Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 60. Pertolongan untuk Laila


__ADS_3

Fauzi berjalan mendekati sebuah rak buku, dimana terdapat sebuah mobil-mobilanya. Ia menangis kembali teringat saat terakhir ia bersama kedua orang tuanya.


"Ayah Ibu, maafkan aku, seharusnya aku sendiri yang mengungkap semua kejahatan yang telah tuan Aditya lakukan terhadap ayah dan ibu."


"Ayah jika kau telah tiada lalu siapa kedua orang yang aku selamatkan dari pulau itu ?" tanya Fauzi sambil menatap mainan yang ada ditangannya.


"Rian apakah sudah ada kabar tentang orang yang kita rawat itu ?" tanya Fauzi.


"Sudah tuan, mereka mengalami perubahan yang semakin baik, bahkan mereka sudah sadar namun belum sepenuhnya pulih ingatannya." jawab Rian.


"Bagus kalau begitu. Semakin cepat mereka sadar dan ingat siapa mereka sebenarnya maka akan semakin baik." jawab Fauzi.


"Benar tuan, tetapi maaf tuan sejak video tadi diputar saya mencari sumber suara melalui alat deteksi suara. ternyata suara tersebut berasal dari ruangan ini tuan."


"Tetapi sudah saya periksa setiap sudut ruangan ini namun tidak ada siapapun tuan, seperti suara tersebut berasal dari sebuah ruang rahasia." jelas Rian.


"Ruang Rahasia ?" tanya Fauzi sambil berfikir.


Kemudian ia berjalan mendekati sebuah buku dan perlahan ia teringat, saat masih kecil dulu sang ayah sering masuk kesebuah ruang di balik tak buku tersebut.


"Kau benar Rian, disini ada sebuah ruang rahasia." ucap Fauzi.


Kemudian ia menarik sebuah buku dan perlahan sebuah jalan menuju ruang bawah tanah terbuka.


"Hati-hati tuan !" ucap Rian saat melihat Fauzi berjalan masuk ke ruangan tersebut. Ia kemudian mengikutinya dari belakang dengan siap siaga menggunakan senjata api di tangannya.


Setelah sampai di dalam ruangan tersebut, terlihat Laila yang begitu pucat sedang duduk di sebuah kursi.


"Kakak." ucap Laila dengan suara yang sangat pelan.


"Sayang apakah kau baik-baik saja ? maafkan kakak karena terlalu lama menjemput mu." ucap Fauzi sambil mendekati Laila.


Dengan cepat Fauzi meraih tubuh Laila dan memeluknya dengan erat. Namun Laila telah menutup kedua matanya.


"Sayang apa yang terjadi ? buka matamu ! jangan pergi lagi." ucap Fauzi sambil menangis pilu.


"Tuan nona pingsan, kita harus segera membawa nona pergi ke Rumah Sakit. Sebelum Nona semakin parah tuan." ucap Rian yang juga panik melihat Laila yang begitu pucat.

__ADS_1


Fauzi segera mengangkat tubuh Laila dan hendak membawanya ke Rumah Sakit.


"Maaf tuan pintunya tertutup, saya tidak bisa membukanya." ucap Rian sambil menundukkan kepalanya.


"Tekan tombol yang ada di dalam mainan itu !" ucap Fauzi.


Dengan cepat Rian melakukan apa yang diperintahkan oleh Fauzi, perlahan pintu terbuka dan dengan cepat Fauzi membawa Laila keluar dari ruangan bawah tanah tersebut.


"Rian kunci ruangan ini dan jaga dengan ketat jangan sampai ada seorangpun yang masuk ke ruang ini !" perintah Fauzi saat mereka sudah berada di ruang Kepala Sekolah.


"Baik tuan." jawab Rian dengan tegas.


Fauzi berjalan dengan cepat menuju ke parkiran, ia ingin segera membawa Laila agar ia segera mendapatkan pertolongan.


Dengan sigap anak buahnya membukakan pintu mobil, Fauzi masuk dan memangku tubuh Laila.


"Cepat jalan antar kami ke Rumah Sakit !" perintah Fauzi.


Anak buahnya dengan cepat masuk kedalam mobil, kemudian dengan cepat ia menjalankan mobilnya menuju ke sebuah Rumah Sakit.


