
Laila dan Fauzi diam seribu bahasa mendengar semua nasihat sang ayah, memang benar semua yang beliau katakan.
"Laila, apa yang dikatakan oleh om Aditama benar, sebelum mengambil sebuah keputusan yang besar lebih baik kau pikirkan dengan matang."
"Dan kau Fauzi ! pikiran semuanya dengan baik, akibat yang terjadi dari keputusan itu, baik dan buruknya semuanya harus kau pikirkan. Sebagai sahabat mu aku tau kau selalu memikirkan semuanya dengan baik sebelum mengambil sebuah keputusan."
"Tapi kali ini, keputusan yang kau ambil menyangkut banyak pihak, terutama untuk Laila dan juga Hana." ucap Bima.
Fauzi menatap wajah sahabatnya, dan untuk pertama kalinya Bima mengucapkan pendapatnya dengan tegas.
"Laila, sekarang juga ayo ikut ayah pulang ! ayah akan mengurus semua administrasi Sekolah untuk kepindahan mu. Ayah hanya ingin kau memikirkan dengan baik dan matang tentang keputusan yang akan kau ambil." ucap tuan Aditama.
"Tapi ayah ... ." ucap Laila terhenti dan menatap wajah ayahnya dan juga Fauzi secara bergantian.
"Laila jika kau masih ragu dengan kakak, pulanglah bersama ayahmu. Jika ada waktu kakak akan main ke rumah Laila."
"Tapi jika kau memang sudah memutuskan dan memikirkan semua dengan matang, katakan semuanya dengan jelas tanpa sebuah keraguan." ucap Fauzi sambil menatap wajah kekasihnya.
Laila berdiri dan berjalan keluar, ia ingin memikirkan terlebih dahulu apa yang harus ia katakan. Sebenarnya ia ingin bersama Fauzi, namun perkataan sang ayah membuatnya harus berfikir ulang.
Laila duduk termenung di teras rumah Fauzi, ia menatap ke langit yang begitu terang. Pikirannya melayang mencoba mencari sebuah jawaban yang terbaik.
"Jika aku ikut ayah, bagaimana dengan kak Fauzi pasti ia kan segera menikah dengan kak Hana tapi jika aku disini bagaimana aku menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang pelajar ?" batin Laila.
Laila memejamkan matanya, mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada dalam pikirannya sendiri. Lama sekali Laila duduk seorang diri sehingga sekujur tubuhnya terasa sangat dingin karena hembusan angin malam.
Perlahan ia bangkit lalu masuk kembali ke dalam rumah. Ia duduk di samping ayahnya dengan tersenyum.
" Ayah apakah setiap keputusan yang Laila ambil ayah akan selalu mendukung Laila ?" tanya Laila kemudian.
"Tentu anakku ! ayah akan selalu mendukung semua keputusan yang telah kau putuskan, asalkan itu tidak berbahaya dan bertentangan dengan syariat. Ayah dan juga ibu akan selalu mendukungmu." jawab sang ayah.
__ADS_1
"Sejak kapan ayah mengenal kak Fauzi ?" tanya Laila lagi.
"Ayah baru mengenalnya hampir satu tahun terakhir ini nak, jadi ayah tidak seberapa paham tentang kepribadiannya. Karena ayah hanya mengenalnya sebagai rekan bisnis." Ucap sang ayah.
"Ayah bolehkan malam ini kita menginap di sini ? dan bolehkan Laila tidur bersama ayah ?" tanya Laila lagi.
"Apakah hatimu masih ragu ? antara kau pilih pulang bersama ayah atau kau tetap disini dan menikah dengan Fauzi ?" tanya sang ayah sambil menatap wajah putrinya.
"Ayah aku hanya ingin mengambil keputusan itu setelah berbicara dengan ibu dan ayah, makanya Laila ingin tidur bersama ayah disini. Kita bisa membahas semuanya bersama ibu."
"Ibu juga bisa berbicara dengan kak Fauzi juga, kita bisa berbicara dari hati ke hati ayah." ucap Laila.
"Baiklah kita menginap di sini." jawab sang ayah.
"Kak bolehkah kami menginap di sini ?" tanya Laila sambil menatap wajah Fauzi.
