Sefia Cinta Mati Ku

Sefia Cinta Mati Ku
Bab 41


__ADS_3

Happy reading..


Jangan lupa kasih like,vote serta komennya setelah selesai membaca yah !


"Kak,kenapa sepi sekali tempat ini"Sefi menatap sekeliling resto tersebut dengan rasa kagum karena dekorasinya,namun ia juga bingung kenapa resto secantik dan semegah ini sepi pengunjung.


"Entahlah,mungkin saja belum pada lapar.Makanya orang-orang belum pada makan malam"jawaban asal,mana mungkin ia jujur sudah memesan tempat itu khusus untuk mereka berdua saja.


"Oh gitu yah!"ujar Sefi.


"Jika aku tahu tempatnya semegah ini,maka aku akan ganti pakaian layaknya seorang putri dari negri dongeng.Ah..apa yang aku pikirkan.Ini hanya makan malam saja.Pakaian kerja putih dan hitam..lucu sekali aku ini.Aku bahkan tidak mempersiapkan apapun untuk kencan pertama ku.Bodoh sekali aku ini...Aku bahkan belum mandi.Hehehe !" bergumam pada diri sendiri sembari memperhatikan sekelingnya dengan kagum.


"Kak"


"Aku sudah bilang,jangan panggil aku kakak"


"Oh baiklah,sayang!"


"Apa apa?"


"Aku mau ke toilet"


"Apa perlu aku temani"


"Tidak perlu,aku bisa sendiri!"


"Aku sangat gugup.Mulutku seakan sulit untuk berbicara,bahkan otakku tidak bisa berpikir dengan jernih."Sefi membasuh tangannya seraya menatap pantulan dirinya di cermin.


"Tidak apa,begini juga sudah cantik"pujinya pada diri sendiri sembari merapikan rambutnya.Kencan pertama yang menurutnya unik,biasanya sepasang kekasih akan pergi berkencan dengan berdandan terlebih dahulu.


"Kenapa lama sekali"Roni menatap Sefi yang melemparkan senyum padanya.


"Antrinya panjang Kak..eh sayang"ujar Sefi sembari menarik kursinya tempat duduknya semula.

__ADS_1


"Apa panjangnya seperti mengantri sembako"ucap Roni sambil meletakkan makanan di atas piring Sefi.


"Hehehe ! Ngak juga"Sefi terkekeh sambil menahan tangan Roni yang ingin membuat makanan di piringnya hampir penuh.


"Kamu harus makan yang banyak karena aku melihat tubuhmu semakin kurus!"ujar Roni.


"Tapi ngak kayak gini juga sayang"ucap Sefi,rasa laparnya mendadak hilang saat melihat makanan di atas piringnya seolah bisa di lompati kucing.


"Emang di kira aku apaan,makan segini banyak! Bisa meledak nanti perutku"batin Sefi.


"Kenapa cuma di lihat ? Makanlah !"ujar Roni.


"I-iya "Sefi memasukkan suapan pertamanya di iringi tatapan dan senyuman Roni terlihat senang.


"Aku akan membuatmu makan banyak setiap hari,biar cepat gemuk dan berisi"ucap Roni.


"Hah ?! Uhuk-uhuk-uhuk !"Sefi tersendat saat Roni mengucapkan hal konyol itu.


"Pelan-pelan saja makannya.Makanannya masih banyak kok!Ngak akan ada yang ambil makananmu.Semua yang tersedia hanya untuk mu seorang."ucap Roni sembari memberi segelas air minum.


*


*


*


Disisi lain.


Reno dan Lidya tengah di gundah gelisah sebab anak pertama nya yang bernama Sintia tengah sakit parah.Tubuhnya semakin lama semakin kurus,entah sakit apa yang di derita anak itu.


Apakah alam semesta yang memaksanya untuk membayar karma ? Membayar kesalahan yang telah di lakukan oleh kedua orang tuanya.Sehingga ia harus menderita seperti ini ! Kalau iya,kenapa alam semesta begitu kejam padanya?


Ada kisah di balik nama indah itu'Sintia'nama yang di berikan Reno pada putri pertamanya di saat ia masih belum menerima kehadiran Lidya dalam hidupnya.

