Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 75. Keputusan


__ADS_3

Dengan segera tuan Aditya bersimpuh di hadapan Laila dan meminta maaf. Dengan cepat Laila mundur dan segera meminta tuan Aditya agar segera bangkit.


"Om tolong jangan lakukan hal itu lagi. saya tidak layak om perlakuan seperti itu." ucap Laila.


Disaat tuan Aditya hendak melanjutkan aksi, seorang Polisi datang dan meminta agar tuan Aditya masuk kedalam ruangannya.


"Maaf tuan waktu berkunjung sudah selesai, silakan kembali ke ruangan anda." ucap seorang Polisi, kemudian ia membawa tuan Aditya masuk kembali ke ruangannya.


Sementara Laila mengajak bik Sumi dan juga Hana meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumah mereka masing-masing.


Ketika yang lainnya pulang, Hana masih enggan untuk meninggalkan tempat tersebut, ia ingin sekali bersama sang ayah lebih lama lagi.


"Ayah, Hana ingin bersama dengan ayah. Di dunia ini hanya ayah yang Hana punya. Seandainya Hana di suruh memilih Hana lebih memilih ayah dari pada Harta dan kekuasaan." ucap Hana dengan berlinang air mata.


Sementara Laila yang hendak pulang, mengurungkan niatnya. Ia kembali dan mengajak Hana untuk segera pulang.


"Kak Hana, mari kita pulang bersama." ucap Laila sambil menggenggam tangan Hana.


"Tapi aku hanya ingin bersama dengan ayahku." jawab Hana.


"Kak, jika kakak seperti ini, bagaimana kak Hana saat ditanya oleh om Aditya ? apakah beliau akan mengijinkan kak Hana menemaninya ? bukankah kak Hana sudah berjanji untuk melanjutkan hidup yang masih panjang ini ?" ucap Laila.


"Laila, jika saja kau berada di posisi ku, apa yang akan kau lakukan ? masih bisakah kau berkata seperti itu ?" tanya Hana.


"Jika aku berada di posisi kak Hana. Hal yang pertama aku lakukan adalah menata hati. Setelah itu aku akan memperbaiki semuanya menjadi lebih baik lagi."


"Salah satunya, aku akan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa aku jauh lebih baik dari apa yang mereka pikirkan."


"Jika aku diposisi kak Hana, aku akan meminta maaf kepada kak Anis atas semua kesalahanku di waktu dulu."


"Dan aku kan membuktikan kepada kak Anis, bahwa aku layak mendapatkan maaf itu dan aku layak menjadi saudaranya." ucap Hana.

__ADS_1


"Apakah Anis akan maafkan aku ?" tanya Hana lagi.


"Jika kak Anis tidak mau maafin kak Hana, setidaknya kak Hana telah meminta maaf. Kak Hana telah berusaha memperbaiki segalanya." jawab Laila.


"Terkadang terasa berat saat kita ingin mengakui kesalahan kita. Tetapi jika kita mau melakukannya semuanya akan jauh lebih baik. Terlepas orang lain mau memaafkan kita atau tidak."


"Satu hal yang pasti, apapun yang kita lakukan, dilihat oleh Allah SWT dan niat baik kita akan berdampak baik pula terhadap kita." ucap Laila lagi.


"Laila, hatimu begitu baik. Bahkan kau tidak pernah membalas semua perbuatan buruk yang aku lakukan terhadap mu."


"Pantas saja Fauzi lebih memilih mu, bahkan aku juga yakin sebenarnya Rafik juga mengingatkan mu, meskipun akhirnya ia memilih Anis."


"Aku harus belajar banyak dari mu." ucap Hana dengan senyum yang tulus.


"Kalau begitu mari kita ke Rumah Sakit, untuk mengunjungi kak Anis dan juga ibunya." ucap Laila.


Kemudian keduanya berjalan meninggalkan tempat tersebut menuju Rumah Sakit.


Sebuah keluarga yang penuh dengan kebahagiaan, meskipun mereka hidup dalam kesederhanaan.


