
Setelah Laila dan Rafik sampai, Rafik langsung mengajak masuk Laila dimana diruang tamu sudah ada kedua orang tua Rafik yang dengan cemas menunggu kedatangan mereka.
" Anis .... anakku " ucap ibu Susi yang refleks berdiri mendekati Laila dan langsung memeluk dengan uraian air mata
" Ibu ... biarkan kakak duduk dan minum dulu ... kasian kakak baru dari perjalanan " ucap Rafik sambil menenangkan ibunya agar mau melepaskan pelukannya
Laila menatap Rafik dengan bingung, sementara rafik hanya tersenyum kemudian mendekati Laila.
" Saya minta tolong jangan sakiti hati ibu saya, beliau mengira engkau adalah kakakku Anis " bisik Rafik
Laila hanya diam dan ikut duduk disebelah ibu Dina yang masih erat menggenggam tangan Laila seolah tidak mau berpisah.
" Nak ... " ucap pak ikhsan kemudian ia menunjukkan kepalanya setelah beberapa saat ia mengusap air matanya
" Isti saya beberapa tahun terakhir ini hidup seperti mayat hidup ... setiap hari hanya bengong diatas kursi roda berharap putri kami datang ... " ucap pak ikhsan sambil menyerahkan sebuah foto.
Laila menerima foto tersebut dan memperhatikannya.
" Kalau diperhatikan sepintas memang ada kemiripan dengan saya ... " batin Laila
" Maaf ini siapa ?" tanya Laila
" Itu foto Anis ... kakak saya " jawab Rafik yang baru muncul dari dalam sambil membawa minuman dan cemilan
" Silakan diminum ... " ucap Rafik kemudian
" Lalu bagaimana dengan keadaan ... " ucap Laila sambil memperhatikan ibu Susi
" Ibu saya mengalami depresi sejak kepergian kakak saya, saat saya pertama melihat mu didepan gerbang waktu itu ... saya berfikir ingin mengenalmu lebih dekat untuk memastikan apakah kamu kakak saya atau orang lain " jelas Rafik
" Maaf ya La ... " ucap Rafik lagi
" Nak ... bisakah saya meminta tolong ?" tanya pak ikhsan
" Selama saya bisa pasti saya bantu pak " ucap Laila lembut
" Nak ... maukah kamu menjadi anak saya ... maksud saya menjadi pengganti anak saya, tadi saat pertama melihatmu istri saya merespon Bahakan mau berdiri. Saya yakin dengan bantuan darimu istri saya bisa sembuh ... " ucap pak ikhsan dengan meneteskan air mata
__ADS_1
" Awalnya ... saya ingin minta bantuan dari nak Fauzi ... siapa tau dia bisa membantu, tetapi saya lihat dia sangat sibuk ... " jelas pak ikhsan
" Fauzi ... " tanya Laila dengan bingung
" Iy La ... dulu waktu masih SMA, Anis dan Fauzi berpacaran ... Fauzi adalah cinta pertama Anis. Dan Fauzi sempat beberapa kali bertemu dengan ibu saya saat mengantar atau saat menjemput Anis ke sekolah ... " Jelas Rafik
" Artinya Kak Fauzi juga tidak tulus dengan saya ?" tanya Laila dengan sedikit kecewa
" Awalnya mungkin ia sama sepertiku La ... tapi untuk sekarang, hanya ia yang bisa menjelaskan ... " ucap Rafik
" Maksudnya apa " tanya Laila
" Untuk untuk urusan perasaan saya tidak bisa menjelaskan ... Tapi dari caranya memperlakukan kamu, saya rasa ia tulus. Kamu jangan berfikir negatif dulu ya ... " Jawab Rafik mencoba menenangkan
" Kenapa kakak bisa bilang begitu ?" tanya Laila
" Karena hal ini sudah saya selidiki ... " Jawab Rafik. Dan Laila mengerutkan dahinya
" Tujuan saya masuk ke sekolah itu, untuk menyelidiki Fauzi dan tentang Anis atau yang berhubungan dengan Anis ... " Jawab Rafik
" Sebenarnya saya sudah masuk perguruan tinggi, saya daftar ke sekolah tersebut dengan alasan untuk penelitian terutama kegiatan ekstrakurikuler ... oleh sebab itu saya di posisikan sebagai ketua OSIS oleh ketua yayasan ... " Jelas Rafik lagi
" Ya ... Hanya Hana dan kedua orang tuanya yang tau, sekarang ditambah kamu ... " ucap Rafik sambil tersenyum
" Apakah ada titik terang dari apa yang kakak cari ... ?" tanya Laila lagi
" Ya Sudah mulai ... " jawab Rafik
" Kak Fauzi tau ... " tanya Laila lagi
" Fauzi baru tau baru ... kurang lebihnya sekitar satu bulan yang lalu ia baru tau kalau aku saudara Anis, untuk. yang Lainnya ia tidak tau " jawab Rafik
" Bukanya kak Fauzi mengenal ibu ?" tanya Laila lagi
" Ya ... Fauzi hanya tau ibu saya, karena waktu Fauzi dekat dengan Anis kebetulan saya dan ayah tinggal diluar kota karena saya sekolah disana sedangkan Anis sekolah disini. Orang tua saya tinggal terpisah karena tugas " jelas Rafik lagi
Laila hanya mengangguk seolah dia tau maksud Rafik. Karena sama halnya dengannya yang harus tinggal terpisah dengan orang tuanya.