"Tentu saja boleh, kakak sengaja mengajak kalian ke sini, karena memang kakak ingin kalian menginap di sini. " jawab Fauzi dengan tersenyum.
"Kalau begitu bolehkah Laila tidur sekarang bersama dengan ayah ?" tanya Laila lagi.
Sementara tuan Aditama hanya memandang punggung keduanya sampai tak terlihat, kemudian melanjutkan obrolan ringan bersama Bima.
"Ini kamar kalian, maaf jika kurang berkenan." ucap Fauzi sambil membuka pintu kamar.
"Terimakasih kak."ucap Laila dan berjalan menuju kamar. Namun langkahnya terhenti karena tangannya di tahan oleh Fauzi.
"Kak ! aku ingin beristirahat." ucap Laila sambil menatap wajah Fauzi.
Kemudian Fauzi menarik tangan Laila dan mendekatkan tubuhnya sambil berbisik.
"Aku mencintaimu Laila, cinta ini tulus untuk mu, sayang ini berasal dari lubuk hati yang paling dalam." bisik Fauzi sambil mendekatkan wajahnya sehingga tak ada jarak antara keduanya.
__ADS_1
Dengan lembut Fauzi mencium bibir Laila, keduanya saling membalas satu sama lain dan segera menjaga jarak sambil tersenyum.
"Istirahat yang tenang sayang, agar aku bisa mengambil keputusan dengan baik." ucap Fauzi lalu berjalan meninggalkan Laila.
Sementara Laila masuk kedalam kamar dan segera merebahkan tubuhnya. Ia tersenyum-senyum sendiri, masih ia rasakan sensasi yang luar biasa dari apa yang baru saja mereka lakukan.
"Kak kau membuat ku gila jika seperti ini." batin Laila sambil memejamkan matanya.
Ia membayangkan bagaimana jika mereka menikah, mungkin hari-hari yang ia lalui sangat indah.
"Lalu bagaimana reaksi kak Hana ? pasti dia akan lebih menyeramkan saat tau bahwa aku telah menikah dengan kak Fauzi, dia akan menghalalkan segala cara untuk memisahkan aku dan kak Fauzi."
"Artinya jika aku memilih untuk menikah dengan kak Fauzi, berarti aku harus siap dengan resiko ancaman dan hinaan dari kak Hana dan juga aku terancam putus sekolah."
"Jika aku memilih ikut ayah, ancaman yang aku hadapi hanya kak Rafik dan sekutunya, tapi aku tidak bisa mendapatkan cintaku. "
"Setiap hari aku hanya akan merindukan sosok lelaki yang sangat aku cintai, kak Fauzi. Apa yang harus aku lakukan ?" batin Laila.
"Yang harus kamu lakukan adalah tetap Sekolah demi masa depanmu ?" jawab sang ayah.
"Tapi bagaimana dengan hatiku ? yang masih tertinggal di sini ? pasti setiap hari aku akan selalu merindukannya. Lalu bisakah aku fokus pada pelajaran di sekolah ?" tanya Laila lagi.
"Kau benar-benar mencintai Fauzi ?" tanya sang ayah sambil ikut berbaring di samping putrinya.
"Aku sangat mencintainya ! aku merasa sangat nyaman saat berada di dekatnya." ucap Laila sambil tersenyum membayangkan Fauzi.
"Apakah artinya kau telah memutuskan untuk menikah dengan Fauzi ?" tanya sang ayah lagi.
"Iya, aku lebih memilih untuk menikah dengan kak Fauzi dengan segala resikonya. Aku yakin kami bisa mengatasi semua dengan selalu bersama dan cinta kami akan mampu mengalahkan segalanya." jawab Laila tanpa membuka matanya.
"Apakah kau yakin dengan keputusan mu anakku ?" tanya sang ayah sekali lagi.
__ADS_1
" Iya aku sangat yakin." jawab Laila kemudian ia membuka matanya dan ingin segera bangkit untuk mengatakan semua kepada ayahnya.
Namun ia menoleh ke sampingnya dan terlihat sang ayah yang menatap wajah sang putri dengan pikirannya sendiri.