
Berburu dengan waktu,menyalip beberapa mobil yang berusaha mendahuluinya.Gusar,perasaannya kembali tidak menentu.Jangan sampai Sefi dan Redist sampai terlebih dahulu ke perusahaan Anggara Group.
Suara klakson mobil terdengar saling bersahutan,bahkan umpatan pengemudi lainnya yang berteriak padanya tidak lagi di gubris.Bodoh amat dengan kalian yang penting secepatnya aku akan sampai terlebih dahulu.
Jangan di tiru yah,biar bagaimana pun setiap pengemudi harus tetap pada aturan lalu lintas yang berlaku.
"Sial"mengumpat dengan kesal,saat Roni berusaha menghubungi pak Redist namun tidak juga di jawab.Berusaha tenang dengan menarik napas panjang,Roni menambah kecepatan laju mobilnya.
Kembali ke Sefi dan pak Redist.
"Apa kamu yakin akan bisa memahami berkas itu dalam waktu yang singkat? Seharusnya itu adalah tugas ibu Vani."Redist menyetir seraya melirik Sefi dari kaca spion,Sefi yang tengah duduk di belakang sambil membaca berkas di tangannya hanya mendengarkan Redist berbicara.
"Mau gimana lagi,Pak.Aku tidak ada pilihan,ibu Vani adalah atasan kita juga."Menjawab pak Redist namun tidak menoleh padanya,fokus hanya pada berkas di tangannya.
"Ibu Vani memang kurang bertanggung jawab kalau ada pekerjaan mendadak seperti ini.Entah mengapa dia bisa jadi sekretaris utama pak Roni."Mengeluh,terlihat pak Redist mengelus kepalanya sendiri.
"Itu urusan mereka Pak,"sahut Sefi tanpa ingin meladeni pak Redist berbicara,karena menurutnya sangat mengganggu.
Ponsel berdering,dengan malas Sefi membuka tasnya dan mengambil ponselnya.
"Kak Roni?"melihat nama Roni di layar ponselnya dengan ragu Sefi menjawab.
"Hallo !"jawab Sefi dengan pelan.
"Kamu dimana?"terdengar suara Roni seperti menghawatirkan sesuatu.Sefi bergeming sesaat.Roni terpaksa menghubungi wanitanya itu,menepis rasa gengsinya agar tahu mereka ada dimana saat ini.
"Sefi,kenapa diam.'kata Roni,"Cepat jawab aku,kamu dimana?"ujar Roni lagi dengan tidak sabaran.
"Eh... iya aku sama pak Redist sudah sampai di dekat mall nusantara.Dan sebentar lagi kami akan sampai."Memandang daerah sekitar yang mereka lalui.
"Berhenti di sana,aku akan secepatnya datang menyusul,"ujar Roni.
"Ada apa dengannya?"Sefi bicara pada diri sendiri seraya memandang layar ponselnya.
"Pak,cari tempat parkir yang aman."Sefi menyuruh pak Redist untuk berhenti sebentar.
"Buat apa?"tanya pak Redist."Kita sebentar lagi akan sampai"ujarnya lagi.
__ADS_1
"Aku sendiri tidak tahu"Sefi mengedikkan bahunya,kemudian berkata lagi,"Pak direktur menyuruhku untuk menunggunya"ujar Sefi.
"Apa ada masalah?"ujar pak Redist seraya berusaha mencari parkir yang aman.
"Entah lah ,aku tidak tahu". Mereka akhirnya menunggu Roni di depan gedung yang kebetulan masih luas tempat untuk parkir sebentar.
"Sefi?"panggil pak Redist seraya melihat sebuah mobil yang sejak tadi selalu mengikuti mereka.
"Ada apa,Pak?"Sefi ikut melihat kemana arah pandangan pak Redist.
"Sepertinya mobil itu sejak tadi selalu mengikuti kita"tunjuk pak Redits pada mobil di seberang.
"Satu lagi,motor itu juga mengikuti kita"tunjuknya lagi.
"Astaga,aku kira apa coba.Ada begitu banyak mobil yang sama di kota ini.Pak Redist jangan berprasangka buruk."Sefi melihat dengan jelas mobil dan motor yang sedang berhenti juga tidak jauh dari mereka.
"Apa Pak Redist bawa uang milyaran di dalam mobil ini?"goda Sefi seraya menggelengkan kepalanya.
