
"Brian? Kevin? Kalian ada di sini !"Vani meletakkan gelas dari tangannya di meja dan menghampiri Brian dan Kevin yang baru saja keluar dari kamar Roni.
"Sejak kapan kalian datang?!"tanya Vani yang masih terkejut dengan keberadaan mereka berdua,Vani mengikuti Kevin dan Brian yang ingin duduk di kursi.
"Tadi malam"Kevin menjawab sembari menarik kursi kemudian duduk.
"Berikan aku air"pinta Brian pada Vani dan langsung saja Vani bergegas mengambilkan air minum dan memberikannya pada Brian.
"Kenapa kamu di rumah Roni? Apa kamu tidak bekerja?"tanya Brian setelah meneguk air minumnya sampai habis.
"Seperti biasa kami akan berangkat bekerja bersama kak Roni,tapi setelah menyiapkan sarapannya!"ujar Vani sedikit berbohong,karena Roni tidak pernah memintanya untuk menyiapkan sarapannya setiap pagi karena sudah ada bi Mirna yang menyediakan sarapannya.
"Hebat juga dia sekarang!"ucap Kevin seraya melirik Vani dengan senyum yang tidak bisa di tebak.
"Ada yang spesial menyiapkan sarapannya dan juga membangunkannya,benarkah begitu Brian?"ujar Kevin lagi.
"Benar sekali"ucap Brian.
"Tapi,kenapa mereka belum keluar juga? Apa yang sedang mereka lakukan?"ujar Kevin seraya menatap pintu kamar Roni yang masih tertutup.Vani mengepalkan tangannya seraya menatap tajam ke arah yang sama.
"Mungkin saja mereka mengabulkan permintaanku tadi?"jawab Brian seenaknya.
"Permintaan apa?"tanya Vani dengan cepat.
"Rahasia"ujar Brian dan semakin membuat hati Vani bergemuruh.
"Gerah sekali,aku mau mandi dulu"ujar Brian kemudian pergi mandi ke dalam kamar tamu.
"Bi Mirna,panggilkan Roni dan Sefi,aku juga akan mandi dulu"ujar Kevin.
"Biar aku saja yang panggil mereka"Vani dengan cepat menarik tangan Mirna yang ingin pergi memanggil Roni dan Sefi.
"Awas saja jika kau berani merebut Roni dari ku"umpat Vani seraya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Roni.
"Kak,bolehkah aku keluar lebih dulu.Aku takut kak Brian akan mikir yang bukan-bukan tentang kita nanti!"ujar Sefi merasa takut.Sefi tidak boleh keluar dari kamar itu sebelum Roni selesai mandi dan bersiap.
"Kita akan turun bersama,biarkan mereka menunggu!"ujar Roni seraya memakai kemeja nya kemudian melingkarkan arloji nya di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Bantu aku untuk mengancingkan kancing kemejaku"ujar Roni berdiri di hadapan Sefi.
"Senyumnya tadi sangat menjengkelkan,aku takut kak Brian akan terlebih dulu memberitahu semuanya sama keluarga kita"ujar Sefi sambil mengancingkan kemeja Roni.
"Biarkan saja,itu bahkan lebih baik!"ucap Roni sambil menatap wajah Sefi.
"Aku serius Kak!"ujar Sefi membalas tatapan Roni padanya.
"Aku bahkan sangat serius"Roni mengecup kedua kelopak mata indah itu,Sefi memejamkan matanya mengikuti nalurinya.
Berawal dari kecupan,kini sudah menjalar ke seluruh wajah dan bibir Sefi bahkan Roni menyelusuri leher jenjang mulus itu.Meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di sela-sela kecupannya.Meringis dan mendesah keluar begitu saja dari bibir Sefi di saat Roni menyesapnya sedikit lebih kuat.Entah mengapa setiap berduaan dengan wanita yang di cintainya itu,hati Roni selalu ingin memilikinya seutuhnya.
"Jika seperti ini terus,aku akan sangat tersiksa"ujar Roni setelah selesai dengan ritual paginya.Merangkup wajah Sefi dengan kedua tangannya,kemudian melahap bibir itu kembali lebih lama lagi bermain dan saling bertukar saliva satu sama lainnya.
