
Setelah kenyang Anis mengajak bik Sumi untuk pulang, ia takut bik Sumi akan semakin curiga jika ia terus menunjukkan banyak perbedaan dengan gadis yang mereka cari.
"Bik mari kita pulang." ucap Anis.
"Apakah nona sudah selesai dan tidak ada yang dicari lagi ?" tanya bik Sumi.
"Tidak bik, mari kita pulang ! dan tolong bantu saya membawa barang-barang ini." jawab Anis.
Kemudian keduanya berjalan keluar menuju mobil yang sudah menunggu di parkiran. Namun ketika sampai di mobil Anis, merasa perutnya mulas, ia ingin segera ke toilet.
"Maaf saya harus ke toilet sebentar." ucap Anis yang langsung berlari menuju toilet.
"Dasar wanita aneh, itu akibat makan terlalu banyak." ucap bik Sumi kemudian masuk ke dalam mobil.
"Bik apakah alat penyadap yang diberikan oleh Rian sudah bibi pasang dengan benar ?" tanya sang supir.
"Sudah, aku tadi sudah mencoba mendengarkan saat ia sedang menawar barang belanjaan." jawab bik Sumi.
"Bagus, dengan demikian kita bisa mendapatkan informasi siapa dia sebenarnya." jawab sang supir.
Sementara Anis yang berlari masuk ke toilet tidak menyadari saat ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
Ia langsung masuk ke toilet dan segera menyelesaikan urusannya. Setelah beberapa saat akhirnya ia keluar dari toilet dan berjalan menuju parkiran tempat dimana bik Sumi dan supir menunggu.
Namun saat ia hendak keluar tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dari belakang dengan menutup mulutnya.
"Jangan berteriak ataupun mencoba melawan jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu." ucap seseorang yang berbadan tinggi besar itu.
Dengan pasrah Anis mengikuti semua perintah orang tersebut, karena ia takut pria tersebut akan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan nyawanya.
Setelah sampai di sebuah ruangan, Anis dilepaskan oleh pria tersebut, kemudian ada seseorang yang masuk ke ruangan tersebut dengan santai sementara pria itu menunduk hormat.
"Siapa kalian dan apa yang ingin kalian lakukan ?" tanya Anis dengan melangkah mundur.
"Tenanglah nona, aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin menawarkan kerjasama." jawab pria paruh baya tersebut.
"Kerjasama apa yang anda maksud ?" tanya Anis sambil menatap dan memperhatikan wajah pria itu.
__ADS_1
"Apakah aku tidak salah lihat, bukankah itu ketua Yayasan ? bukankah itu ayah Hana ? Jika benar aku harus berhati-hati." batin Anis.
Terbayang beberapa tahun yang lalu, ketika Anis masih duduk di bangku SMA bersama Hana dan juga Fauzi. Terlintas bagaimana kejamnya Hana ketika menyingkirkan Anis dari Fauzi.
Tubuh Anis gemetar dan mulai keluar.keringat dingin membasahinya tubuhnya.
"Siapa yang bisa menolong aku, seharusnya aku meminta bik Sumi untuk menemaniku tadi." batin Anis.
"Jangan takut, aku hanya ingin menawarkan sebuah kerjasama bukan berniat untuk menyakitimu." ucap tuan Aditya.
"Apa yang tuan inginkan dari saya ?" jawab Anis dengan gemetar.
"Tenanglah Anis, aku tau siapa kau sebenarnya. Aku juga tau tentang masa lalu mu termasuk bagaimana hubungan mu dengan keluarga Rafik."
"Aku juga tau bahwa kau sangat menginginkan Fauzi. Dan saat ini kau sedang berperan sebagai Laila kekasih Fauzi." jawab tuan Aditya.
"Kekasih ? bukankah gadis itu sudah menikah dengan Fauzi ? apakah pernikahan mereka tidak diketahui oleh tuan Aditya ?" batin Anis.
"Kalau begitu Napa kerjasama yang kau inginkan tuan Aditya yang terhormat ?" tanya Anis.
