
Fauzi perlahan memejamkan matanya, saat kehangatan dan kedamaian ia rasakan, mengalahkan segala rumitnya masalah yang dihadapi.
Sementara, Hana yang tidak sengaja mendengar percakapan ayahnya bersama orang yang tak dikenalnya, perlahan bersembunyi di balik pintu untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tuan, musuh kita sudah mulai bergerak. Kita harus lebih cepat bergerak dan menemukan barang bukti itu sebelum terlambat." ucap orang asing itu.
"Apakah pemilik rumah itu juga sudah mulai curiga ?" tanya sang ayah.
"Saya rasa belum tuan, ia masih fokus dengan masalah pribadinya dan juga fokus dengan skripsi yang sedang ia kerjakan." jawab orang asing itu.
"Bagus, usahakan ia tidak pernah curiga dengan masa lalu orang tuanya, terlebih masalah kecelakaan yang terjadi malam itu." ucap sang ayah kemudian menyuruh orang asing tersebut segera pergi.
"Siapa sebenarnya yang dimaksud oleh ayah ?" tanya Hana dalam hati.
Hana segera meninggalkan tempat tersebut sebelum sang ayah mengetahui keberadaannya.
Hana segera masuk kedalam kamarnya, dan ia pura-pura sedang belajar sebelum ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
"Hana kau belum tidur ? jam segini kau masih belajar, apakah ada masalah lain sehingga kau belajar dengan keras ?" tanya sang ayah ketika sudah berada di kamar putrinya.
"Tidak ada masalah ayah, aku hanya mengulang materi saja, aku ingin cepat lulus seperti Fauzi." jawab Hana beralasan.
"Sejak masih kecil kau selalu menyukai Fauzi, apakah kau sangat mencintainya putriku ?" tanya sang ayah.
"Ayah mengapa bertanya soal itu ? bukankah ayah tau dari kecil aku selalu membayangkan pernikahan yang begitu meriah seperti dalam dongeng."
"Ibarat sang putri yang dinikahi oleh pangeran tampan yang berkuda putih, disaksikan oleh seluruh rakyatnya." ucap Hana sambil tersenyum.
"Kau Akan mendapatkan apapun yang kau inginkan putriku." jawab sang ayah sambil mengusap kepala putrinya.
"Terimakasih ayah, ayah adalah yang terbaik. Ayah bolehkah Hana bertanya ?" ucap Hana dengan ragu.
"Sejak kapan putri ayah meminta ijin hanya untuk bertanya kepada ayah ?" jawab sang ayah dengan tersenyum.
"Apakah ayah mempunyai musuh ?" tanya Hana dengan pelan.
"Setiap orang yang sedang menapaki kejayaan pasti selalu ada yang akan membencinya. Dan menjadikan ia sebagai seorang musuh, dalam arti kata saingan dalam karirnya."
"Mengapa kau bertanya seperti itu ?" tanya sang ayah lagi.
__ADS_1
"Tidak ayah, Hana hanya bertanya. Hana merasa iri melihat teman-teman Hana mempunyai seorang ibu." jawab Hana asal.
"Kau merindukan ibumu ? beliau sudah berada di Surga sejak kau dilahirkan sayang." ucap sang ayah dengan sendu.
"Ayah bolehkah Hana mengunjungi makam ibu ?" tanya Hana dengan penuh harap.
"Untuk apa sayang ? cukup kau do,akan setiap saat, agar ibu selalu bahagia di alam sana." ucap sang ayah.
"Ayah ... ." ucap Hana terhenti.
"Kenapa sayang ?" tanya sang ayah.
"Tidak ayah, Hana sayang sama ayah." jawab Hana dengan manja dan segera memeluk tubuh ayahnya.
"Seandainya ibu mu tau, bahwa kau tumbuh sangat cantik. Pasti ia akan merasa sangat bahagia sayang."
"Dan seandainya bajingan itu tidak menghamili ibumu, pasti saat ini kita menjadi keluarga yang sangat bahagia sayang." batin tuan Aditya.
"Tidurlah ini sudah malam !" ucap sang ayah kemudian segera berlalu meninggalkan Hana yang masih terpaku menatap tubuh sang ayah.
