
Setelah seluruh peserta rapat hadir, Fauzi memimpin langsung rapat tersebut. Dengan semua berkas yang sudah ia siapkan ia mempersepsikan materi rapat tersebut dengan sangat baik.
"Dari semua yang telah saya sampaikan tadi, silakan jika ada yang ditanyakan." ucap Fauzi di akhir persentasinya.
"Maaf untuk acara tersebut drescode yang digunakan belum dijelaskan." tanya salah satu peserta rapat.
"Benar sekali, karena untuk drescode saya sengaja menunggu ide dari rekan rekan semua. Silakan jika ada yang mempunyai ide !" ucap Fauzi.
"Bagaimana kalau kita menggunakan topeng, jadi acaranya sekalian pesta topeng. Hal ini untuk membuat acaranya tambah seru karena kita tidak tau siapa yang menjadi peserta selain panitia."
"Dan para peserta bisa lebih pede saat menunjukkan kebolehannya, karena peserta lainnya tidak mengenalinya. Dan juga hal ini menjaga privasi para peserta." ucap salah satu peserta.
"Saya setuju !" jawab peserta dengan kompak.
"Ok ! kalau begitu drescodenya kita sepakati untuk memakai topeng dengan baju sesuai keinginan para peserta, hal ini agar tidak membebani para peserta."
"Dan untuk hari pelaksanaan saya tentukan untuk Minggu depan !" ucap Fauzi.
"Bukankah itu artinya bersamaan dengan acara OSIS untuk mendaki gunung seperti yang telah ditetapkan oleh Hana ?" tanya salah seorang peserta.
"Tidak masalah bukan ? ini acara kampus kita sedangkan itu acara OSIS mereka. Kita berbeda peserta dan panitia ?" tanya Fauzi.
"Iya benar kita tidak masalah dengan hal itu, jika Hana dan yang lainnya ingin mendampingi para anggota OSIS itu, berarti mereka tidak mengikuti acara pesta topeng ini, atau sebaliknya." jawab salah satu peserta rapat.
"Iya benar, ini acara kampus kita, jadi tidak perlu menghawatirkan kegiatan yang lainnya." ucap seorang peserta lagi.
"Kalau begitu apakah kalian semua setuju, jika acara pesta topeng ini dilakukan Minggu depan, tepatnya hari Sabtu ?" tanya Fauzi.
"Iya kami setuju !" jawab mereka dengan kompak.
"Baiklah jika semuanya setuju. Kita langsung bagi tugas karena waktunya semakin mendekat. Dan saya berharap acara ini bisa terselenggara dengan sukses. Dengan begitu acara ini bisa menjadi acara tahunan kampus kita." ucap Fauzi.
Setelah itu ia membagi tugas untuk masing-masing peserta rapat. Dengan detail Fauzi menjelaskan tugas masing-masing. Ketika semuanya beres ia segera menutup rapat tersebut, dan meminta Bima untuk membantu membereskan tempat tersebut di bantu oleh yang lainnya.
"Fauzi apakah kamu sengaja membuat acara ini untuk menghindari rencana Hana untuk para siswa baru, khususnya Laila ?" tanya Bima sambil membereskan berkas-berkas Fauzi.
__ADS_1
"Itu benar, aku tidak ingin Hana fokus dengan rencananya." jawab Fauzi.
"Lalu Laila akan ikut acara sekolahnya atau acara kampus kita ? " tanya Bima.
"Tentu saja ia akan ikut denganku." jawab Fauzi singkat.
"Ini memang tujuanmu yang sebenarnya ?" tanya Bima lagi.
"Kau pasti paham untuk hal itu Bim." jawab Fauzi sambil tersenyum menatap sahabatnya.
"Ok ! aku akan selalu mendukungmu, aku yakin kau punya solusi terbaik untuk masalah antara Hana dan Laila." ucap Bima lagi.
Kemudian mereka kembali membereskan peralatan dan semua fasilitas yang mereka gunakan untuk rapat.
"Bim, minta tolong sampaikan hasil rapat ini kepada Hana, aku akan segera pulang." ucap Fauzi.
"Iya iya, pengantin baru pasti ingin selalu dekat-dekat terus." jawab Bima sambil memainkan tangannya menggoda Fauzi.
