
Secepat mungkin Hana berjalan menuju ke ruangan tempat ia bertemu dengan sang ayah. Ia langsung meminta ijin untuk bertemu dengan sang ayah kepada Polisi yang sedang berjaga.
Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat para Polisi sibuk menelpon bantuan, dan juga menelpon ambulan.
"Sebenarnya apa yang terjadi pak ?'" tanya Hana dengan menahan air matanya.
"Maaf nona kami menemukan tuan Aditya dalam keadaan kritis karena banyak kekurangan darah." jawab Polisi itu, kemudian meninggalkan Hana yang berdiri seperti patung.
Bagaikan disambar petir disiang hari, saat Hana mengetahui keadaan sang ayah saat ini.
"Ayah apa yang terjadi ? mengapa bisa jadi seperti ini ?" ucap Hana dengan derai air mata.
Tubuhnya perlahan terasa lemas dan pandanganya seakan berubah menjadi gelap. Dengan sigap Laila dan Fauzi menangkap tubuh Hana yang hendak jatuh ke lantai.
"Kak, untung saja kita datang tepat waktu." ucap Laila.
"Iya sayang, sebenarnya ada apa ini ? mengapa Hana seperti ini ?" tanya Fauzi.
"Lebih baik kita tanyakan kepada Polisi yang bertugas kak." ucap Laila.
Setelah membantu suaminya mengangkat tubuh Hana, Laila lalu menanyakan kejadian yang terjadi di tempat itu.
Setelah mengetahui masalahnya, Laila kembali menghampiri Fauzi dan juga Hana yang masih belum siuman.
"Kak sebaiknya kita bawa kak Hana ke rumah sakit sekarang, Om Aditya mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Saat ini beliau telah dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan." jelas Laila dengan singkat.
Kemudian Fauzi mengangkat tubuh Hana dan membawanya ke Rumah Sakit tempat tuan Aditya di bawa.
"Semoga semuanya baik-baik saja." ucap Fauzi.
"Aamiin." jawab Laila.
Kemudian mereka segera membawa Hana ke ruang UGD setelah mereka sampai.
"Sayang tolong tunggu Hana, kakak akan melihat bagaimana keadaan om Aditya." ucap Fauzi setelah Hana mendapatkan pertolongan.
"Iya kak, jangan lupa kabari Laila jika ada sesuatu." jawab Laila.
Kemudian Fauzi meninggalkan Laila setelah mengecup kening sang istri. Sedangkan Laila hanya tersenyum sambil melihat punggung suaminya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Dokter yang menangani Hana keluar.
"Dokter bagaimana dengan keadaan teman saya ?" tanya Laila.
"Pasien hanya mengalami syok, sebentar lagi ia akan sadar. Dan kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut." jawab sang Dokter.
"Baik Dokter, terimakasih atas bantuannya." ucap Laila.
"Itu sudah menjadi tugas saya Nona." jawab sang Dokter kemudian ia meninggalkan Laila.
Sementara Perawat membawa Hana keruang perawatan. Laila mengikutinya dari belakang. Setelah sampai Perawat tersebut merapikan selang infus kemudian memeriksa keadaan Hana.
"Nona kami permisi, jika ada sesuatu silakan hubungi kami." ucap Perawat itu.
"Baik, terimakasih." jawab Laila dengan tersenyum.
Setelah Perawat itu pergi, Laila kemudian mengirimkan pesan untuk Fauzi, agar segera menemuinya di ruang perawatan Hana jika semua urusannya telah selesai.
Setelah itu Laila duduk di dekat Hana yang masih enggan untuk membuka matanya. Terlihat raut kesedihan di wajah Hana.
"Kak Hana, semoga kakak baik-baik saja. Dan kakak bisa menerima semua keadaan yang terjadi ini."
"Kak Hana harus kuat, percayalah semua kesedihan ini tidak akan berlangsung lama, akan ada kebahagiaan di balik semua peristiwa ini." ucap Laila sambil menatap wajah Hana.
Setelah beberapa saat, akhirnya Laila tertidur dengan posisi duduk di samping Hana.
