
"Sayang,ada apa denganmu?"
Sengaja menutup pintu agar suara mereka tidak terdengar sampai ke ruang tamu.
"Stop ! Berdiri di situ"Sefi melempar sebuah bantal ke arah Roni,namun dengan sigap Roni menangkisnya hingga bantal itu jatuh ke lantai.
"Sayang,apa yang kau lakukan? Apa begini caramu menyambut calon suamimu"Roni sempat terkejut saat sebuah bantal melayang hampir mengenai wajahnya.
"Aku bilang berhenti di situ!"sekali lagi bantal di sampingnya melayang ke arah Roni karena Roni terus berjalan ke arah Sefi yang duduk di atas ranjang.Roni menunduk memungut dua bantal itu sekaligus dan mengapitnya di tangannya.
"Kalau kamu marah jangan sama bantal ini,kasihan bantalnya!"Roni meletakkan bantal itu kembali di atas ranjang.
"Apa? Kamu lebih kasihan sama bantal itu dari pada aku? "sedikit protes dengan apa yang di katakan Roni.
"Ada apa? Mengapa kamu terlihat sangat marah ! "Roni mendekat dan duduk di samping wanitanya. Melihat dengan sendu,wajah Sefi yang tidak ada senyum sedikitpun."Aku minta maaf sudah membuat mu marah tadi waktu di kantor.Seharusnya,aku mencari tahu terlebih dahulu"menarik satu tangan Sefi dan menggenggam nya.
"Sayang,aku mohon maafkan aku"memperbaiki posisi duduknya,kini mereka saling berhadapan.
"Kak,mengapa kau tidak pernah jujur padaku"Sefi menatap mata Roni dalam.
"Maksudmu?
"Untuk masalah di kantor tadi,aku sudah memaafkanmu.Tapi--"Sefi menghentikan ucapannya karena sulit baginya untuk menahan agar tidak menangis.
"Hei,ada apa?"khawatir saat melihat mata wanitanya sudah berkaca-kaca.
"Apa aku sudah membuat kesalahan lagi?"Roni bingung,apa yang sedang terjadi pada Sefi.Menarik tubuh wanitanya dan memeluknya agar sedikit lebih tenang.
"Lepas,Kak!"meronta namun Roni tidak peduli,Ia tetap memeluk tubuh Sefi.
"Katakan,apa aku sudah melakukan suatu kesalahan" membiarkan Sefi berbicara di dalam pelukannya.
"Apa satu wanita tidak cukup untukmu?"ujar Sefi dengan sedikit emosi.Satu tangannya mengambil ancang-ancang untuk mencubit pinggang Roni,jika Roni tidak menjawabnya dengan jujur.
"Jujur,sayang aku tidak mengerti apa maksudmu"ujar Roni.
__ADS_1
Aaaaa
Menjerit dalam hati,saat sebuah cubitan maut mendarat di pinggangnya.Roni tahu jika Sefi melakukan itu agar bisa terlepas dari pelukannya.
"Apa tidak sakit?"pertanyaan konyol terlontar dari bibir Sefi,dan hal itu mampu membuat hati Roni ingin menangis.
Sangat sakit sekali.
Tapi hanya mampu menjerit dalam hati.
"Itu tidak seberapa tapi disini sangat sakit sekali,!"Membawa tangan Sefi ke atas dadanya."Apa lagi jika melihatmu marah seperti saat ini,rasanya seperti di tusuk oleh seribu jarum!" ujar Roni.
"Cih ! Aku tidak akan luluh dengan ucapanmu"Sefi memalingkan wajahnya walaupun tadi sempat khawatir.
"Aku bukan cenayang,yang bisa membaca isi hatimu.Aku mohon,katakan saja semua yang masih terpendam di hatimu"Roni menarik dagu Sefi,agar melihat ke arahnya.
"Hatiku lebih sakit lagi saat aku tahu kalau Kak Roni sudah memiliki istri apa lagi kalian sudah punya anak"ucap Sefi tanpa melihat Roni.
"Istri ??! Anak? Apa maksudmu?"Roni melonggarkan pelukannya agar dapat melihat wajah Sefi.
"Sayang,sumpah aku ngak ngerti apa maksud ucapanmu!"ucap Roni.
