Sefia Cinta Mati Ku

Sefia Cinta Mati Ku
Bab 57


__ADS_3

Masih di dalam mobil,tampak hanya Roni yang fokus menyetir.Sementara Sefi memilih memejamkan matanya,mulai pusing,mungkin mabuk mobil.Namun Lidya lebih sibuk dengan menenangkan Sintia yang mulai rewel,gerah atau merasa tidak nyaman tidur di dalam mobil.


"Lidya,mungkin anakmu sudah lapar"ujar Roni seraya menoleh ke belakang sebentar.Mengingat sudah waktunya makan siang, perutnya saja sudah lapar apa lagi anak seusia Sintia pikir Roni.


"Iya kau benar,Sintia pasti sudah lapar"sahut Lidya.


"Kita akan singgah di resto terdekat,kasihan anakmu rewel terus"ujar Roni.


Roni memperlambat laju mobilnya sambil melihat sekitar yang di laluinya,mungkin saja ada resto atau rumah makan.


"Oke,itu restonya.Sintia sayang sabar yah,paman Roni akan parkirkan dulu mobilnya"ujar Roni mengajak Sintia bicara agar tidak rewel lagi.


"Susu,Tia mau susu,Ma"celoteh Sintia.


"Iya sekalian Mama buatkan susu buat Sintia"sahut Lidya.


Mobil sudah di parkir dengan aman,Lidya keluar membawa putrinya masuk terlebih dahulu.Roni membangunkan Sefi yang benar-benar sudah tertidur.


Muuach


Satu kecupan mendarat di bibir Sefi,hingga membuatnya terbangun.


"Kak,kenapa berhenti.Apa kita sudah sampai?"tanya Sefi.


"Kita singgah sebentar karena Sintia rewel sekali.Ayo kita susul mereka"ujar Roni.


Sefi dan Roni keluar dari mobil,sementara Lidya tengah membuat susu untuk Sintia.


"Aku sudah pesankan makanan,kalian duduklah"ujar Lidya pada Sefi dan Roni yang baru saja datang menghampirinya.


Sefi duduk di samping Lidya karena pandangannya tertarik pada Sintia yang tengah minum susu,memegang sendiri botol susunya seraya memandang ke arah Sefi juga.Satu tangannya melambai ke arah Sefi,seolah mengatakan hai tante cantik.


"Sudah berapa tahun usianya?"tanya Sefi namun tidak melepas pandangannya. Baru ini dia jelas melihat wajah sintia dengan jarak yang sangat dekat.


"Cantik sekali,apa lagi matanya.Mirip seperti kakak.Eh,apa yang aku pikirkan." batin Sefi.


"Sudah empat tahun lebih"jawab Lidya.


"Boleh aku memangkunya"entah naluri atau mungkin karena menyukai anak kecil,Sefi berharap Sintia mau di pangku olehnya.Dan benar saja,ketika Sintia mendengar hal itu spontan botol susu yang menempel di mulutnya langsung di lepas begitu saja,kemudian membentangkan tangannya menghadap Sefi.

__ADS_1


"Tentu saja"ucap Lidya.


"Tante cantik,Tia mau di gendong"ucapnya dengan senang.


"Wah,sepertinya kalian sudah sangat dekat"ujar Roni senang,karena Sefi pujaan hatinya itu mudah dekat dengan anak kecil.


Sintia duduk di pangkuan Sefi dan kini mereka berdua tengah bercerita,mungkin saling mengenal satu sama lain.


Roni dan Lidya memandang kedekatan mereka dengan senang sambil menikmati makan siangnya.


"Sayang,kamu tidak makan?"tanya Roni. Namun Sefi hanya menggeleng.


"Kenapa tidak makan,nanti kamu masuk angin.Perjalanan kita dua jam lagi baru sampai"ujar Lidya.


"Baiklah,Sintia makan juga ya,biar tante suap"ucap Sefi.Kedua orang itu merasa di cuekin,kini Sefi hanya fokus meladeni Sintia bicara dan sesekali memasukkan makanan ke dalam mulut Sintia.


"Tante mirip sama papa Sintia juga sama adek Lili"celoteh Sintia di akhir suapannya.