"Ayah sebenarnya apa yang terjadi kepada ibu ? mengapa ayah selalu menyembunyikan makam ibu ? Atau sebenarnya ibu masih hidup ?" tanya Hana lirih.
Ia bersandar di jendela sambil menatap wajah kota tempat tinggalnya saat ini.
"Ibu aku sangat merindukan mu." ucap Hana.
"Aku tidak bisa mengingat semua kenangan bersama mu ibu." ucap Hana sambil meneteskan air matanya.
Ia perlahan mengusap matanya kemudian Nia berbaring sambil mencoba mengingat pembicaraan ayahnya dengan orang asing tersebut.
Setelah lama ia mencoba berfikir, akhirnya Hana tertidur hingga pagi hari.
Dengan cepat Hana segera masuk kedalam kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah Fauzi.
Ia berencana untuk meminta maaf, atas perilakunya saat itu yang membuat Fauzi pergi bersama Laila dan meninggalkan Hana dihadapan banyak orang.
Dengan cepat ia keluar dari rumahnya dan segera menuju rumah Fauzi. Namun alangkah terkejutnya saat ia melihat rumah Fauzi di acak-acak oleh orang yang berpakaian serba hitam termasuk orang asing yang berbicara dengan ayahnya.
"Hai ! hentikan semua ini ! apa yang kalian lakukan di rumah tunangan ku ? Dan kau pria jelek mengapa kau melakukan tindakan tidak terpuji ini ?" teriak Hana dari luar sambil menerobos masuk.
__ADS_1
"Nona sebaiknya anda segera meninggalkan tempat ini!" ucap pria asing itu.
"Siapa kau dan apa tujuanmu melakukan ini ?" tanya Hana dengan sangat berani.
"Tanyakan hal itu kepada ayah anda Nona !" jawab pria asing itu sambil terus mencari sesuatu di dalam rumah Fauzi yang lama.
"Fauzi dimana kamu ? mengapa kau diam saja saat ada orang asing yang mengacak-acak rumahmu ?" tanya Hana sambil berteriak-teriak.
"Nona lebih baik anda diam dan jangan mengundang banyak orang !" ucap orang asing tersebut.
"Siapa kau ? sehingga berani menyuruh ku ?" tanya Hana sambil menatap wajah Hana.
"Tanyakan hal itu kepada ayah anda nona !" jawab orang asing tersebut sambil menatap wajah Hana.
Setelah mendapat perintah, orang-orang tersebut segera meninggalkan rumah tersebut dan segera bersembunyi.
Tak lama Fauzi datang bersama dengan Bima, dengan wajah penuh tanya, Fauzi menatap Hana Yang berbeda di dalam rumahnya.
"Hana, apa yang kau lakukan dengan semua ini ?" tanya Fauzi penuh selidik.
"Aku tidak melakukan apa-apa ! aku kesini sudah banyak orang asing yang mengacak-acak rumahmu." jawab Hana dengan jujur.
"Kau mengenal mereka ? atau kau pernah melihat mereka ?" tanya Fauzi sambil mendekati Hana.
"Tidak !" jawab Hana santai.
"Katakan dengan jujur Hana ! kau tidak bisa membohongi aku !" tanya Fauzi sambil mencengkram pundak Hana.
"Sungguh aku tidak tau siap mereka." jawab Hana dengan ketakutan.
"Jangan salahkan aku jika suatu saat aku mengetahui semua kebenarannya Hana." ucap Fauzi sambil mendorong tubuh Hana.
Dengan kesal Hana segera pergi meninggalkan Fauzi dan Bima, sementara Fauzi dan Bima segera membereskan rumah tersebut.
"Sebenarnya apa yang terjadi ? Siap orang-orang yang sering mendatangi rumah mi ?" tanya Bima dengan bingung.
"Entahlah Bima, aku juga tidak mengerti. Semuanya penuh dengan teka teki, Bima ayo kita temui orang tuamu ! siapa tau mereka mengetahui masa lalu orang tuaku. Kemungkinan orang tersebut ada hubungannya dengan masa lalu orang tuaku." ucap Fauzi yang langsung meninggalkan Bima dan segera menuju rumah Bima.
Setelah sampai Fauzi segera mencari keberadaan orang tua Bima di belakang rumah mereka.
__ADS_1