"Lambat sekali jalannya, tambah kecepatannya !" ucap Fauzi.


"Sayang bertahanlah ! aku mohon." ucap Fauzi sambil membelai wajah Laila yang sangat pucat.


Setelah sampai di Rumah Sakit, Fauzi menggendong tubuh Laila menuju ruang UGD, ia tidak mau melepaskan tubuh istrinya saat Perawatan memintanya meletakkan tubuh Laila.


"Cepat panggil Dokter atau kau akan kehilangan pekerjaan mu !" ucap Fauzi.


"Baik tuan !" jawab Perawat tersebut kemudian berlalu meninggalkan Fauzi yang masih mengendong tubuh Laila.


"Tuan lebih baik anda baringkan tubuh Nona di atas kasur itu, agar peredaran darah nona lebih lancar sambil menunggu Dokter datang." ucap anak buah Fauzi.


Perlahan Fauzi membaringkan tubuh Laila, setelah itu ia menggenggam tangan Laila dengan erat.


Setelah Dokter datang, ia tetap menggenggam tangan istrinya saat ia melakukan pemeriksaan.


"Tuan pasien hanya mengalami dehidrasi yang sangat parah, setelah mendapatkan perawatan intensif maka pasien akan segera pulih."

__ADS_1


"Beliau tidak menderita suatu penyakit yang serius, hanya tubuhnya kekurangan asupan." jelas sang Dokter.


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan istri ku, aku akan membayar berapa pun biayanya." jawab Fauzi.


"Baik tuan, kami akan melakukan yang terbaik." jawab sang Dokter.


Kemudian sang Dokter memasang infus setelah itu ia menyuntikkan beberapa obat yang dibutuhkan oleh pasien.


"Tuan pasien harus dipindahkan ke ruang perawatan. Biarkan Perawat yang akan mengantarkan pasien." ucap sang Dokter setelah selesai melakukan pekerjaannya.


"Biar aku yang akan membawa istriku, antar ke ruang perawatan VIP yang terbaik di Rumah Sakit ini." jawab Fauzi.


"Baik tuan, mari saya antar." ucap seorang Perawat dengan sopan.


Kemudian ia berjalan menuju ruang yang dipesan oleh Fauzi di ikuti oleh Fauzi dan juga anak buahnya.


Dengan tangannya sendiri Fauzi membawa tubuh istrinya, anak buahnya dengan sigap membantu membawa tiang infus dan berjalan di samping Fauzi.


Setelah sampai di ruangan yang di tuju, Fauzi dengan lembut membaringkan tubuh Laila, setelah itu ia menyelimuti tubuh istrinya dan dengan lembut mencium keningnya.


"Sayang cepatlah sembuh, kau boleh menghukum aku, apapun hukuman dari mu akan aku terima dengan ikhlas."


"Semua yang terjadi kepada mu adalah kecerobohan dan kebodohan ku. Sayang aku mohon buka matamu, lihat dan tatap aku." ucap Fauzi sambil berurai air mata.


"Tuan, nona pasti akan baik-baik saja." ucap anak buahnya sambil menepuk pundak Fauzi.


"Tuan duduklah di sini sambil menunggu nona." ucap anak buahnya sambil menyodorkan kursi di dekat Fauzi.


"Terimakasih." ucap Fauzi kemudian ia duduk di samping ranjang Laila.


"Tolong hubungi bik Sumi, minta beliau untuk membawakan semua kebutuhan istriku." ucap Fauzi.


"Baik tuan, saya akan segera menghubungi bik Sumi." jawab anak buahnya kemudian ia keluar dan segera menghubungi bik Sumi.


Sementara di rumah, bik Sumi mondar mandir dengan gelisah karena merasa bersalah atas kaburnya Anis dari rumah.


"Bik Sumi, gadis itu sudah kembali dan ia sekarang duduk di luar pintu Gerbang." ucap Supir pribadi Laila.

__ADS_1


"Bagus kalau ia sudah kembali, aku kan memberikan pelajaran agar ia tidak melakukan hal bodoh itu lagi." jawab bik Sumi sambil keluar dan di ikuti oleh sang Supir.


Namun disaat ia sudah sampai di dekat pintu Gerbang ia mendapatkan kabar bahwa Laila sudah ditemukan dan ia harus mengantarkan semua keperluan Laila.


__ADS_2