__ADS_1
" Nak ... diminum dulu, baru lanjut ngobrol-ngobrol lagi ... " ucap pak ikhsan
" Terimakasih pak ... " ucap Laila
" La ... kabari keluargamu dulu biar gak khawatir " ucap Rafik sambil makan cemilan yang ada di atas meja
" Iy kak ... " jawab Laila dan kemudian menggeluarkan ponselnya untuk memberi kabar kepada pamannya
" Anis ... temani ibu ya nak, ibu ingin istirahat " ucap Bu Susi tiba-tiba
Kemudian Laila bangkit dan menuntun ibu Susi menuju kamarnya dibantu oleh Rafik dan pak ikhsan. Kemudian Laila menemani Bu Susi setelah dibaringkan oleh pak ikhsan. Setelah beberapa saat Bu Susi akhirnya tertidur pulas dengan tersenyum. Hal itu membuat Rafik meneteskan air matan karena sudah beberapa tahun tidak bisa melihat ibunya tersenyum.
" La ... mari saya antar pulang ... takutnya sudah ditunggu keluarga, karena seharusnya sudah pulang dari tadi ... " ucap Rafik sambil melangkah keluar
" Nak ... bisakah memenuhi permintaan saya tadi ?" ucap pak ikhsan dengan tatapan penuh harap
" Saya akan bantu sebisa mungkin pak " jawab Laila dengan tulus
Kemudian Laila berpamitan untuk pulang sedangkan Rafik sudah siap di luar menunggu Laila. Kemudian ia menghantarkan Laila menggunakan mobil agar tidak terlalu mencuri perhatian tetangga sekitarnya.
Selama dalam perjalanan mereka lebih banyak diam, dengan pikiran masing-masing. Terlebih Laila dia bingung dengan apa yang akan terjadi. Dan bagaimana caranya untuk membantu keluarga Rafik terutama Bu Susi.
Laila terbayang bagaimana kondisi ibu Susi, dan ia teringat akan ibunya yang ada di Bandung. Rasa rindu dan yang lainnya bercampur menjadi satu, yang membuat Laila harus beberapa kali menghunuskan nafasnya agar dadanya tidak terlalu sesak
" Apa ada yang salah ... " Tanya Rafik
" Gak kak ... hanya saja Laila teringat ayah dan ibu, Laila gak kebayang jika Bu Susi adalah ibu Laila " jawab Laila
" Kamu benar La ... itu yang saya khawatirkan dengan kegilaan Hana, yang memaksa agar semua siswa kelas X mengikuti kegiatan itu, saya takut ada seorang Ibu yang harus bersedih karena terjadi sesuatu pada anak-anaknya " jawab Rafik
" Apakah ketua yayasan tidak bisa menghentikan hal itu kak ?" tanya Laila
" Kemungkinan tidak La ... beliau begitu memanjangkan Hana, bahkan untuk menuruti keinginan Hana untuk memiliki Fauzi beliau bisa mengatasnamakan balas Budi ... " jelas Rafik
" Kasian Fauzi ... seharusnya ia bisa mendapatkan kebahagiaannya " ucap Rafik lagi
" Lalu bisakah aku memiliknya seutuhnya, atau aku hanya bisa pasrah menjadi selir hatinya saja " batin Laila
__ADS_1
" Jangan melamun ... dan jangan berfikir yang tidak-tidak, serahkan sepenuhnya pada sang pencipta " ucap Rafik