
Sepi dan sunyi,hanya ada terlihat beberapa orang yang berjalan walaupun sedikit jauh dari mereka.Roni membawa sang istri ke pemakaman kedua orang tuanya.
Duduk disana,di samping kedua makam itu.Roni terdiam sembari menatap kedua makam itu,mengepal tangannya hingga terlihat memucat.
"Sayang...maaf,ini makam siapa?" Sefi yang sejak tadi diam saja kini bersuara saat kebingungannya tidak bisa di jawab sendiri.Makam itu sudah tidak terawat bahkan nama di batu nisan itu juga sudah sedikit memudar.
Roni sudah lama tidak mengunjungi makam itu lagi sebab tidak ingin membuat mama Widya menangis.Entah apa yang terjadi,setiap pulang dari makam itu,Roni selalu histeris hingga mama Widya yang selalu khawatir padanya.
Rasa kehilangan keluarga yang tiba-tiba,terlebih di depan matanya sendiri,membuat Roni kecil sangat trauma akan hal itu.
"Sayang?"sekali lagi,Sefi bersuara dan kali ini sambil menggoyangkan bahu suaminya.
"Hem,ada apa?"ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
"Sayang,kamu nangis?"Sefi menyentuh wajah Roni hingga menghadap padanya.
"Kamu kenapa nangis? Sayang,ku mohon lihat aku !"ucap Sefi,dan kini Roni semakin menundukkan kepalanya.
"Tidak,jangan sekarang. Jangan menangis,dia tidak boleh melihat ku menangis dan menyedihkan seperti ini"
"Sayang,apa ini makam kedua mertua ku?"tanya Sefi,dan kini dia menyadari mengapa suaminya itu terlihat sangat sedih.
Roni mengangguk,tangan yang di kepal sejak tadi kini mengendur.Memeluk tubuh mungil istrinya dan tanpa menyadari Roni meluapkan tangisannya di dalam pelukan istrinya.
"Maaf,aku tidak bisa mengendalikan diriku"ucapnya dalam pelukan istrinya.
"Tidak apa,menangislah jika hal itu dapat membuatmu merasa tenang.Dan seharusnya aku dan keluarga ku yang minta maaf padamu karena papa lah yang sudah membuatmu merasakan semua ini.Aku sangat-sangat minta maaf"ucap Sefi sembari mengusap punggung suaminya.
Terdiam,beberapa menit berlalu setelah merasa cukup tenang,Roni melepas pelukannya.
"Maafkan aku"ucapnya sambil mengusap sisa air matanya.
"Tidak,seharusnya aku yang minta maaf,karena--"ucapnya dengan menunduk.Merasa bersalah atas perbuatan papa nya sendiri.
"Sudah,aku tidak apa-apa.Jangan khawatir dan jangan di teruskan.Kemarilah"Roni menggemgam tangan kiri Sefi dan mengajaknya untuk duduk lebih dekat lagi di makam itu.
"Ma..."
"Pa..."
Roni mengusap batu nisan itu dengan tangan kanan nya."Lihatlah,aku tidak datang sendiri lagi,lihat,sekarang aku sudah membawa seseorang"ucapnya sambil menoleh pada istrinya.
"Dia Sefia Anggara. Dia adalah istriku,menantu kalian. Dia sangat cantik,bukan?"tangan masih di gemgam dengan erat.
"Aku sudah menikah dan sudah mempunyai keluarga baru. Ma..pa.. Aku harap kalian merestui hubungan kami. Aku sangat mencintainya,sungguh sangat mencintainya"ucapnya lagi.
"Sayang,jangan menangis lagi"Sefi mengusap punggung Roni saat melihat suaminya itu menunduk lagi.
__ADS_1
"Mama mertua dan papa mertua,salam kenal,aku adalah Sefia Anggara. Maaf,aku adalah menantu kalian. Mohon restui hubungan pernikahan kami,aku janji akan selalu menjaga dan membuat kak Roni bahagia. Aku tidak akan membuatnya menangis dan sedih lagi. Dan... Maafkan atas segala kesalahan besar yang sudah di lakukan oleh papa ku. Aku sebagai putri nya meminta maaf pada kalian"Sefi membungkukkan kepala nya dengan merasa bersalah atas perbuatan orang tuanya sendiri.
"Sayang,ambil ini"Roni memberikan air juga keranjang kecil berisi bunga.
Setelah membasuh wajah mereka dan menaburkan bunga di atas makam kedua orang tuanya. Roni dan Sefi akhirnya pulang,meninggalkan tempat peristirahatan terakhir orang tuanya.
*
*
Roni memutuskan untuk bekerja di rumah saja,hari ini setelah pulang dari makam kedua orang tuanya,Roni tidak ingin pergi kemana pun.
Ponsel berdering.
"Hallo Ma.."
"Kamu baik-baik saja sayang nya mama" terdengar suara mama Widya yang sangat menghawatirkan nya.