Saat Laila masih terpejam, perlahan Hana membuka matanya. Perlahan ia menoleh ke Laila yang tertidur disampingnya.
"Laila terimakasih atas kebaikanmu. Tapi aku harus mengetahui bagaimana keadaan ayahku. Maafkan aku." ucap Hana sambil duduk perlahan agar tidak membangunkan Laila.
Namun, dengan adanya gerakan dari Hana, Laila terbangun.
"Kak Hana sudah siluman, maaf Laila ketiduran." ucap Laila sambil mengucek matanya.
"Tidak Laila, seharusnya aku yang minta maaf karena telah menganggu tidur mu. Aku ingin kembali ke sana dan melihat bagaimana keadaan ayahku." ucap Hana.
"Kak Hana tenang saja, om Aditya sedang dalam perawatan dan ada kak Fauzi yang menunggunya."
"Kita akan segera ke sana jika keadaan kak Hana sudah lebih baik." ucap Laila.
__ADS_1
"Apakah ayahku berada di sini ?" tanya Hana.
Sementara Laila hanya mengangguk. Kemudian membantu Hana untuk berbaring dan beristirahat agar ia segera sembuh.
Dengan lembut Laila memijat kaki Hana, agar Hana bisa segera terlelap. Dan benar saja tak butuh waktu lama, akhirnya Hana kembali memejamkan matanya.
"Kak lebih baik kak Hana istirahat, karena Laila bingung harus berkata apa saat kak Hana menanyakan keadaan om Aditya."
"Karena sebenarnya Laila juga belum mendapatkan kabar dari kak Fauzi." batin Laila sambil menatap kearah Hana.
Sedangkan Fauzi sedang mengurus persiapan untuk pemakaman tuan Aditya. Beliau tidak bisa tertolong karena kehilangan banyak darah.
Beliau menghembuskan nafas terakhirnya, saat dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit.
Fauzi juga menghubungi Bima agar mengabari seluruh peserta didik dan pengajaran yang berada di Yayasan pendidikan agar membantu persiapan pemakaman tuan Aditya.
Tak lupa pula, ia menghubungi tuan Aditama, yang merupakan sahabat tuan Aditya pada waktu yang lalu.
Setelah selesai mengurus semua administrasi dan juga telah mengabari orang-orang dekat tuan Aditya. Fauzi berjalan menuju ke ruang perawatan Hana.
Saat sudah berada di depan pintu, Fauzi ragu bagaimana caranya ia menyampaikan kenyataan ini kepada Hana.
Dengan ragu, Fauzi membuka pintu dan terlihat Laila yang sedang merapikan selimut Hana.
"Kak bagaimana keadaan om Aditya ?" tanya Laila.
"Bagaimana dengan Hana, apakah ia baik-baik saja ?" tanya Fauzi tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Kak Hana sudah siuman dan sekarang ia sedang tertidur. Apakah ada masalah terhadap om Aditya ?" tanya Laila.
Kemudian Fauzi mengajak Hana keluar agar tidak menggangu waktu istirahat Hana. Setelah berada di luar Fauzi menceritakan semua kenyataan ini.
"Lalu bagaimana caranya kita menyampaikan hal ini kepada kak Hana ? dan apakah kakak sudah menyampaikan hal ini kepada yang lainnya ?" tanya Hana.
"Sudah, kakak meminta bantuan kak Bima dan juga Rian untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk proses pemakaman om Aditya."
"Tetapi kakak juga bingung bagaimana caranya menyampaikan hal ini kepada Hana." ucap Fauzi sambil menghela nafasnya.
"Kak Hana pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini. Kita harus menjaga emosi kak Hana agar ia tidak melakukan hal nekad seperti waktu itu."
__ADS_1
"Tetapi kita juga harus menyampaikan hal ini kepada kak Hana, setidaknya agar kak Hana bisa melihat om Aditya untuk terakhir kalinya sebelum beliau dimakamkan." ucap Laila.
"Iya sayang, itu juga yang kakak pikir, yang pasti bantu kakak untuk menyampaikan hal ini kepada Hana, ia berhak mengetahui keadaan ayahnya." ucap Fauzi.