Tok
Tok
Tok
"Kak Roni?! Sarapan sudah siap ! Cepatlah kita akan terlambat ke kantor!"teriak Vani dengan keras sembari mengetuk pintu kamar Roni.
"Kak"Sefi menghentikan Roni dengan sedikit mendorongnya agar memberi jarak pada mereka.Sefi melihat ke arah pintu yang tertutup dimana asal suara itu berada.
"Sial"umpat Roni dengan nada kesal.
"Ayo kita keluar"ajak Sefi dan dengan terpaksa Roni mengikutinya sembari membawa tas dan berkas-berkasnya.
"Kenapa kalian lama sekali?"tanya Vani setelah pintu di buka oleh Sefi.
"Kenapa kau banyak tanya? Ayo cepat kita sudah terlambat"ujar Roni sambil berjalan dengan cepat.
"Kamu mau kerja atau tidak?"bentak Roni di saat Vani masih berdiri di tempatnya semula.
"Waow ! Kalian lama sekali"ujar Brian yang sudah terlebih dulu duduk di kursinya menunggu Roni dan Sefi untuk sarapan bersama.
"Apa kalian jadi membuatnya?"tanya Kevin.
__ADS_1
"Baru saja mulai menyicilnya lansung datang gangguan"ujar Roni dengan kesal.Mata Sefi membola mendengar ucapan Roni.Namun,Vani hanya menyimak dengan bingung pembicaraan mereka yang tidak bisa di tebaknya.
"Sefi?"panggil Brian.
"Iya kak!"jawab Sefi dengan cepat.
"Apa kamu tidak rindu sama kakak mu ini!"ujar Brian sambil berdiri dan membentangkan kedua tangannya.
"Kak Brian!"Sefi menghampiri Brian dan memeluknya.
"Jangan lama-lama pelukannya!"Roni menatap Sefi dengan tajam.
"Sepertinya mereka akrab sekali ! Apa Sefi ada hubungan keluarga dengan Brian?"batin Vani seraya melihat keakraban antara Brian dan Sefi.
"Adikku yang manja dan matre,apa kabarmu sayang!"Brian sengaja memeluk Sefi lebih lama agar dapat melihat ekspresi dari wajah kak Roni.
"Adik? Brian memanggilnya adik? Adik dari mana? Bukankah Brian anak tunggal om Wanda?"banyak pertanyaan bermunculan di benak Vani saat ini.
"Tidak ada yang baik-baik saja Kak!"ucap Sefi dengan pelan.
"Kamu adalah penyemangat untuk tante Lina saat ini,jadi kamu harus kuat.Jangan mudah menyerah untuk hal apapun."ujar Brian dengan pelan juga.
"Kakak sudah tahu semuanya"ujar Sefi seraya menghapus air matanya.
"Ya,Kakak sudah tahu semuanya.Tapi Kakak ingin melihat bagaimana perjuanganmu.Kakak janji akan membantumu menyelesaikan semuanya dengan cepat."ujar Brian dengan tersenyum.Sebenarnya tidak ada satu pun yang luput dari pantauan Brian jika ada salah satu keluarga yang memiliki masalah,namun ia memilih untuk tidak terlalu ikut campur selagi yang punya masalah tidak meminta bantuannya.
"Sekarang Kakak sangat yakin padamu,jika adik Kakak yang satu ini sudah dewasa untuk memikirkan kepentingan keluarga dari pada diri sendiri!"ujar Brian lagi.
"Terima kasih Kak"ucap Sefi.
"Ehem"Roni memberi kode keras agar Sefi dan Brian melepas pelukan mereka.Dan sontak saja Brian langsung melepas Sefi dan menatap Roni yang sudah merasa kesal.
"kalian bicara apa?mengapa bisik-bisik berdua saja!"ujar Kevin.
"Tidak ada,hanya melepas rindu saja!"ujar Brian kemudian duduk di samping Roni.
"Sefi,Vani kalian juga duduk! Kita sarapan bersama!"ujar Brian lagi seraya melihat kedua wanita itu yang masih berdiri di tempatnya.Sarapan berlangsung dengan sunyi senyap tidak ada lagi pembicaran terdengar hanya suara denting sendok yang berpadu sesekali.Namun,hati mereka penuh tanya terutama di dalam hati Vani yang terdalam.
__ADS_1
Terima kasih.