"Benarkah? Kalau begitu Tante jadi ingin ketemu sama papa Sintia juga adik Lilinya"sahut Sefi terkekeh.Mungkin yanga ada di dalam pikiran Sefi saat ini adalah anak kecil mimpi dan khayalannya memang sangat tinggi.


Makan siang sudah usai,bahkan Sefi sudah memborong berbagai makanan dari supermarket yang tidak jauh dari resto tersebut. Dan kini mereka kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan.


"Yang ini sakit sekali Tante,pelut Tia di jahit,Lalu tangan ini di suntik pake jalum."Cerita Sintia panjang lebar.Kini Sintia memilih duduk di pangkuan Sefi.


"Sakit banget yah"ucap Sefi seraya mengelus tangan yang di tunjukkan Sintia padanya.


"Mama juga nangis-nangis lihat Tia bobok"ujarnya lagi.


"Kok bisa tahu kalau mamanya nangis,tapi Tia kan lagi bobok"sahut Sefi.


"Tia pula-pula bobok,Tante"ujar Sintia tertawa sambil melirik mamanya ke belakang.Semua ikut tertaw mendegar cerita Sintia.


"Sintia tahu tidak"tanya Sefi."Nama kamu seperti nama kakak ipar"ujar Sefi.


Sintia menggeleng,"kata mama,papa yang beri nama Sintia."


"Kak Lidya kenapa memberinya nama Sintia lalu di panggil Tia.Kan aku jadi rasanya tidak sopan memanggil nama kakak iparku sendiri"tanya Sefi.


Tanya saja sama kakakmu,seolah tatapan Lidya mengatakan hal itu.Tapi mana dia berani.Lidya hanya tersenyum,tahu nama siapa yang di sebut Sefi.

__ADS_1


"Sayang,kalau kita nikah kamu mau punya anak berapa?"tanya Roni.Berusaha masuk ke dalam pembicaraan Sefi dan Sintia.


"Ngak nyambung"Sefi menatap Roni sesaat,kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Sintia.Roni tertawa melihat ekspresi wajah Sefi yang kesal padanya.


"Tapi aku mau kita punya anak empat"masih berusaha menggoda Sefi.


Plak !


Satu tepukan mendarat di lengan Roni,masih tertawa,gemas pikirnya.Lidya ikut tersenyum di belakang melihat kemesraan dua insan di depannya.


"Satu laki-laki dan tiga perempuan"


Plak !


"Tante jangan pukul pamannya,kata papa kita tidak boleh pukul teman"ujar Sintia,menarik tangan Sefi agar memeluknya saja.


"Papamu orang yang baik ya!"ujar Sefi.


"Tentu saja,papa olang yang paling baik sedunia"membentangkan kedua tangannya,memuji kebaikan papanya.


"Tante ikut ke lumah Tia yah,biar lihat papa sama adik Lili"ujar nya lagi sambil bergelayut manja,mencari posisi yang tepat untuk menyandarkan kepalanya.


"Mau tidur?"Sefi menunduk melihat mata Sintia yang mulai sayu.


Sintia mengangguk kemudian memejamkan matanya.Sefi mengelus kepala Sintia dengan lembut hingga membuat gadis mungil itu terlelap seketika.


"Biar aku saja yang pangku dia"ujar Lidya karena tidak ingin Sefi terganggu.


"Tidak apa-apa.Aku bisa memangkunya"ucap Sefi.


Hening,tidak ada lagi suara Sefi dan Sintia karena mereka sama-sama sudah terlelap.Memeluk Sintia dalam dekapannya,seolah takut jika Sintia akan terjatuh.


"Ikatan batin memang tidak bisa di bohongi,mereka cepat sekali dekat,bahkan masih hitungan jam saja"ujar Lidya.


"Kau benar Lidya,Sefi akan mengetahui kebenarannya ketika sudah sampai nanti"ujar Roni.


"Semoga dia bisa menerima kehadiran ku.Semua ini terjadi karena kesalahanku"ujar Lidya.


"Jangan menyalahkan diri sendiri,tidak ada yang salah.Semua tergantung pada pemikiran masing-masing.Kau percayalah pada dirimu sendiri kalau semua ini akan berakhir dengan baik.Semuanya akan menerimamu dengan baik"ujar Roni.

__ADS_1


__ADS_2