaminya,siapa yang sudah membantu biaya pengobatan Sintia.
"Sayang,apa kamu baik-baik saja?"Roni menggemgam tangan Sefi.Roni khawatir Sefi akan kecewa lagi padanya,karena tidak memberitahunya lebih dulu jika Lidya akan ikut bersama mereka.
"Iyah,aku baik-baik saja,"sahut Sefi dengan berusaha tersenyum.
"Kapan kalian akan menikah?"tanya Lidya dari belakang.Lidya sempat menangkap raut wajah Sefi yang tidak bersahabat dengannya.Untuk menghilangkan rasa canggung itu,Lidya berusaha mengajak Sefi dan Roni berbicara.
__ADS_1
"Doakan saja,kami akan menikah secepatnya"ujar Roni.Tersenyum melihat kegugupan Sefi.Mereka berbicara seolah-olah tidak terjadi sesuatu.