__ADS_1


Lidya paham betul,bahkan ia tidak protes saat Reno memberikan nama itu pada putri pertama mereka.Tia nama belakang Sintia menjadi panggilan sehari-hari nya pada putrinya itu.Mungkin kenangannya dulu sulit untuk di lupakannya sehingga ia memberi nama putrinya hampir sama dengan nama mantannya.Egois,bukan?.


Sakit tidak ?!Tentu Lidya sakit hati.Namun,ia tidak bisa berbuat apa pun saat Reno memberikan dua pilihan padanya.Antara di ceraikan saat sudah melahirkan atau ia harus memberi Reno hak sepenuhnya untuk memberi nama pada putri mereka.Pilihan yang simpel,namun sangat berat.


Tapi itu dulu.Perjuangan Lidya saat itu memperjuangkan cinta dan pernikahannya kemudian bersembunyi dari kejaran Mahendra sang papa.


Sekarang berbeda,pernikahannya sudah semakin membaik sejak kelahiran putri kedua mereka yang di beri nama Liliana.Walaupun mereka belum mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga masing-masing.Cinta Reno pada Lidya mulai tumbuh seiring berjalannya waktu setelah berumah tangga empat tahun lebih.


Namun saat ini,cinta tak lagi yang utama bagi mereka,karena mereka harus berjuang untuk kesembuhan putri pertama mereka yaitu Sintia.


Pekerjaan sebagai pengantar makanan sungguh membuat mereka semakin sulit untuk membayar tagihan pengobatan putrinya itu.Apa lagi mereka harus membawa Sintia ke rumah sakit untuk berobat setiap sebulan sekali.


"Pa-pa"tangan mungil Sintia mengelus wajah Reno dengan lembut saat ia tengah berbicara serius dengan Lidya.


"Iya sayang,apa kamu mau minum?"tanya Reno sambil mendengarkan istrinya bicara.


"Tabungan kita semakin menipis,tapi dokter menyarankan kita untuk membawa Sintia berobat ke luar kota.Aku sangat takut jika harus membawa Sintia kesana!".ujar Lidya.


"Percayalah semua akan baik-baik saja.Kita bukan buronan Polisi,jadi jangan pernah takut pada siapapun!"ucap Reno yang tidak mengalihkan tatapannya pada putrinya itu.


"Besok kalian harus pergi ke rumah sakit itu.Aku akan menyusul setelah urusanku selesai dan biarkan aku yang menjaga Liliana."ujar Reno lagi.


"Apa Mas yakin?"masih merasa ragu,tapi Lidya harus membawa Sintia berobat.


"Aku akan mencoba mengajukan pinjaman pada atasanku,mungkin saja dia akan berbaik hati akan memberiku pinjaman,sementara itu kalian harus terlebih dahulu pergi kerumah sakit itu."ujar Reno.


"Tapi aku juga tidak tega ninggalin Lili "Lidya dilema,hatinya mengatakan untuk membawa kedua anak mereka,tapi bagaimana caranya jika ia membawa kedua anaknya yang masih kecil?Tidak mungkin Lidya sanggup mengurus kedua putri mereka tanpa ada yang membantu.


"Jangan khawatir,Lili akan tetap bersama ku.Aku akan membawanya kemana pun aku akan pergi! Fokuslah menjaga Sintia.Aku janji akan secepatnya menyusul kalian!"ujar Reno menyakinkan Lidya.


"Pa-pa"panggil Sintia namun kali ini dia hanya menggigau matanya terpejam sembari menggemgam telinga Reno.Kebiasaan Sintia yang tertidur akan selalu memegang telinga papanya.


"Aku akan membawanya ke kamar"ujar Reno yang tidak ingin putrinya itu akan terganggu tidurnya.

__ADS_1


"Segera kembali,kita masih perlu bicara"ucap Lidya.


"Semoga mereka mau membantu kami.Aku akan minta bantuan mereka walaupun harus memohon.Demi putri ku,aku rela melakukan apapun nanti jika mereka inginkan"gumam Lidya.Lidya berniat meminta bantuan pada mertuanya,kedua orang tua Reno.Namun Lidya harus bertanya terlebih dahulu pada suaminya,karena ia juga tidak ingin menyembunyikan apapun dari suaminya itu.


__ADS_2