Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 67. Penyelamatan Hana


__ADS_3

Setelah menjelaskan semuanya, Pelayanan tersebut pingsan karena kelelahan. Bima membawanya keluar dan melakukan pertolongan pertama, sedangkan Rafik kembali mencari keberadaan Hana.


Setelah menelusuri setiap ruangan yang ada, Rafik tidak menemukan keberadaan Hana. Ia kemudian masuk ke dalam kamar milik Hana tetapi tetap saja ia tidak menemukan Hana.


Rafik turun dari lantai atas untuk menemui Fauzi dan juga pelayan yang jatuh pingsan tadi.


"Bagaimana apakah kau menemukan Hana ?" tanya Bima.


"Tidak aku tidak menemukan keberadaan Hana." jawab Rafik dengan sedikit lemas.


"Apakah kau sudah mencari ke seluruh ruangan yang ada di lantai atas ?" tanya Bima.


"Sudah, aku sudah mencarinya ke seluruh ruangan. Tetapi tetap tidak bisa menemukan Hana." jawab Rafik lagi.


"Bibi apakah bibi mengetahui kemana Hana pergi ?" tanya Rafik.


"Bagaimana beliau bisa menjawab pertanyaan mu, sementara beliau masih belum sadar." ucap Bima.


"Ya siapa tau beliau segera bangun dan memberitahu kita kemana Hana biasanya menghabiskan waktunya di saat sedang galau." jawab Rafik asal.


"Hana akan menghabiskan waktunya di balkon kamarnya saat ia sedang bersedih." ucap Bima.


"Kalau begitu ... ." ucap keduanya langsung terhenti dan mereka saling pandang.


Keduanya kemudian segera berlari menuju ke lantai atas, dengan cepat Bima dan Rafik membuka pintu kamar Hana dan segera menyalakan lampu agar lebih terang benderang.


Semua Hodrdeng yang menutupi jendela mereka buka dengan cepat agar mereka bisa melihat keluar dengan leluasa.


Bima berjalan menuju ke Balkon yang ada dikamar Hana, ia mencari ke sekeliling dan melihat segala penjuru.


Alangkah terkejutnya Bima saat melihat Hana yang hendak meloncat dari balkon di sisi kamar yang lainnya.


"Rafik cepat Hana Hendak bunuh diri, hubungi siapapun yang bisa menolong Hana dari ketinggian." ucap Bima sambil berlari menuju kamar tempat Hana Hendak bunuh diri.


Rafik segera mengikuti Bima, ia sambil menghubungi pemadam kebakaran dan juga Polisi.


Sedangkan Bima berusaha menolong Hana yang sudah tergantung di balkon kamar tersebut. Bima dengan sekuat tenaga menopang tubuh Hana agar lehernya tidak terjerat.

__ADS_1


"Hana bertahanlah ! kami akan menolong mu." ucap Bima dengan susah payah.


"Bima biarkan aku pergi. Aku sudah lelah dengan semua ini." ucap Hana dengan suara yang semakin lemah.


"Hana bertahanlah ! Rafik tolong bantu aku!" teriak Bima.


Rafik yang berada di bawah dengan cepat mencari tangga agar bisa membantu Bima menopang tubuh Hana.


"Hana bertahanlah, pertolongan akan segera datang. Kau jangan berfikir sempit dan ingin segera mengakhiri hidup mu." ucap Rafik yang berusaha menahan kaki Hana karena Bima sudah tidak bisa menahan tubuh Hana.


"Lebih baik lepaskan aku." ucap Hana sambil mencoba melepaskan kakinya dari tangan Rafik.


"Hana diamlah, jika kau terus berusaha melepaskan pegangan tangan ku maka sama halnya kau ingin membunuh ku, karena aku bisa saja jatuh kebawah sana sementara tidak ada seorang pun yang menjaga posisi tangga ini." ucap Rafik.


Hana terdiam mendengar penjelasan Rafik, tetapi ia mulai kehilangan kesesatannya. Perlahan Hana memejamkan matanya, ia melupakan semua kenangan indah dan juga kenangan pahit yang pernah ia rasakan.


"Hana berbicaralah !" ucapa Rafik.


Namun Hana masih terdiam seribu bahasa, disaat Bima berhasil turun ke bawah dan disaat Rafik kehilangan keseimbangannya, para polisi datang.