"Bukankah Kakak sudah menikah dengan Lidya? Dan saat ini kalian sudah memiliki anak? Kakak mau jadikan aku yang kedua"tanya Sefi dengan intonasi suara tinggi.
"Astaga!"meremas rambutnya dengan kasar,salah paham macam apa ini.
"Tadi aku melihat kalian berpelukan di rumah sakit.Apa itu tidak cukup bukti untuk hubungan kalian.?Kakak sudah memiliki istri dan anak,lalu buat apa mengajakku menikah? Apa Kakak ingin mempermainkan perasaanku?"air mata yang di tahan sejak tadi akhirnya tumpah juga.
"Dengar,sayang aku tidak pernah menikah dengan Lidya! Bahkan sampai sekarang aku belum menikah."merangkup wajah Sefi hingga mata mereka beradu kembali.
"Lidya kabur tepat di hari pernikahan kami.Apa kau tahu betapa hancurnya harga diriku saat itu? Lidya pergi begitu saja tanpa memberitahu siapapun.Tapi aku senang dia pergi,itu artinya aku tidak perlu bertanggung jawab atas anak yang di kandungnya,karena itu memang bukan tanggung jawabku."
"Aku tidak memiliki harga diri lagi,terutama di mata papamu itu,dia semakin merendahkan ku"
"Saat itu,setelah pernikahanku batal,aku langsung mencari mu.Tapi kau juga pergi begitu saja.Semua pergi meninggalkan aku.Apa kau bisa merasakan apa yang ku rasakan saat itu?"
__ADS_1
"Aku hancur. Perasaan ku sangat hancur saat itu"itulah titik terendah di dalam hidupnya setelah kehilangan kedua orang tuanya,
Setelah mengatakan hal itu,Roni melepas pelukannya dan pergi meninggalkan Sefi yang diam membisu.Rasa sakit atas penolakan Sefi untuk kesekian kalinya,cintanya yang tidak di hargai.
Tidak ingin berniat mengejar,Sefi ambruk di lantai,saat menyadari kesalahannya.Duduk termenung,dengan bertumpu pada kedua lututnya,menyembunyikan wajahnya pada keheningan kamar itu,bernapas dengan udara yang menyesakkan hatinya.
"Seharusnya aku bertanya baik-baik padanya.Apa yang sudah aku lakukan?"
Berdiam diri di dalam kamar,tidak tahu sudah berepa jam berlalu sejak Roni meninggalkannya di kamar itu.Hingga suara ketukan dari luar terdengar seraya memanggil namanya.Sefi beranjak untuk membukakan pintu.
"Nona,makan malam sudah siap.Nona sudah di tunggu di ruang makan"ternyata seorang pelayan yang datang,untuk memanggilnya makan malam.
"Sepuluh menit lagi aku akan turun,jika mereka ingin makan terlebih dahulu,tidak apa-apa."Sefi menutup pintu kamarnya kembali,setelah pelayan itu pergi.
"Maaf Bu,non Sefi nya sepuluh menit lagi akan turun."pelayan itu menunduk kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Apa belum berhasil membujuknya"Brian menatap Roni yang duduk dengan santai.
"Haruskah aku ajari,bagaimana cara membujuk seorang wanita yang sedang marah?"Kevin ikut menatap Roni.
"Apa kalian serius bertengkar?"mama Lina ikut melihat Roni yang masih terlihat santai,namun hatinya siapa yang tahu sedang bergemuruh.
"Roni Abdullah ??!"ketiga orang itu serentak memangilnya hingga membuatnya terkejut.
"Astaga,ada apa dengan kalian?"nenek Salma yang ikut terkejut mendengar teriakan ke tiga orang itu langsung datang dari dapur untuk menghampiri mereka.
"Apa kalian sudah membuat hati cucuku sedih."meletakan piring di meja dengan sedikit menghentakkannya.Menatap empat orang yang duduk di kursi makan itu dengan kesal.
"Biar aku melihatnya di kamar !"Roni langsung berdiri dan beranjak ingin pergi menyusul Sefi.
"Tunggu dulu !"nenek Salma menghentikannya.
"Brian,panggilkan Sefi dari kamarnya,jika calon suaminya yang memanggilnya,mungkin sampai besok pagi pun mereka tidak akan keluar dari kamar."ujar nenek Salma.
"Nenek??!"seru keempat orang itu secara bersamaan.
__ADS_1