"Sembarangan"tangan pak Redist di kibas ke arah Sefi."Mana ada aku uang segitu banyak"ujarnya lagi.
"Kalau begitu jangan takut,Pak!"ujar Sefi terkekeh.
"Jangan keluar kalau Pak Redist takut sama mereka"ujar Sefi santai.
Anak ini,bukannya takut. Malah santai dengan berkas itu.
Sebuah mobil berwarna biru navi tampak melewati mobil yang di tumpangi Sefi dan pak Redist,berhenti setelah mendapatkan parkiran yang aman.Sefi sudah hafal betul,mobil siapa yang di depan mereka itu.
Roni keluar dengan tergesa-gesa menuju mobil pak Redist.Menghampiri kedua orang itu kemudian membuka pintu mobilnya.Rasa lega saat melihat Sefi berada di dalam mobil itu.Jantungnya yang tadinya berdetak dengan cepat kini kembali normal seperti semula.
"Keluarlah,dan masuk ke mobil ku"perintah Roni pada Sefi yang tengah duduk di kursi belakang."Berkasnya serahkan saja dengannya"ujar Roni lagi.
Tanpa banyak tanya Sefi menurut,keluar dari mobil pak Redist.Meninggalkan Roni dan pak Redist berdua saja.
Terlihat Roni tengah berbicara dengan pak Redist cukup serius.Dari tatapannya juga pergerakan tangan Roni seolah mengintruksi pak Redist agar bekerja dengan baik.Terlihat Roni mengepalkan tangannya lagi,apa yang sebenarnya di sampaikan pak Redist padanya.
Setelah selesai berbicara,tampak pak Redist kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.Sementara Roni berjalan menuju mobilnya sendiri.
__ADS_1
Membuang napas kasar sebelum masuk ke dalam mobil.Sefi tampak diam,namun pandangannya tidak lepas dari Roni.Pandangannya mengikuti apa yang di lakukan Roni sebelum menyalakan kembali mobilnya.
"Apa masih marah?"ujar Sefi,membuka suara lebih dahulu.
"Hem"sahut Roni,dan Sefi mengartikan itu dengan jawaban ya.
"Boleh aku bicara"tanya Sefi lagi.
"Hem"sahut Roni dengan singkat.Roni melajukan kembali mobilnya seraya mendengarkan apa yang akan di bicarakan Sefi padanya.
"Maaf"singkat namun sangat jelas di dengar oleh Roni.
"Buat apa"ujar Roni,akhirnya mampu membuat Roni berbicara.
"Semuanya"ujar Sefi,namun tidak mengalihkan pandangannya sejak tadi.
"Aku tidak ingin membahasnya"ucap Roni,tanpa melihat Sefi.
"Mau sampai kapan Kakak diam begini."Sedikit meninggikan suaranya,Sefi sudah terlanjur kesal.
"Itu bukan urusanmu"jawab Roni singkat.
"Berhenti"teriak Sefi seraya memegang pintu mobil Roni."Aku bilang berhenti disini,kalau tidak aku akan melompat"ujar Sefi lagi.
"Apa kamu berani?"tanya Roni dengana ragu,sebenarnya hati Roni sangat terkejut mendengar Sefi ingin turun di tengah jalan.
"Apa kamu pikir aku takut,hah!"ujar Sefi menantang.Roni menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba saat Sefi benar-benar ingin turun.
"Jangan coba keluar dari mobil ini"ujar Roni mulai ikut kesal.
"Aku tidak peduli"ujar Sefi sambil berusaha membuka pintu mobil yang sudah terkunci itu.
"Sefiaaa..."Roni menahan rasa kesalnya.Menarik tangan Sefi hingga akhirnya Sefi terduduk di pangkuannya.
"Kak,lepaskan aku"Sefi meronta di atas pangkuan Roni.
"Jangan harap,aku tidak akan melepaskanmu!"ujar Roni,namun dengan cepat Roni membungkam bibir Sefi.Menyesapnya dengan dalam bahkan hanya memberika jeda sesaat untuk Sefi menarik napas.
__ADS_1
"Kak!"lagi-lagi Roni kembali ******* bibir Sefi,beradu di dalam melepas kerinduannya yang terpendam.Terlihat Roni tersenyum sesaat ketika merasakan balasan dari bibir Sefi.