Dengan cepat Polisi membawa tubuh Hana masuk kedalam ambulans dan segera membawanya ke Rumah Sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sedangkan Bima dan Rafik saling menolong satu sama lainnya, keduanya kemudian merebahkan dirinya di atas rumput yang ada dihalaman rumah Hana.


"Semoga Hana bisa diselamatkan." ucap Bima sambil mengatur nafasnya.


"Kau benar Bima, seandainya kita lebih cepat datangnya mungkin Hana dalam keadaan baik-baik saja. Untungnya ada bibi itu." ucap Rafik.


"Lalu bagaimana dengan keadaannya sekarang ? tadi kita meninggalkan beliau sendiri dalam posisi belum sadar." ucap Rafik lagi.


Bima langsung berdiri dan segera berlari menuju wanita paruh baya yang ia tinggalkan tadi.


"Syukurlah bibi sudah siuman !" ucap Bima dengan nafas yang tak beraturan.


"Bagaimana dengan nona Hana ? apakah ia dalam keadaan baik-baik saja ?" tanya wanita itu tanpa menjawab ucapan Bima.


"Hana sudah dibawa ke Rumah Sakit, semoga dia dapat diselamatkan bi." jelas Bima.

__ADS_1


"Apa yang terjadi ?" tanya pelayan itu dengan sangat khawatir.


Bima menceritakan semuanya kepada pelayan Hana tersebut, setelah mendengar penjelasan Bima Pelayan itu menangis tersedu-sedu.


"Nin semoga non Hana baik-baik saja, setelah non Hana sembuh kita akan pulang ke kampung bibi Non. Kita akan memulai hidup baru." ucap Pelayan tersebut dengan pilu.


"Mengapa kalian harus meninggalkan kota ini ?" tanya Bima dengan bingung.


"Dari hasil sidang tersebut menyatakan bahwa rumah ini dan semua milik tuan Aditya adalah milik tuan Sudrajat. Yang artinya rumahnini adalah milik tuan Fauzi."


"Hal itu yang membuat saya berfikir untuk membawa non Hana pulang ke kampung halaman. Karena saat ini non Hana tidak memiliki siapa -siapa."


"Biarlah kami memulai hidup baru disana tuan. Agar non Hana bisa melupakan semua kenangan yang pernah ia alami." jelas Pelayan itu.


"BI meskipun hasil mengatakan bahwa rumah ini adalah milik Fauzi, tetapi Fauzi tidak meminta Hana untuk meninggalkan rumah ini."


"Jadi bagaimana bisa kalian berfikir bahwa kalian tidak mempunyai siapapun di kota ini. Masih ada kami sahabat -sahabat Hana." ucap Bima.


"Tapi apakah tuan yakin bahwa btuan Fauzi tidak akan mengusir kami, setelah mengetahui semua kejahatan yang dilakukan oleh tuan Aditya ?" tanya pelayan itu lagi.


"BI meskipun saya bukan Fauzi, tetapi saya yakin Fauzi tidak akan melakukan hal gila itu." jawab Bima.


"Bagaimana tuan bisa seyakin itu ?" tanya Pelayan itu lagi.


"Karena sejak kecil saya berteman dengan Fauzi saya sangat mengenal sifatnya. Jika ia ingin mengambil semua ini pasti ia akan melakukan sejak dahulu."


"Karena sebenarnya Fauzi sudah mengetahui bahwa rumah ini adalah milik orang tuanya. Yang diambil paksa oleh tuan Aditya." jelas Bima.


"Benarkah tuan ? selama ini tuan Fauzi mengetahui semuanya ?" tanya Pelayan itu dengan rasa penasaran.


"Iya Fauzi sudah mengetahui meskipun ia belum tau seratus persen." jawab Bima.


"Lalu apakah Fauzi juga mengetahui tentang ayahku ?" tanya Rafik yang sudah berdiri di dekat Bima.


"Mungkin tetapi satu hal yang pasti, Fauzi bukanlah orang yang tamak akan harta. Tapi jangan juga kau mencoba mengusiknya, apalagi mengusik orang yang paling ia sayangi."Jelas Bima.


Rafik terdiam mendengar penjelasan Bima, ia teringat bahwa ia telah memalsukan hasil DNA Laila hanya untuk mewujudkan keinginannya memiliki Anis seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2