
Jangan lupa,kasih like sama komennya.
Pagi hari menjelang,udara pagi masih terasa sejuk,burung -burung berkicau dengan riang bahkan mentari pagi di ufuk timur menyambut dengan tersenyum.
Seperti biasa,Sefi sudah berangkat ke rumah Roni untuk mengerjakan tugasnya.Ya,tadi malam Roni pulang sudah larut malam,setelah menyakinkan Brian dan Kevin pulang dengan selamat ke kota tempat mereka tinggal.
Dengan ragu,Sefi mengetuk daun pintu kamar Roni,rasa canggung muncul begitu saja ketika Sefi memasuki kamar itu.Menekan tirai agar terbuka,ternyata sang empunya kamar masih tertidur pulas.Cahaya mentari masuk ke dalam kamar,berhasil membangunkan Roni karena silaunya.
Aku tidak berani untuk membangunkannya,mungkin dengan membiarkan cahaya masuk,kak Roni akan bangun sendiri.
Menatap Roni yang mulai menggeliat,menendang selimutnya dan mulai meraba-raba nakas di masih bisa terjangkau oleh tangannya.Sepertinya dia mencari sesuatu.Sefi berlalu begitu saja,masuk keruang ganti untuk menyiapkan pakaian kerja Roni.
"Tutup kembali tirai jendelanya,"ujar Roni dengan memicingkan matanya,kemudian menarik selimut kembali agar menutupi seluruh tubuhnya.
Sefi yang tengah menyiapkan pakaian di ruang ganti,kembali menghampiri Roni ke tempat tidur.
"Kak,"panggil Sefi seraya menggoyangkan bahu Roni.
"Kak...bangunlah ! Sudah jam tujuh lewat sepuluh menit,"kembali menggoyangkan bahu Roni,namun dengan sengaja Roni tidak menyahutnya.
Terdengar helaan napas panjang,tidak ada pergerakan sedikitpun.Dengkuran halus terdengar,mungkin memang Roni kembali melanjutkan tidurnya.
Apa dia masih marah? Atau apa memang dia masih mengantuk? Pulang jam berapa rupanya dia semalam.
Sefi keluar dari kamar meninggalkan Roni yang masih tertidur.Tidak mungkin menunggunya,sementara pekerjaannya di kantor sudah menumpuk.Vani sejak tadi sudah menghubunginya agar Sefi cepat datang ke kantor.
"Bi Mirna,jika kak Roni sudah bangun,katakan padanya aku sudah pergi ke kantor,"ujar Sefi seraya mengambil tasnya yang terletak di atas meja makan.
"Tapi Non,siapa yang akan membangunkan tuan?"Sefi menghentikan langkahnya,menoleh ke arah bi Mirna.
__ADS_1
"Dia akan bangun sendiri,"Sefi pergi begitu saja meninggalkan bi Mirna yang sedang menata sarapan di meja makan.
Mengendarai motor kesayangan kakaknya Reno,Sefi melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.Beberapa kali menyalip pada kendaraan di depannya.Berburu waktu yang hampir menunjukkan pukul delapan.
Suara klakson roda dua maupun roda empat terdengar bersautan,Sefi berhenti di persimpangan lampu merah,membuka sedikit kaca helm nya,memberi ruang pada wajahnya agar terkena sedikit udara.
Tanpa di ketahuinya,dua orang pria berhasil mengikutinya dan memperhatikannya dari mobil yang berjarak sedikit darinya.
"Apa dia orangnya? Gadis itu yang kita cari selama ini,"membuka kaca mobil,seraya melihat ke arah Sefi.
"Lapor pada tuan,jika kita sudah menemukannya,"ujar seorang pria yang berpakaian biru tersebut pada teman di sampingnya.
"Siap !"pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ikuti dia,"lampu merah sudah berganti,satu persatu kendaraan mulai berjalan.
Seperti yang sudah di duga,Vani sudah berdiri menatapnya dengan wajah kesal.Menunjuk jam di tangannya,seolah mengatakan,sudah jam berapa ini.Beruntung Dini juga ada di antara mereka,hingga Vani tidak leluasa meluapkan kekesalanya.
Meletakan berkas dengan kasar di atas meja,Vani menatap Sefi tidak suka.
"Karena kehadiranmu,aku tidak di perbolehkan lagi oleh kak Roni untuk menyiapkan sarapannya setiap pagi,"sentak Vani dengan kesal.