Ya,sebelum berangkat kepemakaman orang tuanya,Roni terlebih dahulu meminta ijin pada mama Widya untuk pergi.Awalnya Widya sangat khawatir jika Roni akan histeris lagi,namun dengan gigih Roni mampu menyakinkan hati mama Widya.
"Mama jangan khawatir,aku baik-baik saja"uca Roni hingga membuat hati Widya kembali tenang.
"Syukurlah kalau begitu.Mama jadi tenang mendengarnya"ucap Widya.
"Maaf sudah membuat mama khawatir"ujar Roni dengan lembut sambil melirik istrinya yang baru saja masuk kedalam kamar sambil membawakan teh untuknya.
"Iya Ma. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk menelpon ku"
"Kau ini bicara apa. Tentu saja mama sangat khawatir.Ya sudah,Mama tutup telponnya."Widya langsung mengakhiri pembicaraan mereka.
"Apa yang itu mama Widya?"Sefi meletakkan teh di atas meja dan langsung menghampiri Roni duduk di atas tempat tidur.
"Iya sayang"Roni meletakkan ponselnya begitu saja,kemudian menarik tubuh Sefi agar mendekat lagi pada nya.
"Mama bilang apa?"Sefi menatap wajah Roni yang kini sudah mendekapnya.
"Hem...katanya apa di dalam sini sudah ada isinya. Mengapa lama sekali memberi kabar baik untuknya."Roni mengusap perut rata Sefia.
"Bohong,mana mungkin mama bertanya hal itu"
"Aku tidak berbohong. Jika tidak percaya,apa mau aku telpon mama lagi"
"Tidak perlu"
"Kita harus rajin berusaha lagi,agar di dalam sini cepat ada isinya"
"Mau apa"gugup saat Roni tiba-tiba membaeingkan tubunya dan langsung mengukungnya di bawah.
__ADS_1
"Mau buat anak"ucap Roni sambil membuka kancing baju Sefi.
"Tapi tadi sudah,kita sudah melakukannya dua kali"tidak mungkin Sefi akan mandi lagi untuk ketiga kalinya.
"Tapi yang tadi belum berhasil,buktinya perut mu masih rata"Sefi menepuk tangan Roni dengan kesal.
"Tentu saja masih rata. Semua butuh proses sayang"ujarnya.
"Jika kita melakukannya lagi,yakinlah maka perut mu akan cepat membesar"ucap Roni yang kini sudah membuka semua pakaian nya juga pakaian Sefi.
"Mana ada seperti itu,kamu pikir perutku balon."Kali ini Sefi mencubit pinggang Roni.
"Percaya padaku,kali ini pasti berhasil"ucap Roni dan langsung membungkam bibir Sefi dengan lebut. Memberi kehangatan di dalam sana,melu matnya dengan penuh semangat.
"Untuk kali ini,kamu yang meminpin"ucapnya setelah tautan bibir mereka terlepas.
"Hah,mana bisa begitu"pekik Sefi saat Roni langsung mengangkatnya dan menduduk kan tubuh mungil itu di atasnya.
"Kak,kau curang"memukul dada bidang itu. Malu bercampur aduk jadi satu.
"Ayolah,lakukan seperti malam itu. Aku sangat menyukainya"ucap Roni sambil menuntun tubuh mungil itu agar masuk kedalam.
Aaaahhhh
Suara syahduh mereka bersamaan keluar begitu saja,Roni menatap tubuh mungil di atasnya yang bermain sesuai dengan arahannya.
"Yah,begitu sayang. Kamu semakin pintar"
Plak.
Sefi langsung memukul tangan Roni dengan kesal.
"Tutup mata mu. Aku malu di lihat seperti itu"ujar Sefi.
"Tidak mau,aku hanya melihat istriku bermain di atas ku. Apa aku salah"goda Roni.
"Kak...."tubuh Sefi berhenti bergoyang di atas,Sefi beranjak dari atas tubuh Roni.
"Baiklah-baiklah. Aku akan tutup mata"Roni tersenyum senang saat melihat wajah kesal istrinya itu.
"Sudah selesai. Aku mau mandi"ucap Sefi dan dengan cepat Roni langsung menarik tangannya dan menindih tibuh mungil itu.
"Bagaimana mungkin selesai begitu saja"Roni langsung mengambil alih permainan. Dan permaianan pun berlansung hingga membuat kedua nya sampai terlelap.
Bersambung.
Akhir tahun,banyak sekali kegiatan dan pekerjaan di dunia nyata yang menumpuk. Apa lagi jika ada pesta pernikahan di luar kota,auto jadi ngak ada waktu luang untuk menghalu. Pliss maafkan author yang sudah jarang update.
__ADS_1
Love you buat pembaca setiaku. Jangan bosan menunggu untuk autor yang jarang update ini.Terima kasih banyak untuk kesetiaannya.