"Kalau begitu apa rencana tuan, dan bagaimana jika Rafik dan keluarganya mengenali saya." tanya Anis.
"Kau tenang saja, tugasmu adalah membantu aku mendapatkan tanda tangan Fauzi untuk urusan yang lainnya serahkan kepada ku." jawab tuan Aditya.
"Bagaimana caranya ?" tanya Anis.
"Kau tenang saja, saat nanti di acara kampus kau tinggal mengikuti instruksi dari anak buah ku." jawab tuan Aditya.
"Acara kampus ? kapan itu bukankah Fauzi berada di luar kota." tanya Anis yang sedikit bingung.
"Saat ini Fauzi sudah berada di kampus, nanti malam kau harus datang ke acara tersebut sebagai Laila. Dan kau harus mengikuti instruksi dari kami." jawab tuan Aditya.
"Bagaimana caranya aku bisa datang ke sana ? sementara Fauzi tidak mengajak aku untuk datang ?" tanya Anis.
"Orangku yang akan menjemput mu, tugasmu hanya keluar dari rumah tanpa menimbulkan kecurigaan." jawab tuan Aditya.
"Keluar tanpa kecurigaan ?" tanya Anis.
__ADS_1
Namun tuan Aditya berserta anak buahnya sudah pergi meninggalkan Anis tanpa perduli dengan apa yang dikatakan oleh Anis.
"Kalian !" teriak Anis, lalu ia segera keluar dan berjalan menuju mobilnya.
Sementara bik Sumi dan juga sang supir segera mengirimkan hasil rekaman percakapan Anis dan juga tuan Aditya kepada Rian.
"Rian kami sudah menyelesaikan tugas kami, sekarang giliran mu untuk menyelesaikan semuanya." ucap bik Sumi di telpon.
"Baiklah, usahakan agar kalian melepaskan alat tersebut dan memasangnya kembali saat Anis keluar bersama orang-orang itu." jawab Rian, kemudian ia segera menutup teleponnya.
Bik Sumi dan pak supir, berpura-pura tidur saat melihat Anis berjalan menuju mobil mereka.
"Bik tolong buka pintunya !" teriak Anis sambil mengedor pintu mobil.
"Maaf nona kami sampai ketiduran, habis nona lama sekali, sebenarnya apa yang terjadi nona ?" tanya bik Sumi sambil mengusap-usap matanya.
"Sudahlah lebih baik kita segera pulang saja. Tapi jalankan mobilnya dengan kecepatan sedang." jawab Anis.
Kemudian mereka melajukan mobilnya dan menuju rumah. Disepanjang perjalanan Anis mencoba berfikir apa yang harus ia lakukan.
Jika ia mengikuti perintah tuan Aditya maka ia bisa mendapatkan Fauzi tetapi ia tidak tau akibat apa yang akan menimpa Fauzi.
Namun jika ia menolaknya, maka identitas dan kebohongannya akan segera terbongkar dan Fauzi pasti akan meninggalkannya.
Anis terus menimbang baik buruknya langkah yang akan ia ambil, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa mereka telah sampai di depan pintu rumah.
"Nona apakah anda baik-baik saja ? sejak tadi anda hanya diam saja." ucap bik Sumi sambil menggoyangkan tangan Anis.
"Tidak baik aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah." jawab Anis.
"Kalau begitu mari kita turun, karena kita sudah sampai." ucap bik Sumi sambil keluar meninggalkan Anis yang masih diam di dalam mobil.
"Nona apakah Anda ingin keluar atau ada sesuatu yang bisa saya bantu ?" tanya sang supir dengan sopan.
"Tidak, tidak saya akan segera turun, tolong bantu saya membawa barang belanjaan saya saja pak." jawab Anis, kemudian ia turun dan segera membawa beberapa barang yang sudah ia beli, kemudian ia melangkah masuk menuju kamar tamu yang sudah disediakan untuknya.
Setelah supir mengantarkan barang belanjaannya, Anis segera menutup pintu kamarnya. Ia ingin berfikir apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1