Ternyata beberapa hari yang lalu,Roni menegur Vani lagi untuk tidak memaksakan diri melakukan yang bukan kewajibannya.
"Bukan salahku jika kak Roni melarangmu melakukan itu."Sefi sekarang sudah mulai berani menjawab perkataan Vani,karena menurutnya tidak ada yang perlu di takuti dari Vani.
"Sudah mulai berani kamu sekarang sama saya."Vani sedikit menaikkan suaranya lebih tinggi.
"Bu Vani... jangan ganggu aku,pekerjaanku sangat banyak."Sefi tidak peduli pada Vani yang mulai memancing permusuhan dengannya.
__ADS_1
Pikirannya cukup kacau saat ini,dan Sefi tidak ingin masalah bertambah lagi dalam hidupnya,hanya karena Vani .Oleh sebab itu,Sefi memilih untuk menghindari masalah dengan Vani.Tapi yang namanya sudah terlanjur kesal,atau mungkin karena cemburu,Vani semakin berusaha mencari kesalahan Sefi.
"Hari ini kamu pergi temani pak Redist rapat ke perusaan Anggara Group,"ujar Vani.Jebakan apa lagi yang akan di lakukan wanita itu,untuk membuat kesalahpahaman Roni dengan Sefi semakin bertambah.
"Anggara Group?"sentak Sefi dengan terkejut, Sefi sangat mengenali nama peruaahaan itu.Apa perusahaan Roni bekerja sama dengan perusahaan papanya.
"Jangan banyak alasan kamu,cepat bawa berkas ini ke ruangan pak Redist."Melempar senyum dengan penuh kemenangan.Vani kembali duduk dengan santai seraya memperhatikan Sefi yang mulai kebingungan.
Aku yakin,kau tidak akan bisa menjelaskannya nanti.Cih,mana mungkin kau bisa mempelajari berkas itu selama satu jam.Sefia,tamatlah riwayatmu hari ini,karena pekerjaanmu itu tidaklah mudah.
Setelah Sefi keluar,Vani mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Jika dia sudah keluar,kalian harus mengikutinya.Dan ambil foto nya sebanyak mungkin.Kalian sudah paham,apa yang harus kalian lakukan."ujar Vani pada seseorang.
Senyum Vani mengembang,akhirnya rencana kedua akan berjalan dengan baik.Beruntung Roni tidak ada di kantor,sehingga Vani dengan mudahnya memperalat Sefi.Namun,sayangnya senyum itu tidak berlangsung lama.Dini datang mencari Sefi atas suruhan Roni.Kalang kabut,Vani panik seketika.Mencari alasan yang tepat,agar Vani bebas dari kesalahan yang sudah di lakukannya.
"Bu Dini,tolong sampaikan pada kak Roni,jika Sefi memaksa untuk pergi rapat hari ini.Perutku sakit sekali,aku tidak bisa menemuinya."ujar Vani,dalam sekejam ia sudah menghilang,tahu-tahu sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Lagi-lagi kau memperalatnya,kan? Aku yakin semua ini ulahmu.Sefi tidak akan pergi jika tidak kau yang menyuruhnya."kesal,karena sebenarnya tugas Vani lah yang akan menghadiri rapat hari ini.
Dini kembali ke ruangan Roni,mengetuk pintu kemudian masuk menghadap Roni.
"Sefi pergi rapat hari ini dengan pak Redist ke perusahaan Anggara Group."Dini menunduk,takut jika melihat Roni marah.Ketakutan Dini terjadi,saat berkas di meja di lempar begitu saja tepat ke hadapannya.
"Siapa yang sudah menyuruhnya pergi kesana? Bukankah ini sudah menjadi tugas mu atau Vani?"menatap Dini dengan marah.
"Sial !" Roni keluar dari ruangannya dengan terburu-buru seraya berusaha menghubungi seseorang.
"Jangan sampai Sefi mengetahui semuanya,bisa berantakan rencanaku." Menyetir sendiri dengan kecepatan maksimal.Rencana sudah sudah di buat secara matang,jangan sampai Jodi melihat kehadiran Sefi di perusahaannya.Atau malah sebaliknya,jangan sampai Sefi tahu jika Roni berusaha mengambil perusahaan papanya.
__ADS_1