Namun, semua itu berubah ketika ia mengingatkan harta milik Sudrajat dan Aditama sahabatnya.


Keserakahan itu membuat ia jauh dari sang istri, bahkan ia dengan tega menyebabkan istrinya meregang nyawa. Tak cukup sampai di situ bahkan ia tega menghabisi sahabatnya dan juga istrinya.


Tuan Aditya meneteskan air matanya, bahkan Anis seorang bayi mungil itu ia jadikan kelinci percobaan untuk resep merubah wajah seseorang.


Bahkan ia juga tega menghabisi seorang Dosen demi aksinya untuk memiliki harta Aditama.


Semua kejahatan yang ia lakukan terbayang satu persatu, sebuah penyesalan melintas di dalam hati kecilnya.


Terbayang bagaimana Hana, saat semua teman-temannya menjauhinya. Bahkan semua ank buahnya pergi meninggalkannya. Harta memang bisa merubah segalanya.

__ADS_1


Perlahan tuan Aditya, memanggil Polisi yang berjaga. Ia meminta sebuah buku dan juga pena. Setelah beberapa saat ia menerima apa yang ia minta.


Dengan berurai air mata, ia menuliskan semua kejahatan yang ia lakukan. Ia menceritakan semuanya dan tidak ada satupun yang ia tutupi.


Setelah selesai ia melipat surat tersebut dan ia tulis untuk Fauzi dan juga Laila. Setelah itu ia kemudian menuliskan segala pesan dan keinginannya untuk putri satu-satunya yaitu Hana.


Setelah merasa cukup, ia kemudian memanggil Polisi dan berpesan agar surat tersebut diberikan kepada Fauzi dan juga Hana.


Setelah Polisi pergi, ia kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dengan memejamkan matanya ia menggores urat nadinya dengan pisau kecil yang ia sembunyikan.


Ia ingin pergi meninggalkan semuanya, ia ingin segera bertemu dengan sang istri dan meminta maaf atas semua kesalahan yang ia lakukan. Ia merasa malu bertemu dengan orang-orang yang telah ia sakiti.


Seandainya waktu bisa terulang maka ia tidak akan pernah melakukan kesalahan itu. Perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya.


"Hana maafkan ayah, ayah tidak sanggup untuk menjalani kehidupan ini. Ayah minta maaf karena tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan."


"Istriku tunggulah aku, maafkan aku karena tidak bisa menjaga putri kita. Aku ingin bersamamu seperti dulu lagi." ucap tuan Aditya di sisa-sisa kesadarannya.


Ruangan yang kini menjadi tempat tinggalnya, menjadi saksi bisu atas semua penyesalannya, dan menjadi saksi bisu akan keputusan ia ambil untuk mengakhiri hidupnya.


Sementara Hana yang baru saja sampai di Rumah Sakit, tiba-tiba merasakan sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan. Sebuah kesedihan akan kehilangan seseorang yang tanpa ia tau siapa orang tersebut.


Hana berhenti dan tiba-tiba menangis pilu, air matanya tak dapat ia bendung, ia benar-benar merasa sangat sedih dan merasa kehilangan sesuatu. Ibarat ada hilang dalam kehidupannya.


Tanpa pikir panjang ia berpamitan kepada Laila. Ia segera berlari dan ingin segera sampai di depan ayahnya.


Ia merasa bahwa ia ingin memeluk tubuh sang ayah untuk menghilangkan kesedihan yang ia rasakan.


Dengan menggunakan taksi, Hana kembali untuk menemui sang ayah. Di ijinkan atau tidak, yang pasti ia ingin sekali bertemu dengan sang ayah.


Sepanjang perjalanan Hana terus saja menangis. Sakit, sedih, kecewa dan semua rasa yang tak bisa ia jelaskan, memaksanya untuk mengeluarkan air mata yang sama sekali tidak bisa ia hentikan.

__ADS_1


Hanya satu yang pasti, saat ini ia ingin sekali memeluk tubuh sang ayah.


__ADS_2