"Kau juga akan seperti itu Bim jika sudah menikah nanti, asal kau tau ternyata menikah itu lebih nikmat dari yang aku bayangkan, tau begini sejak dulu aku akan menikahi Laila." ucap Fauzi.
"Dasar mesum !" jawab Bima kemudian pergi meninggalkan Fauzi, sementara Fauzi segera keluar dan pulang untuk menemani istri kecilnya.
Sementara Laila sedang berada di kamar untuk tidur siang. Saat Fauzi sampai ia masih tidur dengan lelapnya. Fauzi memandangi wajah sang istri sambil tersenyum.
"Begitu sempurna Allah menciptakan mu sayang." ucap Fauzi lirih.
Kemudian ia mandi setelah selesai ia turun untuk makan siang karena rasa lapar yang sejak tadi ia tahan.
"Bik apakah Laila sudah makan ?" tanya Fauzi kepada bik Sumi.
"Sudah tuan, tapi maaf tadi seprainya belum bibi ganti soalnya tidak boleh sama non Laila." jawab bik Sumi.
"Iya bik, itu saya yang memintanya." jawab Fauzi.
"Tuan ini langsung Gol saja, kasian non Laila pasti kesakitan." goda bik Sumi.
__ADS_1
"Ya gimana lagi bik, nikmat banget jadi saya ingin masuk lebih dalam lagi." jawab Fauzi dengan jujur.
"Tuan ini, tidak sabaran sekali padahal jika pelan-pelan tuan bisa mengulangi lagi untuk nanti malam." jawab bik Sumi.
"Nanti malam kami bisa mengulangi lagi bik, dengan sensasi yang berbeda." jawab Fauzi dengan tersenyum simpul.
"Dasar tuan, tapi pelan-pelan tuan kasian non Laila kalau masih sakit jangan dipaksakan tuan." nasehat bik Sumi.
"Iya bik saya juga tau batasan kecuali keadaan yang memaksa." jawab Fauzi sambil berdiri untuk mencuci piringnya sendiri.
Sementara bik Sumi membereskan makanan yang ada di meja makan tersebut sambil geleng-geleng kepala.
"Dasar lelaki pengantin baru, terus dapatnya daun muda, pasti tidak akan tahan." batin bik Sumi
Setelah selesai makan Fauzi kembali ke kamarnya dan merapikan berkasnya dan melanjutkan bekerja untuk mastikan setiap laporan yang dikerjakan oleh karyawan di perusahaannya. Sesekali ia melirik istrinya yang masih tidur pulas.
"Sayang aku akan menyusul mu." ucap Fauzi sambil merapikan pekerjaannya.
Perlahan ia berbaring di samping sang istri dan memeluk tubuh mungil itu dengan mesra.
"Kakak sudah pulang ?" tanya Laila dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya sayang, sudah mari kita tidur lagi. biar nanti malam tidak mengantuk." jawab Fauzi sambil mengeratkan pelukannya.
"Memangnya nanti malam kita akan kemana kak ?" tanya Laila dengan polosnya.
"Kita akan ke surga dunia lagi sayang." jawab Fauzi.
"Tapi masih sakit kak, di tunda saja ya kak." jawab Laila dengan jujur.
"Rasa sakit itu akan semakin hilang jika kita sering melakukannya sayang, dan kakak berjanji akan melakukannya dengan sangat pelan." jawab Fauzi sambil tersenyum menatap wajah sang istri.
"Tapi tetap saja sakit." jawab Laila.
"Meskipun sakit tapi juga nikmat bukan ?" goda Fauzi.
__ADS_1
" Semakin sering kita lakukan semakin cepat rasa sakit itu hilang sayang, percayalah dengan kakak. Dan satu hal lagi, kakak sudah membuat surat ijin untuk 4 atau 5 hari ini Laila tidak masuk sekolah terlebih dahulu. Karena masih bulan Madu." ucap Fauzi.
Laila langsung mencubit pinggang sang suami kemudian mencari kenyamanan dalam pelukan hangat suami tercinta. Keduanya berbincang ringan hingga keduanya terlelap menikmati tidur siang dalam pelukan kekasih halalnya.